Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 136. Butuh Hiburan (Bos)


__ADS_3

“Ra, aelah malah ngelamun dia.”


Helena tersenyum miring, ia menduga kini Radha justru menghayal tentang cowok ganteng yang telah ia sebutkan. Belum berjumpa saja Radha telah begini, bagaimana jika nanti, pikir Helena.


“Ra!! Woy!!”


“Ck, kenapa sih, Lena?”


‘Eh gue pukul lu ya, gue bukan Lena is.”


Ia mencebik kesal mendengar Radha memanggilnya dengan sebutan Ele, benar-benar menyebalkan, bahkan ia sempat berpikir untuk mengubah namanya secara total. Kalau perlu pergi ke Disdukcapil sekalian.


“Hahah maaf, bisa marah ternyata,” tutur Radha dengan senyum manisnya, mulai menikmati mie ayam yang menurutnya lebih enak mie ayam mang Ujang.


“Enak?”


“Mayan,” jawab Radha singkat, karena memang tak seenak itu.


Usai dengan makannya, Radha dan Helena kembali ke kelas. Karena memang tak mungkin bagi Helena untuk memperlihatkan seluruh sekolah pada Radha hari ini juga.


Sebelumnya memang Helena hanya tahu bahwa Radha siswa baru sejak satu minggu lalau, namun baru beberapa hari masuk anak itu tidak terlihat batang hidungnya. Sempat berpikir bahwa Radha mengurungkan niat untuk sekolah di tempat itu, namun nyatanya Helena salah.


“Liburan? Gak becanda kan itu?”


“Iya enggak lah, ngapain gue becanda aneh lu.”


Radha berlalu lebih dahulu, sepertinya Helena sangat tertarik tentangnya. Dan jujur saja sejak tadi ia ingin bertanya mengapa Helena selalu sendiri, bahkan tidak ada yang menyapanya sejak tadi, pikir Radha.


“Lu kenapa liatin gue begitu, Ra?” tanya Helena merasa Radha tampak ingin mengetahui sesuatu tentangnya.


“Nggak, lu selalu sendiri memang?” Akhirnya, dengan sejuta keberanian pertanyaan itu ia ungkapkan juga. Sedikit takut bahwa nanti Helena akan merasa tersinggung dengan pertanyaannya.

__ADS_1


“Hm, kan gue letaknya di golongan paling bawah, Ra … siapa mau nemenin gue, lagian yang bakal mereka bahas sama gue juga ga nyambung, mereka bahasanya saham, agensi atau lainnya, sedangkan gue,” tuturnya terhenti sejenak


“Anak broken home yang dipaksa buat nerima keadaan tanpa punya masa depan yang bisa gue yakini setelah lulus SMA,” lanjut Helena menghela napas panjang.


“Ya tapi kan sekalipun lu golongan terakhir, masa di sekolah segede ini posisi itu cuma lu doang, pasti ada yang lain kan?” tanya Radha kemudian, karena jika ia lihat Helena begitu baik dan menerima siapapun dengan terbuka.


“Sisanya di perpus, gue aja yang golongan paling bawah tapi gak sadar diri, gue males buat jadi kutu buku, Ra.”


Radha mengangguk, sepertinya memang Helena ini tipe-tipe siswa seperti teman-temannya dahulu. Yang sekolah hanya sebatas formalitas yang penting masuk dan ikut pelajaran walau sedikitpun tidak ada yang masuk.


“Hm, gaboleh gitu, lu sekolah juga bayar, sama kan biayanya? Kenapa sih pakek golongan-golongan heran gue, gue gusur juga ni tempat.”


Ucapan Radha membuat Helena bungkam, ingin terbahak karena bualannya terdengar sangat-sangat berlebihan.


“Emang berani?”


“Ya … ya kagak sih, udah ah mending masuk aja, guru olahraganya cakep juga kan?” Radha mengalihkan pembicaraan, bagaimana mungkin ia berani menggusur sekolah milik keluaraga suaminya ini.


*****


Sementara kini di kantor, pria tampan itu tengah berkutat dengan layar monitor yang sejak tadi ia pandangi. Matanya bahkan sudah merah namun Gian tampaknya masih fokus, usai bertemu salah satu rekan kerjanya kini Gian menghabiskan kesendiriannya tanpa ingin ada gangguan apapun.


