Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Berlanjut (Perang Dingin)


__ADS_3

"Dasar pemalas, dia belum bangun juga?"


"Haha, seperti tidak pernah muda saja kau, Kak. Gian baru menikah, dan dia tidak sendiri wajar saja jam segini masih di kamar."


"Ehm!! Randy benar, Mas ... kamu harusnya paham," tambah Jelita membenarnya ungkapan adiknya.


Kali ini Raka hanya membuang napas pasrah, melawan dua manusia ini takkan menang meski dirinya telah mengeluarkan segala kalimatnya. Perpaduan Randy dan Jelita, meski di usia yang tak muda mereka masih saja sama.


"Iya, bahkan dulu kalian berdua pernah tidak keluar dari pagi sampai paginya lagi, hayo, lupa, Kak?"


"Ays!! Tutup mulutmu, Randy, kau pikirkan saja nasibmu itu, sampai kapan kau betah hidup sendiri begitu."


Awwwww!! Randy menekan dadanya. Layaknya pasien serangan jantung. Kalimat Raka menusuk jiwanya, prihal cinta memang ia kalah, dan bagaimanapun Randy mencoba cinta pertama menghentikan pencariaannya.


"Suamimu masih sama, Kak!! Mulutnya pedas dan tatapannya membuat mataku panas."


Jelita terkekeh mendengar bisikan Randy, beberapa tahun lalu kala mereka muda Randy selalu mengatakan hal itu jika Raka marah ataupun membentaknya, secepat itu waktu berlalu, dan Randy masih akan tetap menjadi sosok pria kecil dengan sejuta ketengilan dalam benak Jelita.


"Jaga bicaramu, kau tidak lihat wajah suamiku sedang tidak memungkinkan untuk di ajak bercanda, Randy."


Randy tak peduli, dan ia tak setakut dahulu. Meski Raka memang cukup menakutkan, tapi kini ia jelas mampu melawan. Fokus dengan makanannya, tentu saja dengan kaki yang tak seharusnya. Mungkin ia anggap tengah berada di tongkoran, hingga duduk semaunya.


"Haidar, kau tidak makan?"


Raka menyadari putranya sejak tadi hanya diam, liburan yang ia minta tak dinikmati sama sekali. Merasa kehabisan cara, Raka sedikit lelah dengan putranya yang makin hari makin tak baik.


"Tidak, Pa ... aku tidak biasa makan pagi," tolaknya dengan senyum kaku untuk menutupi kegugupannya lantaran Raka pertama kali menegur Haidar prihal ini.


"Apa benar begitu Randy?"


"He'em, Haidar hanya sesekali dan itupun sedikit, mungkin segini."


Menjelaskan sekaligus memperlihatkan contoh seberapa banyak makanan yang masuk ke perut Haidar setiap paginya.

__ADS_1


"Ays!!! Jorok sekali!!"


Ketiga orang di sana sontak menjauh karena Randy memberikan contoh dengan cara yang tak lazim. Mengerluarkan roti yang telah berada di dalam mulutnya dan tanpa dosa ia perlihatkan pada mereka. Sungguh, manusia itu tidak berubah sama sekali.


"Kau bertanya, apa salahku, Kak?" tanya Randy dengan wajah seakan dirinya paling tersakiti sedunia.


"Salahmu? Tidak ada, Randy ... mungkin aku yang salah tempat bertanya."


Raka tak habis pikir, kenapa adik iparnya semakin tak waras. Pengaruh kesendirian atau ia terlalu mendalami karakter dalam berbagai peran yang ia mainkan di setiap drama. Namun kali ini, Randy benar-benar di luar batas.


"Menjijikkan, wajar saja istrimu pergi dengan laki-laki lain, Randy!!"


"Haha sialan kau, Kak, istriku yang mana maksudmu?"


"Yang itu sheilla atau siapa, aku lupa ...." Jelita tampak mengingat nama wanita yang dahulu pernah menjadi adik iparnya.


