Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Rumit (Sangat)


__ADS_3

Sepanjang jam pelajaran Radha tak begitu fokus, bahkan gebrakan meja yang ditujukan untuk dirinya itu telah terulang untuk ketiga kalinya. Sungguh, Retno sebagai guru yang mencoba untuk sabar tak dapat menahan emosinya.


"Keluar kau sekarang," ucap Retno yang pada akhirnya tak dapat menahan sabarnya.


Gawat, baru kali ini Radha mengalami hal memalukan macam ini.


Tatapan puas dan senyum licik beberapa temannya dapat Radha tangkap sebelum akhirnya ia beranjak dengan langkah lemah dan malu luar biasa itu. Ketika perintah itu telah keluar dari bibirnya, maka tidak ada kata maaf dan pembelaan diri lagi.


"Cepat Radha!!"


Ia menunduk, berlalu dengan muka memerah lantaran malu yang tiada tara. Predikat siswi terpandai di kelas seakan tak berguna bagi Radha. Bagaimana ia akan menjalani hari-harinya esok hari jika sudah begini.


Dengan langkah gontai Radha tak tentu arah, jemarinya terasa dingin dan dada yang masih bergemuruh lantaran kejadian sial ini menimpanya.


"Astaga, Radha ... lu tu kenapa."


Ia memejamkan mata, hembusan angin menyentuh pelan pipinya. Sejenak menenangkan dan membuat Radha dapat berpikir hal baik tanpa melibatkan air mata dalam paniknya.


Taman sekolah, bahkan ia lupa kapan terakhir ia melakukan hal semacam ini. Menyendiri bagaikan kutu buku yang hanya peduli dengan goresan tinta di atas kertas putih. Radha melirik pergelangan tangan kirinya, andai Gian masih seperti beberapa hari kemarin mungkin ia takkan mengalami hal bodoh macam ini.


"Ck, kenapa gue jadi mikirin dia."


Ia menggeleng cepat, tanpa sadarnya dia telah berkata bahwa membutuhkan sosok Gian saat ini. Jam pulang masih lama, dan cuaca hari ini cukup bersahabat meski suasananya tak sama sekali.


"Ini semua gara-gara Papa," ujar Radha yang berujung menyalahkan mertuanya, sungguh ia tak sadar berucap lancang sedemikian rupa.


"Eh bentar, tapi kalau itu bukan Papa dosa banget gue," sesalnya kemudian sembari memijat pankal hidungnya.


Menggertakan kaki dan berkali-kali ia berdecak penuh kekesalan. Sadar betul akan berapa banyak mata yang melihatnya duduk di tempat ini, letak taman yang strategis untuk di lihat dari dalam kelas jika mereka niat.


"Apa mungkin memang benar kak Haidar."


Radha terdiam, nama itu keluar juga pada akhirnya. Sejak pagi sempat terbesit nama itu di benaknya. Nama yang dahulu menghiasi malam dan siangnya, bahkan terkadang kini pun sama.


Tak dapat ia pungkiri, cinta itu terlampau dalam. Mana mungkin akan lupa secepat kilat. Pertemuan di saat yang sama sekali tak Radha inginkan lagi masih membekas seluar biasa itu.


Ah, entahlah. Pikirannya terlalu rumit jika harus tentang pria itu. Mungkin takkan habis hingga matahari terbit lagi. Untuk sejenak, Radha menepis pikiran yang sebenarnya timbul dari serpihan hati kecilnya.


"Ehem."


Suara itu tampak berat, Radha menoleh begitu cepat kala menyadari suara itu dari belakangnya. Tatapan penuh damba nan lembut itu menyapanya, Abian tertawa sumbang manakala Radha berdecak seakan tak suka kehadirannya.


"Mikirin apa? Tumben di luar."

__ADS_1


Abian duduk tepat di hadapannya, aroma khas parfumnya menyeruak menusuk hidung Radha. Entah berapa kali Abian menyemprotnya hingga laki-laki ini dapat sewangi ini, pikir Radha terheran.


"Wangi banget sih," ucapnya tanpa sengaja sembari mengibas-ngibaskan tangan di dekat hidungnya.


"Apa? Gue wangi ya?"


"Eh enggak, berlebihan maksud gue."


Bukannya tersinggung, ia kini menarik sudut bibir begitu tipisnya. Cowok idaman ciwi-ciwi sekolah ini tengah berusaha mengejar pelanginya.


"Ra, pertanyaan gue belum dijawab."


"Apanya?" Radha pura-pura pikun, tapi memang sebenarnya pikun.


"Ooh iya, lupa ... anu, gue ...."


