Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
288. Tragedi Panas.


__ADS_3

Pada nyatanya, dia yang seakan tak berniat justru paling semangat. Gian sudah terlihat segar begitu dia keluar dari kamar, Radha yang sejak tadi menjadi saksi betapa lemahnya pria itu justru kaget begitu suaminya sesenang itu.


"Kamu kenapa? Ada yang salah denganku?"


Radha menggeleng, memang tidak ada yang salah. Akan tetapi, pria itu terlalu bahagia saja. Merangkul istrinya bak teman dekat, Gian masih sempat mencuri kesempatan untuk mengecup kening istrinya.


Pergi tanpa Kama dan Kalila, mereka terlihat seperti pasangan kekasih. Umur Radha yang masih cukup muda, belum lagi Gian yang justru semakin terlihat muda membuat mereka persis pasangan kekasih.


"Hati-hati ya," tutur Radha kala Gian mulai hendak melaju, takut jika suaminya bar-bar seperti biasanya.


"Hm, kamu tenang saja ... selama bersamaku, kamu aman, Ra."


Sebagai manusia yang mengenal Gian cukup lama, dia paham dengan tabiat suaminya. Radha tak ingin juga sore ini akan sama seperti kejadian gila terdahulu. Walau memang, diantara mereka yang kerap menyebabkan kecelakaan adalah dirinya sendiri.


"Kita mau kemana?"


Dia masih sempat bertanya, Gian tak ingin salah alamat. Meski ia tahu wanitanya ini tidak akan banyak protes Gian ajak kemanapun, paling-paling dia tidak mau bicara jika Gian salah.


Radha yang menentukan lokasi, tempat berburu takjil dan menu berbuka yang sejak dulu menjadi tempat kesukaannya. Belum tiba Radha sudah membayangkan seberapa bahagia dia, akan ada banyak manakan yang menggugah seleranya.


Tak butuh waktu lama, mereka kini sudah tiba di tempat yang dituju. Karena ramai, maka mereka tentu harus berjalan kaki karena tak mungkin egois dan mau seenaknya sendiri.


Keluar dari mobil dan berjalan beriringan, Gian yang terkejut dengan kerumunan manusia ini berpegangan di lengan Radha begitu kuatnya. Dia takut jika nanti istrinya justru hilang dari pandangan.


"Ish, pelan-pelan, Ra, kamu mau keinjek?"


Istrinya sekecil apa hingga Gian setakut itu istrinya akan terinjak. Sekalipun rabun, rasanya tidak akan membuat Radha tak terlihat.


"Ini udah pelan, Kakak kenapa?"


Dia takut istrinya yang menjadi korban, akan tetapi dari wajahnya sangat menjelaskan bahwa Gian lah yang takut terinjak. Wajahnya cemas, dan bergeser amat cepat kala seseorang berjalan di sisinya.


"Zura!! Tunggu dong."


Rewel sekali, dia yang menjadi suami tapi dia yang seakan harus dilindungi. Gian tak biasa berada di kerumunan banyak orang seperti ini, belum lagi yang berjalan di sisinya rata-rata kaum wanita.

__ADS_1


"Jalannya cepet, kayak kura-kura begitu gimana mau kelarnya."


"Ya mau cepet gimana, orang serame ini, bisa tamat kakiku," celetuk Gian dengan bibir yang maju beberapa centi.


-


.


.


.


Radha mulai mendapatkan pilihan, seperti biasa, dia akan kalap dan matanya mendadak lapar sehingga apapun yang ada seakan ingin dia beli semua.


"Sayang, aku mau yang itu."


Tangannya memberikan perintah, kedua manusia ini memang cocok pada kenyataannya. Takjil untuk berbuka satu keluarga dan mereka beli cukup untuk satu RT, bahkan penjualnya cukup kaget begitu menghitung total belanjaan pasangan itu.


"Ra, yang dipojokkan apa?"


Belum puas, berbagai macam makanan manis itu seakan hanya untuk pemanasan saja. Gian masih ingin banyak, bahkan puding yang hanya berbeda warna dia mau juga.


"Beda, aromanya pasti beda, Kakak mau, Ra."


