Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Harus Membayar Tuntas!!


__ADS_3

Drama selesai? Tidak!! Gian bukanlah orang yang dapat melepaskan seseorang yang berani berbuat macam-macam terhadap siapapun yang ia sayangi. Dalam satu jentikan jari Gian dapat membuat hidup ketiga keluarga itu berubah total.


Tanpa Radha tahu rencana suaminya, dan tanpa Lilis tahu bahwa Gian tak mengganggap semuanya usai hanya dengan kata maaf. Pria itu meminta Rey, sang Asisten untuk bertindak lebih cepat.


Gian menarik sudut bibir sembari menatap tajam beberapa foto beserta biodata keluarga besar sasarannya. Mereka terlalu sederhana memandang Gian, wajah tampan yang terlihat rupawan itu nyatanya tak semudah itu untuk melupakan dendam.


"Lakukan sebaik mungkin, Rey, pastikan semuanya tuntas dan aku ingin melihat mereka berlutut di hadapan istriku."


Sebuah perintah yang tidak ia kenal penolakan dan gagalnya. Gian memang kerap bertindak di luar nalar, meski beberapa kali Raka meminta putranya untuk tak terlalu menggunakan kekuasaan, Gian tetap saja akan lakukan jika memang diperlukan.


Sudah cukup lama ia menanti, Radha tak jua kembali dan sudah waktunya ia mencari. Ternyata Radha tak sesederhana yang ia duga, wanitanya itu tak melakukan apa yang Gian inginkan.


"Dasar anak kecil, kemana dia!!"


Hingga Gian berlalu dan mencari Radha di beberapa tempat. Sejujurnya alasan ia tak ingin Radha keluar dan jauh darinya bukan hanya karena Abian. Tapi karena takut amarah istrinya masih terpendam dan memiliki keinginan untuk membalas lebih sadis kepada yang menyakitinya, itu saja.


Hingga langkah itu terhenti, Gian tak ingin mengambil langkah terlalu cepat. Ia terdiam sembari memperhatikan apa yang kini istrinya lakukan.


Laki-laki itu, bahkan masih begitu kecil di mata Gian. Sejenak ia menarik sudut bibir, tampaknya mereka begitu cocok sebagai pasangan anak muda. Memang benar, seharusnya Radha menikmati masa itu, bukan malah terlalu terburu berstatus istri dari seorang pria dewasa sepertinya.


"Apa kau sungguh membutuhkan keberadannya, Ra?"


Dari kejauhan, Gian tak melepaskan senyuman yang betapa mengalirnnya pembicaraan dua orang itu. Abian, sosok pemuda yang begitu menyebalkan di mata Gian namun seakan berarti bagi istrinya.


Ia tak ingin terlampau egois, siapapun dirinya, Radha juga butuh ruang sendiri dan menikmati hidupnya. Sebagai siswi yang juga butuh interaksi dengan seseorang seusianya, Gian tak ingin Radha terlalu terkekang.


"Waktumu habis, Radha."


Gian melangkah, semakin mendekat dan memutuskan untuk menghentikkan pembicaraan mereka setelah waktu yang ia tentukan sendiri telah usai. Cukup lima menit, bagi Gian waktu itu sudah begitu lama untuk hanya pembicaraan mereka berdua.


********


"Kakak!! Aku malu," ujar Radha mencoba meminta pengertian Gian. Sungguh ia tak merasa Gian terlalu berlebihan.


Kotak sampah? Enak saja, dasar seenaknya. Bagaimana mungkin pria itu mengancamnya dengan kalimat gila yang sebegitu kejamnya.


"Cukup diam, Zura, sebentar lagi sampai."


Huft, Radha benar-benar menghela napas kasar. Gian sungguh gila dan kini meminta Radha untuk masuk mobil. Apa mungkin ancamannya akan nyata? Lalu bagaimana, bahkan ujian akhir sudah di depan mata.


Radha memukul angin karena kesalnya. Dan tingkahnya maish berada di bawah pengawasan Gian. Pria itu tak sedetikpun melepaskan sang Istri dari manik tajamnya.

__ADS_1


"Masuk, Sayang!!"


"T-tapi kan ... aaaarrrghh!! Kenapa Kakak begitu pemaksa."


Radha mengepalkan tangan saking kesalnya. Mendapati Gian benar-benar bertingkah hari ini, andai saja ia pergi sendiri. Mungkin drama tadi pagi takkan serumit ini, pikir Radha.


"Radha," tegur Gian kala ia belum juga berniat membuka pintu.


"Bentar, ambil tas dulu."


"Tidak perlu, tasmu sudah berada di mobil sejak tadi."


Dasar licik, sejak kapan ia benar-benar merencanakan kepulangannya. Sungguh Radha tak babis pikir dengan apa Gian pikir, dan kenapa para guru yang bertemu keduanya begitu tunduk bahkan tak pernah mengangkat wajahnya di hadapan Gian.


