
"Mas?"
Raka tersenyum hangat, menatap sejenak Jelita yang kini tengah memeluk putranya. Setelah sempat menanyakan bagaimana Haidar beberapa hari ini, Raka memutuskan untuk berbicara baik-baik pada putranya.
Raka melangkah, dan duduk mendekati kedua belahan jiwanya. Ia menepuk pelan pundak Haidar yang terlihat bergetar, sejak kapan putranya menjadi cengeng.
"Ingat umurmu, Haidar."
Ia menarik sudut bibir, memang Raka tak terlalu banyak menghabiskan waktu layaknya perlakuannya pada Gian. Lantaran Haidar yang lebih memilih jalan hidupnya meski dengan larangan keras dari Raka. Walau demikian, putranya akan tetap menjadi putranya.
"Mas, bukan waktunya untuk bercanda."
Seperti biasa, Jelita akan menjadi penengah paling lembut jika Raka membuat jengkel kedua putranya. Baik pada Gian maupun Haidar, sama saja. Raka kerap membuat putranya menjadi kesal sendiri lantaran kalimat-kalimat yang ia ucapkan.
Baginya, menangis bukanlah tabiat laki-laki. Dan ia tak suka putranya tumbuh menjadi sosok yang lemah prihal hidup. Ia meminta Jelita untuk melepaskan Haidar, ia ingin matanya bertemu dengan kesenduan di mata putranya.
"Ck, Mama ...." Haidar merengek tak suka kala Jelita mengikuti kemauan Raka, sejak ia sadar Papanya lah yang masuk ke kamar, Haidar memang sekesal itu.
"Dasar manja, Mamamu perlu istirahat, Haidar."
Dengan senyum penuh ejekan, ia menatap mata Haidar yang terlihat memerah. Wajah itu semakin sembab dan memperlihatkan betapa menyedihkan hidupnya.
Jujur saja, Raka merindukan putranya. Terlalu sedikit waktu yang mereka habiskan sementara Haidar remaja. Jika dahulu Raka kerap menjemputnya sekolah, putra kecilnya masih terlihat polos dengan ketampanan yang sudah terlihat di umurnya yang masih begitu muda.
Dan kini, wajah itu terlihat dewasa. Namun air mata dan tatapan kosongnya seakan berbohong dari usianya. Raka menangkap kekesalan dan segala macam emosi bercampur di matanya.
"Untuk apa Papa kemari?"
Haidar mulai bersuara, keputusan Jelita yang benar-benar meninggalkannya membuat pria itu kesal bukan main. Raka yang sedari tadi diam namun sengaja memperhatikannya membuat Haidar ingin segera meninggalkan kamar ini.
"Memangnya kenapa? Kau tidak butuh Papa?"
Ia menunduk, pertanyaan konyol macam apa yang Raka berikan. Butuh? Iya, jelas saja ia butuh. Raka tetap akan menjadi papa baginya, tidak ada yang berubah meski pria itu seakan merenggut sebagian dari jiwanya.
"Aku hanya tidak suka Papa melihatku seperti itu," ujarnya kemudian.
__ADS_1
Haidar beranjak, meraih tisu yang ada di nakas dan mengusap sisa air mata yang membuat wajahnya terasa lembab. Berada di samping Raka, takkan ia biarkan air mata berkuasa. Meski keduanya bertahta sama, Raka dan Jelita tak dapat di samakan jika tentang kesedihannya.
"Tapi Papa suka melihatmu."
"Ck, apa sebenarnya yang mau Papa bicarakan?"
Ia paham betul, Raka takkan berkata selembut itu jika tidak ada alasan. Entah itu berita buruk atau baik, Haidar hanya ingin berhati-hati agar tak terjebak nantinya.
"Sebelum kau kembali menekuni duniamu, Apa kau mau menghabiskan waktu bersama?"
Haidar terdiam, sejenak ia berpikir apa yang sebenarnya tengah Raka pikirkan. Kalimat itu, entah berapa tahun yang lalu ia pernah mendengarnya. Liburan adalah hal yang paling Haidar sukai semasa kecil, dan dia kerap meminta waktu kedua orang tuanya dan juga Gian walau hanya pergi ke taman bermain.
"Kita? semua ya, Pa?"
"Hm, semua ... seperti yang dahulu pernah kau minta, Nak ... Papa hanya ingin menepati janji beberapa tahun lalu."
Sesal kembali berkuasa, di tahun terkahir Haidar menempuh pendidikannya, Raka pernah mengiyakan permintaan Haidar untuk berlibur di musim semi. Namun, dengan alasan bisnis yang harus ia jalani, Raka tak dapat memenuhi janjinya.
Semua? Apa mungkin yang Raka maksud adalah Radha juga? Jika memang benar, tak dapat Haidar bayangkan baimana nantinya dirinya. Meski penegasan Radha sore itu cukup membuatnya tertampar dan segera menjauh, tetap saja anggapan batinnya bahwa ia tak mudah secepat itu melepas Radha akan tetap bertahan.
