
Rintik hujan, peperangan awan hitam dan bias mentari berakhir dengan butiran air yang kini semakin berkuasa. Haidar masih membeku, ia terdiam seribu bahasa menahan segala duka yang tercekat di tenggorokannya.
Perlahan menarik napas dalam-dalam, ia menatap sendu Radha yang kini tertunduk meremas jemarinya. Ketakutan masih menyeruak di benaknya, mengelilingi jiwa dan batinnya. Haidar tak pernah bersikap sekasar ini, bahkan berucap pun ia selembut itu.
"M-maaf, Ra, tak seharusnya Kakak membuatmu takut," ujarnya penuh sesal menatap sendu sang Kekasih.
Tubuh Radha yang bergetar membuat Haidar semakin merasa bersalah, ingin ia rengkuh tubuh mungil itu. Memang seharusnya ia lakukan itu sejak awal bertemu, namun mengapa seberat itu kala Haidar ingin melakukannya.
"Maafkan aku, aku takkan melakukannya lagi, Ra."
Perlahan Haidar menetralisir keadaan, tangis Radha yang masih saja terdengar meski begitu kecil membuat perasaan bersalah itu semakin besar. Ia memberi waktu, Haidar cukup paham bahwa Radha bukan gadis yang dapat di kendalikan dengan paksaan.
Ia biarkan, mungkin rasa takut itu memang masih ada. Dan Haidar tak ingin berubah di mata Radha, dirinya takkan berubah sejahat itu. Selama bersama, hubungan keduanya begitu baik, tanpa ada amarah yang terjadi akibat hal-hal sepele seperti pasangan pada umumnya.
Nyatanya, sikap Radha yang terlalu mengerti dan menerima apapun dan bagaimanapun Haidar tak selamanya baik-baik saja. Tidak adanya tuntutan Radha membuat Haidar begitu baik menjalani hidupnya tanpa terpikir hal semacam ini akan terjadi memecah hubungannya.
"Udah?" Pertanyaan konyol yang kerap Haidar lontarkan jika Radha usai menangis, gadis itu menyeka sisa-sisa air matanya.
Hidung memerah dan wajah yang sungguh tak baik-baik saja begitu Haidar rindukan. Cukup lama ia tak menyaksikan air mata sang Kekasih secara langsung, begitu sabar ia menanti tangis Radha hingga benar-benar usai.
"Hm, udah."
Tak dapat ia pungkiri, di tengah kacaunya suasana hati, Haidar menarik sudut bibirnya tipis. Radha menjawab pertanyaannya seperti yang kerap ia dengar, tak sedetikpun ia lepaskan wajah cantik itu dari pandangan matanya.
"Zura ...."
Suara itu begitu lembut, Radha mengangkat wajahnya, memberanikan diri untuk balik menatap manik indah yang sejak lama ia nantikan kehadirannya. Ia sangat rindu tatapan itu, menenangkan dan ia merasa aman manakala manik itu berada di depannya.
"Kau, apa yang ... Kakak ku ... bagaimana ...."
Haidar bingung memulai pembicaraannya, ia hendak bertanya apa, namun bibirnya seakan tak tega untuk berucap. Bukan hanya takut Radha terluka, ia juga khawatir prihal hatinya, khawatir jika ia akan benar-benar patah.
"Apa, Kak?"
Mata itu menanti jawaban Haidar, begitu sabar dan berusaha sebaik mungkin tak terlihat aneh. Meski beberapa saat lalu Haidar membuatnya hampir gila, namun secepat itu Radha kembali nyaman tanpa ancaman pria ini akan menyakitinya.
"Ah, tidak ada, tidak penting untuk saat ini."
Pria berkulit putih itu kini kembali melaju, dengan kecepatan normal dan suasana hati yang telah ia usahakan untuk tak sekacau sebelumnya. Karena saat ini ia tak sendiri, ada Radha di sisinya.
"Kita mau kema ...."
"Sstt, dilarang bertanya seperti biasa."
__ADS_1
Radha tersenyum kelu, entah mengapa hatinya terhenyak kala ucapan itu ia dengar lagi setelah beberapa lama ia rindukan. Tak seperti pasangan lain, Haidar melakukan apapun untuk Radha tanpa bertanya apa kehendak kekasihnya.
Dan ini adalah hal yang takkan Radha dapatkan dari siapapun, cara Haidar memperlakukannya begitu berbeda. Itulah alasan mengapa ia mampu bertahan begitu lama meski pertemuan di antaranya tak seperti pasangan lain yang bisa di samakan dengan jadwal minum obat.
Sekecil apapun hal yang Haidar lakukan, hanya tawa dan gurat senyum indah untuk Radha. Tak peduli dia sesibuk apa, Haidar tetap menjadikan Radha salah satu prioritasnya. Pemikiran matang tentang masa depan membuat Haidar bekerja begitu keras tanpa bantuan Raka sebagai orang di belakangnya.
Meski semua yang Haidar impikan mungkin hanya akan menjadi angan, entah kapan kata nyata bersatu dalam dirinya. Haidar tak ingin berpikir jauh lebih dahulu, saat ini ia bisa bersama Radha, artinya tak ada yang perlu ia pikirkan selain menghabiskan waktu yang ia punya untuk Radha.
********
"Kita kesini?" Kalimat itu keluar begitu saja tanpa sadar statusnya, tempat yang selalu mereka datangi berdua seakan membuat lupa sejenak bahwa mereka tak lagi sama.
Perjalanan cukup jauh menenggelamkan Radha dalam lautan yang Haidar ciptakan. Pria itu tak berlaku kasar lagi, bahkan ia bersikap santai tak seperti awal Radha bersamanya.
