Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 284 Memenuhi Keinginan.


__ADS_3

"Ma, kak Gian mana?"


Sempat pamit pergi sebentar namun hingga selesai magrib dia belum kembali. Radha bukan tak bisa Gian tinggalkan, akan tetapi wanita itu hanya takut jika suaminya kenapa-kenapa.


Akhir-akhir ini terlalu banyak berita kejahatan yang membuat Radha mengelus dada. Pengalaman buruk tentang Gian yang berhasil diculik semudah itu oleh Juan membuat Radha tak bisa untuk tenang jika sudah begini.


"Lah, dia bilangnya kemana emang? Biasanya pamit kan?"


Jelita yang memang tak mengetahui apa yang pernah terjadi pada putranya hanya menganggap semua ini hal sepele dan tak perlu dikhawatirkan, toh manusia itu sudah lebih dari dewasa.


"Nggak tau, cuma bilang buat pergi sebentar dan gak bakal lama, Ma, tapi kemana tujuannya aku gak tau."


Sebagai mertua yang paling bijaksana sekecamatan, Jelita hanya menghela napas pelan. Nampaknya putra dan menantunya ini kehilangan komunikasi dan hal inu tak seharusnya terjadi dalam rumah tangga.


Meski demikian, dia tidak marah. Jelita tetap berusaha agar Radha tenang dan tak perlu berpikir buruk. Mengingat ucapan Asih yang mengatakan bahwa Gian memang sempat berbicara dengannya sebelum pergi, wanita paruh baya itu menjelaskan jika Gian sepertinya hanya jalan-jalan sore biasa.


"Udah tenang, paling juga lima menit lagi dia pulang, kamu jangan khawatir, Ra."


Karena memang dia tidak berfirasat buruk kali ini, walau memang Gian biasanya tak begitu suka keluar jika sudah terlalu sore begini.


Mencoba untuk tetap tenang, Radha mengalihkan perhatian bersama putra dan putrinya. Kama dan Kalila yang kini semakin mampu bergerak bebas, berlari kesana kemari tanpa peduli ucapan Radha.


Ruang keluarga adalah tempat favorit Jelita menghabiskan waktu bersama cucunya. Sengaja memilih tayangan khusus anak-anak namun nyatanya Kama dan Kalila lebih tertarik untuk saling mengejar satu sama lain.


Menyaksikan cucunya tumbuh bersama, Jelita sebahagia ini. Tanpa sadar jika suaminya juga ikut hilang entah kemana.


"Kama jangan cepet-cepet larinya," tutur Jelita merasa langkah Kama secepat itu dan membuat Kalila merengek lantaran tak berhasil meraih Kama.


Tawa renyah kedua cucunya terdengar amat lucu kala mereka berhasil bertemu. Meski dengan Kalila yang memeluk erat tubuh Kama hingga tak bisa bergerak.


"Mereka makin lama makin gede, Ra, kamu barus siap jadi ibu yang paling baik buat mereka, jangan buat mereka merasa dibeda-bedakan, karena Mama lihat saat ini Kama sering ngadu kalau papanya lebih sayang Kalila."


Di antara banyak hal yang Jelita khawatirkan, jujur saja tentang ini dia sangat takut Kama akan merasa tak adil. Walau memang pada sejatinya anak perempuan lebih menempel bersama papanya, tetap saja Jelita khawatir.


"Aku juga bingung, Ma, kenapa Kama berpikiran bahwa Kak Gian lebih sayang Kalila," tutur Radha menatap putranya yang kini tengah tersenyum lebar bersama Kalila.


Hal yang tak bisa Radha ungkapkan, padahal Gian selalu berusaha adil pada keduanya. Bahkan perihal waktu Gian berusaha untuk tidak mengutamakan salah satu, namun Kama sendiri yang kerap menciptakan sendiri rasa cemburu itu.


Gian kerap mengeluhkan hal ini, putranya kerap marah apabila dia di dekat Radha. Dan terkadang Kama benar-benar tak suka kala Gian mendekatinya, akan tetapi hal yang lebih sulit diungkapkan lagi adalah, anak itu justru merasa Gian yang tidak sayang padanya.

__ADS_1


-


.


.


.


"Papa!!!"


Suara melengking dari Kalila dan Kama terdengar oleh Jelita yang hendak ke dapur sejenak. Wanita itu mengurungkan niat dan kini berlari menghampiri suaminya.


"Haii, rindu Papa?"


Kedua tangannya terbentang demi bisa memeluk kedua buah hatinya. Tubuh mereka berkeringat, sudah pasti terlalu puas bermain, Gian mencium keduanya bergantian.


