Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 174. Saling/Mulai Menerima.


__ADS_3

Jauh dari keramaian, taman ini rasanya lebih baiknya. Tenang, dengan earphone yang sejak tadi menemani membawa Haidar dalam kenangan. Senyumnya terukir, tak pernah ia duga jika suara wanita ini luar biasa indahnya.


"Ays!! Sejak kapan kau ada di sini?"


Suara lembutnya protes dengan gerakan cepat wanita di sisinya yang mengganggu ketenangannya. Kembali menjalani karirnya dengan baik, Haidar sesekali mencuri waktu agar ia bisa sendirian. Dan dengan Rury yang selalu berada di sisinya sejak titik terpuruk pria itu.


"Lagu baru? Suka banget keknya," tutur Rury menampilkan senyum manisnya, baginya pria tengil di sampingnya ini masih tetap bocah, meski kini telah beranjak dewasa.


"Bukan, suara burung."


Jawabannya terdengar asal, sesegera mungkin Haidar menghentikan rekaman yang ia dengar. Karena kini sang pemilik suara berada di depannya, Rury, gadis cantik yang sejak beberapa waktu lalu menemaninya di kota ini.


"Hm, kebiasaan kamu, jangan sampai sutradara ngomel sama Kakak lagi ya, Haidar."


Terkadang Rury lelah, pasalnya Haidar memang tak sebaik dahulu meski kini ia tengah berusaha untuk bangkit. Namun bagaimana, kacaunya Haidar yang sempat membuat kantung mata pria itu menghitam menjadi alasan Rury rela meski harus terkena imbasnya.


"Mereka ngomel lagi?" tanya Haidar dengan manik polos seakan tak kenal keadaan.


"Hm, ingin aku racun pak Rusdi lama-lama."


Rury memperlihatkan kekesalannya, sungguh ia dibuat kesal bukan main oleh pria berkumis tipis itu. Tak cukup sekali, bahkan berkali-kali marah dengan alasan yang sama.


"Hahah, kita stop aja gimana? Kakak capek kan?"


"Bu-bukan begitu, Haidar ... Kakak hanya tidak suka kumis lele itu semakin egois saja, padahal dulu ngemis-ngemis minta aku buat bujuk kamu, sekarang aku lepeh gitu aja."


Wanita itu memijit kepalanya, terasa sakit namun harus berusaha sekuatnya. Bukan hanya perihal uang, tapi ia tak ingin jika Haidar jatuh lagi untuk kedua kali.


"Kita lepeh balik aja, Kak." Dia bercanda, namun sama sekali tak ada senyuman di wajahnya.


"Mana bisa, Kakak nggak mau kamu kecewain fans kamu untuk kedua kalinya, Haidar, jangan ya," tuturnya luar biasa lembut, ia menepuk pundak dengan sejuta beban itu.


"Ck, Kakak kenapa mikirin mereka? Penting banget ya?" tanya Haidar menatap lekat wajah lelah Rury yang berjuang hampir setiap saat untuknya.


"Penting lah, tanpa mereka kamu hampa, Haidar."


"Hm, bukan tanpa mereka aku hampa, Kak Rury, jangan berlebihan."

__ADS_1


Perkataannya luar biasa serius, Rury kini menatap lekat wajah tampan pria itu, sejak hilangnya Radha dari hidupnya, Haidar tak begitu peduli tentang penggemarnya, padahal sejak dahulu yang Rury tahu Haidar sangat berusaha citranya di depan para penggemarnya.


"Lalu? Tanpa siapa? Zura?" Rury menyebutkan nama itu, namun kini Haidar hanya menarik sudut bibirnya. Tak ada kemarahan ataupun kesedihan di wajahnya, Haidar hanya menarik napas sedalam itu.


"Bukan," ucapnya menggeleng cepat, sempat menggigit bibir dan tersenyum tipis padanya.


"Oh, tanpa Jenny ya?"


"Bukan juga, tapi tanpa ... wanita yang ada di hadapanku ini."


Suara lembut Haidar membuat Rury menelan salivanya, wajahnya memerah dan terasa begitu panas. Padahal, saat ini masih pagi, namun rasanya wajah Rury ingin meledak saja.


"Hahah lihat sini, memang di sana ada apa?"


Belum pernah Haidar memperlakukannya seperti ini, campur aduk padahal adegan romantis ini kerap mereka lakukan jika Haidar butuh latihan, tapi kini entah kenapa dia justru salah tingkah.


"Kak Rury! Hei ... kenapa?" tanya Haidar dengan senyum tertahan, apa maksudnya kenapa? Ia tak sadar dengan tingkahnya atau bagaimana, pikir Rury.


