
"Zura,"
Haidar dengar jelas seseorang memanggil kekasihnya dengan nama itu, persis seperti dia. Berulang kali Haidar memanggil kekasihnya itu, rahangnya mengeras kala suara pria yang mungkin bersama Radha itu terdengar menuntut kejujuran kekasihnya.
"Zura!! Kau bersama siapa? Katakan!!"
Haidar kalang kabut, berulang kali mengusap wajahnya kasar. Sungguh teka teki apalagi ini, ia tengah sibuk dengan pikirannya, sementara Radha terdengar tengah sibuk menjawab pertanyaan dari pria yang bersamanya itu.
"Ays!! Bisa gila aku."
Bukan hanya melalui telelpon, Haidar juga menyerang kekaksihnya itu melalui pesan singkat. Hampir lima menit Radha tak merespon ucapannya, yang ia dengar hanya keributan kecil yang ia tahu tentulah gadisnya itu tengah membantah.
"Ra!! Kamu kenapa, katakan!! Kakak khawatir."
"Kakak sewot, pergi sana!!"
Haidar masih mendengar jelas umpatan Radha, entah kepada siapa Radha berucap demikian. Hanya saja, Haidar yakin itu bukan untuknya.
"Astaga!! Radha ... Kakak kesana ya, kasih tau kamu dimana."
Giginya mulai bergemelutuk, ingin rasanya ia turun tangan. Namun bagaimana, dimana dan bersama siapa Radha saat ini ia tak mengerti. Meski tadi sempat Radha katakan bahwa tengah di panti, tapi panti mana ia tak begitu paham.
"Kakak!! Kembalikan!!"
Tuut tuut tuut
"Ra!! Zura ...."
Sialnya, sambungan telpon terputus kala emosi Haidar tengah di puncaknya. Marah, takut dan kalut menjadi satu. Haidar yang kini tengah berada di salah satu kamar Hotel hanya mampu menatap nanar dengan segudang kekhawatiran dan perasaan tak nyaman menguasai dirinya.
"Aaarrrrggghhhh!! Kenapa dengannya?"
Mungkin kini kepalanya terasa amat sakit, Haidar menarik rambutnya kuat-kuat. Suasana hatinya belum begitu baik, ucapan sang Papa yang sempat terdengar namun tak begitu jelas di Apartemen Gian masih menjadi tanya.
Dan sekarang, Radha yang begitu mengkhawatirkan semakin membuatnya pusing. Kepalanya terasa akan pecah, beberapa telepon masuk terutama dari Randy dan juga Rury, sang Asisten.
Perlahan semua kacau, kepergian Haidar yang nyatanya lebih lama dari perkiraan membuat Rury di cecar berbagai macam pertanyaan. Randy yang juga mencoba mencari keberadaan keponakannya hanya mampu mengacak rambut.
Dalam keadaan yang tengah kacau, Randy hanya bisa terdiam dan mencoba membawa Haidar kembali ke luar negeri. Jika dia terus berada dalam jangkauan Gian, dan menyadari kenyataan rumit ini tentulah Haidar akan semakin hancur.
__ADS_1
"Om, izinkan aku tenang sebentar saja."
Belum sempat Randy berucap sepatah kata, Haidar mengakhirinya. Saat ini yang ia pikirkan hanya Radha, bagaimana cara menenukan Radha, dan memastikan kekasihnya itu aman di sisinya.
"Aku harus mencarinya, tidak ada jalan lain."
Berdiam diri hanya akan percuma, takkan ada hasilnya. Sempat berpikir ingin menghubungi Gian, ia hanya memiliki kakaknya itu saat ini. Mungkin saja Gian takkan mengabaikannya, pikir Haidar sembari memejamkan mata.
Beberapa saat, Haidar mencoba menghubungi Gian. Namun percuma, ponselnya tengah tidak aktif dan lagi-lagi Haidar hanya mampu berteriak dalam kesalnya.
"Aaaaauughhhh!! Kemana semua orang!!"
Tidak, mana mungkin ia mampu mencari petunjuk jika nyatanya semua orang sibuk dengan dunia mereka. Tak mungkin ia meminta Raka, sudah jelas pria itu akan menghabisi nyawanya, pikir Haidar.
Segera ia menyambar kunci mobil dan berlalu keluar dari kamar hotel, kemana dia dan entah kapan usai perjalannya, hanya dia yang mengetahuinya. Dengan wajah kusut dan memar yang masih terlihat samar, Haidar melajukan kendaraan dengan cepat. Bisa dikatakan ini kali pertamanya pria itu mengemudi secepat itu.