“Dasar laki-laki biaddab, bisa-bisanya dia selingkuh, mana istrinya lagi hamil.”


Sejak tadi diam kini mulutnya dengan lincah mengumpat, ia bahkan memukul meja kerja membuat Rey yang baru masuk terkejut bukan main. Sudah pasti ia menduga bahwa ini karena marahnya Gian lantaran ia tak mengetuk pintu. Namun anehnya usai pria itu menggebrak meja, matanya kembali fokus kesana, entah apa yang Gian saksikan sebenarnya.


“Bos,” panggil Gian sembari menghampiri Gian namun tak mendapat jawaban dari Gian sama sekali, wajar saja tak mendengar, rupanya pria itu mengenakan earphone untuk mendengarkan suara dari apa yang tengah ia saksikan.


“Pak, saya membawa laporan yang Bapak minta.”


Rey masih sabar, namun jika harus menunggu lebih lama lagi kapan ia akan menyelesaikan semua ini. Hingga terpaksa ia menggunakan cara teman dengan mencopot salah satu earphone di telinganya. Sontak Gian kaget dan mengelus dadanya berkali-kali karena benar-benar terkejut dengan keberadaan Rey yang telah berdiri di sana tanpa ia undang.

__ADS_1


“Ays!! Menyebalkan sekali, kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu, Reyhans!!”


“Anda terlalu sibuk, Pak, sejak tadi saya sudah mengetuk pintu berkali-kali tapi tidak mendapat jawaban dari Bapak, maka terpaksalah saya masuk dan melakukan hal nekat semacam ini pak Gian, saya lancang dan mohon maaf atas kesalahan saya.”


Rey menunduk 90 derajat yang membuat Gian semakin kesal, setelah menghancurkan feelnya yang tengah menikmati series itu kini pria itu seakan menyindirnya sebagai pria yang harus dihormati layaknya pangeran kerajaan.


“Ck, mau apa sebenarnya kau.”


“Laporan yang Anda minta sudah saya selesaikan, Pak, terima kasih.”


Ia menjawab sopan seperti biasa layaknya bawahan kepada bosnya. Namun yang masih menjadi penasarannya apa yang sebenarnya membuat Gian benar-benar sefokus itu, ia tertarik untuk mengetahuinya.


“Keluarlah, tidak ada lagi yang perlu kau sampaikan bukan?”


Rey mengangguk, ia kembali ke ruangannya dengan rasa penasaran yang teramat luar biasa. Dan tentu saja pria tampan itu masih sempat menoleh untuk memastikan apakah Gian melanjutkan aksinya atau tidak.


Jedug


“Aww, ck … sialan.”


Rey memukul pintu itu, karena rasa penasarannya membuat tubuhnya menabrak pintu dan kepalanya terasa cukup sakit karena terbentur cukup kuat. Hal itu Gian saksikan dengan nyata meski lagi dan lagi Rey membuatnya kaget namun kali ini pria itu justru tertawa begitu puasnya.


Musibah yang di alami asistennya itu ia anggap azab karena telah mengganggu kesenangannya. Pria yang biasanya begitu dingin dan tak banyak bicara itu, kini berubah sangat jauh dari watak aslinya.


“Rasakan!! Bagaimana? Benjol, Rey? Apa perlu aku tambah?” Ia terbahak dan membuat Rey hanya diam sembari menahan sakit dan pusing yang menyatu.


Setelah asistennya itu keluar, Gian kembali menatap layar laptopnya, ia melihat pojok kanan agar ia tak telat menjemput Radha. Masih ada waktu sekitar 30 menit lagi, dan ia memutuskan untuk lanjut menonton series favoritnya itu, setelah sebelumnya sempat mencibir istrinya karena menangis dan selalu mencaci si pelakor di sela-sela ia menontonnya.


“Lanjut ah,” ucapnya kembali fokus dan kini kembali terbawa suasana, meski wajahnya datar namun hatinya sangat tersentuh bahkan ia menitikkan air mata yang kemudian ia usap dengan kasarnya. Laporan yang tadi sempat ia minta secepatnya bahkan mendesak Reyhans hari ini juga nyatanya tak ia periksa sedikitpun.


Bersambung.

__ADS_1


Gian enaknya di apain? Siram kuah kari keknya enak ya.


__ADS_2