Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Anda Berurusan Padaku!!


__ADS_3

Brak


"Heh!! Siapa suruh lo masuk?!!"


Radha yang tak mengerti apa-apa terperanjat kaget kala pintu kelas itu di tutup paksa. Jelas saja ia merasa tak terima, bukannya sedikit lebih tenang lantaran gurunya belum tiba, kini Radha terpaksa berhadapan dengan para gadis centil sok berkuasa di sekolahnya.


"Mau apa kalian?" tanyanya terlihat santai, tanpa takut sedikitpun.


Bagi Radha tak ada yang perlu di takuti, dalam hidupnya ia tak tercipta untuk kalah. Wajahnya sebegitu berani menatap Resya dan kawan-kawannya.


"Ikut kita!!"


Ketiga siswi itu menarik paksa Radha dengan kekuatan tak biasa hingga membuatnya terhuyung dan hampir kehilangan keseimbangan. Betapa berkuasanya Helena sebagai ketua geng itu kala Radha terlihat kesulitan melepaskan diri.


"Cepetan, Shela!!, pakek tenaga lo lebih banyak!!"


Suara lantangnya memberi perintah kala berhasil mendorong Shela dan ia mampu menahan langkah mereka. Teriakan dan cacian yang keluar dari Radha karena tak terima dengan ulah mereka seakan semakin membuat Helena semakin tertantang.


Selama ini, tidak ada yang berani melawan terhadap tindakannya. Mengingat Radha yang juga ia curigai memiliki hubungan dengan Gian, sang guru pujaan membuat niat Helena semakin matang untuk menyiksa Radha hari ini.


"Lepasin gue, dasar gak waras lo semua!!"


"Aaaaaakkkhhh!!"


Radha meringis kala tubuhnya kini terjatuh di sudut toilet wanita. Tenaga ketiga orang itu ternyata cukup banyak dan cepat dalam melumpuhkan Radha. Ia tak tinggal diam tentu saja, meski tulangnya terasa retak Radha tetap berusaha bangkit dan tak ingin di tindas lebih sulit.


"Bisa bangun juga lo? Punya nyali lo lawan kita-kita, hah?!!"


Helena yang tak suka dengan perlawanan kini maju lebih dekat, setelah meminta Shela memastikan tidak ada orang di sekitar mereka, ia akan melakukan segala hal yang akan ia lakukan.


"Res, pegangin tangannya."


Radha mengepalkan tangannya, ia sedikit mundur beberapa langkah untuk menghindari pemilik rambut keriting itu. Ia paham mereka tengah berencana untuk membuat Radha semakin tersiksa, dan tentu saja ia tengah menyiapkan perlawanan.


"Gausah pegang-pegang gue cewek rendahan!!"


Dengan kekuatan yang tak biasa, Radha memukul kuat-kuat dada Resya hingga gadis itu terpental sembari menahan sakitnya. Bahkan dada itu terasa sesak, sempat terheran dan yakin Radha bukan anak biasa, namun untuk kagum bukan saatnya.


"Aaaaaawww, Mama ...."


"Hah?!! Resya!! Lo kenapa?!!"


Shela menghampiri sahabatanya yang kini terlihat sekarang setelah mendapat serangan dari Radha. Sungguh sangat membingungkan, mungkin baru kali ini Resya melihat kejadian ini, dan jelas ia tak terima.


"Dasar murahan, lo mau mampuss Hah?!!"

__ADS_1


Tak perlu menunggu perintah, dengan kekuatan dan dendam yang telah terkumpul nyata dalam dirinya Resya menarik rambut Radha hingga perempuan itu berteriak tak kalah menggelegar. Sudah pasti bukan hanya berontak lantaran sakit, namun juga segala caci maki ia keluarkan untuk Resya.


Tak ingin hanya merasakan sakit sendiri, Radha meraih rambut ikal Resya yang memang cukup panjang dan membuatnya dengan mudah membalas meski ia belum terlepas.


"Lo pikir gue bakal diem aja," batin Radha menarik rambut Resya tanpa ampun, bahkan mungkin kini di tangannya telah cukup banyak rambut Resya yang tercabut karena ia benar-benar tak tanggung membalasnya.


Merasa kalah telak, Resya tak mampu menahan sakitnya lebih lama hingga tangannya terlepas dari rambut indah Radha.


"Aaaaakkkhh!! Lepas!! Lepasin gue wanita bayaran!!"


Hancur, Radha memanas lebih dan lebih kala panggilan itu ia dengar. Tak peduli bagaimana kedepannya, Radha menghempas kepala Resya hingga terbentuk cukup kuat di dinding kamar mandi.


"Aaaarrrggghhh, Resya!!"


Helena yang nyatanya seberani itu kini gemetar, ia menciut kala Radha melihat ke arahnya. Keberaniannya lenyap seketika, dan Radha tanpa merasa takut dan bersalah hanya merapikan rambutnya sejenak.


"Urus temen lo, ulangi lain kali kalau kalian merasa tak puas dengan apa yang kalian lakukan kali ini."


Mencoba terlihat tak takut, namun jemari Helena yang gemetar tak dapat disembunyikan. Hingga salah satu siswi menerobos masuk karena Shela tak lagi menjaga pintu toilet.


Dan inilah kesempatan Helena untuk menjebak Radha dalam masalah, sebisa mungkin ia berteriak histeris seakan kacau lantaran Radha melakukan suatu kejahatan pada temannya.


"Aaah, Resya!!"


"Eh kalian, buruan laporin ke siapapun ni cewek psikopat!! Dasar gila, temen gue bisa mati gara-gara dia!!"


