Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 229. Berbanding Terbalik


__ADS_3

Udara malam cukup dingin menusuk kulit, sejak tadi Radha menanti kepulangan suaminya. Sengaja sendirian di balkon dengan coklat hangat sembari mencari ketenangan, seru juga ternyata seakan-akan kaum galau sedunia.


Tiga puluh menit menunggu, kini yang ia nanti sudah tiba. Tak ingin menghampiri, karena Gian akan marah jika dirinya berlari-lari ke teras depan. Ia tetap akan menunggu Gian di tempat ini, karena memang nyaman sekali.


"Kenapa ingkar janji?"


Baru saja membuka pintu, suara nyaring itu sudah mengejutkan Gian. Bagaimana tidak, orangnya tidak terlihat sedangkan suaranya sangat jelas..


"Kamu dimana?" tanya Gian menatap sekelilingnya, barulah ia menemukan dimana istrinya.


Belum sempat membuka baju dan lainnya, Gian menghampiri istrinya segera. Penampilan Radha yang kini mengenakan baju tidur pendek dengan dada yang sedikit terbuka membuat debaran jantung Gian berbeda.


"Kenapa di luar? Dingin, Zura."


Tak habis pikir kenapa istrinya sekuat itu, padahal bagi Gian udaranya sangat dingin, bahkan menembus ke kulitnya.


"Panas, Kak ... makanya keluar."


Dalam pelukan lembut Gian, ia memang tak merasa terganggu dengan dinginnya malam ini. Radha menghela napas pelan kala kehangatan itu menyelimutinya.


Pelukan Gian terlalu lembut, sembari sesekali memberikan kecupan di puncak kepala Istrinya. Malam menjadi saksi bagaimana mereka mengalahkan dinginnya suasana.


"Nanti masuk angin, terus malah jadi sakit ... kamu yang susah, Sayangku."


Harus dengan cara apalagi agar Radha menurut, berkali-kali Gian ingatkan malam adalah hal yang harus dia hindari.


"Tapi langitnya cantik, Kak," ucapnya kembali menatap langit kelam yang bagi Gian sama sekali tak cantik, menakutkan iya.


"Gelap, Sayang, cantik dari mana." cetus Gian merasa sama sekali tak ada benarnya.


"Kata Mama arti namaku itu langit biru, berarti langit hitam seperti ini kembaranku, gitu nggak, Kak?"


Radha bertanya dengan polosnya, menatap lekat Gian yang tengah dirundung kebimbangan. Ia bingung hendak menjawab apa, karena apa yang Radha katakan hanya membuatnya terkekeh.


"Tidak seperti itu, Sayang, pikiranmu kejauhan," ungkap Gian menarik hidung istrinya, dari mana dia menyimpulkan hal semacam itu.


"Kak," panggilnya seakan sangat serius sekali.


"Apa?"


"Boleh aku tanya?" Gian harus berhati-hati, karena Biasanya kalau sudah begini, Radha akan menyampaikan hal serius.

__ADS_1


"Boleh, tumben izin," ucapnya usil memancing peperangan.


"Iya, siapa tau lagi pusing dan males buat ditanya." Radha tak menatap Gian lagi, melainkan pada langit kelam namun terasa nyaman bagi Radha.


"Tanyalah, sebelum Kakak berubah pikiran." Gian mengeratkan pelukannya, seakan enggan lepas dari Radha walau hanya sesaat.


"Tentang kak Reyhans, Kakak masih semarah itu?"


Sangat berhati-hati, ia takut Gian akan marah karena beberapa waktu lalu nama itu kerap membuat suasana diantara mereka berubah.


Belum ada jawaban, Gian hanya menunduk dan tak menjawab pertanyaan Radha. Entah apa alasannya, dan suasana berubah menjadi semakin serius setelah ini.


"Kak?"


"Hm ... apa tadi pertanyaannya? Tentang Reyhans ya." Gian menghela napas kasar lebih dulu, sebenarnya sudah ia duga jika Radha akan bertanya, takkan jauh dari hal ini.


"Iya, masa lalu kalian, bukankah kak Reyhans tidak salah?"


Gian mengangguk, karena memang dia mengetahui apa yang terjadi sebenarnya walau terlambat. Bagaimana Reyhans, dan siapa yang jahat dalam hidupnya dapat Gian simpulkan sendiri.


"Kakak tidak lagi mengingat hal itu, Ra ... tapi, Kakak tidak mau minta maaf," ucapnya cepat karena memang ini adalah inti dari segala inti pembicaraaannya.


