
“Bentar, lu nggak mau bilang sesuatu gitu ke gue, Ra?”
Berusaha menghindar, tapi tak dapat ia berdalih lagi. Sejak tadi Helena masih diam, motornya belum juga ia hidupkan demi menunggu jawaban Radha.
“Apaan, Ele … udah deh buruan balik, Mama sama Papa gue bisa ngamuk kalau tau gue bolos beneran tau gak.”
Radha menepuk bahunya untuk kesekian kali, siang ini ternyata cukup panas. Akan sia-sia rasanya perawatan mahal mereka. Namun tak dapat Radha pungkiri, saat ini ia justru memikirkan Gian, sang suami. Karena jika Gian mengetahui hal ini, bisa jadi ia tidak mendapat izin untuk sekolah secara seperti anak-anak lain.
“Papa sama mama, bukannya papa lu udah punya istri lain, Ra?”
Ia masih penasaran, sejak tadi mencari celah agar Radha mau bercerita yang sesungguhnya. Bahkan dengan cara memaksapun, Radha enggan untuk mengatakan hal itu.
“Lu mau nanya apa sih sebenarnya?”
“Ehm gue cuma penasaran aja, Ra … maaf dah kalau lancang yak.” Menyadari Radha kini merasa tak nyaman ia wawancara akhirnya Helena menyerah.
Mungkin butuh lebih banyak pendekatan, walau Helena yakin sebenarnya ucapan wanita tadi sudah menunjukkan benang merah dari apa yang Radha alami.
“Kalau lu mau cerita apapun, bilang aja, Ra … gue gak lemes kok, rahasia lu aman sama gue.”
Tatapan kosong Radha dapat Helena tangkap jelas di spion motornya. Temannya itu terlihat hendak menangis, entah apa yang Radha pikirkan sebenarnya.
“Ra, jawab dong! Jangan murung mulu, udah perawatan masa jadi berkerut sih.”
Radha benar-benar berbeda. Jika ketika ia pergi Radha kerap berteriak mengingatkan agar Helena hati-hati menghindari kendaraan yang lain kini ia hanya diam mematung.
“Radhania, kesambet lu ya … di depan ada kuburan china, Ra. Lu jangan macem-macem deh.”
“Ck, bawel banget si lu! Udah deh jalan aja, udah telat ni kita.”
Perempuan itu menatap pergelangan tangan kirinya. Perkiraan ketika mereka hendak mendatangi klinik kencantikan itu nyatanya benar-benar salah. Mereka mengira bahwa perawatan itu hanya memakan waktu paling lama satu jam, dan ternyata lebih dari itu.
“Telat apaan gila, sekolah udah bubar juga jam segini.”
__ADS_1
Sejak tadi ia bingung kenapa Radha yang setuju untuk bolos memilih untuk tetap diantar ke sekolah. Walau sudah dengan rayuan maut tetap saja Radha enggan menunjukkan dimana alamat rumahnya, padahal di sisi lain Helena penasaran luar biasa tentang keluarga Radha.
“Sabar, Nyonya … kita gak boleh ngebut, muka kita kan baru di manjain.”
“Besok-besok pakek mobil aja makanya, lu kan kaya.”
“Heh, bawa mobil … emang lu pikir bokap gue bakal izinin? Kagak shay.”
Meski sudah mengenakan masker dan juga kaca helmnya yang tertutup tetap saja membuat Helena khawatir. Hal semacam ini merupakan penderitaan sebenarnya, karena sang papa membatasi ruang gerak Helena, dia sendiri bahkan ragu apa benar ia anak orang kaya.
Radha harap-harap cemas, dadanya kini tak karuan. Ia dikecam ketakutan, gerbang sekolah tampak mengerikan. Dan … benar!! Gian berada di sana, menunggu sembari beberapa kali menatap pergelangan tangannya.
“Stop-stop!! Udah, gue di sini aja, Le.”
Menyadari temannya ini sedikit aneh, Helena tak banyak tanya lebih dulu. Ia membiarkan Radha turun, toh memang permintaan Radha hanya di dekat sekolah saja.
“Makasih ya buat hari ini,” tutur Radha meski buru-buru tetap ia ucapkan, karena memang uang yang ia nikmati dari Helena hari ini cukup fantastis.
_
Melangkah perlahan, sesekali menoleh dan memastikan bahwa Helena sudah pergi. Kini, Radha menggigit bibirnya, takut jika Gian akan mengamuk dan menghukumnya.
