Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
150. Ghibah Suami Istri


__ADS_3

"Kamu nggak makan dari kemaren apa gimana si, Ra?"


Gian sedikit heran menatap kelakuan istrinya yang makan begitu lahap seakan takut Gian akan memintanya. Dan bahkan irisan tomat yang membuat Gian sedikit geli itu Radha makan tanpa sisa.


"Laper," jawab Radha santai, wajar saja lapar, toh dia baru saja mengeluarkan seluruh makanannya beberapa saat lalu.


"Hm, kan bisa pulang dulu ... makan di sini apa enaknya?"


Gian bertanya begitu lembut, lebih ke pasrah sebenarnya. Menemani sang istri makan di teras masjid yang kini cukup sepi, bahkan demi menunggu suasana tenang Gian harus dabar menunggu hampir satu jam lamanya.


"Kan sejuk, enak dong."


Bisa saja istrinya menjawab, bibir mungilnya itu tampak berminyak. Sepertinya memang ia begitu menikmati ayam bakar yang menurutnya gratis itu.


"Yaya terserah kau saja," tutur Gian menyisir rambut dengan jemarinya, sebenarnya situasi seperti ini sedikit kaku ia baginya. Karena pria itu tak pernah berpenampilan seperti ini di luar rumah.


"Kakak mau?"


"Enggak, kenyang."


Gian menjawab apa adanya, beruntung ia menuruti apa kata Jelita. Jika tidak, jelas saja ia juga makan siang bersama Radha di tempat ini, dengan tatapan aneh beberapa orang yang melewati mereka Gian berusaha tak peduli.


"Makan apa?"


"Ya nasi lah, masa makan temen, Zura."


Radha tertawa renyah mendengar ucapan Gian, perkataan asal yang memang benar adanya itu terdengar lucu bagi Radha.


"Hahah!!! Bisa saja mulutmu," ucapnya tanpa pikir panjang memukul bahu Gian dengan telapak tangan kotornya itu.


"Astaga, Ra ... baju Kakak putih, Sayang."


"Ya Allah maaf, lupa."


Ia menganga menatap noda di pakaian Gian akibat ulahnya, itu memang benar-benar terdengar lucu bagi Radha. Dan sungguh, ia tak mampu menahan diri ketika mendengar ucapan Gian sebelumnya.


"Cuci tanganmu, sudah selesai kan?"


Radha mengangguk, makannya sudah usai. Perutnya kembali kenyang luar biasa dan cita rasa ayam bakar itu tak pernah ia lupa.


Selesai istrinya makan, Gian yang sejak tadi berencana langsung menemui Randy akhirnya mengurungkan niat. Tentu saja noda di bajunya menjadi alasan, sejak tadi istrinya menempel bahkan enggan melepas genggaman tangannya.


"Mau kemana lagi kita, Kak?"

__ADS_1


"Tumben tanya, memangnya kamu mau kemana?" Giam bertanya balik, karena memang istrinya begitu berbeda hari ini, entah karena apa.


"Nggak, aku ikut kemana Kakak pergi."


Gian terdiam sejenak, perempuan ini benar-benar mencari cara agar terus bersamanya. Apa mungkin Radha takut akan kepergiannya, pikir Gian.


"Kemanapun?" tanya Gian lagi, padahal memang rencananya Gian akan membawa Radha ke rumah Randy untuk menemui Caterine.


"Hm, kemanapun ... aku ikut Kakak."


Pria tampan itu menarik sudut bibir, dadanya berdebar lagi dan lagi. Masa iya ini jatuh cinta lagi, seakan tiada habisnya, apa yang Radha lakukan membuatnya bertambah cinta.


"Baiklah, hari ini kita ke rumah om Randy ya."


Ia mengangguk dengan senyum di wajahnya terukir jelas, wajahnya berbinar dan maniknya seakan berterima kasih pada suaminya itu.


******


"Ck, kenapa bajunya itu, ganti."


Gian protes ketika Radha mengenakan mini dress di atas lutut itu, memang sangat cantik, namun Gian tak suka karena istrinya memperlihatkan lekuk tubuh, padahal Radha sengaja mengenakannya karena ketika sarapan Gian membahas masalah body aduhai.


"Ih inikan cantik," jawabnya sembari mencebik tak terima, susah payah ia memilih gaun mana yang membuatnya tampak seksi, nyatanya Gian tolak mentah-mentah.


Gian menarik tangannya, berjalan menuju lemari pakaian Radha dan memilih sesuai kehendaknya. Tentu saja yang amat tertutup, belum Radha ia minta mengenakan hijab syar'i.