Dengan wajah pucat, salah satu di antara mereka menatap lekat-lekat Radha yang hanya diam tanpa berucap apapun. Meski secara langsung dapat disimpulkan bahwa Radha juga terluka.


*******


Cukup dalam waktu lima menit, kegaduhan dan kekacauan yang di akibatkan fitnah untuk Radha itu berhasil sampai ke telinga Gian. Ia tak ada jadwal mengajar hari ini, namun ia hanya ingin menanti hingga Radha pulang.


"Ck, dasar anak-anak labil."


Gian memilih tak peduli, kini ketiga siswa yang menimbulkan kekacauan itu di paksa menghadap guru BK, sedangkan Resya tentu saja terbaring lemah di UKS. Pria itu memilih mendengarkan musik dan menikmatinya sembari memejamkan mata, tak ada yang ia pedulikan selebihnya.


Tapi entah kenapa, semakin ia mencoba untuk acuh, maka semakin berkecamuk rasa ingin tahunya. Ini bukanlah dirinya, Gian tak pernah tertarik dengan masalah orang lain sama sekali.


Ia melepas earphone yang baru beberapa menit ia gunakan, matanya masih terpejam dan bentakkan Lilis, guru BK yang kejamnya melebihi ibu tiri itu membuat Gian mengeraskan rahang. Hampir saja jantungnya copot, dasar sialan, pikirnya.


"Kau berani menatapku, Radha!!"


Nama itu, Gian tersentak kala Lilis membentak nama yang kerap ia manjakan. Gian menatap ke arah mereka, tak terlalu jauh sehingga Gian dapat menatap dengan teliti siapa yang terlbat di sana.


"****!! Kenapa bisa sepagi ini kau berulah, Radha ...."

__ADS_1


Pria itu bertanya-tanya dalam benaknya, ia melangkah dan mendekati ketiga orang itu. Seorang Lilis yang mengerti posisi Gian siapa memilih untuk sejenak mundur dan terdiam.


"Kenapa kau berani membentaknya?"


Lilis hanya mampu bungkam, tatapan Gian bak hunusan busur panah yang siap menghabisi hidupnya. Pria itu menatap kedua siswi yang berada di samping Radha begitu sengitnya.


"Ada apa dengan kalian? Kemana otak kalian sepagi ini telah mengundang keributan?!!"


Helena dan Shela terkesiap kala menyadari bahwa Gian lebih mengerikan dari sosok guru BK. Perbedaan perlakuan Gian pada Radha semakin menimbulkan tanya di benak mereka tentang siapa sebenarnya Radha bagi Gian.


"Maaf, Pak Gian ... tapi sepertinya di sini Radha lah yang menjadi pelaku utama, bahkan salah satu teman mereka pingsan di tangannya,"


"Lalu?" Gian memberikan kesempatan untuk Lilis menjelaskan kembali dengan sejelas-jelasnya.


"Dan menurut pengakuan siswi yang melihat kejadian itu pertama kali, wajahnya terlihat santai seakan tak berperasaan usai membuat lawannya tak sadarkan diri, Pak."


Jujur, Gian luar biasa terkejutnya. Namun hal itu ia tutupi dan berusaha sebaik mungkin membuat Radha berada di posisi tak salah dan tak ingin memperpanjang masalah ini.


"Lalu menurutmu ada apa dengan itu? Apa Anda tidak memandang dari sudut lain? Kenapa dia hanya sendirian sedangkan mereka bertiga? Bukankah kalian berbeda kelas?"


Gian bukan bodoh, meski ia hanya mengajar di sekolah untuk lebih dekat dengan Radha. Namun, ia mengajar beberapa kelas selain kelas istrinya.


Keduanya mengangguk, sedangkan Radha hanya diam tak berniat menjawab sama sekali. Ucapan Resya yang memandang rendah dirinya masih melukiskan luka di benaknya.


"Dari fakta ini, bisa dipastikan bahwa kalian yang mulai duluan mencari masalah."


"Kalian berdua bisa saja berakhir di jalur hukum jika dia menginginkannya, sudah pasti kalian melakukan hal yang tak dibenarkan padanya bukan?" lanjut Gian untuk menarik kebenaran dari kedua siswa di depannya.


Helena terdiam, tatapan tajam Gian membuatnya tak dapat mengarang cerita lebih baik seperti yang ia lakukan pada Lilis. Sebuah rencana yang harusnya menjadi cara untuk menyingkirkan Radha, nyatanya menjadi masalah untuk dirinya sendiri.


"Pak Gian, tunggu ... Anda membela salah satu siswa kita yang bahkan telah membahayakan nyawa siswa lainnya?"


Ia mulai tak suka dengan pernyataan Lilis yang menganggap Radha sebagai penjahat di sekolah. Dari ekor matanya, ia tak melepaskan apa yang Radha lakukan kini, menautkan jemari adalah cara Radha bersembunyi di balik rasa takut.


"Iya, aku membelanya lalu Anda mau apa?"


"Hm, mohon maaf, saya tahu Anda berada di pihaknya, namun tetap saja orangtua atau walinya harus berhadapan dengan saya. Mereka harus tahu kelakukan anaknya di sekolah."


Tidak, Radha tak mau jika sampai Ardi mengetahui apa yang terjadi dengannya, sudah pasti Celine dan Dewi merdeka jika citra buruk ini sampai ke telinga orangtua nya.


"Aku akan segera menghubungi Papamu, Radha!! Beliau begitu bangga lantaran prestasimu. Tapi, ibu tak bisa mengabaikan keburukanmu kali ini."


"Bu .... jangan Papa."


"Tidak perlu!! Akulah walinya, Anda berurusan padaku tanpa harus menghubungi orangtuanya."

__ADS_1


"Hah??"


............ Bersambung❣️


__ADS_2