Pria itu belum menyadari kehadirannya, Gian masih fokus dengan jam tangan dan ponselnya, sepertinya pria itu tengah memastikan sesuatu. Sedangkan Radha kini bingung harus bagaimana di ajika Gian nanti bertanya, ia tak sepandai itu merangkai kata seperti Helena.
“Ehem, Kak.”
Gian menatap arah suara itu, wanita kecilnya yang sejak beberapa jam lalu membuat Gian ketar ketir ini justru datang sendiri di hadapan Gian. Sempat hilang arah, ia menghabiskan waktu cukup lama di gerbang sekolah, bahkan ia mencari Radha ke rumah karena pengakuan penjaga sekolah setelah Gian bertanya dengan menunjukkan foto Radha.
Persis seperti kehilangan anggota keluarga, meski kini Gian luar biasa tenang, pikirannya kacau sejak tadi. Ia telah meminta Reyhans untuk mengutus beberapa orang mencari keberadaan Radha. Sempat berpikir untuk lapor polisi, namun hal itu tentu belum akan mereka tangani.
“Dari mana saja kamu? Sakit? Sakit apa begini, hm?” tanya Gian lembut, namun cengkraman di dagu Radha membuat wanita itu lagi-lagi takut.
“Jawab, Kakak nggak marah, Ra … kamu dari mana?”
__ADS_1
Gian bertanya ulang, karena memang ia sekhawatir itu perihal istrinya. Begitu tahu bahwa istrinya sakit dari penjaga sekolah itu, Gian rela putar balik ke rumah dan mengunjungi beberapa rumah sakit terdekat karena ia takut Radha akan mandiri dan berobat sendiri.
“Aku ikut Helena ke klinik kecantikan di jalan mawar, tapi abis itu pulang kok … aku gak kemana-mana.”
Tanpa Radha tutup-tutupi, karena memang baginya kepada Gian berbohong adalah hal paling percuma. Gian tak marah, ia hanya tersenyum menyadari ulah istrinya yang mulai berani.
“Wajar,” tutur Gian tanpa sadar kini terpaku menatap wajah bidadarinya, memang sedikit berbeda, bahkan aroma tubuh Radha sejak ia datang semenggoda itu bagi Gian.
“Uangnya?” tanya Gian kemudian, karena yang ia ingat hari ini ia lupa memberikan uang jajan untuk istrinya, dan sama sekali istrinya tak pegang uang.
“Helena yang bayar,” jawabnya santai, sungguh ia benar-benar lega karena Gian kini tak semenyeramkan yang ia duga.
“Hm, lain kali kamu yang bayarin dia, tapi izin dulu sama Kakak, jangan kabur-kaburan begini, Ra.”
Percayalah, di balik wajah tenang yang kini mengulas senyum pada istrinya, ada manusia yang kini terdzlomini karena Gian. Mengumpulkan informasi dan mengerahkan beberapa orang demi mencari ratu kesayangannya itu.
Senyum itu kini mengembang, Radha berseru yes dan mengibarkan bendera kemenangan. Bagaimana Gian saat ini benar-benar memperbaiki suasana hati Radha.
“Kamu udah makan?” tanya Gian kini mengusap rambut istrinya, dan ia terdiam sejenak, kenapa sedikit berbeda, pikir Gian.
“Ud ….”
“Zura!! Kamu potong rambut juga?!! Kan Kakak bilang jangan dipotong.” Belum sempat Radha menjawab pertanyaan Gian, kini pria itu justru frustasi kala menyadari rambutnya memang sedikit berubah.
“Nggak banyak kok, tuh masih panjang kan.”
“Ck … t-tapi tetep aja, kamu kan ke klinik kecantikan, ngapain potong rambut? Cukup wajahmu ini, Ra.” Ia menghela napas kasar, layaknya pria yang kehilangan hal paling berharga dalam hidup.
“Ya kan sekalian, tu klinik bisa potong rambut juga di sebelahnya, mana gratis lagi ... ya aku mau lah.”
“Arrrggghh!! Dimana kamu potong rambutnya? Siapa yang berani potong rambut istriku ini tanpa izin? Hah?!”
Tidak, Gian takkan melakukan hal bodoh bukan? Radha kini bingung harus apa dia, hanya beberapa centi dan Gian menyadarinya.
__ADS_1