Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Seutuhnya Cinta.


__ADS_3

Hujan di luar begitu lebat, dan benar apa yang Gian ucapkan sebelumnya. Namun prediksinya salah, nyatanya usahanya untuk membawa Radha kedalam suasana berhasil.


Tak sulit bagi Gian menuntun Radha, kelembutan dan kehangatan yang ia berikan membuat Radha luluh dan terjebak dalam permainan. Walau sebelumnya hanya menerima, namun Gian menarik sudut bibirnya kala tak ada penolakan di sana.


"Bernapas, Ra."


Gian menjauhkan wajahnya sejenak, hal bodoh yang kerap istrinya lakukan terjadi lagi. Bukan kali pertama silahturahmi bibir tapi Radha masih sekaku itu, dan Gian menganggap hal itu sebagai hal lucu.


"Jangan melihatku seperti itu," tuturnya memalingkan muka.


Wanita tengah malu, cahaya lampu tidur menyinari wajah suaminya dalam temaram. Senyum usil dan tatapan meyebalkan itu membat Radha semakin malu.


"Lalu apa yang boleh Kakak lihat? Begini kah? Atau begini?"


Bugh


"Awww, kau ... kalau jantungku lepas bagaimana?" tanya Gian seakan hampir mati lantaran Radha memukul dadanya untuk menutupi rasa malu.


Bagaimana tidak istrinya akan malu, pakaiannya sudah tak lagi dimana seharusnya. Gian secepat itu membuat istrinya setengah polos, lembutnya cara Gian membuat Radha tak sadar sepenuhnya bahwa dirinya kini hampir mirip bayi.


Tak ingin terlalu lama, kembali ia meraih tekuk Radha dan menguncinya dalam kebisuan. Tanpa mengatakan apa-apa Gian bergerak dengan kemauannya tanpa ragu.


Tubuh Radha yang menerima semua yang ia lakukan semakin menjadi alasan Gian untuk tersenyum lebar. Dingin, udara di luar yang memang mendukung.


Kali pertama melakukannya sedalam ini, jika sebelumnya hanya sebatas pemanasan dan selalu terhenti karena Radha belum menerima sepenuhnya.


Radha terbuai sentuhannya, bahkan ia lupa jika dirinya masih SMA. Terpaksa dewasa lantaran keadaan yang menjebaknya berada di posisi ini. Semua bukan salahnya, bukan juga salah Gian sebagai suami.


Sejak menjadi istri, Radha banyak mencari tahu bagaimana dia seharusnya. Bahkan segala yang Jelita ucapnya ia catat agar mampu memposisikan diri dengan baik di usianya yang masih belia.


Terjebak ikatan bersama pria dewasa yang tentu saja menuntut haknya, Radha paham akan hal itu sejak lama. Bahkan perlakuan Gian yang kerap ia perlihatkan pun dapat ia artikan walau keberanian untuk merelakannya belum ada.

__ADS_1


Dan malam ini, detik ini Radha pasrah akan bagaimana nanti dunianya. Walau ketakutan masih menyertainya, namun sentuhan Gian tak dapat di tolaknya. Walau dirinya tak menginginkannya sebesar yang Gian rasa, namun tubuhnya mengatakan iya.


"Kakak akan berhenti kalau kau ragu, Ra," ujar Gian sejenak mengangkat wajahnya, tubuh Radha masih bergetar dan jemarinya berpegang tak tahu arah dapat Gian rasa.


"Ragu?"


Yes!! Itu yang Gian inginkan, gelengan Radha membuatnya yakin betul lampu hijau telah menyala. Memiliki Radha sepenuhnya, adalah inginnya. Adanya Haidar semakin membuat Gian takut kehilangan wanitanya, dan cara ini adalah satu-satunya untuk menegaskan wanita itu miliknya.


Berusaha selembut mungkin, tak ingin menyakiti wanitanya. Gian melakukannya setenang mungkin, ya walau setenang apapun Radha tak mungkin tak merasakan apa-apa.


Tak tega sebenarnya, tapi di saat seperti ini, nafsunya tengah berada di puncak mana mungkin ia mengurungkan niatnya. Jika ia tak meneruskannya kapan lagi.


Gian terpejam, dia menang. Apa yang ia mau kini ia dapatkan, Jemari Radha yang ia genggam kini kuat menggenggamnya. Jeritan kecilnya terdengar manis di telinga Gian, baginya tak ada yang lebih indah mungkin saat ini.


Dingin, hujan semakin lebat namun di tempat ini semakin panas. Deru napas dan keringat keduanya berpadu dalam penyatuan cinta yang takkan terlupakan.