Tanpa Raka duga, pria itu mengiyakan tanpa beban. Haidar juga berpikir memang ia perlu waktu bersama. Setidaknya, dengan liburan yang di rencanakan sang Papa ia dapat menjangkau Radha secara langsung.
"Dan kunyuk sialan itu juga harus ikut, Pa."
"Astaga, siapa yang membuatmu seperti ini, Haidar?"
Raka menggeleng, entah dari siapa. Namun yang jelas, sudah pasti salah satunya adalah ulah Randy yang memang selalu mananamkan hal semacam itu pada kedua putranya secara bergantian.
"Aku rasa itu tidak penting, Pa."
Tanpa menanti jawaban, Haidar keluar begitu saja dan membuat Raka hanya mampu tercengang akibat ulah putranya. Segarang apapun dia, hanya Gian dan Haidar yang berani meninggalkannya sendirian dengan sejuta tanya di kepalanya.
"Dasar anak kurang ajar kalian," umpat Raka menggeleng pelan, ia mengelus dada sembari menghela napas perlahan. Mencoba bersabar lantaran putranya mulai berani, dan benar bahwa kedua putranya kadang kala memiliki sifat yang tak kenal takut seperti Jelita.
*******
__ADS_1
"Kakak, tunggu kakiku keram!!!"
Baru saja hendak melangkah, suara yang ia rindukan kini terdengar dengan lantangnya. Haidar hendak mencari minuman dingin untuk melegakan tenggorokannya, berbicara dengan Raka membuatnya sangat haus.
Dari jauh, Haidar hanya melihat pemilik tubuh mungil itu terlihat kesulitan dengan langkahnya. Gian yang berada di depannya hanya mengejek dan membuat langkah istrinya semakin kesal saja.
Entah apa yang sebenarnya terjadi, namun dari canda keduanya terlihat jika mereka tengah baik-baik saja. Haidar menunduk, menatap nanar langkahnya yang terhenti. Tanpa sadar, air mata yang memang telah terkuras sejak tadi kini kembali menetes begitu mudahnya.
Tanpa berharap keduanya akan sadar dengan kehadiran Haidar, pria itu hanya menajamkan pendengaran untuk hanya sekadar mengetahui apa yang Radha ucapkan.
"Ays, kau benar-benar mirip siput masuk angin, Zura."
Kalimat itu begitu jelas, dan Radha dalam hitungan detik telah berada dalam gendongan Gian. Bak anak kecil yang tengah meminta untuk tetap bermain, Radha menolak dan meminta di turunkan dengan segala cara.
"Aaah, Kakak, kepalaku pusing, kau membuat otakku terbalik!"
Teriakan Radha membuat Haidar menarik sudut bibir dalam tangisnya. Ia lihat sejenak, dari balik lemari kaca itu, Gian membawa Radha bak karung beras. Jelas saja ia berteriak, sedikitpun tak ia lepaskan dari pandangan manakala Gian meniti anak tangga ke lantai dua.
"Kau terdengar bahagia, Ra."
Haidar mengepalkan tangannya, ia sakit, namun Gian dan Radha terlihat baik-baik saja. Ini tak adil namanya, bukankah cintanya bahkan lebih dalam dari Gian, pikir Haidar menatap hampa tanpa arah.
Ia terduduk, kakinya terlalu lemas untuk berdiri di atas titian luka. Dadanya semakin sesak manakala gelak tawa Radha semakin terdengar jelas. Ia sakit, sebahagia apa kedua orang itu hingga lupa bahwa di sini ia tengah berusaha menghentikan darah di lukanya.
"Kenapa harus di depan Kakak, Ra?"
Haidar hanya bersandar lemah, memang benar lebih baik dia tetap berada di kamarnya. Keluar hanya membuatnya mengetahui apa yang tak ia ketahui, meski penantiannya akan kepulangan Radha akhirnya usai, tapi bukan begini yang Haidar inginkan.
"Bagaimana, Ra? Kau terlihat begitu baik, lalu bagaimana denganku, Ra?"
Ia memejamkan mata, mencoba menghela napas di sela sakitnya. Haidar hanya mampu menekan kuat dadanya, siapa yang kini ia harap. Dan dengan semudah itu ia mengiyakan rencana Raka, apa mungkin ia akan mampu menahan patahnya.
......... ,Bersambung❣️
Maaf ya, kemarin gak bisa up. Ga kekejer, Bund.
__ADS_1
Ada cinta, yang hanya di takdirkan sebagai sebuah rasa. Namun, tidak untuk perkara memiliki. Hingga, cinta yang dahulunya sedalam itu, berubah menjadi luka yang bahkan lebih dalam dari rasa cintanya. ~ Haidar Zhafran Abrizam🦕