Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 263. Bertemu (Papa)


__ADS_3

Setelah sekian lama, ini adalah saat Radha kembali ke rumah dengan suasana yang berbeda. Tiada lagi sosok ibu tiri dan saudara yang menguasai istananya. Akan tetapi, sangat disayangkan saat itu terjadi ketika Radha sudah menjadi ratu di istananya sendiri.


"Selamat datang nona, lama ya nggak kemari," ujar penjaga rumah yang mengenal Radha sedari ia kecil.


"Iya lama, Pak ... Papa ada?" tanya Radha sopan, mengingat dahulu ia bahkan lebih banyak menghabiskan waktu bersama pria ini daripada papanya sendiri.


"Ada non, bapak lagi istirahat di kamarnya, udah 2 hari nggak kerja ... sepertinya rindu sama nona."


Radha mengangguk mengerti, namun ucapan Heru justru membuatnya semakin tak nyaman. Papanya bukan tipe seseorang yang suka bermalas-malasan apalagi soal pekerjaan, rasanya tak mungkin Ardi hanya berisitirahat tanpa alasan.


"Saya masuk dulu ya, Pak."


Nona mudanya masih sama, pria itu tak menemukan perubahan kecuali dengan penampilan yang semakin cantik. Dan kedua buah hati Radha mencuri perhatian Heru, seketika ia mengingat anak-anaknya di kampung halaman.


Walau bersama Jelita, Radha tak menyerahkan Kama sepenuhnya. Ia tak ingin Jelita merasa kelelahan karena tubuh Kama lumayan membuat punggung sedikit kebas.


Rumah ini terlalu pahit untuk Radha pijaki, mengingat dahulu ia kerap pulang melalui pintu belakang karena Dewi kerap melakukan pertemuan bersama teman-temannya yang membuat Radha dianggap pengganggu waktu itu.


Pintu selalu terbuka lebar untuk Radha, wanita paruh baya itu menyambut kehadiran tuan putri sesungguhnya di rumah ini dengan penuh kebahagiaan.


Memang, semenjak Ardi bercerai dari Dewi ia belum pernah mengunjungi tempat ini. Alasannya sederhana, hal ini karena Ardi hampir tiap hari ke rumah besannya hanya untuk mengunjungi anak dan cucunya.


Dan dengan alasan takut Radha lelah dan lainnya, Ardi tak mengizinkan Radha untuk mengunjunginya.


"Papa dimana, Mbok?"


Dengan suara lembutnya Radha bertanya, suara yang sejak dulu menjadi penenang karena gadis itu tak pernah membentak ataupun memaksakan sesuatu pada siapapun.


"Tuan sakit, Non, beberapa menit yang lalu saya cek buat kasih obat, tuan masih tidur."


"Ardi bisa sakit?" Jelita spontan berkata demikian hingga membuat Gian mendelik ke arahnya.


"Mama, perjalanan Papa tiap hari banyak, pasti ada capeknya."


Gian hanya takut istrinya tersinggung dengan ucapan Jelita yang asal sebut ini. Walau sejujurnya dalam hatinya juga berkata demikian, karena sedikit heran lantaran Ardi bisa sakit hingga berhari-hari.


Menyisakan perasaan bersalah, Jelita mengiring di belakang putranya. Mengunjungi kamar Ardi lantaran Radha tak tega jika Ardi yang harus bangun dari tempat tidurnya.


-


.


.


.


"Makasih ya, Mbok."


Wanita itu menundukkan kepala usai membukakan pintu kamar Ardi. Untuk sesaat Radha terdiam sebelum tersenyum kelu kala sang Papa berusaha duduk ketika menyadari kedatangannya.


"Papa, jangan paksain kalau masih susah."


Ardi masih belum bisa membedakan, ini mimpi atau apa. Suara Radha ia dengar sangat nyata. Dan rasanya aneh sekali jika ia masih bermimpi namun mereka sangat lengkap, hanya tidak ada kehadiran Raka saja.


"Kamu datang, Sayang?"


"Iya, Papa kenapa?" tanya Radha dengan suara lemahnya, ia tak sekuat itu jika Ardi berada di titik lemahnya.


Bibirnya sangat pucat, Radha tak pernah melihat papanya selemah ini. Belum lagi makanan di nakas belum sama sekali tersentuh, bisa dipastikan Ardi memang belum makan.


