Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Dia Milikku!! (Haidar)


__ADS_3

Brak!!


"Huft ...."


Haidar mengatur napasnya yang kini memburu, tak ada pilihan lain. Pria itu hanya punya satu jalan keluar untuk bersembunyi dari Jelita.


"Haidar?"


"Sssstttt!!"


"Please, Kakak bantu aku kali ini."


"Ck, ada apa denganmu?"


Jujur saja Gian panik menyadari adiknya kini menerobos masuk dalam kamarnya. Sedangkan Radha masih ia berada di kamar mandi, tentu saja itu ulahnya. Gian takkan membiarkan Radha pergi sebelum ia melakukan tugasnya.


"Kamarku terkunci, dan Mama sedang mencarimu!! Aku harus apa!!"


Langkah Jelita semakin mendekat, dan Haidar telah berhasil mengamankan kuncinya. Berharap Gian takkan berulah kali ini, ia hanya ingin terselamatkan untuk sesaat saja. Usai hari ini ia akan benar-benar pergi tanpa berpikir kapan ia akan kembali.


"Lalu? Kau ingin aku lagi-lagi melindungimu?"


Gian menggeser posisi Haidar, ia hendak berusaha meraih handle pintu.


"Minggirlah, kembali ke kamarmu. Jadilah laki-laki yang tak lari dari kenyataan, Haidar."


Ucapan itu sungguh menusuk tepat di dada Haidar, benar-benar mengena di hatinya. Memang benar kali ini bahkan tak terlihat seperti seorang pria, bahkan beberapa orang akan mempertanyakan dirinya.


"Bukan saatnya, Kak."


Haidar menatap tajam manik hitam Gian, pria itu benar-benar tak mengerti keadaan. Dengan segudang kekacauan yang kini ia rasakan, Gian seakan tak peduli.


Ketukan pintu semakin jelas, Jelita mendesak Gian untuk segera membukanya. Entah apa urusan wanita itu, yang jelas memang kebiasaan Jelita yang kerap datang tiba-tiba.


Ceklek


"Ays!! Sialan, dasar menyebalkan!! Kenapa kau buka?!!" gerutu Haidar dengan emosi membuncah luar biasa, sang Kakak menarik sudut bibir kala Jelita mendorong pintu kamar Gian.


Gian tertawa sumbang, wajah pias Haidar seakan menjadi hal yang lucu baginya. Meski demikian tak dapat ia pungkiri, Gian juga khawatir bahwa Radha akan segera keluar dan berjumpa dengan Haidar.


"Eeiiitsss!!! Mau kemana kau?!!"


Hampir saja Gian kehilangan Haidar, pria itu hendak mengambil langkah ke kamar mandi, jelas saja hal itu akan membuat pertemuan keduanya lebih cepat, dan Gian belum menginginkan hal itu.


"Kau jangan gila!! Lepaskan, Mama bisa membunuhku, Bodoh!!"


Haidar memberontak, namun tenaganya tak cukup kuat untuk melepaskan diri dari Gian. Belum sempat berlalu, wanita cantik nan lembut itu kini sudah berada di belakngnya.


"Ada apa, Ma?"


Pria tampan itu tak berani berkutik kala Gian mulai berbicara dengan sang Mama. Ia masih berusaha membelakangi Jelita dengan bersembunyi di balik hodie dan topinya itu.

__ADS_1


Tak ada jawaban dari Jelita, ia justru fokus dengan pria tinggi berpakaian tertutup yang kini membelakanginya. Ia diam, postur tubuh Haidar dapat ia kenali secepat itu.


"Kenapa kau pulang?"


DEG


Pertanyaan Jelita seakan sembilu yang menyayat hatinya dengan sengaja. Seumur hidupnya, Jelita tak pernah sedingin itu. Sadar betul semua memang salahnya, namun mental Haidar tak sebesar itu untuk meminta maaf.


Jelita melangkah maju, ia ingin memperhatikan wajah Haidar dengan seksama. Ia menatap lekat wajah tampan itu, matanya sendu dengan gurat kesedihan terpapar jelas, lebam wajahnya sempat membuatnya khawatir bukan main.


"Ada apa dengan wajahmu?"


Haidar hanya menggeleng, tidak ada kepanikan dan pertanyaan memburu dari Jelita. Jika biasanya tatapan Jelita akan setakut itu, berbeda dengan kini yang seakan berjarak begitu besarnya.


"Gian? Radha sudah makan?" tanya Jelita kini mengalihkan pembicaraan.


Pertanyaan Jelita membuat keduanya terdiam seketika, baik Gian maupun Haidar sama-sama terbelalak dengan pertanyaan yang Jelita lontarkan.


Penuh tanya Haidar menatap wajah sang Mama, nama itu benar-benar tak asing baginya. Firasatnya mulai tak enak, belum lagi Gian yang hanya menghela napas perlahan sembari mengalihkan pandangannya kala Haidar menatap dengan sejuta tanya.


"Ra-Radha?" batin Haidar menatap wajah kedua orang itu bergantian.


Ketukan pintu kamar mandi yang cukup keras kini terulang, Jelita mendelik, wajah Gian terlihat jelas tengah menyembunyikan sesuatu.


"Kakak!! Kenapa dikunci pintunya?!!" rengekan penuh kekesalan itu terdengar jelas


"Gian kau gila?!!"


