
"Tidurlah," ucap Gian meraih bantal dan segera merebahkan tubuhnya di sofa.
Tentu saja sofa itu takkan muat menampung tubuh tingginya, Radha sedikit merasa tenang. Setidaknya, Gian sadar diri bahwa ia harus mengalah, pikir Radha.
Berakhir sudah drama kamar mandi yang hingga saat ini masih membuat Radha memerah. Bayangan dada bidang Gian yang masih membasah membuatnya berdesir. Bahkan makanpun Radha enggab, makanan yang Jelita berikan untuk keduanya masih belum tersentuh.
Benar, Gian memaksanya membuka mata yang berakhir dengan pukulan tak tentu arah dari Radha. Masih dengan wajah masamnya, Radha tak melepaskan Gian dari pandangan matanya.
"Ck, apa yang kau lihat, sana tidur."
Dengan mata terpejam Gian berucap demikian, segera Radha bersembunyi di balik selimut dengan gerakan cepatnya. Pria itu benar-benar membuatnya kalang kabut, pun dengan ucapannya yang terdengar biasa.
Malam ini cukup dingin, ternyata suasana di hotel itu jauh dari apa yang Radha bayangkan. Selimut yang ia pakai sudah cukup tebal, tetap saja tak memberi pengaruh nyaman.
"Astaga!! Kenapa sedingin ini?!"
Radha terbangun, ia tatap pergelangan tangannya. Masih terlampau lama untuk pagi menjelang. Namun benar-benar dingin, suaranya bahkan terdengar serak.
Berbeda dengannya, Gian terlihat begitu lelap. Sejenak Radha menggeleng, benar-benar sesuai dengan julukan yang ia berikan. Beruang kutub, bahkan Gian lebih dingin daripada itu jika sedang saatnya.
Tubuhnya mengigil namun kantuknya juga luar biasa. Hingga Radha memaksakan diri untuk terpejam dengan suasana hati yang di aduk-aduk.
*******
Malam telah usai, tak meski menunggu matahari meninggi, Radha terbiasa bangun di pagi hari. Hal ini ia biasakan karena sejak kecil, Surti selalu mengajarkannya tentang kewajiban seorang hamba.
Perlahan mata itu terbuka, masih dalam kondisi setengah sadar, Radha bergerak dari tidurnya. Namun, ada satu hal yang aneh, perutnya terasa berat.
Pun dengan paha dan bagian kakinya, terasa amat berat hingga sulit bergerak.
"Eenggghh," erang Radha dengan kantuk yang masih menguasainya.
"Woaah!! Haaaah!! Apa ini?" Radha bertanya-tanya dengan tangan memastikan benda apa yang menempel di perutnya.
__ADS_1
"Aaaaaaarrrrrrgggghhhh!!!"
BRUKK!!
"Aaaakkhhh, Mama!!" pekik Gian yang kini tak tertolong, sungguh gila istri kecilnya.
Entah bagaimana caranya, tubuh besar Gian yang bahkan belum berniat untuk bangun itu jatuh begitu saja akibat tendangan maut Radha.
"Kakak?!! Sejak kapan kau berada di kamarku?" tanya Radha panik, mengetahui sosok laki-laki memeluknya jelas saja Radha terkejut, ia belum terbiasa, bahkan sangat sulit untuk terbiasa.
"Kamarmu? Kau lupa apa yang terjadi, Zura?"
Gian berdecak, tulang ekornya terasa sakit, bahkan mungkin cidera. Tak ia duga, tenaga Radha sekuat itu. Luka di kaki istrinya mungkin belum sembuh total, bagaimana bisa Radha dapat membuat tubuhnya jatuh tak berdaya.
"Aah iya ... aku lupa."
"Kau!!"
Gian mendesis, giginya bergemulutuk. Kini ia berdiri sembari menahan sakit, sangat menyebalkan wanita itu, ingin rasanya ia memberikan hukuman kecil pagi ini.
Jelas saja ia tak terima kala Gian meletakkannya di posisi salah. Dengan sisa keberanian Radha menatap Gian dengan wajah pura-pura tegar itu.
"Kau bertanya pada Kakak? Kau tidak ingat bagaimana kau memintaku memelukmu tadi malam?"
Radha mengernyit heran, seingatnya tidak ada. Namun, perkataan Gian dengan wajah seserius itu membuat Radha sejenak terdiam. Apa mungkin benar Gian melakukan itu atas permintaannya, pikir Radha meneliti wajah Gian.
"Apa yang kau lihat? Kau tak percaya?"
"Bu-bukan, tapi memang aku tidak melakukannya. Dan tidak mungkin aku memintanya."
Gian menatap tajam Radha, pria itu kini kembali naik ke atas tempat tidur. Jelas saja hal itu membuat Radha kalang kabut. Wajah Gian yang semakin mendekat membuatnya berpikir macam-macam.
"Kakak mau apa?"
__ADS_1
Susah payah ia menelan salivanya, hembusan napas Gian bahkan terasa hangat di permukaan kulit karena begitu dekatnya. Netra keduanya sejenak bertemu, namun secepat itu Radha berpaling.
"Kau tau apa yang kumau?"
Radha menggeleng, bagaimana dia bisa tau, jelas saja ia memilih pura-pura tak mengerti. Meski ia tahu arah bicara Gian kemana.
Lama keduanya terdiam, dengan posisi yang sama. Radha tak bisa berlari kala Gian melingkarkan tangan di pinggulnya. Benar-benar adegan dewasa yang tak layak ia terima, pikir Radha begitu sebalnya.
"Zura," panggil Gian begitu lembut, tulus dan bahkan membuat Radha meleleh lantaran betapa lembutnya suara Gian.
"Kau dengar Kakak?"
Pertanyaan konyol, namun tetap saja ia pertanyakan. Anggukan kecil yang Radha berikan membuat Gian tersenyum simpul, pria itu masih mengantuk, bahkan matanya belum terbuka sempurna.
"Give me a kiss."
Radha sejenak terdiam, entah kerasukan apa suaminya. Sikap Gian benar-benar tak dapat ditebak. Bahkan pagi ini ia semanja itu, bersandar di pundak Radha dengan matanya yang kini kembali terpejam.
Entah itu igauan, atau memang terucap nyata. Permintaan Gian sungguh memusingkan kepala, bagaimana mungkin adegan itu Radha mulai. Sangat tidak masuk akal, pikirnya.
"Zura, cepat, kakak menunggu. Semalam aku memberikan apa yang kau mau, sekarang saatnya kau membalas kebaikanku."
What? Jadi serius, Gian benar-benar memintanya. Dasar pria licik, pikir Radha. Bahkan sama sekali ia tak ingat bahwa Radha meminta pelukan itu dari Gian, sedikitpun tidak.
"Tapi aku tidak_"
Cup
Radha membeliak, Gian benar-benar memaksakan kehendak. Dengan gerakan secepat itu, Gian menarik sudut bibir, wajah panik Radha membuatnya gemas.
Tanpa mengucapkan apa-apa, Gian berlalu begitu saja. Meninggalkan Radha yang masih menyimpan banyak tanya. Terkejut? Tentu saja, bahkan ia tak mampu beranjak lantaran gugupnya masih melanda.
"Mandi, Ra, mandi."
__ADS_1
Gian tertawa sumbang, sukses mengambil paksa hadiahnya di pagi ini membuat Gian berbinar, entah ia hanya merasa lucu saja. Seakan anak kecil itu akan menjadi candunya.
Tbc