Besarnya gengsi Gian, membuatnya tak kan mau walau hanya meminta maaf pada Reyhans. Tuduhannya memang cukup menyakitkan, mata Gian tertutup kabut pengkhianatan sehingga ia enggan.


"Iya, meminta maaf tidak perlu pakai kata-kata kan? Cukup dengan cara Kakak memperlakukan Reyhans baik-baik dan kembali menjalin hubungan baik, cukup?" Ia tengah meminta persetujuan Radha, karena tampaknya istrinya keberatan dengan cara Gian.


"Tetap saja, untuk mengawali hubungan yang baik itu harus minta maaf, biar Kak Rey tidak punya kekhawatiran kalau Kakak masih belum menerima dia." Penjelasan Radha sama saja dengan mewajibkan Gian untuk meminta maaf pada Reyhans, tanpa alasan apapun.


"Iya-iya, nanti Kakak minta maaf," ucap Gian seakan tak ikhlas agar pembicaraan ini terhenti.


"Kapan?"


"Nantilah, kalau ingat," jawabnya malas seraya mencium pundaknya berkali-kali.


"Harus pokoknya, jangan sampai enggak."


"Iya Bos," ucapnya dengan penuh penekanan.


-


.

__ADS_1


.


.


Berbeda jauh dari kata ketenangan seperti yang Radha dapatkan, kini Dewi dan Celine tengah dirundung amarah serta kekecewaan.


Keputusan Ardi sudah bulat, dan bodohnya dia ketahuan selingkuh di depan mata Ardi. Tak bisa lagi mengelak dan Dewi dijatuhi talak dihadapan pria yang menjadi selingkuhannya.


Bukan dalam keadaan marah, Ardi hanya kebetulan pulang di saat yang tepat. Dan Dewi yang merasa semua aman-aman saja nyatanya terjebak kepercayaan sendiri.


"Mama!! Terus kita bagaimana?"


"Celine, bisakah kamu diam sebentar saja?"


Bukan main kacaunya, Dewi dan Celine bahkan tak bisa tidur meski malam telah larut. Tenangnya malam sangat berbanding terbalik dengan dunianya kini.


Kehilangan Ardi, sekaligus pria yang ia jadikan simpanan yang tak terima kala mengetahui bahwa dirinya bukan seorang janda.


Sendirian, siapa yang kini peduli padanya. Hanya ada Celine yang justru membuatnya semakin sakit kepala. Apa yang Ardi lakukan bahkan jauh lebih kejam dari caranya melepaskan Maya.


Diusir dengan cara yang sangat menyakitkan, Dewi tak bisa berbuat apa-apa selain diam saat Ini. Ia tak punya cara lagi untuk memutar keadaan, jika biasanya ada Radha yang ia jadikan ancaman, kini tidak sama sekali.


"Maya harus tanggung jawab!! Semua karena dia," ujar Dewi sembari melempar bantal tanpa arah.


"Maksud Mama?" tanya Celine penasaran, cukup lama nama itu tak ia dengar lagi.


"Papamu ke Semarang, pasti menemui wanita itu ... dia yang selingkuh, Celine, bukan Mama," jerit Dewi menyalahkan keadaan, padahal sudah jelas bahwa dirinyalah yang bersalah dalam segala keadaan.


"What? Mamanya Radha?" Celine tak berani lagi jika harus mengusik Radha, karena apa yang terima sudah lebih dari cukup untuk membuatnya hati-hati dalam bertindak.


"Iya, Maya sepertinya balas dendam, dasar licik, berani sekali dia bermain-main denganku." Dewi menatap nanar tanpa arah, sejuta dendam kembali merasuk dalam jiwanya.


"Ma, sepertinya tidak ada hubungannya ... dan aku sarankan berhenti cari masalah dengan Radha ataupun mamanya, karena suaminya tidak akan tinggal diam."


"Maksud kamu?" Dewi menatap heran putrinya, yang biasanya sangat berambisi untuk mengacaukan mereka, kini justru ciut sebelum berperang.


"Tidak ada maksud, sekarang lebih baik Mama cari cara agar bisa kembali lagi sama Papa, Mama nggak mau kan kerja lagi? Capek-capek sendirian, dan aku juga tidak siap jika harus begini, Ma."


"Kamu cuma bisa bicara, Celine ... semua juga karena kamu!! Andai kamu tetap jadi anak baik-baik untuk Ardi, pasti dia tidak akan menceraikanku dengan mudah seperti ini."


Keduanya berperang saling menyalahkan satu sama lain, entah siapa yang salah dan yang pasti tidak ada yang mau mengalah.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2