Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Kualat?


__ADS_3

“Silahkan, nih spesial buat Neng mah, baru Mamang angkat dari penggorengan, nimkatnya teh pollll.”


Begitulah kehebohan Asep melayani pelangganya, baginya seorang pelanggan sama halnya seperti raja. Ya walau memang tidak ada sejarahnya, raja makan pecel lele pinggir jalan dan datang dengan sendirinya.


“Ah thengkyuh Mang, udah kangen banget sih parah.”


Gian mencebikkan bibirnya, reaksi Radha sungguh berlebihan yang membuatnya salah persepsi. Apa yang sebenarnya Radha rindukan, pecel lelenya atau Asepnya. Pikiran gila tanpa pertimbangan itu membuatnya menatap Asep tak suka.


“Hmmm, surga dunia.”


Tak mampu ia menahan lebih lama, rasanya makanan yang kini berada di depannya sudah melambai-lambai ingin menari dalam mulutnya. Gian memperhatikan istrinya yang kini mulai mencuci tangannya, tampaknya eksekusi akan ia mulai.


“Kakak kenapa liatin aku?” tanya Radha menatap heran Gian yang sejak tadi hanya menatapnya tanpa melakukan apa-apa.


“Makannya harus gitu?”


Gian mendadak ragu jika harus mengikuti langkah Gian makan tanpa menggunakan sendok ataupun sumpit yang biasa ia lakukan. Belum lagi sambal merah kecoklatan itu sepertinya sangat pedas, Gian takut makannya kali ini justru sama saja dengan menyiksa diri.


“Iya dong, kalau gak gini kenikmatannya gak bisa kita rasakan, Kak.”


“Hm, seperti tidak ada cara lain saja,” keluh Gian sembari menggelengkan kepala, walau sebenarnya perlahan ia ingin mencoba.


“Kakak belum coba, ini tuh makanan paling enak sejagat raya,” jelas Radha mulai menyatukan sambal khas dan lele panas yang sangat empuk di sertai daun kemangi yang menjadi kesukaannya dalam satu suapan.


“Hmmmmmm ya Tuhan, enak banget ….” Makannya Radha bukan hanya mulut yang beraksi, tapi tubuhnya juga. Bergerak kanan kini tak bisa diam dengan matanya yang terpejam, dan saat ini juga Gian percaya bahwa perempuan jika makan memang berbeda.

__ADS_1


“Apa benar seenak itu?”


Hati Gian bertanya begitu penasarannya, perutnya mendadak demo ingin dia mengikuti apa yang Radha lakukan. Dengan tanpa pikir panjang, Gian cuci tangan dan melakukan persis seperti Radha. Bodohnya, dengan kemampuannya yang tidak terbiasa dengan makanan pedas, Gian mengambil sambal cukup banyak karena memang menggoda di matanya.


Perlahan namun pasti, pecel ayam dipadukan nasi panas itu masuk dalam mulutnya. Radha menatap lekat suaminya itu, menanti bagaimana ekpresinya nanti. Tentu Gian akan memuji makanan itu hingga setinggi langit ketujuh, pikir Radha.


Namun, semua yang ia tebak salah total. Baru beberapa detik makanan itu berjumpa dengan lidahnya, wajah Gian kini memerah, matanya berair namun ia masih meneruskan makannya. Berusaha sebisa mungkin agar tidak membuangnya, walau yang ia rasakan kini hanya siksaan ratu cabai.


“Haaa jangan nangis dong, emang seenak itu, Kak.” Gian tak habis pikir dengan Radha yang kini mengatakannya menikmati, meski pria itu diam, namun matanya yang kini terlihat menangis harus menjawab pertanyaan Radha.


Gian menepuk meja berkali-kali, mungkin jika ada kamera ia telah mengakat kedua tangannya. Secepat mungkin ia meraih minuman yang berada di depannya, menegak habis es teh yang ternyata belum meredakan pedasnya. Gian tertunduk lemas, memegangi perut dan memejamkan mata erat-erat.


“Kenapa dipaksain kalau gak kuat, Kak.”


“Ya Tuhan, Kakak bisa makan tanpa harus ikut caraku,” tutur Radha penuh penyesalan, Gian yang kini terlihat tengah berusaha baik-baik saja membuatnya khawatir luar biasa.