"Hm, kenapa?"


"Di usir sama bu Retno," ucapnya lagi-lagi menggertakan kaki lantaran malu mengakuinya pada Abian yang memang belum terlalu lama dekat dengannya.


"Buhahahahah!! Sumpah?! Masa iya, Ra."


Mana mungkin Abian percaya, cewek pinter dan apa adanya seperti Radha mendapat perlakuan buruk dari guru panutan itu, pikir Abian.


"Percaya, maaf ya."


Ia masih terkekeh, wajah Radha sungguh lucu kali ini. Tatapan tak suka yang Radha berikan justru menjadi candu bagi Abian, entah sampai kapan ia mampu menahan jerit hatinya pada gadis cantik yang bahkan ia kagumi sejak lama.


"Hm, lu sendiri ngapain di luar?"


"Ehm, biasalah ... gue ga suka pelajarannya, rumit persis cewek."


Radha tertawa lepas mendengar jawaban Abian, selama ini Radha mendengar seberapa dingin Abian terhadap orang lain. Nyatanya ia tak melihat Abian seperti sosok yang di gambarkan temannya beberapa waktu lalu.


"Matematika ya, Bi?"


"Hm, dan semua yang ujungnya A."


"Masih ada yang lain dong?" ia lagi-lagi tertawa, terlihat jelas tidak ada semangat hidup sedikitpun di wajah pemuda itu apabila ia membahas pelajaran.


"Masih dong, Fisika, Kimia, Seni Budaya dan juga satu lagi ...." Abian sengaja menggantung kalimatnya, ia menatap lekat Radha yang tampak menunggu kelanjutan ucapannya.


"A-apa?"

__ADS_1


"Radhania Azura," sambung Abian sembari melempar senyum yang berhasil membuat Radha terdiam.


"Maksudnya?" Setelah beberapa detik hening, kini ia kembali bersuara, Abian tak kesal, ia lagi-lagi tersenyum dan mengacak rambutnya yang mulai panjang dengan kekuatan yang cukup membuat kulit kepalanya berteriak.


"Ya elu, Radha ...."


Bagaimana Abian tak bertambah suka, ia bahkan di buat jatuh sejatuh-jatuhnya dengan wanita yang luar biasa tak peka dengan keberadaan dirinya. Benar kan, nyatanya memang Radha serumit itu untuk paham dan serumit itu untuk Abian taklukan.


"Kenapa gue, Bi?"


"Sudahlah, mungkin besok lu ngerti."


Abian hanya tertawa sumbang, hatinya menciut di balik tawa sumbang yang ia berikan. Sekeras itukah Radha yang bahkan enggan paham bahwa ia mengistimewakan Radha dalam hatinya. Atau, gadis ini hanya pura-pura tak mengerti tentang apa dan bagaimana Abian terhadapnya.


"Ih jelasin dong."


"Ogah!! Besok-besok aja sekalian jalan sama gue ya," ucapnya penuh harap akan jawaban IYA dari bibir pujaannya.


"Enggak deh, lu kecelakaan mulu tiap bonceng gue. Baru belajar motor apa gimana si lu, Bi."


"Sialan lu, kemaren bukan salah gue. Yang bawa mobil kek setan, awas aja tu Om-om. Gue seret Papa gue habis dia."


Radha terdiam, Om-Om? Ingin rasanya ia berteriak, entah mengapa ketika Abian mengeluarkan kalimat itu Radha seakan tak terima. Meski kenyataan memang Gian pantas di sebut dengan ucapan itu.


"Kenapa mukanya gitu? Kebayang muka Omnya ya?" goda Abian yang membuat Radha sesegera mungkin mengubah ekspresinya.


"Enggak kok, gue cuma khawatir kita kenapa-kenapa lagi kalau pergi berdua," dalihnya berpura-pura saling mengkhawatirkan. Sesungguhnya pesan Gian tadi pagi yang menjadi alasan Radha menolak jika harus pergi bersama Abian untuk kali ini.


............ Bersambung❣️


Yang nunggu Haidar bicara empat mata sama Radha mana? Setuju ga? Atau jan kasih izin nih muehehhe 😂


🧚‍♂ : Abian lu anak IPS btw


🧒 : Lah serah gue, karna susah makanya gue IPS thor gimana si lu.


🧚‍♂ : Kan ada ekonomi, dan kawan"nya.


🧒 : Udeh lu diem aja, buru nulis sana. Gue mau jalan ma Radha, izinin ya.


🧚‍♂ : Jangan harap


🧒 : 😑

__ADS_1


__ADS_2