
Sore ini lalu lintas cukup padat, Gian pulang sendirian dan membiarkan Reyhans untuk bersama Evany. Dia sangat memahami orang lain bukan? Iya, memang benar. Akan tetapi, mana mungkin hal itu ia berikan secara gratis, tentu saja Reyhans harus membayarnya dengan kerja ekstra besok pagi.
Sangat berhati-hati, Gian sangat normal jika sendirian akhir-akhir ini. Kenyataan takut akan kenapa-kenapa di perjalanan dan khawatir jika nanti hidupnya terkena masalah selalu saja menghampiri sejak kehamilan istrinya semakin besar.
Memasuki area rumahnya, Gian bersikap selayaknya tuan muda pada umumnya. Memberikan senyuman tipis pada Asih yang kini menyambutnya, jika biasanya Radha yang menyambut Gian, kini justru berbeda.
"Istriku mana, Bi?" tanya Gian menatap sekeliling, tujuannya pulang cepat hanya untuk Radha.
"Tadi keluar sama non Rury, Den ... sama Nyonya juga." Jawaban Asih sontak membuat mata Gian membulat sempurna, pergi bersama Rury, dan yang ia ketahui wanita itu akan selalu bersama Haidar.
"Haidar juga?" tanya Gian mulai memperlihatkan ekspresi tak suka, jelas saja akan menjadi masalah jika Haidar turut bersama mereka.
"Enggak, Den ... den Haidar ada di belakang, makan sore katanya."
Sontak angin segar menghampiri pria ini, setidaknya tak ada kekhawatiran yang perlu ia takutkan. Wajar saja yang menyambut kedatangannya di depan hanya ada Aryo.
"Sudah lama?" tanya Gian lagu dengan nada serius itu, nampaknya pria ini tengah mengulik info dari Asih lebih dalam lagi.
"Iya, Den ... sudah hampir tiga jam."
Penuturan Asih membuatnya panik, kenapa Radha tak pamit padanya. Padahal tadi siang sempat menelepon dan Radha hanya bermalas-malasan di tempat tidur.
"Tiga jam, Mama bawa istriku kemana memangnya."
Tanpa menunggu jawaban Asih, Gian merogoh ponselnya. Berlalu keluar rumah dan berpikir untuk segera mencari dimana keberadaan istrinya.
Dengan kesabaran tipisnya, Gian sangat kesal kala mamanya tak mengangkat teleponnya padahal jelas-jelas bisa dihubungi.
"Ck, awas saja anak itu, berani sekali keluar rumah tanpa izin," tuturnya sekesal itu pada Radha yang kali ini melanggar ucapannya, jika biasanya hanya Gian izinkan jalan-jalan di sekitar rumahnya tanpa izin, bukan berarti keluar juga boleh tanpa izin.
Walau belum mendapat jawaban, Gian buru-buru masuk ke mobil, tak apa selagi menunggu ia akan bergerak lebih dulu.
"Huft, pulang juga akhirnya," ucap Gian menghela napas panjang, beruntung dia belum benar-benar pergi, secepat itu Gian turun dan menghampir istrinya.
Dan dapat terbaca dengan jelas bagaimana wajahnya, kusut bagai kertas remuk. Gian menunggu tak jauh dari mereka sembari melemparkan tatapan tajamnya, sudah lama ia tak menggunakan cara ini pada Radha.
"Dari mana kamu?"
Radha terdiam sesaat kala suara itu terdengar dengan jelas, langkahnya sedikit ragu dan malu karena dirinya berada di sisi Rury saat ini.
"Jangan dimarahin, Mama yang ajak karena Radha magernya luas biasa hari ini."
Jelita paham apa yang kini putranya rasakan, dan kembali ia ingatkan jika alasan Jelita membawa Radha juga karena tak ingin menantunya kesepian.
"Ini urusanku, Mama masuk saja duluan."
Lama tidak bersikap demikian, kini Radha merasa gugup jika Gian begini. Ia menundukkan kepala dan napasnya terasa sesulit itu.
Cukup lama terdiam, Gian meneliti penampilan istrinya dari atas hingga bawah. Rambut istrinya berubah, sudah pasti ini ulah mamanya yang kerap mengomentari rambut lurus Radha.
__ADS_1
"Kenapa gak izin?" tanya Gian dengan suara dinginnya, padahal sudah ia katakan potong rambut saja harus izin, dan kini Radha justru merubah rambutnya menjadi bergelombang, cantik tapi Gian tak suka.
"Lupa, Kak," jawabnya dengan menampilkan gigi-gigi rapihnya, wajah itu memang jurus andalan namun Gian harus berusaha menahan dirinya agar tak jatuh dalam jerat Radha.
"Ck, lupa saja terus, pandai sekali mencari alasan."
Radha sadar jika dirinya salah, sengaja tak pamit karena jika pamit Gian tentu akan memilih pulang dan ikut serta mereka pergi.
"Maaf, Kakak sibuk ... aku lagi pengen keluar tapi nggak mau ganggu," ungkapnya memeluk erat Gian, jurus lain untuk meluluhkan sang suami jika dirinya membuat masalah.
"Hari libur kan bisa, kamu sengaja nggak mau sama Kakak kan," celetuk Gian melayangkan tuduhannya, memang bukan hal aneh jika Gian kerap membuat masalah semakin besar.
"Tapi aku maunya hari ini, dia yang mau ... aku nggak bisa nolak dong," ucap Radha sembari menunjuk perutnya, bisa saja mencari kambing hitam.
