Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Hah? Kejutan Pagi Hari.


__ADS_3

"Aarghh!! Tulangku masih sakit, Haidar."


"Aku pikir hanya drama," ujar Haidar menarik sudut bibirnya tipis usai mendaratkan telapak tangannya di pundak Randy.


Sarapan yang hanya mereka berdua saja terasa sedikit aneh, Jelita berkali-kali mengatakan bahwa mereka harus berhubungan baik walau keadaan keduanya seperti ayam sakit.


"Drama otakmu, kau pikir ini layar lebar?!!"


"Santai, Om. Apa tidak perih bibirmu teriak-teriak begitu?"


Randy menelan sarapannya susah payah, memang bibirnya terasa sedikit perih. Dan bekas luka di wajahnya masih belum kering, pria itu menatap kesal Haidar yang tampak mengejeknya.


"Bagaimana lukamu?"


Suara itu membuat Haidar menoleh, sang Kakak kini berada di belakangnya. Dengan celana pendek dan baju kaos putih, Gian mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil bermotif minion itu.


"Ppfftt!! Sejak kapan kau suka pisang?"


Entah karena memang lucu, atau memang ia tengah mencari topik tapi handuk itu membuat perutnya sedikit sakit.


"Pisang?" Gian mengernyit heran, pisang apa? Otaknya belum memahami dengan benar ucapan adiknya.


"Ck, lupakan."


Wajahnya kembali datar, ia salah sasaran jika niatnya bercanda dengan Gian. Randy memilih tak peduli dengan dua beradik yang perlahan kembali dekat itu.


"Aku bertanya lukamu, Haidar ...." Gian kembali pada pertanyaan sebelumnya.


"Entahlah, aku tidak mengeceknya sama sekali ... Mama bilang kau yang akan ganti perbannya siang nanti."


"Hm, iya." Gian pasrah sembari meraih selembar roti tawar sedikit tak ikhlas.


"Yang ikhlas, Gi ... dia adikmu satu-satunya walau bentuknya begitu." Randy turut memanaskan suasana yang membuat Gian memakan roti tawar itu sekali gigitan.


"Kak, susu."

__ADS_1


Gian memejamkan mata, sepertinya ini yang dimaksud pesan Jelita untuk memberikan apa yang Haidar mau.


"Kau bisa ambil sendiri, Haidar, tanganmu cuma luka, bukan patah." Gian menatapnya tak suka, nampaknya kini Haidar tengah mempermaikannya di balik ucapan perintah Mama.


Ekor matanya melirik ponsel yang tak jauh di sana, tanpa aba-aba Gian melakukan apa yang Hadiar mau. Ia tak mau jika harus makan omelan Jelita pagi ini, sungguh memang sedewasa itu ia masih takut jika yang ia hadapi adalah Mamanya.


"Baiklah, kau boleh berulah karena memang istriku yang membuatmu celaka," ujar Gian meletakkan gelas susu di depan Haidar sedikit kasar hingga membuat mejanya kotor lantaran tumpahan susu coklat itu.


Randy mulai bosan dengan tingkah dua keponakannya, rasanya lebih baik mereka tetap kecil seperti dahulu. Rumitnya kehidupan yang membuat mereka tiba-tiba renggang membuat Randy malas memikirkannya. Beruntung saja moodnya kembali naik, kala bidadari titisan cinta pertamanya itu mendekat.


"Hai ponakan cantiknya, Om ... pagi-pagi kok keramas? Nggak dingin, Ra?"


"Nggak, Om."


Radha tersenyum kaku, ia menggeleng mendengar pertanyaan konyol Randy kala ia bergabung duduk di sana. Tak ada keraguan di sana, duduk di depan Haidar yang kini menatapnya datar.


Apa makna ekspresi itu, Radha tak begitu peduli. Sedangkan Gian juga tak menyapanya, mungkin masih kesal lantaran adiknya kelewatan pagi ini.


"Tatap terus, Haidar ... ku congkel bola matamu."


"Sayang, kenapa sarapannya di luar?"


"Hm? Kan Kakak yang ajak," tutur Radha mencebikkan bibirnya, karena memang ia tak salah. Gian yang memintanya untuk sarapan bersama pagi ini.


"Tapi aku tidak tau kalau ada cecunguk ini di sini," bisiknya namun dapat terdengar oleh Haidar walau samar.


"Ehem!! Aku tidak tuli, Gian."


Gian pura-pura tak mendengar, ia menatap Haidar seakan bingung apa maksud adiknya. Jika sebelumnya Haidar kerap menghindar dan memilih pergi lain halnya dengan saat ini.


Ia terlihat tenang dan menatap Radha seadanya, entah ajian apa yang diberikan Raka dan Jelita sehingga pria itu terlihat jinak dan bisa biasa saja di depan kakaknya.


"Zura, kenapa keningmu?"


Radha diam, ia menatap Gian sejenak meminta izin apakah ia boleh menjawab pertanyaan Haidar. Anggukan pria itu membuatnya kembali menghadap Haidar, mantan kekasihnya itu terlihat menunggu jawabannya.

__ADS_1


"Hanya luka kecil, Kak."


"Tapi sepertinya perih, kalau Kakak boleh tau, itu karena apa?"


"Ah iya!!! Untung saja kau bertanya, Haidar, cepat copot kalung siallanmu itu."


Haidar jelas saja heran mengapa kini Kakaknya kembali ikut campur, baru saja mulai bicara, pikirnya.


"Memangnya kenapa?"


"Cepat berikan, karena benda itu ... wajah mulus istriku terluka ... ck, aku tidak rela," ujarnya menatap liontin yang berada di leher Haidar, ingin ia tarik sekarang juga.


"Jangan macam-macam kau, ini adalah satu-satunya hal berharga yang masih aku punya, Kak, dan kau telah merampas bidadari yang memberikan kalung ini."


Sejenak, suasana menjadi hening. Ucapan itu begitu polos dari bibir Haidar. Tatapannya tak terbaca, dengan senyum yang setipis itu ia beranjak dari sana.


"Teruskan sarapannya, aku harus pergi ... Rury sudah menungguku, aku tidak akan merepotkanmu lagi, Kak Gian."


Sebelumnya Gian sempat panas, namun entah mengapa mendengar kalimat barusan ia seakan remuk dalam satu waktu.


"M-maksudmu?"


"Aku sudah minta izin Papa, terima kasih telah merawatku kemarin, jaga dia baik-baik ... bahagia selalu Kakak ipar."


Senyumnya begitu tulus, dengan mata sendu yang membuat hati Radha sedikit teriris. Randy yang juga tak mengetahui apa-apa hanya menatap heran keponakannya, sungguh di antara mereka tak ada yang bisa Randy pahami.


"Kau bercanda?"


"Tidak, Kak ... nikmati waktumu, terima kasih atas waktunya beberapa hari ini."


"Haidar, kau __"


Bersambungđź’”


Tahun baru, Haidar kita pulangkan ke dunianya. Jangan nangis lagi, Haidar❣️

__ADS_1


__ADS_2