"Sheinna, Kak."


"Maaf, Rand ... kau mengingatnya?"


"Ck, tidak lagi ... hanya saja, putriku ...."


Napasnya tertahan, karena meski ia berusaha sembunyikan masih saja persaaan itu kembali. Bagaimanapun keadaannya, gadis kecil itu tak bersalah. Meski sakit dan kebencian membelenggu pria itu, hati kecilnya tetap merasakan rindu.


"Kau bisa temui, bukankah kalian berdua masih berhubungan baik?"


"Haha baik apanya, suaminya sama sekali tidak bisa di ajak kerja sama, menyebalkan!!"


Pembicaraan serius keduanya menjadi pusat perhatian Raka dan juga Haidar, drama percintaan Randy sungguh di luar nalar. Berawal dari dirinya yang terjun ke dunia serba settingan, bahkan cinta dan pernikahanpun berdasarkan keuntungan, miris.


"Relakan ... lupakan saja, Rand, sudah saatnya kau fokus dan mencari teman hidup ... kau tidak muda lagi, Rand."


"Ck, apa aku terlihat setua itu?"

__ADS_1


Haidar tersenyum tipis, memang pamannya masih terlihat begitu muda. Pekerjaan yang ia geluti membuat Randy tak berbeda jauh dari Gian, kulitnya yang putih dan wajah yang memang terlihat imut seakan menyembunyikan usianya.


"Tidak, Om ... bahkan terlihat sangat-sangat muda."


Randy terperanjat kala jemari itu menepuk pundaknya, hawa apalagi ini? Wajah penuh keceriaan ini menghampiri mereka di saat yang tidak begitu tepat. Manakala Randy membahas kesendirian, pria tampan yang kini tampak segar datang dengan segala pesonanya.


"Sukses anak muda?"


Gian menggaruk lehernya sesekali mengusap lengannya. Mencoba tak merespon ucapan Randy yang sebenarnya ia paham ke arah mana. Ia hanya sendiri, sedangkan Radha ia minta untuk tetap di kamar karena sadar bagaimana sulitnya sang Istri.


"Gi, Radha mana?"


"Ada, Pa ... masih istirahat," jawab Gian seadanya, ia takkan lama di sini. Hanya mengambilkan sarapan untuk istrinya.


"Sakit?" selidik Raka dengan meneliti wajah Gian, ia hanya khawatir wanita mungil itu tidak baik-baik saja.


"Tidak, hanya sedikit lelah ... perjalanan kemarin membuat tenaganya terkuras, aku memintanya tak banyak bergerak," tutur Gian tampak tenang, terlepas dari benar atau tidaknya, Raka hanya mengangguk tak menuntut jawaban lain.


"Baiklah, jaga istrimu ...."


Sebelum berlalu, manik tajamnya sempat menatap wajah Haidar. Pria itu terlihat datar, namun Gian tahu ada sejuta dendam di sana. Gian tak peduli, secepat mungkin bahkan ia ingin membuat Istrinya segera mengandung.


"Zura tidak menyukai susu coklat, bukankah kau tau itu, Gian?"


Ucapan santai Haidar berhasil membuat mereka bungkam, sungguh tak pernah Randy duga. Seorang Gian dapat terdiam kala adik kecilnya mulai bicara prihal Radha, ia tahu asmara keponakannya cukup rumit, dan berada di posisi salah satu di antara mereka juga bukanlah hal yang mudah.


"Hari ini dia yang minta. Aku yang bersamanya, Haidar ... bukan kau! Apa yang kau tahu adalah fakta tentang istriku beberapa tahun lalu, selebihnya kau buta bagaimana dirinya," balas Gian begitu tenang, lembut namun penuh penekanan dan berganti kini pria itu bungkam.


"Woah, menarik," batin Randy bertepuk tangan menyaksikan fakta yang lebih berkelok dari drama yang pernah ia bintangi.


...............❣️


Netijen silahkan berkomentar 🎤

__ADS_1


__ADS_2