Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 213. Kabar Burung


__ADS_3

Pagi-pagi, sibuk sekali. Radha untuk pertama kalinya melakukan hal yang memang menjadi kewajibannya sejak lama. Dan lebih luar biasanya lagi, Gian tidak memperbolehkan Asih ataupun Layla membantunya walau hanya menyiapkan bumbu. Semua harus Radha, beruntung Gian tak memintanya masak rendang, pikir Radha.


“Aduknya satu arah, Sayang, kalau gitu caranya Kakak pusing nanti.”


Cerewet sekali, ada saja protesnya. Setelah sebelumnya meminta bawang dengan ukuran yang sama persis, kini Gian tak suka dengan cara Radha mengaduk nasinya.


Entah teori dari mana, hanya saja yang Gian katakan memang harus dia turuti, karena pria itu tak tetap berdiri di sisinya meski sudah Radha usir berkali-kali.


“Kakak tunggu aja di sana kenapa sih, sekalian mandi dulu atau ngapain kek gitu.” Gian menggeleng, karena yang ia mau saat ini hanya itu, tidak manid ataupun hal lainnya.


Dengan sepenuh hati, nasi goreng spesial yang Radha masak penuh dengan ketelitian itu sudah siap disajikan. Wajahnya sumringah, seakan tak pernah makan enak sebelumnya.


“Terima kasih, kamu mau juga?” tawar Gian basa basi, sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam dia takut merasa kurang, sungguh serakah sekali.


“Enggak, Kakak aja … aku kenyang.”


Ya, sedikit aneh memang. Dia yang masak tapi dia yang kenyang duluan, Radha lebih memilih untuk duduk mendampingi suaminya ini sarapan.


Dan di susul dengan kehadiran Raka yang juga baru bergabung dengan penampilan segarnya usai lari pagi, memang sedikit membuat Radha heran, karena mertuanya bahkan lebih rutin olahraga daripada suaminya yang masih cukup muda.


“Wih, tumben sarapannya beda, kemasukan apa kamu, Gian?” tanya Raka yang kini meraih air mineral, bukan hanya pertanyaan basa basi semata, akan tetapi Raka memang merasa putranya sedikit berbeda.


“Biasanya bawaan bayi, Tuan, memang begitu.”


Baru hendak menjawab, Budi yang memang menemani Raka lari pagi tentu haus juga tiba-tiba ikut bicara. Gian tak mengiyakan, tapi dia tidak juga membantah, karena jujur dia sendiri bingung apa yang terjadi dengannya.


“Apa iya begitu, Bud?”


“He.em, benar sekali, Tuan,” ujar Budi mantap, saat ini ia tengah menjadi spesialis masalah ngidam dan lainnya.


“Selagi menantuku tidak kenapa-kenapa, tidak masalah,” ujar Raka singkat, padahal hal ini saja mulai membuat Radha sedikit uring-uringan.


“Memangnya aku membuatnya lelah, kan tidak, Pa.” Tak ingin disalahkan, Gian menyiapkan pembelaannya lebih dulu.


“Hanya peringatan, Gian,” ujar Raka menghela napas pelan, putranya sangat enggan berada dalam posisi salah,


Hanya enggukan pelan, Gian lebih fokus menikmati nasi goreng penuh cinta dari istrinya ini. Mulut penuh, dan tak sedikitpun ia menawarkan pada siapapun, menikmati sendiri dan porsi yang Radha siapkan cukup banyak.


“Budi!!”


“Ays!! Apa harus berteriak? Kalian semua benar-benar menyebalkan.”

__ADS_1


Gian terkejut, begitupun dengan Raka. Pria itu bahkan hampir tersedak dengan teriakan Aryo yang tiba-tiba masuk dari pintu belakang. Benar-benar tidak berakhlak, pikir Gian.


“Ada apa, Aryo?”


Meski sedikit amarah, Raka tak membentak supirnya itu. Berbeda dengan Gian yang kini masih sangat kesal lantaran butiran nasi itu membuat tenggorokannya terasa sakit. Jika saja tidak ada di sisinya, mungkin garpu sudah mendarat di kening Aryo.


“Anu, Tuan … kabar buruk,” tutur Aryo dengan suara gemetarnya, napasnya terengah-engah seakan benar-benar tengah dirundung masalah.


“Cepat katakan! Ada apa?!” desak Gian yang justru lebih panik dari Budi, benar-benar merusak suasana sarapan paginya.


“Hercules ….”


PRANK


Sungguh dramatis sekali, gelas yang ia pegang tiba-tiba jatuh dan terpecah menjadi beberapa bagian. Dan jelas saja hal itu membuat siapapun yang berada disana menatap Budi sebegitu paniknya.


“Ada apa dengan Hercules?”


“Terbang!! Sangkarnya tidak kau kunci, Budi!!”


“Astafirullahaladzim!! Kau tidak bercanda kan, Aryo?”


“Untuk apa aku bercanda, Budi.”


“Mau kemana? Kakak nggak kasih izin kamu buat ikutan keluar ya, Ra,” tutur Gian dengan santainya, matanya menatap fokus ke makanan, namun tangannya erat menggenggam pergelangan tangan Radha.


