Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 225. Pilihan Sulit


__ADS_3

"Kau yakin, Ardi?"


Pembicaraan dua pria ini tampaknya sangat serius. Jelita yang duduk di sisi suaminya menatap datar Ardi yang mengatakan jika pernikahannya dengan Dewi sudah berakhir.


"Aku tidak bahagia, Raka."


"Salahmu menyia-nyiakan wanita yang baik."


"Hem, bener, Mas ... memang salahmu Ardi buang berlian demi batu kali, Oon sih," ujar Jelita semakin memanaskan suasana, sungguh ia puas dengan apa yang terjadi dengan kehidupan Ardi, mengingat bagaimana dulu Maya menjadi wanita yang Ardi sakiti bertubi-tubi.


"Ta, nggak gitu juga." Merasa tak enak lantaran ucapan Jelita yang semakin membuat Ardi terpojok, sementara Ardi yang mendapat umpatan Jelita hanya diam dan pasrah menerimanya.


"Tidak masalah, Raka ... kan memang bodoh."


"Ya sudah, bagus kalau sadar."


Nyatanya mereka sama saja, walau sebelumnya Raka menegur Jelita agar menjaga ucapannya. Kini, dia juga sama.


Pembicaraan mereka terhenti sesaat kala menyadari keributan di luar sana, sudah pasti suami istri itu sudah pulang. Entah apa yang mereka permasalahkan hingga membuat Radha berteriak cukup kuat.


"Biarkan saja, memang mereka punya dunianya sendiri," tutur Raka mengingatkan Ardi yang hendak beranjak dari sofa.


"Tapi sepertinya ada yang pecah, Raka."


"Tidak ada, telingamu pasti salah."


Raka menunggu dengan sabar kedatangan putra dan menantunya, cukup lama dan kini keduanya baru saja datang dengan wajah yang tampak terkejut, mungkin tidak menyangka jika orang tuanya tengah bersama-sama.


"Papa?" Radha mengerutkan dahi, senyum Ardi sudah menyambutnya, begitupun dengan Jelita.


"Hm, kalian dari mana?" tanya Ardi dengan suara lembutnya, berubah raut wajahnya seakan tidak terjadi apa-apa.


"Ikut Kak Gian kerja," jawab Radha singkat, tak ingin permasalahannya diketahui.


"Gian yang minta?" Jelita kini turut bertanya, pasalnya yang biasa menuntut ditemani adalah Gian.


"Dia yang mau, Ma."


Memang, sepertinya Gian dan Jelita akan menjadi musuh bebuyutan. Tak bisa dia bayangkan bagaimana jika nanti putranya sudah lahir, bisa jadi Gian menjadi anak tiri, pikirnya.


"Papa nggak pulang ke rumah ya? Anaknya nyariin."


Ardi menggigit bibirnya, apa maksud Radha bertanya demikian. Sungguh, wanita ini nampaknya tengah membunuh Ardi pelan-pelan. Hanya sebuah pertanyaan sederhana namun membuat Ardi ketar ketir.

__ADS_1


"Pulang, tapi cuma sebentar."


Dia bukan anak kecil lagi, dan perubahan Ardi dapat Radha baca walau tak pria itu jelaskan secara langsung. Namun hendak bertanya ia belum mau, karena Ardi bukanlah seseorang yang sesulit itu menyelesaikan masalah, pikir Radha.


Obrolan mereka lebih dekat, Ardi banyak mempertanyakan kondisi putrinya. Dan tak sama sekali dia membahas tentang perpisahannya dengan Dewi di depan Radha.


Begitupun dengan pertemuannya bersama Maya, karena jika ia ceritakan yang akan Ardi dapatkan hanya ejekan dari Jelita, dan itu sudah pasti.


"Istirahat yang cukup, jangan terlalu banyak pikiran, jaga senyum putriku, Gian."


"Iya, Pa."


Tanpa mereka tahu, bahwa kejadian yang sebenarnya terjadi sangat menguras emosi dan hati Radha. Kesalahan fatal Gian yang menolak mentah-mentah saran Reyhans membuatnya terjebak dalam luka, beruntung saja Radha tak sebodoh itu termakan arus.


Cukup lama mereka berada di sana, Gian yang mulai mengantuk bahkan menguap menyita perhatian. Beberapa kali Jelita mengingatkan putranya untuk mandi pagi.


"Ra, Kakak ngantuk ... temenin tidur," bisik Gian pelan, matanya sudah memerah, akhir-akhir ini dia lebih mudah lelah.


"Sore masa tidur?"


"Bentar doang, satu jam."


Mana bisa dia menolak, dan mereka juga mengerti bagaimana putranya. Raka mengiyakan kala Gian pamit membawa istrinya ke kamar.


-


Tidur yang Gian maksudkan nyatanya tak semudah itu. Berulang kali mengatur tempat dan Radha merasa sangat terganggu dengan gerakan Gian persis bayi belajar tengkurap.