“Dasar gila, siapa yang menciptakan makanan seperti ini.”


Ia mulai bicara, begitu kesal lantaran kepalanya bahkan terasa sedikit pusing. Andai saja Gian meneruskannya hingga habis satu piring, bisa-bisa ia pulang naik ambulance. Radha mengela napas pelan, merasa bersalah karena hal sepenting ini ia tak paham. Wajar saja makanan di rumah tak pernah ada yang pedas, pikir Radha.


“Ini minum lagi,” ujar Radha menyodorkan teh tawar miliknya, karena menurutnya dibandingkan teh manis, ini lebih baik.


“Uweeek, pahit, Zura.” Ia bergidik, sungguh minuman paling tidak enak yang pernah ia coba.


“Ya tapi biar pedesnya ilang minumnya teh tawar gini, Kakak minum teh manis gak ngaruh,” tuturnya bak menasehati seorang anak yang tak mau menurut tapi butuh bantuan.

__ADS_1


Radha mengigit bawahnya, ia tahu Gian pasti sangat lapar. Namun karena hal bodoh yang Gian lakukan sendiri membuatnya tersiksa. Terpaksa ia menunda makannya lebih dulu, Radha menepikan sambal yang berada di piring Gian, bahkan meminta Asep menyiapkan menu lainnya.


Ayam bakar, sepertinya pilihan terbaik. Karena memang makanan Gian sebelumnya tak bisa lagi terselamatkan, dan jika Gian tetap memakannya bisa dipastikan pria itu tak bisa bekerja esok hari.


“Kakak makan lagi ya, udah mendingan kan?” Gian hanya mengangguk, walau perutnya kini terasa amat perih, ingin rasanya ia acak-acak tempat ini karena berhasil membuatnya tersiksa dengan satu suapan saja.


“Hm, kau kenapa berhenti? Tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja.” Gian menenangkan istrinya, menyadari Radha terlihat murung dan bahkan menyeka keringatnya berkali-kali, ia yakin pikiran istrinya itu sedang tidak baik-baik saja.


“Nanti saja, tunggu makanan Kakak datang lagi.” Ia menjawab seadanya, karena memang meski ia sangat lapar, namun melihat Gian ia tak tega jika harus makan sendiri.


Rasa bersalah menyelimutinya, wajah suaminya yang masih memerah karena memang kulit Gian begitu putih masih membuatnya tak tenang. Takut jika nanti efeknya diluar dugaan Radha, dan kini ia hanya mampu berharap memang suaminya ini akan baik-baik saja.


*******


“Kakak kuat, yakin?” Radha lagi-lagi memastikan ketika Gian baru saja kembali ke mobil, bukan berlebihan, namun ia memang takut Gian tiba-tiba sakit perut lagi seperti barusan.


“Hm, sebentar lagi kita tiba di kantor, kau jangan khawatir.” Berucap dengan bibirnya yang sedikit pucat, namun Gian tak mungkin menjawab bahwa memang ia sedikit lelah karena perutnya benar-benar menyiksa, nyatanya walau makanannya telah di ganti ayam bakar, tetap saja efek sambal mematikan itu menyiksanya.


“Nggak yakin deh, aku aja yang nyetir gimana?” tawar Radha membuat Gian membeliak tak percaya, rasanya tak mungkin Radha mampu mengendarai kendaraan roda empat ini.


“Jangan bercanda, Ra, kamu mau ajak Kakak ke rumah sakit atau kemana?” Gian meremehkan kemampuan Radha, karena memang sedikitpun taka da keyakinan dalam diri Gian terhadap putri kecilnya itu.


“Aku serius, Kak … atau Kakak mau ke rumah sakit beneran?” Lagi-lagi Radha salah mengartikan, yang Gian maksud bukanlah hal itu, ia hanya takut jika nanti keduanya celaka dan masuk rumah sakit. Namun yang menjadi pemahaman Radha ialah Gian memang ingin ke rumah sakit karena perutnya yang sejak tadi tak bersahabat.


“Bagaimana? Percaya sama aku, walau aku belajar nyetir otodidak, tapi gapernah nabrak pagar kok, Kak.” Ia meyakinkan Gian untuk terakhir kalinya, karena seperti yang ia lihat Gian benar-benar tak baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2