Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 182. Bukan Malam Pertama


__ADS_3

"Pijitin Kakak dong, Ra."


"Ih udah malem juga, Kakak nggak liat mataku udah sesipit ini?"


Gian mencebik, dia belum mau tidur sama sekali. Kantuknya entah pergi kemana, dan kini menggoda Radha jalan satu-satunya. Belahan istrinya begitu jelas da membuatnya semakin tak bisa tidur.


Sejak tadi pria ini cari perhatian dengan bergerak kesana kemari tapi istrinya diam tak peduli. Bahkan tangan usilnya mulai meraba kemana-mana tapi Radha hanya mematung dan membiarkan Gian melakukan apa maunya.


"Ra, ayolah!! Kakak nggak bisa tidur."


"Ih!! Tinggal merem apa susahnya," ucap Radha dengan suara khas ngantuk yang justru membuat Gian mabuk kepayang.


Tubuhnya terasa panas, bahkan kancing piyamanya sudah terbuka semua. Berharap Radha akan peka maunya apa. Bisa saja jika dia melakukan dan Radha hanya diam, tapi Gian tak mau jika tanpa kemauan istrinya.


"Bukan gitu, Ra ... aduh, kamu apa nggak paham? Kakak udah panas banget please," rengeknya seakan sulit bernapas, pasokan udara di kamar ini terasa kurang bagi Gian.


"Panas apanya? Dingin begini dibilang panas, Kakak kenapa sih? Kerasukan kunti di Jalan anggrek tadi ya?"


Malah melenceng jauh, Gian geram namun mau memaksa juga ia enggan. Radha yang kini menatapnya di sisa-sisa kantuknya hanya menarik sudut bibirnya tipis.


Wajah suaminya memang terlihat lucu, rambutnya yang sudah acak-acakan membuat hati Radha tergelitik. Sedangkan Gian sebal bukan main karena istrinya tampak sengaja mempermainkannya.


"Ra, ssshh ...."


"Kenapa sih?"


Ia tertawa sumbang, sepertinya Gian mulai menantangnya secara nyata. Menggigit lengannya dengan gigi runcingnya membuat istrinya sadar dari kantuknya.


"Kakak pengen, Ra ... pengen!! Gitu aja nggak peka ya Tuhan."


Gian tengah mengeluh akan nasibnya kini, Radha yang pura-pura tak mengerti atau memang tak mengerti membuatnya tak kuasa lebih lama menahan sabarnya.


Dalam satu gerakan, selimut dan guling yang Radha peluk telah terbang seakan tak berguna lantai kamar. Radha menghela napas kasar, ada saja ulah Gian yang membuatnya tak habis pikir setiap harinya.


"Buka matanya!! Nggak boleh tidur duluan," ujar Gian yang kini berada di atas tubuh istrinya.


Jemarinya benar-benar lancang dan mencubit kelopak mata Radha agar kantuk istrinya segera hilang. Bukannya marah, Radha hanya merasa apa yang suaminya lakukan ini adalah hal lucu, padahal kini ia tengah terancam terkaman Gian.

__ADS_1


Radha membuka matanya lebar-lebar, menatap lekat manik tajam Gian yang kini menuntut maunya. Sudut bibirnya tertarik tipis, tatapan itu selalu Gian rindukan setiap harinya.


Pelan namun pasti, Radha bukan tak paham apa mau pria ini, bahkan kini membenamkan bibir dengan lembutnya. Radha bukan ingin menolak, tapi memang ngantuknya luar biasa. Hingga seberapa dalam Gian menciumnya, Radha masih setengah sadar.


Manyadari istrinya tak membalas permainannya, Gian menyudahi ciumannya. Dan, pria itu hanya menarik napas dalam-dalam. Apa memang Radha tak terangsaang atau bagaimana, pikirnya.


"Bisa-bisanya dicium dia tidur."


Sepertinya harus ia lakukan, cara lembut membuat Radha hanya semakin nyenyak saja. Dengan cara lebih agresiff sepertinya akan lebih baik, pikir Gian.


"Maaf, Ra ... ini mungkin sakit, tapi Kakak nggak mau kalau kamu persis patung begini."


"Aarrrrrrggggghhh!! Mama!! Sakit ...."