"Diem dikit bisa nggak sih." Radha mendelik lantaran kesalnya, tangan Gian yang lepas dari tubuhnya juga demikian, tidak bisa diam.


"Pusing," keluhnya tiba-tiba, sejak tadi tampak baik-baik saja dan kini mengeluhkan hal itu.


"Masuk angin?" tanya Radha khawatir, namun tubuhnya tidak panas atau menunjukkan gejala demam.


"Entah, sepertinya minta peluk," tutur Gian dengan senyum tipis dan matanya yang tetap terpejam.


"Gitu ya?"


"Dasar tidak peka, iya lah." Tak tanggung-tanggung, bahkan menendang guling yang berada di sampingnya. Dasar tidak waras, siapa yang salah siapa yang menjadi imbas amarahnya.


Tak menjawab, Radha hanya tersenyum tipis. Ia meletakkan ponselnya ke atas nakas, mungkin Gian protes karena sejak tadi dirinya sibuk berselancar di media sosial.


Sejenak, suasana kamar menjadi diam. Sepertinya suaminya benar-benar tertidur, Radha menatap lekat wajah itu, beralih ke dada Gian yang terbuka dengan alasan panas hingga pria itu melepas kemejanya.

__ADS_1


Semakin ia tatap justru semakin sakit, mengingat ada wanita lain yang menyentuhnya selain dia. Dan jiwanya tak terkendali lagi, Radha menggosok kasar dada Gian hingga memerah dan pria itu terperanjat kaget dan panik luar biasa.


"Kenapa, Ra?" Nyawanya masih terjebak dalam lelahnya mimpi yang baru ia jalani.


"Kotor!!" Ucapannya datar namun penuh penekanan, tak butuh banyak bertanya Gian paham apa yang Radha pikirkan.


"Kamu marah? Luapkan jika memang marah," tutur Gian menatap lekat manik hitam itu, meski jujur saja kuku Radha yang sedikit panjang itu membuat Gian ciut, bagaimana jika benar-benar dicakar habis oleh istrinya.


"Udah nggak," jawabnya usai menenangkan diri, ia lupa jika Gian sudah meminta dirinya untuk membersihkan tubuhnya usai kejadian itu.


"Bohong, matanya masih marah."


"Bukan marah, cuma takut," ucapnya singkat.


"Takut apa? Kakak tidak melakukan apa-apa, Ra ... kalaupun Kakak sadar, mungkin pinggangnya patah saat itu juga, jadi berhenti memikirkan hal macam-macam."


Gian memohon dengan sangat, karena memang dirinya berusaha melupakan hal itu, dan juga pernyataan Juan cukup untuk menguatkan keyakinan Gian jika mereka hanya mengambil kesempatan untuk memfoto saja, tidak lebih.


"Yakin?"


"Iya, seratus persen yakin ... Kakak tidak pernah menyentuh wanita lain selain kamu," ujarnya mantap, karena memang saat ini ia tak pernah macam-macam terhadap siapapun walau Radha sesulit itu menyerahkan dirinya ketika awal-awal pernikahan.


"Hilih, sebelum nikah gimana?"


"Itu berbeda, tidak perlu dibahas ... nanti kamu sakit hati," ujar Gian menarik istrinya dalam pelukan, tak ingin jika Radha semakin memikirkan hal macam-macam, karena baginya membuat Radha menangis sama saja dengan menyiksa batinnya sendiri.


"Tidur, nanti malem kamu bangun biasanya." Gian menghela napas lega, rasa kantuknya masih setia dan ingin dituntaskan segera. Namun belum sempat terlelap ketukan pintu kini terdengar disertai suara lantang dari sang mama.


"Gian!! Buka!!"


"Kakak, gimana? Mama tau juga kan is, udah aku bilang jujur aja," bisik Radha dengan ketakutan yang luar biasa, bisa dipastikan ulahnya dan Gian diketahui Jelita.


"Udah diem, nanti juga capek sendiri dia ... mending kita tidur," jawab Gian dengan santainya, ia tak sengaja membuat bunga-bunga kesayangan Jelita berantakan, padahal dia sudah meminta Budi untuk tutup mulut ketika membereskannya.


"Kita nggak durhaka begini?"


"Kamu mau durhaka sama suami?" Pertanyaan yang sama artinya dengan ancaman kala Radha hendak beranjak dan membuka pintu kamar, bisa dipastikan Jelita tengah murka.


Radha menggeleng cepat, berada diantara keputusan sulit. "Nggak mau."


"Makanya nurut, jangan coba-coba turun dari tempat tidur, kalau nggak Kakak kutuk kamu."


"Maaf, Ma ... tolong sabar ya." Radha menutup telinganya kuat-kuat, kembali menenggelamkan wajahnya di dada Gian, sepertinya memang lebih aman jika dia patuh terhadap perintah suami.

__ADS_1


Tbc 🌼


__ADS_2