“Ih aku mau liat Hercules juga,” rengek Radha yang membuat Gian menggelengkan kepalanya mantap.


“Udah terbang, yang ada paling tinggal sangkarnya, udah duduk sini … gak baik ikut campur urusan orang tua, Sayang.”


Sangat disayangkan, padahal Radha baru saja berkenalan dengan peliharaan Budi. Jelas saja ia sedih, karena Radha cukup penyayang binatang, dan kemarin adalah hari pertama dan terakhirnya berkomunikasi dengan Hercules.


“Kok gitu sih, Kakak gak ada simpatinya sama pak Budi, kasian loh sampe pecah gitu gelasnya.”


“Kenapa harus simpati? Cuma burung jelek doang juga,” ucapnya santai, tanpa sedikitpun rasa bersalah dan memang baginya tidak ada yang salah.


-


.


.

__ADS_1


.


Meninggalkan drama perburungan milik Budi, kini di sudut kota Semarang, Ardi justru masih sibuk menghabiskan waktunya sendirian. Sengaja tak pulang dan juga memilih tak peduli, meski laporan dari asisten rumah tangganya tetap ia dengar dengan seksama.


Tak apa, sama sekali Ardi tak merasa dirinya sakit hati. Baginya hidup memang seperti itu. Kini, yang ia pikirkan sekarang justru hanya mantan istrinya.


Mimpi buruk yang ia alami membuat pria itu serba salah, entah harus bagaimana dirinya, namun yang jelas tuntutan Dewi malam yang menginginkan dia untuk meminta maaf terus saja menjadi momok yang membuat Ardi tak bisa tidur tenang.


Dan sialnya, kini kepalanya terluka karena kejedot ujung meja. Melarikan diri ke rumah sakit dengan bantuan pihak hotel yang tak tega melihat kening Ardi yang terus mengucurkan darah, sungguh sial nasibnya. Bahkan dirinya masih memakai baju tidur, dan orang-orang menatapnya aneh lantaran persis korban kecelakaan di pagi hari.


Brugh


“Aaakkh! Jalanmu itu, bisakah pakai mata?!!”


Ardi meringis, kepalanya sangat sakit dan kini semakin sakit karena seseorang menabraknya dari belakang. Entah apa urusan wanita itu hingga tak melihat Ardi sebesar itu di depannya.


“Maaf, saya buru-buru,” ujar wanita itu dengan suara lembutnya, segera ia membantu Ardi untuk kembali berdiri, dan berusaha untuk sedikit mengurangi rasa malu Ardi akibat nyungsep di depan beberapa orang lainnya.


“Anda baik-baik saja?”


“Hm, masih bertanya! Sudah jelas-jelas say ….” Ucapan Ardi terhenti kala yang ia lihat kini begitu mengejutkan, namun sesaat Ardi justru memukul kepalanya cukup keras.


“Cukup, Ardi!! Berhenti berhalusinasi!!” Ia kemudian memastikan lagi, siapa yang berada didepannya, apa memang matanya yang salah atau bagaimana.


“Kamu?” Sedikit kaku, bahkan Maya mundur beberapa langkah, karena tak bisa ia tampik kebencian itu masih luar biasa membekas. Pria palin keji ini muncul kembali di hadapannya, setelah sejuta luka ia torehkan, dan kenapa kini Ardi muncul dengan keadaan memprihatinkan.


“A-aku, aku tidak salah lihat kan?” Ardi menatap lekat wajah itu, siapa tahu memang sugestinya terlalu fokus pada Maya hingga di saat begini yang muncul di pikirannya adalah Maya seorang.


“Hm, aku rasa kamu belum buta,” jawabnya culas, jika ia tahu yang tadinya ia tabrak adalah mantan suaminya, seharusnya Maya mendorongnya kuat-kuat, kalau perlu membentur dinding dan lukanya semakin parah.


“Akhirnya, aku ketemu kamu, May … boleh kita bicara sebentar? Mas rindu,” ucapnya sehancur itu, namun bukannya iba, Maya justru merasa muak menatap wajahnya.


“Tidak bisa, aku sibuk.”


“Tunggu, May! Ini tentang putri kita, sebentar saja.”


Maya terhenti sejenak, sebesar apapun dendamnya. Mendengar hal ini hatinya seakan luluh tiba-tiba, pertemuan terakhirnya bersama Radha tak sebaik itu, dan kerinduannya masih begitu besar pada putrinya itu, sedangkan yang Maya tahu, saat ini Ardi masih berhubungan baik dengan putrinya.


Babay 🧘‍♀


Yang nanyain Ardi, dia ada nih 😎 Gak ada ppkm di Dimensi Gian yak 🧘‍♀ Kita ngayal aja Indonesia normal 😭 Capek begini 💔

__ADS_1


O**h iya komentar apa yang kira-kira harus aku bahas. Soalnya aku kadang sering kelupaan yang mana udah kelamaan belum dibahas gitu**.


__ADS_2