"Lalu bagaimana dengan izinku? Kakak mau aku menjalani hukuman hormat bendera selama berjam-jam besok?"


"Tidak akan terjadi, dan jika sampai terjadi akan kupastikan mereka yang menghukummu akan hormat hingga malam hari."


Benar-benar tak menerima penolakan, Radha terpaksa menurut dan masuk dengan pasrah tanpa banyak bicara. Sejak menikah, sekolahnya benar-benar tak fokus. Sudah berapa kali ia bolos dan terpaksa mengirimkan tugas lewar Nisa yang mau saja Radha repotkan.


******


Perjalanan yang tak terlalu membosankan, Radha menikmati game yang kerap Gian mainkan selama perjalanan. Tak mau ambil pusing dengan pelajaran hari ini, toh memang sudah di bahas kemarin, pikir Radha mencoba biasa saja.


"Apa, Kak?"


"Kakak boleh tanya sedikit?" Begitu hati-hati, ia tak mau membuat mood Radha berubah dan ia tak akan bisa mengajaknya ke kantor dalam keadaan ceria.


"Tanya? Tanya apa?"


Radha menatap lawan bicaranya, mematikan ponselnya segera dan mencoba fokus untuk Gian terlebih dahulu. Begitulah salah satu hal manis yang pernah Ardi ajarkan tentang kesopanan pada saat berbicara dengan orang lain padanya.


"Tentang hal yang kau alami pagi tadi, apa yang sebenarnya mereka lakukan padamu? Hm?"


Gian dapat memposisikan diri, ia bertanya selembut mungkin agar Radha mau menjelaskan dengan baik tanpa merasa di paksa. Karena selama di ruang guru, Radha tak membela diri dan tak pula menangkis penjelasan Helena.


"Kan Kakak sudah dengar tadi," jawabnya dengan senyum halus seakan menutupi raut sedihnya.


"Kakak tidak percaya, Zura, tidak mungkin jika sesederhana itu membuatmu tega melakukan hal gila yang bahkan berhasil melumpuhkan lawanmu."


Sungguh Gian tak percaya, memang menurut penjelasan Helena keributan antara mereka terjadi karena pakaian Radha menyalahi aturan dan ia merasa tak suka. Namun, Gian menolak mentah-mentah karena ia tahu Radha bukanlah seseorang yang gampang meluapkan emosinya.

__ADS_1


"Mereka bohong kan, Sayang?"


Radha masih diam, ia sesulit itu untuk menjelaskan alasan sebenarnya yang sudah pasti akan membuat amarah Gian lebih besar darinya.


"Ra? Kenapa tadi kau hanya diam? Hm?"


"Ak-aku hanya takut tidak akan ada yang mempercayaiku, Kak. Dan bahkan untuk menerima alasanku akan mustahil."


Memang benar, fakta bahwa ucapan Helena dan teman-temannya hanya akan membuat Gian buruk di mata orang-orang itu. Dan di posisi itu, Radha memilih untuk tetap diam tanpa harus berbicara banyak.


"Baiklah."


"Sekarang Kakak tanya sekali lagi, apa yang mereka katakan padamu, Zura?"


"Kak, bisakah berhenti membahasnya? Toh aku juga sudah meminta maaf pada Resya, Shella dan juga Helena. Kenapa masih Kakak ba...."


"Tidak bisa! Jawab, Zura."


"Katakan, apa yang membuatmu semarah itu?!"


"Mu-murahan," jawab Radha sedikit ragu, tepatnya ia ingin merahasiakan ini, karena ia merasa begitu rendah jika harus kembali mengingatnya.


"Apa maksudmu?"


"Mereka menganggapku murahann dan menyamakan aku sebagai wanita bayaran yang Kakak sewa!!"


Radha bergetar, ia menatap tajam Gian yang ia posisikan sebagai salah satu titik masalahnya. Karena dengan hadirnya Gian di sekolah itu, ada banyak perubahan dalam hidupnya.


"Ap-apa? Kenapa kau diam, Zura?!! Setakut itu kau membela diri di depan mereka? Hah?!!"


"Karena jika aku jujur kita berdua yang akan hancur, Kak. Aku tidak bisa menjamin Kakak mampu menahan diri begitupun denganku!!"


Gian mengeraskan rahangnya, tangannya mengepat erat hingga jemarinya itu tampak memutih. Sungguh, ia takkan pernah diam dengan hal yang Radha alami.


Tanpa pikir panjang, Gian melaju kala lampu merah itu berakhir. Dengan kecepatan luar biasa tinggi dan tujuan yang kini Radha pertanyakan karena ini bukan menuju kantor ataupun pulang ke rumahnya.


"Kak, kita mau kemana?!!"


"Mereka harus membayar tuntas hari ini juga."


Radha merasa tak enak kala ucapan itu ia dengan dari bibir Gian, pria itu menatap tajam begitu fokus dan tampaknya tak sedang merima saran apapun darinya.

__ADS_1


......... Bersambung❣️


__ADS_2