"Ck, kenapa harus ini sih."


Karena memang itu tak biasa bagi Radha, terlalu besar dan itu adalah hadiah yang Jelita belikan jika nanti tubuhnya semakin berisi. Radha hendak marah, namun dengan semudah itu Gian melucuti gaun yang Radha pilih itu.


"Seleramu rendah sekali, berapa harganya?"


Gian memeriksa detail baju Radha yang telah berhasil ia lepaskan dari tubuh istrinya. Terlalu berlebihan memang pria itu, dan Radha sekesal itu ingin memukul Gian hingga pingsan detik itu juga.


"Itu papa yang kasih," ujarnya mencebik, matanya bahkan berkaca-kaca.


"Oh wajar, pasti Dewi yang memilihnya kan, Sayang?"


Sadar jika istrinya kini hampir menangis, Gian secepat itu mengalihkan perhatian agar Radha tak sedih. Sejak kapan istrinya ini cengeng, namun jika dipikir lagi jelas Radha akan menangis mendengar ucapan Gian tentang selera papanya.


"Iya kali," jawabnya cuek dan berpikir jika memang Dewi yang memiliki selera rendah.


Radha kembali menarik sudut bibir, cara Gian menenangkannya memang membuat nyaman. Dan kini kini keduanya malah fokus membicarakan Dewi, berawal dari selera rendah masalah pakaian hingga berakhir pada hujatan lantaran kelakuan Dewi yang merebut Ardi dari mamanya.

__ADS_1


"Ih kok Kakak malah ngajak ghibah? Kita dosa ntar, pahala Kakak pas shalat jum'at tadi buat dia dong."


BUGH


Ia lagi-lagi melampiaskan keterkejutannya dengan memukul pundak Gian, sadar jika tindakannya benar-benar salah. Sedangkan Gian yang juga baru sadar menepuk pelan bibirnya berkali-kali.


"Astafirullah kamu berdosa banget, Zura." Gian mendramatisir keadaan.


"Berdosa? Kakak yang berdosa!!" Tak mau kalah, istrinya semakin membuat keadaan menjadi-jadi.


"Udah nggak zaman, Zura."


"Idih, Kakak yang mulai."


Gian tertawa sumbang, kenapa dia bisa ingat candaan beberapa tahun lalu. Menjadi suami Radha membuatnya ketularan, tanpa sadar bahwa istrinya kini hanya mengenakan dalaman saja.


"Pakai sendiri, apa mau Kakak yang pakaikan?"


Radha menggeleng cepat, ia menutupi bagian dadanya dengan telapak tangan. Padahal sejak tadi memang sudah terbuka seperti itu, wajah nyolot istrinya membuat Gian tak tahan.


"Aaaarrrrggghhh!! Kenapa harus gigit!!"


Ia menggosok pelan pipi mulusnya yang kini memerah akibat gigitan Gian, padahal sejak tadi ia hanya diam, kenapa pria ini semakin menjadi, pikir Radha.


"Kau menggemaskan," ucapnya seakan kurang dan kini mengusap-ngusap kasar wajar istrinya hingga memerah.


"Kakak kenapa Astaga!!!"


Mulai kesal dengan Gian yang sejak tadi menggodanya, Radha berniat membalas dendamnya. Sejak tadi drama pakai baju saja tidak usai-usai, tentu saja karena suaminya itu membuat semuanya tertunda.


"Arrrggh, Kakak nyangkut tolong dong."


Baru usai memakai celana, kini bertambah lagi drama baju tersangkut di antingnya. Kali ini jelas berbeda, Radha yang panik membuat Gian luar biasa panik, ia terlampau khawatir dan setakut itu jika Radha akan terluka.


"Diam, Ra ... Kakak lepas dulu, jangan bergerak."


"Aakh, hati-hati, Kak ... sakit," tuturnya masih terpejam, drama semacam ini sudah sangat lama tak ia rasakan. Sungguh luar biasa sial.


"Sabar ya, bentar lagi." Begitu hati-hati ia melepasnya, dan sudah pasti anting itu akan menjadi sasarannya.


"Anting dari zaman kapan, Ra ... harusnya sudah enyah sejak tahun kemarin," tuturnya lagi-lagi mencaci barang milik istrinya.


Bersambung❣️

__ADS_1


Terima kasih dukungannya, doain Gian naek level gaes!! Love-love sayangkuh💦💦


__ADS_2