
"Kau terlalu cantik, Zura,"
Dari kejauhan, hanya ini yang dapat ia lakukan. Sementara, ia tak dapat berbuat banyak karena sang Papa melarangnya keras. Haidar terpaksa melihat pujaan hatinya bak pemuja yang takkan pernah beekesempatan untuk bertatap muka.
Ia menghela napasnya perlahan, bersamaan dengan punggung Radha yang kini menghilang di balik gerbang sekolahnya. Terlalu sedikit, wajah ayu itu hanya ia tatap beberapa menit saja. Sungguh tak adil, bagaimana bisa bahkan hanya sekadar hak menemui cintanya Haidar tak punya.
Ia membuang napas kasar kala buliran kristal bening itu luluh dan jatuh berurai tanpa ia minta. Sejak kapan Haidar menangis, bahkan sejauh apapun dan seberat apapun rintangan dalam hidupnya pria itu pantang untuk menangis.
Kali ini ia terlampau sakit, bukan waktu yang singkat. Bertahan dengan satu cinta tanpa pertemuan layaknya pasangan lain bukan hal mudah, dan Haidar berpegang erat pada setianya.
Sesal hanya tinggal sesal, tidak ada kata seharusnya dan seharusnya. Saat ini semua telah berbeda, bahkan penghalang hubungan mereka bukan jarak semata. Melainkan pemilik cinta yang kini terpaksa masuk dalam hidup Radha.
Andai, waktu dapat ia kembalikan beberapa saat saja. Ia hanya akan memperbaiki hari itu, hari dimana ia mengubur mimpinya tanpa sengaja, hari dimana cintanya ia serahkan begitu saja.
"Tidak, bukan salahku. Bahkan aku pergi demi dirinya, aku pergi karena cintanya, bukan tanpa alasan aku meninggalkan hari itu."
Wajah yang kini membasah meratapi takdirnya, benar adanya bahwa dia melakukan hal itu karena takut Radhania akan patah bila ia dengar pernikahan kekasihnya. Manakala ia memikirkan patahnya Radha, nyatanya ia tengah mematahkan dirinya.
"Aaargh!!"
"Aku bisa gila, Tuhaaaaaaaan!!"
Ia mengusap wajahnya kasar, mulai melaju dengan kecepatan tinggi dan tak peduli akibat dari perbuatannya. Haidar hancur, ia tengah berusaha tetap berdiri dikala kepingan hatinya berantakan.
"Aku harus apa, bagaimana caranya agar kau kembali padaku, Zura?"
Ia membatin bersamaan dengan tatapan maut itu fokus ke depan, beberapa pengendara di sekitarnya hanya mampu berteriak marah atas ulahnya. Saat ini, di tengah kacaunya keadaan hanya satu yang ia pikirkan, kembalinya Radhania tak peduli bagaimana caranya.
Haidar tak punya tujuan, pulang hanya akan membuat jiwanya semakin sakit. Ia tak punya pilihan lain, mungkin orang ini akan paham bagaimana hatinya, bahkan lebih paham melebihi papanya.
Napasnya mulai stabil, kecepatan ia kurangi dan kini memasuki sebuah perumahan mewah di sudut kota. Mungkin bertemu dengannya adalah pilihan terbaik, pikirnya.
Sejak kedatangannya, senyum hangat penuh ketulusan itu menyapanya. Pria tampan itu begitu antusias menyadari kedatangan tamunya.
"Selamat pagi, ada apa denganmu? Hm?"
"A-aku ingin istirahat, Om."
__ADS_1
Randy tersenyum kelu, mata sendu sang ponakan benar-benar menyakitkan. Ia bahkan tak tega untuk meninggalkan Haidar saat ini, meski sama halnya dengan Haidar bahkan Randy terancam hal-hal yang tak di inginkan dari pekerjaannya.
"Apa kau tak tidur, Haidar?"
Ia khawatir, sangat amat khawatir. Sebenarnya sesal juga membuncah di benaknya, seharusnya ia tahu apa yang di rencanakan sang Kakak untuk keponakannya. Sungguh ia dapat merasakan bagaimana sakitnya Haidar saat ini.
"Tidur, Om."
"Ck, jangan berbohong, matamu terlihat tersiksa, Haidar."
Ia merangkul pundak Haidar layaknya seorang teman yang mengerti akan dukanya. Benar, Haidar bahkan tak tidur satu menitpun. Memikirkan Radha dan cintanya bahkan tak cukup satu malam.
"Duduklah, kau belum makan kan?"