"Entahlah, perutku mendadak mual ... sepertinya lambungku bermasalah menerima rayuanmu," ujar Rury tanpa berani menatap manik Haidar.


"Haidar hentikan!! Aku lebih tua darimu," sentaknya tak terima kala Haidar mencubit wajahnya cukup kuat, entah karena gemas atau apa, tapi yang jelas cubitan ini terasa sakit.


"Memangnya kenapa kalau lebih tua? Uban Kakak lebih banyak kah?" Seakan tak puas dengan rayuan yang ia berikan, kini Haidar masih terus saja menggodanya.


"Dasar gila, cepat sana ... pak Rusdi benar-benar akan mengeluarkan sumpah serapahnua padaku nanti, Haidar." Sungguh ia telah kehabisan cara, Haidar masih seenaknya dan Rusdi juga seenaknya. Perpaduan yang menjadi faktor naik darah bagi seorang Rury.


-


.


.


.


Aroma masakan menyeruak, indra penciuman Gian nyatanya tak tidur meski matanya masih terpejam. Sudah menjelang siang, matahari mulai meninggi namun Gian masih nyaman bergemul dalam selimutnya.


"Ra?"

__ADS_1


Tangannya meraba ke samping, kosong, tak ada tubuh istrinya di sana. Gian membuka matanya perlahan, menyipit sejenak menyesuaikan cahaya di sekitarnya. Kepalanya terasa sedikit sakit, mungkin karena tidur yang berlebihan, pergulatan singkat tadi malam membuuat Gian lelah pada akhirnya.


Tubuhnya masih polos, Gian menarik sudut bibir begitu sadar bagaimana keadaannya saat ini. Segera ia beranjak dan hanya mengenakan celana pendek untuk mencari keberadaan istrinya.


Rambut acak-acakan, suaranya masih terasa berat dan enggan memanggil Radha untuk kesekian kalinya. Dapur menjadi tujuannya, langkah malas Gian menghampiri sang istri yang kini tengah membelakanginya, pandai memasak juga ternyata, pikir Gian.


"Masak apa, Sayang?"


Radha terperanjat dengan pelukan yang Gian berikan tiba-tiba. Meski tadi memang ia telah mendengar panggilan suaminya tetap saja Radha terkejut lantaran pelukan itu Gian berikan dengan eratnya.


"Ha? Kakak udah bangun?" Basa basi sebenarnya, ia hanya terlampau senang saja sejujurnya.


"Bukan, ini rohnya, Gian masih tidur di sana."


Jawaban Gian sontak membuat Radha terawa sumbang, entah kenapa hanya jawaban seperti itu tpi terkesan lucu bagi Radha.


Hanya mengenakan kemeja Gian semalam, Radha lebih nyaman saja. Dia juga belum sempat mandi, dua manusia ini sama saja, baru terbangun ketika mentari sudah tersenyum di ufuk sana.


Tubuh mungilnya tenggelam dalam balutan kemeja Gian, terkadang ia bergidik lantaran kecupan yang Gian berikan pagi ini. Seakan tak puas atau bagaimana, hingga wajahnya menjadi korban tajamnya gigi runcing Gian.


"Aarrrggghh, jangan digigit, Kak!!"


Terlanjur, kau terlalu menggemaskan. Mungkin itu jawaban yang terkandung dibalik senyum tipis Gian. Beralih pada sarapan yang kini tengah menjadi misi besarnya pagi ini, Radha hanya memanfaatkan bahan makanan yang ada.


"Ra, kok kuningnya nggak di tengah?"


"Banyak protes, kuningnya belok sendiri, udah aku omelin tetep geser," tutur Radha menjawab santai, perdebatan tentang telur ceplok pagi ini melengkapi sarapan mereka.


"Maaf ya, aku baru bisa masak gini? Belum bisa masakin Kakak seperti Mama," ucapnya serius, karena memang fakta yang tak bisa ditolak. Radha belum sebaik Jelita, meski sedikit-sedikit dia memang bisa.


"Hm, tidak masalah, nanti kita belajar sama-sama." Tanpa amarah, ataupun penyesalan, Gian tak menganggap itu sebagai kekurangan Radha. Karena memang isterinya masih kecil dimatanya untuk urusan beginian, tapi untuk urusan ranjang beda cerita.


🌻


Baam!! Bener kan, Up 3. Babay, hadiahnya stor noh buat chef kita. Mayan bisa goreng telor mata sapi walau matanya ga di tengah.


Komen ya, sekiranya gak suka bilang aja Haidar aku bahas disini, karena jujur kangen banget wkwk.

__ADS_1


__ADS_2