*****
Rintik hujan mulai menyapa, laju kendaraan mulai melambat. Lalu lintas mulai padat bertepatan dengan waktunya jam pulang kerja.
Masih dengan wajah cemberutnya, Radha menatap nanar keluar sana. Sungguh hatinya merasa kesal luar biasa lantaran Gian benar-benar menyita ponselnya. Bahkan ia tak sempat menjawab pertanyaan Haidar beberapa saat terakhir.
Gian melirik sang Istri melalui ekor matanya, ingin tertawa namun itu bukanlah gayanya. Meski ia sadar, hal yang ia lakukan tak seharusnya.
Tak dapat dipungkiri, ia dapat merasakan bagaimana hancurnya Haidar saat ini. Namun bagaimana, dalam hidup Gian tak pernah ia rencanakan sebuah pernikahan akan terjadi lebih dari satu kali.
Kala ia memutuskan suatu hal, maka tidak ada yang mampu mengurungkannya kecuali dirinya yang berkehendak. Sengaja ia menonaktifkan ponselnya, karena sudah pasti Haidar akan merengek meminta bantuan padanya tentang masalah ini. Dan Gian paham itu tanpa Haidar berucap.
"Kak,"
"Hem?"
"Ponselku," pinta Radha dengan wajah datar sembari menengadahkan tangannya.
Tak ada sosok manja disana, Radha benar-benar terlihat biasa saja.
Gian tak menjawab, pria itu hanya fokus dengan setir kemudinya. Tak ada niatan untuk memberikan ponsel itu hingga ia benar-benar pulang.
"Kak," pinta Radha lebih tegas.
__ADS_1
"Ck ... Permisi Om Gian, saya ingin mengambil kembali ponsel saya."
Chiitt
"Apa katamu?!!"
Pertanyaan spontan sesaat setelah mobil terhenti mendadak dan membuat Radha hampir saja terhuyung. Tentulah ini kesalahannya, Radha tak memasang sabuk pengaman sebagai bentuk protes untuk Gian.
"Apa telinga Kakak sudah tidak berfungsi dengan benar?"
Gian benar-benar kehabisan kalimat, istrinya semakin hari semakin berani. Belum pernah ia temukan seorang perempuan yang mampu melawannya meski hanya sebatas kata.
"Kau benar-benar berani padaku? Hem?"
Gian menatap tajam Radha yang kini tengah bersedekap dada, tidak ada yang harus ia takuti. Baginya selagi ia tak salah ia berhak membela diri. Toh di sini memang Gian yang bersalah, hanya karena Haidar menghubunginya Gian melakukan tindakan semena-mena.
"Kakak mau apa?" tanya Radha sembari menahan dada Gian yang kini semakin mendekat.
"Akan ku tunjukkan setelah ini kau masih berani padaku atau tidak."
Senyuman licik itu terlihat jelas, Radha sejenak terdiam. Pria gila ini tengah merencanakan apa dan dia hanya mampu menunggu. Jikapun berbahaya, maka Radha akan bertindak sesuai dengan caranya.
"Kakak, menjauhlah, napasmu bau naga."
Tanpa dosa Radha berucap, kegarangan Gian benar-benar tak ada harga dirinya di mata Radha. Pria itu terdiam, tercekat dan hanya mampu menarik napas dalam-dalam kala Radha berucap sedemikian rupa dengan begitu polosnya.
"Aaawww!!"
Benar-benar istri durjana, bagaimana bisa Radha punya pikiran menyentil lehernya. Jakunnya menjadi korban, sakit dan ia hanya mampu meringis. Tak mungkin juga ia membalasnya, niat hati membuat istrinya takluk akan amarah, nyatanya dia malah mederita separah ini.
"Astaga, Zuraa!!!"
"Kau benar-benar ingin membunuh Kakak? Iyaa?!!"
Radha tak menjawab, wajah pria yang kini meneriakinya terlihat memerah. Jurus itu kerap Radha gunakan jika seseorang membuatnya risih luar biasa di sekolah, dan saat ini Gianlah yang menjadi mangsanya.
"Baiklah, kau akan kubalas dengan cara yang lebih gila. Tunggu saja nanti malam," ancam Gian tak melepaskan tatapannya dari wajah polos Radha.
"Habislah kau, anak kecil," batin Gian benar-benar bulat akan tekadnya.
__ADS_1
Tbc
Maaf ya baru sempat update, semalem ketiduran, dan mulai pagi itu dah ada kerjaan, baru sempet siang. Maaf banget temen-temen🤗