Puas, Gian tersenyum senang kala Radha berhasil mencapai puncaknya. Tentu saja ia tengah merasa pria paling gagah, lenguhan yang tak mampu Radha sembunyikan membuatnya tak berniat untuk menghentikan.


Gian yang menginginkan hal ini akan ia lakukan ketika berdua saja, nyatanya tak sesabar itu. Dalam pelukannya, Gian memeluk erat tubuh Radha kala ia menyelesaikannya.


Mata Radha yang terpejam, namun napasnya terdengar lelah menjadi candu bagi Gian. Jika saja Radha tak selemah ini, tapi jelas ia tak boleh egois. Mana mungkin ia biarkan istrinya kesulitan berdiri esok hari.


Dalam pelukannya, tubuh istrinya polos. Benar-benar polos layaknya bayi, dalam balutan selimut Gian menciptakan kenyamanan untuk Radha.


Memiliki Radha seutuhnya, bukan sebutuhnya. Mencintai setulusnya, karena baginya Radha bukan hanya seorang istri. Tapi segalanya, entah mengapa, apa mungkin jarak umur mereka yang cukup jauh, atau karena Gian tak memiliki adik perempuan membuatnya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya dan posisikan Radha sebagai tujuan hidupnya.


Semudah itu, bahkan pernikahan belum sebegitu lama. Namun Gian terlanjur cinta tanpa berpikir bagaimana akhirnya. Ia egois kali ini, berbalik dari apa yang ia ucapkan ketika usai akad beberapa bulan lalu.


Kalimat yang mengatakan bahwa bagiannya hanya ketika akad nikah, selebihnya urusan Haidar dan sang Papa mengenai masa depan wanita itu. Namun nyatanya, tanpa peduli bagaimana perasaan Radha padanya, Gian lebih dahulu cinta tanpa ia sadar bagaimana caranya.


Sejenak, bahkan ia secepat itu melupakan cinta pertama yang dahulu pergi tanpa tau sebabnya. Mencintai Radha adalah tugasnya, memiliki Radha seutuhnya adalah cara Gian menjaganya.

__ADS_1


Suami, ia butuh pengakuan sebagai seorang suami. Yang tugasnya bukan hanya teman tidur belaka, tapi Gian butuh Radha lebih dari itu. Usianya telah dewasa, dan tuntutan Jelita perihal anak sangat menganggu kepalanya.


Ia tahu egois, Radha bahkan belum lulus sekolah. Namun memiliki anak juga inginnya. Beberapa kali bertemu rekan kerjanya, beberapa di antara mereka telah memiliki putra yang membuat Gian juga ingin merasakannya.


"Kak," panggil Radha dengan suaranya yang terdengar sangat lemah.


"Hm, kenapa? Kamu butuh apa, Ra?"


"Apa Kakak akan meninggalkan aku setelah ini?"


Pertanyaan Radha menyanyatnya tiba-tiba. Apa yang istrinya pikirkan, kenapa sedangkal itu? Siapa yang memengaruhinya hingga pikiran sepicik itu bisa ada.


"Sayang, apa maksudmu?"


"Tidak kan? Kakak tetap di sini, kan?"


"Iya, Kakak di sini, kamu kenapa, Ra?"


Ya, ketakutannya akan hal ini luar biasa besar. Bagaimana nasibnya jika Gian pergi setelah apa yang menjadi kebanggannya Gian rampas. Peringatan Haidar yang sempat membuatnya kalut masih saja terbayang, gambaran seberapa buruk suaminya ini membuat Radha benar-benar takut.


"Cukup Papa yang pergi dariku, Kakak jangan ya."


Iya, Ra!! Harus dengan kalimat apa agar istrinya tahu. Bukan hanya Radha yang takut kehilangan, tapi Gian juga luar biasa besarnya ketakutkan itu. Gian mengeraskan rahangnya, entah mengapa ia sangat marah dengan pertanyaan Radha yang menunjukkan ada ketidakpercayaan di sana.


"Iya, Kakak janji, Ra, jangankan meninggalkan, menyakitimu sedikit saja takkan pernah Kakak lakukan."


Bolehkah sejenak menangis, ucapan Gian terlampau manis dan membuatnya teriris. Kantuk dan lelahnya seakan tak membuatnya mengurungkan niat untuk berkata demikian, ia mencintai Gian walau ia bingung harus mengatakannya bagaimana.


............... Tbc


Ini gue nulisnya ga sekali, gue kelarin satu eps itu banyak hari. Dan ni gue gamau detail banget yaa, dahdah Babay. Yang komen kurang panas, bacanya di deket kompor aja, gkgkgk.

__ADS_1


Dah Babay❣️


Sehat selalu kalian semua, semoga Allah perlancar segalanya, urusan, rezeki dan lainnya.


__ADS_2