Baik Radha maupun Gian sama saja, kerap melakukan sesuatu dengan alasan keinginan bayinya, padahal mereka sendiri yang membuat pernyataan seperti itu.
"Ck, bisa ya begitu?"
"Iya bisa lah, aku hamil wajar kan?" Radha mengedipkan matanya, mana bisa Gian marah, walau awalnya seperti hendak menerkam Radha, akan tetapi pada akhirnya bertanya lebih banyak saja ia tak tega.
-
.
.
.
.
Malam ini sama, Gian yang tengah menikmati cerita istrinya sembari menunggu masker di wajahnya itu kering. Bukan Radha yang memaksa, akan tetapi Gian yang meminta.
"Kak, belum tidur kan?"
Gian hanya mengangguk pelan, takut sekali jika nanti maskernya retak. Penatnya dunia membuat Gian khawatir dengan wajahnya, padahal ketampanannya masih sama, paripurna.
"Aku belum minum susu, buatin dong."
Permintaan spontan yang membuat Gian membuka matanya secepat kilat, dia tengah menikmati bagaimana nyamannya perawatan ini, bisa-bisanya Radha memintanya untuk menyiapkan susu hamil, memang tanggung jawab Gian, dan dia lupa.
"Ikhlas nggak? Kalau nggak biar aku sendiri," ujar Radha dengan wajah cemberutnya, tak mendapat jawaban dari Gian membuatnya kesal bukan main.
"Ikhlas, Sayang ...." Gian berucap dengan sangat hati-hati, sungguh dia setakut itu.
"Gitu dong, makasih suamiku."
Gian berlalu keluar kamar, dengan wajahnya yang demikian bentuknya, dan kebetulan rumahnya sudah sesepi itu. Sungguh ia heran kenapa mereka cepat sekali tertidur, apa selelah itu, pikir Gian.
Dengan penuh kesabaran, Gian menyeduh susu untuk istrinya. Sesekali menggerakkan tubuhnya Gian tak kehilangan cara untuk mengekspresikan kebahagiaannya.
__ADS_1
"Gian, kamu ngapain?"
Baru sadar jika kini dia tak sendiri, suara Jelita cukup membuatnya kaget. Karena bukan kebiasaan Jelita malam-malam keluar kamar.
"Bikin susu, Mama ngapain?" tanya Gian tanpa menatap ke arah mamanya, masih fokus dengan apa yang ia kerjakan.
"Papa nggak enak badan, Mama mau buat teh anget."
"Oh Papa bisa sakit juga ternyata, Ma?"
"Ya bisa lah, kan manusia, Gian."
Jelita tak habis pikir dengan pola pikir Gian yang bahkan bertanya demikian, Jelita mendekat untuk memastikan jika putranya tak salah dalam membuat susu untuk Radha.
"Udah bener?" tanya Jelita pada putranya, dan jika bertanya jelas saja ia menatap wajah lawan bicaranya.
"Allahu Akbar!! Gian?!!!"
Wajah Gian yang seputih itu, dan hanya memperlihatkan mata dan mulutnya membuat Jelita hampir jantungan, pukulan itu sontak mendarat di tubuh Gian, ia tak sengaja, tapi memang terkejutnya luar biasa.
"Ays!! Mama tumpah!!!" teriak Gian kala susu itu tak dapat ia selamatkan, pukulan Jelita terlalu kuat dan membuat Gian lebih terkejut.
"Ya Tuhan, kamu juga ngapain begitu!! Mama jantungan gimana?!!"
Masih berusaha untuk tenang, sungguh kepala Jelita bahkan terasa sakit. Akan tetapi melihat susu itu tumpah dan menyiram kaki putranya ia merasa bersalah.
"Aaarrrggghhh, panas, Ma." Bagaimana tidak panas, air itu bahkan ia biarkan mendidih lebih dulu, dan kini kakinya bahkan memerah.
"Maafkan Mama, nggak sengaja, Gi ... sudah diam dulu, biar Mama yang lanjutin."
"Tapi kakiku gimana? Ck, kalau melepuh gimana, Ma? Belum lagi nanti kalau sampai kenapa-kenapa, aku kerjanya gimana? Terus gendong istriku gimana? Ah Mama, aku bingung sekali."
"Ck, lebay ... diam dulu, tidak akan separah itu," ucap Jelita usai mencubit bibir putranya yang tak henti bicara seakan memang tengah menghadapi musibah.
"Mama, lebay gimana? Lihat, sampai merah gini, perih," keluh Gian, masih sama seperti dulu, pria ini sangat bisa membuat dirinya seakan paling menderita.
"Nanti Mama obati, tunggu ... Mama tanggung jawab, Gian."
"Zura saja, nanti Mama buat kakiku makin celaka," ucapnya seenak jidat, andai saja Jelita tak merasa bersalah mungkin centong nasi akan mendarat di kepalanya.
"Astafirullahaladzim, kamu punya dendam apa sama Mama sebenarnya, Gian?" Jelita bahkan menarik napas dalam-dalam karena putranya ini cukup menguras kesabaran.
"Hah? Tidak ada, harusnya aku yang tanya Mama, karena ini buktinya, kalau tidak dendam masa kakiku sampai begini?"
"Terserah kamu saja, untuk masih anak ya Allah."
Gian memang penurut, bahkan siap untuk segala yang orangtua perintahkan. Bagi Gian orangtua adalah harta paling berharga, terutama Mama dan Papanya. Walau demikian, cara Gian mengungkapkan kasih sayang pada Raka dan Jelita cukup berbeda.
🌻
__ADS_1