
Kehadiran Haidar yang tiba-tiba menjadi tanya bagi Gian, belum lagi istrinya juga tak pulang-pulang. Dan semakin kesal dirinya kala telepon Radha justru tidak bisa dihubungi, tolonglah, tidak ada yang ulah tahun hari ini, pikir Gian kesal.
Menatap interaksi Kama dan Haidar yang bahkan lebih bersahabat, sungguh Gian iri melihatnya. Apa mungkin caranya kurang lembut, hingga Kama lebih betah bersama Haidar.
Perlahan anak itu tidur dalam pelukan Haidar, bahkan tak perlu berusaha banyak, Haidar hanya mengusap pelan wajahnya hingga Kama terlelap dalam tidurnya.
"Bisa-bisanya dia lebih betah bersama bocah sepertimu," ujar Gian berdecak kesal, sedangkan Kalila sejak tadi masih tak bisa diam, putrinya yang bosan berada dalam pangkuan kini Gian biarkan bergerak bebas di lantai asal masih dalam pengawasannya.
"Dia merindukanku, ya wajar saja dong, daripada mamanya yang rindu aku? Hayo, lebih baik mana?" goda Haidar sengaja bunuh diri, pertanyaan sensitif yang bisa saja membuatnya jatuh dalam jurang kesengsaraan.
"Dasar kurang ajar mulutmu, kau mau mati, Haidar?"
Kesal sekali, mengingat Haidar adalah mantan kekasih istrinya jelas saja Gian panas. Padahal niat Haidar hanya bercanda, meski dahulu sempat tersiksa lahir batin, akan tetapi Haidar tak pernah memiliki dendam sesungguhnya pada Gian.
"Buahaha, santai, Bro ... baru begitu saja ngamuk."
Tak peduli bagaimanapun Haidar menilainya, yang jelas saat ini Gian kesal bukan main. Andai saja Kama tak tidur di pelukannya, mungkin Gian akan mendaratkan pukulan di tubuh adiknya.
"Aku tidak bisa santai, kau saja yang santai."
Gian menghela napas kasar, ia kini semakin gusar. Dan karena sibuk memikirkan amarahnya, tak sadar bahwa kini Kalila sudah berlalu dan menghilang dari ruang keluarga.
"Astafirullah, Kalila mana, Haidar?"
"Mana aku tau, dari tadi kan dia bersamamu, kenapa tanya aku?"
Haidar benar-benar tidak menyadari Kalila sudah tak berada di ruangan ini, karena sejak tadi anak itu masih berada dalam pelukan Gian. Jujur saja dia panik juga, kemungkinan Kalila pergi ada empat ruangan, dan rumah ini cukup besar, sepertinya anak itu belum terlalu jauh.
"Ays!! Anak itu masih kecil sudah berani pergi tanpa pamit."
Haidar yang hendak mengambil langkah kini terhenti sejenak, siapa tahu pendengarannya yang salah. Akan tetapi sepertinya tidak ada yang salah, memang Gian yang bicara tanpa logika.
Gian berlalu ke ruang tamu, siapa tahu putrinya sudah berada di sana. Sementara Haidar mengambil langkah ke arah berlawanan, karena kemungkinan Kalila pergi ada banyak tempat.
Perlahan dewasa, memang untuk berada di titik ini Haidar sangat sulit. Bahkan ia hampir tak mampu melewatinya. Akan tetapi, kini ia mengerti bahwa tidak ada yang salah di antara mereka, kalaupun dahulu yang menikahi Radha adalah dirinya bukan Gian, belum tentu Kama dan Kalila akan berada dalam hidup keluarga itu.
Beralih pada Gian yang kini mencari putri bahenolnya itu. Gian tak takut jika Kalila berhasil keluar, akan tetapi yang ia takutkan adalah vas-vas bunga kesayangan Jelita yang terbuat dari kaca itu pecah dan membuat putrinya terluka.
"Ck, rumah ini sangat tidak aman untuk bayi, sepertinya aku perlu menyingkirkannya."