Haidar hanya menggeleng sebagai penolakan, namun sayang perutnya teramat pedih jika harus menahan lebih lama lagi. Sadar tubuhnya menginginkan namun ia enggan.
"Jangan seperti anak kecil, Haidar. Om tau kacaumu, mengerti hancurmu, tapi setidaknya jangan hancurkan seluruh hidupmu yang masih berusaha mampu."
Randy sebenarnya tak tega, selama bersama Haidar ia belum pernah berbicara kasar ataupun bernada marah. Namun, melihat keadaan Haidar yang lebih mirip pencandu narkoba itu, Randy sangat tak suka.
"Orangtua mu terlampau egois, lupa jika mereka juga pernah merasakan sulitnya sebuah perjodohan."
"Maafkan, Om, Haidar. Seharusnya, semua tak begini, aku terlalu sibuk sampai tak berniat mempertanyakan alasan meraka meminta kita pulang secara bersamaan waktu itu."
Tidak ada jawaban dari Haidar, tatapan kosong itu membuat Randy takut jika hal ini berlangsung lama nantinya. Ia tersenyum hangat kala putra Raka itu kini menatapnya begitu lekat.
"Kenapa Om minta maaf, mereka bahkan tak berniat memberitahu Om, bukankah seharusnya penjelasan itu harus mereka berikan sendiri."
Haidar tak ingin Randy merasa bersalah dari hancurnya. Bahkan keluarganya tak sebegitunya memikirkan mental dan jiwanya, pikir Haidar begitu pahit sembari menatap nanar tanpa arah.
Pria tampan itu terdiam, saat ini Haidar hanya butuh tempat sembuh. Jika terlalu banyak bicara, lukanya akan semakin menganga dan akan semakin menghancurkan hidupnya.
"Bersihkan tubuhmu itu, dan istirahat setelahnya," ujar Randy menggeleng beberapa kali, seorang Haidar yang terkenal begitu rapi kini terlihat hancur dengan penampilan yang sangat amat jauh dari biasanya.
"Om,"
"Apa?"
__ADS_1
"Kenapa Om tidak menikah lagi?"
Pertanyaan itu ia berikan spontan kala menyadari Randy benar-benar sendiri dan begitu menikmati hidupnya tanpa terlihat kurang.
"Menikah?"
Randy tertawa sumbang, muka polos bak korban jambret itu begitu lekat menatapnya. Randy menghela napas perlahan, hatinya kembali tergores hanya karena sebuah pertanyaan itu.
Haidar terdiam, ia paham betul kala Randy bertingkah demikian artinya pertanyaan itu menyakitkan untuknya. Ia lupa bahwa Randy juga sosok pria yang gagal dalam perkara hati dan cintanya.
"Maaf, Om, aku tak bermaksud."
"Tak apa, pertanyaan wajar untuk pria gila sepertiku."
"Maksudnya?"
"Lupakan, Haidar. Nikmati waktumu di sini, jangan hancur karena satu perempuan, karena ketika kau menjadikan sosok itu sebagai penyebab hancurmu, maka bangkit dan lupa akan menjadi hal tersakit untuk kau lakukan."
Ia terdiam, Haidar tak dapat berbicara banyak. Entah sesulit apa kisahnya dulu, karena pada kenyataannya Haidar masih terlalu kecil kala Randy masih berperang tentang hatinya.
"Radhania ...."
Nama itu Randy sebutkan sembari menatap lekat keponakannya, ia melihat bayangannya kala muda di manik indah Haidar. Luka dan hancur seperti yang Haidar alami adalah hal biasa yang ia terima.
"Kau lihat seberapa hancur dia kehilangan putrimu, May."
Kenapa harus dia, luka itu kembali menganga. Di antara banyak wanita, kenapa mereka berdua yang menjadi sebab luka. Randy tak ingin jika nanti Haidar akan sepertinya, terperangkap dalam luka dan memilih untuk betah tanpa berpikir cara agar tak patah.
"Om!!"
"Hm? Ada apa?"
"Ada apa, kenapa mendadak tuli?" tanya Haidar kesal bukan main lantaran Randy memilih melamun usai menyebutkan nama kekasihnya.
"Tak apa, maaf faktor umur," ujarnya sembari tertawa renyah.
Sedikit Haidar dapat menarik sudut bibir karena jawaban asal Omnya, pria yang begitu ia hargai dan cintai. Haidar mampu tersenyum meski tak sebaik itu, setidaknya ia paham bahwa ia tak sendiri. Hanya saja, Randy lebih dahulu mengalami hancurnya.
__ADS_1
............ Bersambung❣️