Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Salah Pilih Patah Pinggang.


__ADS_3

"Kakak darimana?"


"Maaf, tadi ada yang Papa sampaikan sedikit," jawabnya tenang sembari berjalan pelan ke tempat tidur.


Radha yang merasakan perih di perutnya hanya fokus dengan sarapan pagi yang Gian bawakan. Sedikit menyebalkan memang, ia terpaksa menunggu sedikit lama karena Gian tak memberinya izin untuk keluar.


"Laper?"


"Iyalah," celetuk Radha dengan mulut penuhnya, rasanya beberapa lembar roti yang Gian bawakan takkan cukup membuatnya kenyang, mungkin dua porsi nasi padang pas untuknya pagi ini.


Gian tertawa sumbang, wanita kecilnya menjelma bak hewan buas yang mendapat mangsa di saat yang tepat. Ia tak melakukan apapun, hanya menatap lekat Radha dengan tangan yang sesekali merapikan rambut panjang istrinya.


"Pelan-pelan, tidak akan ada yang merebutnya darimu," tutur Gian begitu lembut, pemandangan yang cukup menggelitik hatinya ini membuatnya tak mengingat hal lain.


Tak menjawab, segelas susu yang biasanya tak terlalu ia sukai ini kenapa terasa begitu nikmat, apa karena faktor siapa yang menyiapkannya, pikir Radha merasa sedikit heran.


Hampir habis, menjelang suapan terakhir ia terhenti kala sendawanya tak mampu ia tahan. Jelas Gian tak tahan, pria itu lagi-lagi tertawa renyah mendengar pengisi suara di tengah suasana makan Radha.


"Kakak mau?" ujarnya menatap Gian dengan perasaan bersalah.


Ia lupa, bukan hanya dirinya yang belum makan, bisa jadi Gian juga. Dan diamnya Gian sejak tadi membuatnya terlena, hingga ketika perutnya terasa penuh ia baru sadar akan hal sepenting itu.


"Tidak, kau saja ... Kakak sudah kenyang."


Jawabnya penuh kebohongan, Gian bahkan belum minum air setegukpun, bagaimana ia merasa kenyang. Namun ia berkata demikian, lantaran Radha ia rasa lebih lapar darinya.


"Kakak bohong ya?"

__ADS_1


"Tidak, sebelum kembali ke kamar Kakak sudah makan," jawabnya begitu meyakinkan, manik tulus itu terlampau indah untuk di bohongi, namun Gian memilih untuk melakukannya pagi ini, menjelang siang lebih tepatnya.


Radha terdiam, menimbang jawaban Gian dan menatap lekat segelas susu yang hampir tandas, sungguh memalukan, bagaimana bisa dia menghabiskan susu dengan gelas berukuran tak normal itu sendirian.


"Habiskan, jangan dibuang."


Gian menyentuh wajah mulus Radha yang kini melamun tiba-tiba, entah faktor kekenyangan atau jin dalam gelas yang berada di hadapan istrinya, Gian tak terlalu mengerti.


"Terima kasih ... aku lupa, maaf."


Pria itu mengangguk pelan, senyum hangat ia berikan. Perubahan sang Istri membuatnya dapat mengerti, bahwa perut kosong dapat membuat Radha kadar kewarasannya sedikit bermasalah.


"Hari ini kita mau kemana?" tanya Gian sembari menatap luasnya langit dari balik jendela, berdiam diri bersama wanita itu membuat Gian khawatir ia takkan mampu menahan dirinya.


"Kemana apanya, aku jalan aja susah."


Radha mencebik, memang ia tak terlalu suka di larang. Tapi jika Gian berencana mengajaknya keluar ia memilih untuk tetap di kamar seperti perintah Gian sebelumnya.


"Enggak!! Kakak pergi saja sendiri, tidak mungkin kan selama di luar aku gendong terus."


Karena tidak masuk akal, bagaimana kata mertuanya nanti, pikir Radha tak setuju sama sekali dengan tawaran Gian.


"Tidak masalah, aku cukup kuat kalaupun sepanjang hari melakukannya."


"Heh? Nanti punggungmu patah," ejek Radha sembari menjulurkan lidahnya.


"Ck, kau meremehkanku?"

__ADS_1


"B-bukan, begitu .... Aaaaaaaa!!!"


Membuat kaget saja, belum juga dia selesau bicara, Gian benar-benar memperlakukan Radha layaknya balita. Tubuhnya yang kecil memang dapat dengan mudah Gian angkat, mulut cerewetnya sedikit memekkan telinga, tapi ia tak berpikir untuk melepaskan Radha secepat itu.


"Baiklah, sekarang kita mau kemana?" tanya Gian menatap manik Radha dengan penuh tantangan, ia ingin istrinya sendiri mengatakan tujuan mereka.


"Turunkan aku," pinta Radha masih tetap pada pilihan pertama, menikmati sejuknya angin di sini sepertinya lebih baik, pikirnya.


"Selain itu," jawab singkat Gian atas permintaan yang takkan ia kabulkan.


"Jatuhkan aku."


Sama saja, Gian hanya menggeleng pelan sembari menarik sudut bibirnya. Anak kecil ini sulit juga ternyata, bahkan dia cukup diam dan takkan mengeluarkan tenaga pun enggan, sungguh Gian tak habis pikir betapa malasnya Radha.


"Kau mau pinggangmu patah?"


"Haaaa!!! Mama!!!"


Bercandanya Gian memang agak kelewatan, pertanyaan itu ia berikan dengan sedikit merenggangkan tangannya hingga membuat Radha terperanjat.


Tak ia jatuhkan, tapi hal itu hampir saja membuat jantung istrinya lepas. Mata Radha terpejam berharap dirinya tak pergi ke dunia lain lebih dulu.


"Tentukan pilihanmu sekarang, patah tulang ekor atau ikut aku?" tanya Gian dengan senyum penuh ancaman, tubuh Radha yang hampir terjatuh tapi tak jatuh, dan Gian dapat melepaskan tubuh istrinya dengan satu gerakan saja.


"Ikut," jawab Radha begitu pelan, menyerah dan berusaha menyelamatkan diri sebentar dari tragedi ini, Gian tersenyum puas.


"Pilihan yang tepat, kau selamat kali ini."

__ADS_1


Gian mengeratkan tangannya, dan membuat Radha kembali merasa aman dalam gendongannya. Ha, mungkin harusnya Gian butuh sehelai kain agar dirinya tak jatuh, pikir Radha luar biasa kesalnya.


.................. ❣️


__ADS_2