Kalila berlum dia termukan, tapi rencana untuk mengubah tempat ini sudah muncul begitu saja. Kemana putrinya, Gian jadi bingung sebenarnya Kalila merangkak atap melata, kenapa secepat itu.
"Kalila," panggilnya selembut mungkin, berharap putrinya akan menjawab pangilannya.
"Sayang, kamu dimana?"
Lagi-lagi Gian bersuara, akan tetapi putrinya benar-benar tak menjawab juga. Rasanya tidak mungkin jika sampai keluar rumah, pintu utama tertutup, kalaupun tidak dikunci Kalila tidak sekuat untuk mendorongnya.
"Heeih ... kamu ngapain?"
Tertangkap, Gian menemukan Kalila di dekat sofa dan anak itu tengah duduk manis sembari mencabut bulu halus di karpet lembut itu. Wajar saja Kalila diam, ternyata ada sesuatu yang membuatnya senang.
__ADS_1
"Jangan dicabut, kotor Kalila."
Mungkin hal itu adalah penemuan baru bagi Kalila hingga dia jatuh cinta dan menganggap hal itu sesuatu yang berharga. Gian menahan tangan putrinya untuk tak meneruskan hal itu, karena merusak kesenangannya, Kalila marah besar dan merengek minta dilepaskan.
"Maaf, Sayang ... jurus andalanmu itu tidak berhasil kali ini," ujar Gian menggeleng pelan, tidak ada toleransi untuk hal ini, sekali tidak tetap tidak.
-
.
.
.
Sudah waktunya Kama dan Kalila untuk mandi, dan Radha belum juga pulang. Menjelma menjadi pengasuh, kini Haidar tak mau kalah. Ikut menghabiskan waktu di kamar keponakannya, Haidar tak bisa menahan diri dari Kama dan Kalila.
"Menggemaskan, Kama segeralah dewasa ... kita harus jadi teman."
Haidar mengangkat tangan Kama, tubuh polos keponakannya membuatnya gemas luar biasa. Paha Kama yang berlipat ingin rasanya Haidar gigit.
"Heeh!! Jangan berharap bisa jadi teman anakku."
Menarik rambut adiknya karena pergerakan Haidar mencurigakan. Pria itu sontak berteriak dan menuntut penjelasan.
"Dasar sintiing, kenapa kau harus ditarik?!!"
"Aku hanya menyelamatkan putraku, kau pasti memiliki niat yang tak baik bukan?"
Haidar mencebik, pria ini kenapa lebih dari sadis dari wanita yang menjaga anaknya. Walau memang berniat untuk menggigit bagian tubuh Kama, akan tetapi itu bukan untuk menyakiti tentu saja.
"Menurutmu? Kalau dia tidak bahagia tidak mungkin kami berkembang biak dua sekaligus."
Dia tengah menyombongkan diri, kehadiran putra dan putrinya adalah bukti cinta yang patut dibanggakan kepada siapapun. Lagipula kenapa adiknya mempertanyakan hal sekonyol itu, mana mungkin Radha tak bahagia, pikirnya.
"Iya juga sih," tutur Haidar mengalah, jawaban Gian sama sekali tak salah, akan tetapi kenapa harus demikian jawabannya, pikir Haidar.
Memakaikan baju tidur untuk Kama, gerakannya begitu hati-hati dan penuh kelembutan. Begitu takut jika Kama menangis atau merasakan sakit nantinya, Haidar menyayangi keponakannya begitu luar biasa, terlepas dari siapa yang melahirkan mereka.
"Wih, keren juga kau ... kenapa bisa? Kau pernah berperan jadi seorang ayah?" tanya Gian sedikit heran dengan kemampuan Haidar yang cukup baik dalam mengurus anak kecil.
"Bisa dong, kecil urusan begini mah."
Kama kini sudah selesai, dan sudah pasti ia akan tampil berbeda sesuai dengan siapa yang merawatnya.
"Haidar, aku tidak suka rambutnya begitu."