"Biar Kakak yang turun lebih dulu," ujar Haidar, ini bukanlah suatu hal baru. Memang kebiasaannya saat bersama Radha, terlebih lagi saat ini rintik hujan masih menyapa meski tak sekasar beberapa saat lalu.
"Ehm."
Ia tersenyum, manik matanya mengikuti gerak Haidar yang kini membukakan pintu mobil untuknya. Melepaskan jaket denim dan merangkul pundaknya begitu lembut, berlindung di bawah jaket wangi itu lagi-lagi membuat Radha benar-benar menemukan sosok yang di rinduinya.
"Kita lari?"
Radha mengangguk, mengapa hal semacam ini harus terjadi. Senyum itu terukir jelas, Haidar dapat menangkapnya. Ia masih sama, hal semacam ini bahkan membuat hatinya bergetar. Layaknya Haidar yang juga semudah itu tersenyum, Radha pun demikian.
"Tidak, Kak. Aku baik-baik saja,"
Lembut, perhatian itu Haidar berikan hanya untuk pemilik mata indah itu. Ia menarik kursi itu layaknya seorang pangeran yang memperlakukan ratunya sebaik itu. Siapapun yang melihatnya jelas merasakan irinya sebagai perempuan kala Radha di perlakukan demikian.
"Duduklah ratunya Kakak."
"Kak," ucap Radha lirih, mata keduanya terkunci sesaat. Senyum hangat itu Haidar berikan, seakan memang tak ada yang salah dengan mereka.
"Kenapa, Ra? Salah?"
"Bukan, t-tapi ...."
"Tapi apa? Kita belum sempat jalan berdua kan semenjak Kakak pulang," ujar Haidar sembari menyisir rambut dengan sela-sela jemarinya. Pria itu memang tampan, bahkan tak kurang suatu apapun dari fisiknya.
"Lupakan sesaat, saat ini kau sedang bersamaku, Ra, kita berdua dan ini memang seharusnya."
Haidar tak ingin Radha membahas Gian, ia tahu seberapa jatuhnya Radha terjebak dalam rindu, ia paham di matanya ada kekhawatiran selain tentangnya, selain dirinya dan cemas itu bukan lagi tentang dia.
"Satu jam ya, Kak."
__ADS_1
Radha menatap pergelangan tangan kirinya, meski ia memang begitu nyaman dan merindu luar biasa Radha paham ucapan Gian beberapa waktu lalu berlaku untuk saat ini. Ia tak lagi sendiri, dan statusnya kini resmi sebagai seorang istri dari pria dewasa yang luar biasa menghargai arti pernikahan.
"Hahahah hey sejak kapan kau berani membatasi pertemuan, hm?"
Haidar tertawa sumbang, saat ini adalah masa untuknya, dan takkan ia lepaskan Radha dengan alasan apapun tentu saja. Baginya sekeras apapun dunia, hanya Radha lah yang benar-benar dunianya.
"Aku hanya takut suam ...."
"Sssst, aku tak ingin mendengarnya, Ra, diam atau kau mau Kakak cium?"
Jika dahulu Radha akan salah tingkah, lain halnya dengan saat ini. Ia bahkan takut dengan ucapan Haidar, ia memang cinta bahkan sayang cinta, namun batas mereka terlampau tinggi dan Radha tak mampu melewatinya. Entah karena ia menghargai sosok Gian, atau memang cintanya nyata berkurang.
"Kenapa kau diam? Kau ingat Gian kah?"
Radha mendongak, memang benar ia mengingat suaminya kini. Bagaimana dia, apa yang tengah ia kerjakan, bagaimana kabar hidungnya menjadi pikiran Radha tentu saja.
"Apa saja yang sudah dia lakukan terhadapmu, hm?"
Pertanyaan spontan Haidar membuat Radha bungkam tanpa bisa berpikir sedikitpun. Apa mungkin harus ia jelaskan, kalau saja ia jujur siapa yang akan patah nantinya. Selain Haidar, ia juga akan patah tentu saja.
"Jawab, Sayang ...."
"Aah? Apa makdud Kakak?"
"Hahahaha pacarku terlalu kecil untuk menyandang status istri orang kan."
Tawa itu, mata itu dan gelagat Haidar membuat Radha tak dapat berpikir jernih. Sadar betul, pria yang kini berada di depannya tengah berusaha sekuat tenaga menahan sakitnya, seberapa dalam luka dan banyak darahnya dapat Radha rasa.
"Bercanda, kita kesini untuk makan siang, bukan membahas hal semacam itu," ujarnya kemudian di tutup senyum tipis sembari menggenggam pelan jemari Radha.
Sejenak ia diam, cincin tersemat di jemari sang kekasih. Sama persis dengan yang lihat di jemari Gian, sakit sekali. Bahkan jika bisa, saat ini Haidar akan menghancurkan benda kecil itu.
"Apa teman-temanmu tahu kau sudah menikah?" tanya Haidar menatap lekat tanpa melepaskan genggamannya.
Radha menggeleng, tentu saja temannya takkan paham. Lagi dan lagi ia merasa berdosa, Radha berlindung dan mengatakan cincin itu dari Haidar, kekasihnya. Sungguh luar biasa sakit yang ia ciptakan kini, bahkan teramat sakit.
............... Bersambung
Kita terlalu memaksa, lupa bahwa hujan memang akan datang tanpa diminta. Dan tak selamanya pelangi datang sesudahnya.
Salam hangat🤗 kalimat cinta untuk cinta❣️
~Desh_Puspita (Follow Igeh Author, kali mo kenal mueheh)
__ADS_1