"Mam ...."


Telat, Jelita telah berhasil membuka pintu kamar mandi itu. Jelas saja ia khawatir dengan keadaan menantunya, Gian sepertinya butuh perawatan kejiwaan.


"Ays, matilah aku."


Haidar menuntut penjelasan Gian, ia tak begitu mengerti apa yang terjadi. Namun entah mengapa nama yang Jelita ucapkan seakan menjadi pengikatnya untuk tetap di sini.


"Ya Allah, Gian!!"


Jelita meraih jemari Radha yang kini tengah menyeka keringatnya. Wajah cemberut Radha cukup menjelaskan alasannya, ia menatap nanar kedepan mencari sosok Gian yang telah berbuat gila terhadapnya.


"Ra?"


Suara lembut itu begitu halus, Radha mengangkat wajahnya, pandangan mereka terkunci. Gian hanya menggigit bibir bawahnya, hal yang paling ia takutkan kini benar terjadi.


Ya Tuhan, pertemuan macam apa ini, Radha terdiam, napasnya tercekat di tenggorokan. Menatap kedua pria yang kini berada di depannya bergantian. Ia butuh penjelasan, apa yang kini tengah terjadi di antaranya.


"Kak?"


"Sayang? Kenapa kau di sini?"


Haidar melangkah tanpa aba-aba, menarik Radha yang kini berada dalam genggaman Jelita. Tak peduli apa yang membuat kekasihnya berada di kamar sang Kakak. Yang ia peduli, hanya ingin menuntaskan sejenak rindunya.

__ADS_1


"Ck, apa yang kau lakukan, Kak?!"


Dengan kasar Gian menarik pundak Haidar yang kini memeluk tubuh mungil istrinya. Kekuatan Gian memisahkan dekapan erat Haidar yang tengah berusaha menyalurkan rindunya.


Haidar mengeratkan rahangnya, ia mengepalkan tangannya tak suka. Gian keterlaluan baginya, tak seharusnya sekasar itu. Lagipula apa masalahnya, dimana letak salahnya Haidar memeluk kekasihnya sendiri.


"Dia kekasihku!! Apa masalahmu?"


Radha diam, ia hanya menunduk sembari menautkan jemarinya. Perlahan ia mengerti apa yang kini ia hadapi, wajar saja Gian selalu menolak kala Radha mempertanyakan siapa calon suami seharusnya.


Menyesal ia menolak dan memilih tutup mata tentang hal-hal mengenai pernikahan mereka. Andai ia lebih berani bertanya pada Ardi, tentu hal semacam ini takkan terjadi.


Belum usai kemarahan Haidar, pemandangan yang kini ia saksikan semakin membuat Haidar tercekik. Radha menurut dan memilih untuk ikut kala Gian menarik pergelangan tangannya lembut.


"Kak ...." Haidar menekan kata-katanya, ia berusaha menuntut penjelasan mengapa Radha bisa berada di rumahnya.


"Apa?"


"Kau tidak dengar? Dia kekasihku, Gian!!"


Teriakan Haidar melengking, cukup membuat telinga ketiga orang disana sakit. Jelita masih diam, pun Gian dan juga Radha. Ia hanya tengah membiarkan putranya terjebak tanda tanya.


"Lalu apa hubungannya?" tanya Gian datar, wajahnya benar-benar tak bersahabat. Tak sedikitpun ia lepaskan genggaman tangannya dari Radha.


"Cih, kau masih bertanya?" Haidar menatap Gian penuh amarah dengan gigi yang kini mulai bergemelutuk.


"Dia milikku, Kak."


Haidar tak tinggal diam kala Gian mulai beranjak keluar kamar, ia turut menggenggam pergelangan tangan Radha dan berusaha tak melepaskan kekasihnya.


"Tapi dia istrku, Haidar," ucap Gian sembari menepis tangan Haidar dari pergelangan istrinya.


Menjadi saksi dari perdebatan pilu kedua putranya, Jelita hanya terdiam dengan sembilu yang jua menyayatnya. Sudah ia katakan pada Raka, seharusnya semua dimulai dengan keterbukaan. Takkan ia saksikan hal gila semacam ini.


"Ma?"


Bibir gemetar itu menatap sendu sang Mama, meminta penjelasan sembari memohon agar Mamanya menolak pernyataan Gian.


"Mama di sini, Sayang," ujar Jelita pada akhirnya yang tak tega menyaksikan putranya terlihat hancur, Haidar patah dan luka. Ia paham betul apa yang putranya rasakan saat ini.


"Hahaha ... aku salah dengar kan, Ma?" tanya Haidar sembari tertawa sumbang menatap kedua orang yang ia kenali itu bergantian.


Berharap Jelita akan mengiyakan pertanyaannya, Gian mengeratkan ganggamannya, menjelaskan dengan gerak tubuhnya bahwa ucapannya benar adanya.


"Zura? Bicara sayang ... dia membualkan?"


Hanya dari mulut Radha ia meminta kepastian, saat ini pengakuan Radha lah yang ia perlukan.


Tbc


Maaf ya, Bunda-Bunda, ini satu part aja di ketik dua malam. Curi-curi waktu, masih menyesuaikan keadaan. Insya Allah, dan di usahakan up lagi tiap hari. Maaf yaa❣️🤗

__ADS_1


__ADS_2