"Papa kenapa nggak ngabarin, kalau terjadi apa-apa bagaimana," tutur Gian duduk di tepian Ranjang, dan Kalila yang baru saja menyentuh tempat tidur sudah berontak minta dilepaskan.


"Papa hanya flu biasa, Gian, tidak perlu khawatir nanti juga sembuh."

__ADS_1


Benar-benar penenang paling gagal, Radha bukan masih kecil. Mana mungkin hanya flu sampai membuat Ardi sepucat itu.


"Flu? Kamu panas banget, pucat juga ... kenapa tidak ke rumah sakit saja?"


Jelita memastikan, hubungan mereka memang cukup dekat jadi wajar saja jika Jelita memperlakukan Ardi layaknya seorang kakak. Namun jika ini terjadi ketika mereka masih muda, bisa dipastikan Raka akan mengamuk begitu mengetahui istrinya menempelkan punggung tangan di kening Ardi.


"Aku dokter, Jelita," ucapnya santai sembari menarik sudut bibir, benar-benar menyebalkan.


"Papa ada-ada aja, nggak peduli mau dokter atau apapun yang namanya sakit ya sakit."


Putrinya bisa cerewet juga, sama seperti Kalila yang kini merangkak ke arah Ardi. Berbeda dengan Kama yang sejak tadi duduk mantap di pangkuan Radha namun matanya menatap lekat pada Ardi.


"Hai, Sayang ... cantik sekali, kangen Opa ya?"


Kalila begitu cepat menempel pada Ardi dan meninggalkan Gian yang kini menatapnya. Kebiasaan Kalila yang kerap menempel sana sini membuat Gian cemburu sebagai papanya.


"Sarapan ya, Pa."


Radha meraih bubur ayam yang sudah tersedia di atas nakas, ia yakin bubur itu memang disiapkan untuk sarapan Ardi.


"Kama sini sama Papa," pinta Gian ketika istrinya hendak menyuapi sang mertua, namun kekecewaan lagi-lagi Gian terima kala Kama lebih memilih Jelita.


"Ih kalian berdua kurang asem."


Kompak sekali, Kama dan Kalila sama-sama tak mempedulikan Gian di sini. Pria itu sendirian menyaksikan putrinya sibuk memainkan kemari Ardi dan juga sesekali menatap pada Kama yang bersama Jelita di dekat jendela.


"Papa tidur sendirian?" Pertanyaan konyol yang seharusnya tidak terucap dari bibirnya.


"Lalu sama siapa lagi?" Benar-benar persis orang tuanya, Gian sama saja bahkan tidak ada bedanya.


"Cari istri baru, Pa," celetuk Gian yang membuat Radha mendelik tajam, tanpa dosa dia menampilkan senyum karena memang ia pikir tidak ada salahnya jika memang Ardi mau.


"Kamu mengejek Papa, Gian?"


"Tidak, sebagai menantu yang baik aku hanya memberikan masukan untuk papa," jelasnya dengan sangat amat santai, pria itu membuka jaket dan merebahkan tubuhnya di ujung tempat tidur.


"Ck, ada-ada saja kau Gian," ucap Ardi dengan matanya yang kini kian sendu.


"iyaan ...."


Perkataan itu lolos dari bibir mungil Kalila, Gian yang sedari baru saja hendak mengambil posisi nyaman sontak kembali duduk dan menatap heran Kalila.


"Heeih, Kalila ... Pa-pa," tekan Gian menatap manik polos putrinya.


"Iyaan," ucapnya lagi sembari menampilkan senyum lebar, Radha yang memang sejatinya adalah kaum receh tak kuasa menahan tawanya.


"Zura ... kok ketawa, Kalila manggil nama aku loh, Sayang."


"Hahahaha rasakan, sudah Mama bilang sebelumnya anak kecil seumuran mereka biasanya suka mencontoh apa yang kita ucapkan," tutur Jelita yang membuat Gian semakin frustasi lagi.


Pasalnya Gian kerap mengajarkan Kama dan Kalila untuk menyebut Jelita dengan panggilan Nyai, dan sialnya Kalila justru memanggil namanya semudah itu.


"Iyaan."


"Pa-pa, Kalila."


Sepertinya Kalila takkan berhenti mengucapkan itu hari ini, begitupun ketika dirinya berhasil memanggil mamanya. Namun sepertinya kalimat ini lebih menarik dari sebelumnya.


Perseteruan anak dan papanya ini membuat Ardi tersenyum, dia sempat berada di posisi Gian. Ketika putrinya masih kecil, Maya begitu sabar berbuat selembut itu pada bayinya, persis seperti yang Radha lakukan kini.