Terserah, Gian kini menghendaki dan Radha hanya bisa mengiyakan. Toh uangnya juga adalah tanggung jawab penuh Gian sendiri.


Selesai di satu tempat, kini mereka hendak berpindah. Dan sialnya, mata Gian kemana hingga tek memperhatikan langkah. Akibatnya, dia tak sadar ketika seorang wanita paruh baya datang dari arah berlawanan dan tak sengaja menginjak kakinya.


"Aaarrrrgggghhh!!! Adooh, jalan lihat-lihat dong, Bu."


Teriakannya cukup memekakan telinga, padahal di ruang terbuka dan Gian masih mengejutkan beberapa orang di sana.


"Kok nyalahin? Kamu yang gak lihat-lihat, udah tau saya mau belok malah lanjut aja jalan."


Lawannya adalah ibu-ibu, dan mana mungkin akan mengalah. Sementara Gian, dia juga takkan pernah mau mengalah.

__ADS_1


"Lah saya mana tau ibu mau kemana, kenapa balik nyalahin saya?"


Radha mendekati wanita paruh baya itu, meminta maaf atas kekeliruan suaminya jika memang seakan salah. Radha tak mau Gian dianggap kurang ajar karena meski kakinya sampai memerah seperti itu, tetap saja berteriak di hadapan wanita yang lebih tia itu adalah hal yang salah.


"Kok jadi kamu yang minta maaf sih, Ra, kamu lihat kaki aku gimana wujudnya?" Gian mengangkat kaki kanannya, memang terlihat memerah dan kotoran dari sepatu wanita itu membekas di kakinya.


"Ibu dari nginjek apaan sih, Bu, kotor banget sepatunya."


Bukannya turut minta maaf dia masih saja mempermasalahkan kakinya yang jadi korban sepatu keras wanita itu. Kulitnya yang putih bersih bahkan hampir merona itu jelas membuat kakinya sangat tampak jika terluka.


"Suka-suka saya mau injek apaan!! Kamu tu ya, buat batal puasa aja, ngapain juga ikut-ikut kemari kalau gak mau keinjek segala."


Sebagai manusia paling waras, Radha menarik suaminya agar segera menjauh. Karena jika terus didiamkan, mungkin sampai menjelang azan magrib mereka tetap akan bersitegang.


"Ck, ah!! Kamu apaan sih, Ra, orang kayak gitu harus dikasih pelajaran biar waras," ocehnya kala mereka sudah semakin menjauh.


Radha menghela napas pelan, belum juga mereka lama di sini sudah terjadi kerisuhan semacam ini. Gian yang enggan mengalah, sementara lawannya memang tak pernah akan mengalah.


"Kak, puasa itu bukan cuma menahan lapar dan dahaga saja, tapi Kakak juga perlu jaga semuanya, terutama emosi Kakak yang meledak-ledak itu."


Meledak? Apa yang meledak, pikir Gian. Selama ini dia tidak salah, kalaupun salah dia memang membela dirinya. Dan perihal emosi, Gian tak semudah itu meredamnya jika dia merasa terusik.


"Siapa yang emosian, mereka saja yang cari perkara, badan udah segede ini, bisa-bisanya diinjek," tuturnya dengan bibir tak bersahabat sama sekali itu, harinya kini tak baik-baik saja, Gian sangat benci seseorang meninggalkan noda di tubuhnya, kecuali dari Radha dan kedua buah hatinya.


"Iya kan rame, Kakak lihat sendiri emang rame kan?"


"Iya tapi kan yang lain tidak diinjak, kenapa harus aku?"


Pertanyaan macam apa itu, dan Radha tak punya jawaban atas pertanyaan konyol Gian. Sama sekali tak ada, andaipun ada, sepertinya tidak akan pernah seperti yang Gian mau.


"Yaudah, kita terusin lagi ... buka masih agak lama, kita tetep di sini ya?" Meski hatinya bergemuruh, akan tetapi tetap mengangguk pasrah.


🧚‍♀


Maaf telat, baru kelar melakukan hal penting lainnya bestie🤗

__ADS_1


__ADS_2