Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Senam Jantung


__ADS_3

"Di sana, Papa."


Dia merengek, sementara Gian masih memeriksa perkebunan kecil yang Jelita ciptakan. Sedikit heran juga kenapa mamanya sejak dulu suka sekali akan hal ini.


"Gian, mata kamu kenapa lirik tanaman kacang Mama begitu, jangan dirusak dong ... kamu sendiri suka makannya."


Di tengah kesibukan Gian memerhatikan tempat itu, Jelita datang dan mengungkapkan betapa takutnya dia tanaman itu hilang begitu saja.


"Memangnya kenapa?"


Yang benar saja, matanya ingin Jelita colok saat ini juga. Kalila sudah sedikit tenang, namun masih tak henti menggaruk tangannya. Bahkan hendak mencoba menggigit telapak tangan gempalnya itu.


"Heeih, jangan digigit, Sayang ... tangannya pedes, nanti kamu nangis."


"Kalila nggak makan sambel, Papa."


Gian menghela napas dalam-dalam, jawaban Kalila tidak salah. Tapi tidak benar juga, manik polosnya membuat Gian tak tega, akan tetapi melihat Jelita juga dia tak tega.


"Sayang, tolong panggil pak Budi."


Tanpa banyak tanya, Radha segera melakukan apa yang Gian maksudkan. Sementara Jelita sudah was-was bahkan jantungnya tak baik-baik saja saat ini. Putranya memang kerap memutuskan apapun sendiri, berbeda dengan Raka yang masih memikirkan perasaan orang.


"Sayang, kamu mau ngapain tanaman Mama, tolonglah, Gian ... mana Mama tau Kalila bakal nangkep ulat segala."


Gian ingin tertawa, tapi dia tahan sebisanya. Jelita bahkan memanggilnya berbeda, padahal panggilan itu sudah lama tak ia dengar, kecuali pada Haidar.


"Mama buat kebun di sini juga tanpa izin Papa, maen tanem aja."


"Selagi Papa nggak larang, Gian, lagian kan begini bagus biar sayuran yang kamu makan terjaga kualitasnya."


Berdebat, Jelita merasa benar karena tujuan awalnya menanam berbagai macam sayuran itu untuk keluarganya sejak dulu. Dan kini, hanya karena seekor ulat, Gian ngamuk luar biasa.


"Tapi Mama lihat putriku begini, Mama nggak kasihan?"


Kasihan sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi, pria itu sintingnya abadi. Jelita bingung menjawab apa, karena jika dia jawab memang kasihan takutnya Gian benar-benar berpikir untuk memangkas habis semuanya.


"Jadi kamu beneran mau lenyapkan kebon Mama?" tanya Jelita sedih sekali, sungguh dia menyukai kegiatan ini, karena sejak menikah Raka memang tak mengizinkannya bekerja sama sekali.


Gian tak menjawab, tepatnya belum sempat menjawab Budi sudah datang. Semakin membuat Jelita kalut saja.


"Ada apa, Den?" tanya Budi dengan hati-hati, karena sejak kepulangan pria ini dengan teriakan mautnya tadi membuat Budi berpikir macam-macam.


"Ah ini dia, Pak Budi tolong buatkan pagar untuk tanaman Mama, pastikan Kama dan Kalila nggak bisa asal masuk ya."

__ADS_1


Budi mengangguk patuh, hanya pagar yang bisa dia usahakan terbuat dari bahan paling aman untuk Kama dan Kalila, ini cukup mudah baginya.


"Pa-pagar?"


Angin apa ini, sungguh Jelita bernapas dengan amat sangat lega. Radha yang mendengar perintah Gian pun bersyukur bukan main, karena dalam pikirannya Gian akan menghabiskan semua itu dalam satu waktu.


"Baik, Den akan saya selesaikan secepatnya."


"Nanti sore saja, atau besok pagi-pagi ... takutnya Bapak kelelahan kalau siang bolong begini."


Budi mengangguk patuh, syukurlah jika memang demikian.


Gian berlalu meninggalkan Jelita dan Radha yang masih terkejut dengan keputusan Gian. Mustahil, kemasukan apa dia bisa sebijaksana ini, pikir Radha.


"Kayaknya dia mulai bisa sabar, Ra," ungkap Jelita penuh rasa syukur. Jika benar demikian, sungguh ini adalah hal paling membahagiakan yang pernah ia dengar.


"Alhamdulillah, semoga saja ya, Ma."