"Minum obat ya, Pa." Radha meminta Ardi untuk mau meminum obatnya, yang ia harapkan dari Ardi tak banyak, ia hanya ingin papanya menjalani hidup yang lebih baik, kalaupun ingin menikah lagi Radha tak masalah, selagi Ardi mampu menemukan yang baik juga.


-

__ADS_1


.


.


.


Niat hanya mengunjungi namun berakhir dengan bermalam karena Radha tak tega meninggalkan papanya dalam keadaan yang masih amat lemah.


Tidur di kamarnya sewaktu belum menikah, Gian mengernyit menatap penampilan kamar Radha.


"Seperti kamar anak-anak," tuturnya tanpa dosa dan merebahkan tubuh di tempat tidur itu, memang tidak sebesar di rumahnya akan tetapi cukup jika Gian mengajak perang malam ini.


"Kan emang anak-anak," jawab Radha singkat, usai memastikan kedua bayinya tidur bersama Jelita di kamar tamu, wanita itu kembali ke kamarnya.


"Mereka udah tidur ya, Ra?"


Gian sedih, akan tetapi kamar ini terlalu kecil jika harus tidur berempat. Sedangkan ia tahu Kama dan Kalila tidur butuh tempat yang luas, jika mereka bersama-sama bisa jadi Gian yang harus mengalah tidur di lantai.


"He'em udah," jawab Radha naik ke tempat tidur kesayangannya.


Kamar yang menjadi saksi tangis dan air mata Radha, saksi kerinduannya pada sosok mama dan Haidar yang dulu menjadi kekasihnya.


"Aaakkhh, nyamannya."


Radha merindukan tempat ini, sedangkan Gian masih menyesuaikan diri dengan penampilan kamar istrinya yang sangat ramai di matanya.


"Sayang, kenapa kamar kamu ada di sini? Kenapa tidak di atas?"


"Di atas kamar Celine, Papa minta aku pindah sewaktu Celine ulang tahun yang ke-15."


Jahatnya keluarga barunya masih saja membekas. Bahkan perihal kamar tidur pun Celine rampas dari hidupnya. Putri tunggal dari seorang papa yang memiliki profesi terhormat dan harta yang juga cukup mumpuni tetapi Radha tak merasakan bahagia sama sekali.


"Kurang ajar, kamu kenapa mau? Kamar ini jauh berbeda dari ukuran kamar Papa, Sayang."


"Ya mau gimana, dulu aku belum punya suami ... kalau nggak nurut jadi gelandangan, aku nggak mau lah."


Jawaban tepat namun berhasil membuat Gian tertawa sumbang, kenapa juga harus membawa tentang suami, pikirnya.


"Papa jahat berarti?" tanya Gian menatap lekat mata sang istri, tidak ada air mata lagi disana, yang ada hanya senyum keikhlasan.


"Enggak, papa baik, mereka yang jahat." Sampai kapanpun Radha tak membenci papanya, karena apapun yang ia lakukan dan ia raih itu semata-mata hanya ingin ia berikan kepada sang papa agar Ardi bangga padanya.


"Hm, lupakan, mereka juga sudah menerima akibatnya, Dewi tidak akan pernah bisa kembali menjadi seorang dokter seperti sebelumnya, begitupun Celine ... karena di dunia ini, tidak ada tempat untuk manusia tanpa nurani, Sayang."


"Kenapa bisa? Terus sekarang gimana?" Radha penasaran, bagaimana bisa Gian sepaham itu.


"Bisa dong, suamimu ini serba bisa, Ra, jangan pernah kamu ragukan, apalagi soal cinta."


Bugh


Pukulan itu mendarat di dadanya, tak begitu kuat namun berhasil membuat Gian meringis. Kebiasaan Radha, jika salah tingkah main pukul.


"Kenapa harus dipukul, Kakak mati bagaimana?"


"Kawin lagi," jawabnya polos tanpa dosa dan membuat Gian menggigitnya hingga menjerit cukup kuat.


"Sakit, gila!!" Radha menggosok telinga malang yang menjadi objek sasaran Gian.


"Ya makanya jangan sembarangan." Terlalu menggemaskan, membawa Jelita turut serta ternyata memang hal paling baik, pikir Gian.



Kalila : Mama sama Papa mo pacaran, Kalila sama Oma dulu, Onty 🌻

__ADS_1


__ADS_2