Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 153. Kenapa? (Segila Ini)


__ADS_3

"Zura, pulang."


Pembicaraan mereka terhenti kala Gian menghampiri, wajah pria itu tampak berbeda. Bahkan secepat itu ia menarik pergelangan tangan Radha untuk segera pulang bersamanya.


"Kakak kenapa? Kita belum selesai bica ...."


"Pulang, Sayang! Kepala Kakak sakit."


Caterine merasa tak nyaman, terlebih tatapan Gian terhadapnya. Ia menoleh, berharap sang papa juga akan segera kembali. Ada ketakutan dalam benaknya, karena baginya apa yang terjadi adalah aib yang hanya dirinya boleh mengingat hal itu.


"Kak Ket, aku pulang ya."


Wanita cantik itu mengangguk, meski ia tak paham alasan sebenarnya Gian buru-buru mengajak Radha pergi. Sungguh, baginya berjumpa dengan Radha seakan sebuah keberuntungan.


Ia hanya takut, apa yang kini berada di dekatnya pergi jika tau apa yang terjadi. Menatap kepergian Radha yang terus menoleh padanya membuat hati Caterine sakit.


"Sehina itu?"


Entahlah, pikirannya seburuk itu. Caterine menghampiri Randy yang sejak tadi belum juga kembali. Ia hanya ingin menuntut penjelasan, sebenarnya apa yang Gian ketahui hingga membuatnya berubah seperti ini.


"Papa!!"


"Pa," panggil Caterine tiada henti, ia menginginkan Randy segera menjawabnya.


Gadis itu mempelambat langkah kala menatap Randy yang kini berdiri membelakanginya. Pria itu tampak menatap langit dalam diam, sebelumnya ia ingin menuntut penjelasan dengan cara yang tak sopan, namun semua itu terhenti kala yang ia tatap ini membuatnya semakin sakit saja.


"Papa," tutur Caterine menghampiri, dengan langkah pelan dan sedikit ragu, ia hanya takut papanya ini justru tengah bersedih.


"Hm, kenapa kau kemari, Radha pulang ya?"


Mata itu masih membasah, Randy tengah mencoba terlihat tegar di depan putrinya. Apa yang Gian katakan membuatnya semakin hancur saja, semakin membuat Randy gagal menjadi sosok ayah.


"Iya, dia pulang ... Papa, bilang apa sama kak Gian?"


Sedikit ragu, tapi jujur saja ia takut Randy akan membuka mulut tentang bagaimana dirinya. Meski tak dapat ia salahkan, karena bagaimanapun Randy adalah orang yang tahu apa yang terbaik untuknya.


"Bilang apa? Papa tidak mengatakan apapun pada cecunguk itu," jawab Randy dan mengulas senyum tulusnya, ia menghampiri putrinya itu, hari ini waktu lebih banyak ia habiskan untuk tidur, sedangkan Caterine hanya sibuk di dalam kamar menikmati drrama ataupun membaca apapu yang ia suka.

__ADS_1


"Ayo masuk, jangan di luar ... nanti kau masuk angin," ujar Randy benar-benar berlebihan, sedangkan Caterine mencebikkan bibir menganggap apa yang Randy lakukan terlalu berlebihan.


"Masih siang, Pa ... masa masuk angin."


Randy tak menerima penolakan, ia tetap memerintahkan putrinya untuk masuk. Walau demikian, Caterine masih merasa baik-baik saja, karena dari dalam dirinya menginginkan untuk berada di rumah bersama Randy agar ia merasa lebih aman.


Drrt Drrt Drrt


"Siapa?" Randy mengangkat telepon dari Ucok, sang penjaga rumah yang tak sedetikpun ia bolehkan angkat kaki dari post penjagaan.


"Jangan biarkan siapapun masuk, kunci gerbang dan buka jika aku memberikan izin, mengerti?!!"


Randy mengepalkan tangannya, nama itu membuatnya murka. Rahangnya kini mengeras dan ingin ia ***** habis saat itu juga.


Pria itu beralih menatap putrinya, gadis cantik dengan lingkar mata yang menghitam dan wajah lelahnya. Caterine hanya menampilkan wajah bingungnya.


"Papa kenapa?"


"Hm, tidak apa-apa. Kembali ke kamarmu, Ucok sepertinya membuat masalah."


Caterine mengangguk, karena saat ini baginya apa yang Randy perintahkan adalah hal wajib yang harus ia laksanakan.