Gian menolak gaya rambut hasil karya Haidar yang menurutnya sangat menawan. Sedangkan Gian justru merasa geli dengan rambut Kama yang menyerupai anak punk itu.
"Ini keren, Kak ... Kama jadi lakik!!"
Dan Kama yang kini diperdebatkan tampak menerima apapun yang dilakukan padanya. Gian tak rela, dia tidak suka dan berniat untuk mengubahnya.
__ADS_1
"Jangan, Kak, hari ini saja dia begini, besok ganti lagi."
Haidar mencegah tangan Gian agar tak merusak mahakaryanya, sungguh ini adalah suatu hal yang patut diapresiasi.
"Ck kau ini, egosi sekali." Gian menatap datar adiknya, dan Kama yang juga menatap manik polosnya.
"Kamu juga kenapa mau rambutnya seperti itu," tufur Gian pada putranya yang kini hanya berceloteh sesuka dia.
-
.
.
.
Memasuki halaman rumah, Radha kini terasa gemetar karena sudah pasti Gian akan menuntut banyak hal darinya. Telat hampir setengah jam, dan ini diluar kehendaknya.
Perdebatan antara Jelita dan juga Caterine yang membuat mereka jadi lama, dan kini dia harus menyusun kalimat sebaik mungkin agar Gian tak curiga.
"Semoga dia tidak marah," tutur Radha melangkah pelan, memasuki rumah persis maling.
Sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan di tempat inim Sepertinya mereka masih sibuk di kamar, Radha berpikir positif dan berharap Gian kembali tidur.
Tapi, semua berubah, kamar anaknya terbuka dan sepertinya Gian punya lawan bicara. Karena tak mungkin jika Gian akan meladeni kedua buah hatinya sedemkian rupa.
"And yaaa bagus!! Baru pulang, dari mana kamu?"
Secepat itu Gian mengalihkan pembicaraan bersama Haidar, sepotong kalimatnya bahkan belum usai namun Gian beralih pada Radha yang baru memasuki kamar anaknya beberapa langkah.
"Hai, udah mandi ya?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan, kamu dari mana? Kenapa lama dan ingat kan perjanjian kita tadi apa?"
Ada Haidar di sini, dan Gian sama sekali tak mengubah caranya pada sang istri. Kesal lantaran Radha menghilang dan berakhir denga melanggar perjanjian membuat pria itu tak bisa menahan dirinya lebih lama.
"Maaf, Kak, tadi ada kesalahan teknis, biasalah namanya perempuan."
Berusaha senatural mungkin dan melimpahkah kesalahan pada Caterine, padahal kini Gian juga tengah emosi padanya.
"Setidaknya jangan menghilang, Ra, kamu tau aku sekhawatir apa? Tolonglah, Sayang, pahami sedikit suamimu ini."
Padahal Radha sudah paham dirinya lebih dari apapun, dan kini dengan tatapan begitu lekat ia mencurahkan betapa kesalnya Gian.
"Maaf ya, Kak, ini yang terakhir kali ... aku minta maaf," tuturnya lembut, tak peduli kini menjadi pusat perhatian Haidar yang tengah sibuk bermain bersama Kama.
Senyum istrinya terlalu menggemaskan, Gian tak bisa marah lebih dari lima menit. Sebesar apapun kesalahan Radha pada akhirnya dia tunduk juga, jiwanya ingin memeluk karena memang pria itu tak Bis berpisah lama, karena ia akan merasakan rindu setiap kalinya.
"Ck, mandi sana, ganti bajumu ... jangan lama-lama di sini." Sarkas sekali, padahal Haidar sama sekali tidak memperhatikan Radha semata-mata. Pria itu masih saja berpikir buruk tentangnya.
"Papamu cemburu buta, matanya tidak dipakai," bisik Haidar pada Kama namun dapat Gian dengar walau sedikit samar.
__ADS_1
"Kau mau aku siram, Haidar?" ancam Gian dengan entengnya. Kakaknya luar biasa emosian, sungguh diluar nalar.
💃