"Mama mana?" tanya Gian dengan suara lembutnya, pria itu menarik sudut bibir kala menyadari betapa hangat malaikat kecil itu menyambut kedatangannya.


"Sama oma, tadi Mama cali Papa lamaaaaaa, iya kan Kalila?" Dengan bibir mungilnya itu, Kama bersuara, sungguh Gian gemas.


"Iya, Papa ... kenapa lama perginya?" Kalila membenarkan begitu semangatnya.


"Sayang, kenapa mukanya gitu?" tanya Gian kala menyaksikan istrinya bersedekap dada sembari menghela napas pelan.


"Kakak dari mana? Kenapa lama banget perginya?"


Radha terkejut, penampilan suaminya berbeda saat dia pergi. Dengan mengenakan sarung dan baju koko itu, Radha yakin jika suaminya tidak pergi ke sembarang tempat.


"Suaminya pulang sholat magrib kok cemberut sih, katanya mau Kakak jadi penceramah buat ramadhan nanti," ucapnya membuat Radha luar biasa terkejut.


What? Tidak bercanda, pria ini benar-benar berniat untuk melakukan hal semacam itu. Radha yang tadinya cemberut kini melongo merasa suaminya tengah kemasukan jin Islam.


"Hah? Gimana-gimana? Kakak nemuin ustadz Azzam gitu?"


Gian mengangguk pasti, pria itu tak merasa apa yang dia lakukan salah sama sekali. Baginya ini adalah sebuah kebaikan yang harus disegerakan.


"Iya, Kakak nggak mau kalau kamu yang ketemu ustadznya, mending Kakak sendiri yang kesana."


Radha tak habis pikir, sekelas suaminya mau jadi penceramah, tidak-tidak, Gian saja masih kerap melewatkan sholat karena lupa dan itu adalah penyakit pria gila itu.

__ADS_1


"Yakin? Jadi penceramah nggak boleh asal loh ya, Kakak mau dapat dosa lebih besar lagi?" Demi apapun, meski Gian suka sekali membawa dalil setiap menasehatinya tetap saja Radha takut.


"Astafirullahaladzim, Azzura ... ini adalah bulan yang lebih baik daripada seribu bulan, dan saat ini adalah waktu buat kita mencari amal, bisa-bisanya berpikir buruk sama suamimu ini," tuturnya kebiasaan kerap menjadi ustadz dadakan.


"Papa, Mama kenapa marah?" tanya Kalila polos yang mengira jika Radha tengah marah pada suaminya.


"Hm? Enggak sayang, Mama nggak marah," ucapnya memberikan senyum terbaik.


Dia berdiri dan kini menggendong kedua buah hatinya, sorot matanya meminta Radha ikut juga. Tubuh Gian benar-benar wangi, entah parfum siapa yang dia pakai.


"Eeum, Kakak beli parfum baru ya?" tanya Radha mengekor di belakang suaminya.


"Kenapa? Wangi ya?"


"He-em, banget ... kenapa baru Kakak pakai?" Radha bertanya lagi, karena memang aroma Gian membuatnya ingin terus menempel.


"Parfum ustadz Azzam, Kakak minta biar tercium aroma kebaikannnya."


Bugh


Radha yang kagum sejak tadi sontak mendaratkan pukulan di pundak suaminya, dasar pria sinting, pikirnya.


"Aaakkh, kok dipukul? Punya istri ada gila-gilanya, kenapa, Ra?" Gian menghentikan langkahnya, dan kedua buah hatinya hanya saling menatap setelah kemudian tertawa dan merasa ini adalah hal yang lucu.


"Ya jawabannya halal untuk dipukul," celetuk Radha karena memang jawaban suaminya cukup menyebalkan.


"Iya kan bener, kalau pakai parfum ini, berasa ustadz beneran, Sayang ... papa aja bilang gitu," tutur Gian berucap seyakinnya, karena memang Raka memujinya sejak pergi ke masjid tadi sore.


"Terserah, ayo cepet makan, dari tadi ditungguin ... aku laper, Kak."


Gian mencebikkan bibir, padahal tadi seakan mencuri kesempatan untuk mencium aroma tubuhnya, dan kini Radha justru marah-marah. Sungguh tidak ada yang lebih sulit dipahami kecuali wanita.


đź’™


Hai-hai, maaf baru bisa up siang ini.


Sebagai manusia kita cuma bisa berencana, nggak tau bagaimana kedepannya. Sehat selalu kalian semua, jaga kesehatan. Selamat menjalankan ibadah puasa🤗


Bye Gian sekeluarga.

__ADS_1


__ADS_2