Sengantuk-ngantuknya Radha jika Gian sudah gila seperti ini sepertinya kesadarannya akan kembali 100 persen. Sakitnya sampai ke ubun-ubun, Radha meringis dan memastikan jika asetnya tidak berdarah.


"Begoo!! Sakit banget sumpah!!"


"Hahaha, ya kamu ngapain diajak perang malah tidur, bangun-bangun, jangan males ibadah buat suami."


"Kalau putus gimana?"


"Aaawwwwhh!! Buat apa ditoel lagi!!" pekik Radha dengan emosi yang tak bisa ia tahan, ingin rasanya ia pukul suaminya ini, hanya saja kata durhaka masih ia hindari.


"Maaf, Ra ... Kakak khilaf."


Khilaf, dasar gila!! Khilaf macam apa yang membuat asetnya terancam rusak. Gian memang kerap melakukan hal di luar nalar Radha, ingin menangis rasanya, tapi sentuhan Gian yang selembut itu membuatnya luluh perlahan.


Nyatanya, Radha yang sejak tadi menolak justru panas dengan sendirinya. Tubuhnya menginginkan, bahkan menuntut sentuhan Gian lebih dalam lagi.


Tangan Gian memang lebih gila dibanding yang Radha tahu, beberapa pakaian Radha justru berakhir di tangan Gian jika mereka terlibat perang baratayudha. Sekali tarikan baju itu robek tak layak pakai.


Jika tidak begitu, Gian tak merasa puas. Tubuh polos istrinya itu kini terlihat jelas, lampu kamarnya masih menyala dan dengan jelas Gian dapat menatap setiap inci keindahan tubuh istrinya.


"Ck, mau tutup apa?" Gian menyingkirkan tangan istrinya yang berusaha menutupi aset berharganya.


Radha, masih tetap sama, bukan malam pertama tapi malunya masih luar biasa. Belum lagi Gian yang sengaja memandanginya membuat Radha hanya terdiam dalam malunya, sial kenapa juga lampunya masih menyala, gerutu Radha.

__ADS_1


"Lampunya," ucap Radha tertahan karena Gian hampir memulainya.


"Kenapa lampunya?"


"Matiin," titah Radha namun takkan pernah Gian lakukan, mana mau dia menyia-nyiakan kesempatan.


"Nanti, kalau kita mau tidur."


Mana bisa Gian melakukan hal lain sedangkan mangsanya sudah siap, bahkan mungkin jika diluar ada bencana Gian takkan peduli untuk sementara.


Berkuasa atas tubuh Radha, menyalurkan kasih sayang sedalam ini membuatnya benar-benar menjadi pria sempurna. Lembut namun tegas Gian berikan, hal yang tak bisa Radha tolak meski terasa sesak.


Malam kelam yang tadi menakutkan, semua hilang bersama lenguhan Radha yang sejak tadi Gian ingini. Menatap istrinya terbuai dalam permainan adalah puncak keberhasilan Gian.


Hingga tubuhnya ambruk setelah mencapai titiknya, napasnya terengah-engah, dan menarik Radha dalam peluknya. Dan dalam hitungan detik matanya perlahan terlelap, Gian semudah itu hanyut dalam kantuknya.


Napasnya kini teratur, dan keringat membasahi sekujur tubuhnya. Radha yang kini berada dalam dekapannya hanya membuang napas kasar, kebiasaan, pikirnya.


"Malah dia yang tidur," tutur Radha mencebikkan bibir.


Tak puas hanya menatap dadanya saja, Radha melepaskan diri dari pelukan sang suami. Memandangi wajah pria yang kini membuat masa depannya berubah 180 derajat.


Wajah tegas Gian menjadi candunya, kantuk Radha kini entah kemana. Menyusuri wajah Gian dengan telunjuknya, jatuh cinta pada pria dewasa yang menjadi kakak kandung dari kekasihnya tak pernah Radha bayangkan.


Mata lelah Gian mengiris kalbu Radha, teringat jelas apa yang Jelita jelaskan tentang suaminya. Apa benar sesakit itu hidup Gian hingga imbas dari ketakutan itu menyeret dirinya.


Satu detik


Dua detik


Tiga detik


Cup


"Kamu baik tapi emosian," tuturnya kemudian.


Menatap jam dinding di ujung sana, hanya tersisa dua jam lagi jika dia memang harus tidur. Sedangkan Radha yang sudah tak ngantuk sama sekali, memilih berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


🦈


__ADS_2