Mereka tidak tahu jika Gian sudah kehabisan amarah, semua amarah telah ia limpahkan pada Reyhans yang seakan tak menganggapnya ada. Untuk saat ini, sepertinya Gian akan memilih untuk diam.


-


.


.


.


"Apa, Sayang?" sahut Gian menatap Kama sejenak.


"Kalila udah sembuh ya?"


Langkah kecilnya menghampiri adik dan papanya. Kama tak mencari perhatian dan memaksakan semua harus memeluknya setiap saat. Sejak tadi dia hanya melihat adiknya menderita, kini Kalila sudah sedikit lebih tenang.


"Belum, Kama ... ulatnya jahat."


Bibirnya mencebik, memperlihatkan telapak tangannya pada Kama. Sejak tadi yang tak begitu peduli dengannya hanyalah Kama, kesempatan batin Kalila.


"Aku obatin kayak Mama ya, Kalila," ungkapnya lembut dan justru Gian yang meleleh melihat tindakan putranya.


"Papa turun," pinta Kalila hendak melepaskan diri dan duduk di lantai agar Kama lebih mudah melakukan hal yang sudah ditirukan Mamanya beberapa saat lalu.


"Hati-hati, Sayang ... jangan gosok mata nanti ya." Gian memperingatkan Kama, dan kini ketiga orang itu sudah sama-sama duduk di lantai.

__ADS_1


Reyhans yang menatap bagaimana Gian bersikap terhadap kedua buah hatinya sungguh kagum. Memang sudah kerap ia lihat, akan tetapi kali ini Reyhans seyakin itu bahwa Gian amat penyayang terhadap orang yang dicintainya. Bagaimana tidak, amarah pria itu masih meledak-ledak sebelum bertemu dengan keluarga kecilnya, dan kini justru dia terlihat tenang.


"Kalila bandel dibilangin, Papa."


"Bandel?" tanya Gian menarik sudut bibir, kesempatan emas sekali putranya bisa begini.


"Iya Papa, bandel gamau dengel kata Mama," jawabnya lembut sekali sembari menuangkan minyak itu kembali ke tangan Kalila.


"Dengel? Dengel-dengel-dengel," ejek Gian tak tahan dengan bibir mungil putranya.


"Papa!!!" bentaknya tak terima, alasan dia males bicara pada Gian salah satunya adalah ini.


"Papa jangan ejek Kama," sergah Kalila tiba-tiba marah juga, tumben sekali dua manusia ini bersatu demi membalas dendam terhadapnya, pikir Gian.


"Gak ejek, Sayang ... Kama coba bilang Rrrrrrrrrrrrrrrrrrrr," titah Gian dan mendapat pukulan sang putra tepat di pahanya.


"Gamau!! belum bisa dibilangin!!"


"Hahahah bilang R gabisa pukul papanya udah jago gimana sih?" Masih kurang, Gian mencuri ciuman dari pipi putranya hingga anak itu hampir terhuyung.


"Sana, Papa!! Bau!!!"


Senang sekali dia mendengar Kama teriak-teriak seperti ini. Biasanya putranya diam dan menatap wajah orang lain saja malas.


"Masa iya bau? Kamu yang bau kali," jawab Gian tak mau kalah, padahal bau keringat anaknya adalah candu bagi Gian.


"Papa yang bau, Kama gak bau!"


"Tapi kata Oma Kama tadi bau," desis Kalila yang membuat Gian terbahak, putrinya memang tak punya pendirian, tadi membela Kama sekarang justru menjatuhkan.


"Kalila lebih bau, bau ulat," ejek Kama namun tak melepaskan tangan Kalila.


"Papa Kama jahat," adunya pada Gian namun kali ini Gian sama sekali takkan menerima aduan dari Kalila, kalau bisa anaknya bertengkar lebih hebat lagi, pikirnya.


Interaksi mereka sedemikian manis, meninggalkan Reyhans yang kini menatap senyum Gian dengan sejuta penyesalan. Benar, pada faktanya dia selalu bodoh jika sudah berhubungan dengan wanita.


Gian sudah memberikan kesempatan agar mereka lebih baik, akan tetapi permintaan Evany perihal pernikahan dan namun tetap mempertahankan karir membuatnya lupa jika pedulinya Gian adalah hal paling sulit untuk kembali dia dapatkan.


"Rey, kalian ada masalah?" Jelita membuyarkan lamunan Reyhans, pria itu menggeleng cepat.


"Tidak, Tante ... kami baik-baik saja," jawab Reyhans kelu, tidak mungkin dia meminta peran Jelita lagi dalam masalah ini.


😙

__ADS_1


__ADS_2