"Iya, Pa," jawabnya, ia benar-benar tunduk dan patuh pada Randy, layaknya anak kecil yang di perintahkan Papanya ini dan itu.


Setelah yakin putrinya telah kembali ke kamar, Randy bergegas keluar dengan perasaan tak karuan, emosi membuncah dan kini mengambil langkah panjang keluar rumah.


******


"Kak."


Radha membuka pembicaraan, karena sejak tadi pria itu hanya diam membatu sembari sesekali menghela napas panjang, entah apa yang Gian pikirkan hingga membuatnya seperti kurang darah.


"Iyaa, kenapa, Ra? Ada tempat yang mau kamu kunjungi?"


"Tidak, Kakak kenapa? Sakit lagi ya?"


Gian menggeleng, ia hanya tak pandai menyembunyikan apa yang ia rasa. Dan kini Radha yang merasa dirinya aneh, ia lupa siapa istrinya ini.

__ADS_1


"Lalu apa? Apa aku buat salah di sana? Aku nggak nyolong apapun kok, kenapa Kakak ajak pulang," celetuknya sembari mencebikkan bibir, apa yang Gian lakukan tadi benar-benar membuatnya merasa tak nyaman pada Caterine.


"Bukan masalah itu, Ra ... hanya saja om Randy memang membuatku kesal," ujarnya kemudian, meski ia tak bisa mengatakan dengan jelas penyebabnya, namun yang pasti Gian memang benar-benar marah pada Randy hari ini.


"Kalian kenapa sih, akur kek sesekali."


Gian menarik sudut bibirnya, tampaknya insting istrinya kali ini tak begitu tajam. Radha hanya mengira bahwa keributan mereka hanya karena ulah Randy yang membuat batas kesabaran Gian habis.


"Mana bisa akur, unta gurun itu memang tercipta jadi om untuk Haidar," ujar Gian menaikkan nada bicaranya, memang benar faktanya, Randy dan Haidar bak kesatuan negara yang tak dapat terpisahkan, aman damai dan tanpa pertengkaran.


Berbeda dengan dirinya yang bahkan masalah harga sepatu saja mereka ributkan. Terkadang Gian berpikir, bukankah dahulu Jelita mengatakan bahwa Gian begitu dekat dengan Randy ketika masih kecil, dan kini semua berubah.


Haidar, apa kabar dirinya, pikir Radha sesaat. Ia hanya ingat, namun hanya sekilas lantaran Gian mengucapkan namanya. Dan tentu saja cukup dalam hati, ia tak ingin merusak suasana hati suaminya ini.


"Ra ... apa yang kau pikirkan?"


"Tempe mendoan, iya kan bener itu tempe mendoan, Kak!!"


Gian menghela napas kasar, secepat itu istrinya mengalihkan pembicaraan. Bahkan beberapa detik lalu ia hanya diam, kini justru heboh bak memenangkan undian besar-besaran.


"Mana?" tanya Gian memilih mengalah dan melupakan apa yang sebenarnya ia pikirkan saat ini.


"Itu, sebelah puding beliung."


Pria itu menganga, makanan apa lagi itu. Sungguh ia menyesal karena memilih jalan pulang lewat tempat ini. Tak ia kira mata Radha setajam itu melihat makanan di pinggir jalan yang sama sekali tak pernah Gian coba.


"Oh itu ya?" Gian memang tak paham bagaimana tempat ini, namun ulah istrinya yang kini membuka jendela dan menjulurkan kepala membuatnya panik seketika.


"Dikit lagi, Kak ... and then stop!!!" Bagaikan tukang parkir yang menjadi petunjuk jalannya, Radha meminta Gian untuk berhenti saat itu juga.


"Astafirullah, Zura!!! Kau ini kenapa?"


Gian menarik baju Radha agar wanita itu duduk kembali, bukan karena malu akibat ulah istrinya, namun ia hanya takut jika kepala Radha justru celaka akibat hal konyol yang ia lakukan.


"Dari mana dia belajar hal gila seperti ini, Tuhan." Gian menghela napas pelan, ia memejamkan mata dan hanya mampu menggelengkan kepala, isttinya itu telah turun lebih dahulu, menghampiri gerobak itu dengan begitu bahagianya.


😎

__ADS_1


Hai, aku kembali!! Maaf baru sempet nulis sore, hari ini Othor kesana kemari. Othor masih berjuang, kali besok dapat yang kek Gian😎


Babay💞 Btw Tempe Mendoan enak juga, Radha aku mau juga ini, gojekin yak😚


__ADS_2