Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Bertemu Kekasihku (Haidar)


__ADS_3

"Papa?"


Gian tercengang menatap Raka yang kini seakan hendak menerkamnya. Jarang sekali pria itu mengunjungi Apartemen putranya, karena ini adalah salah satu pilihan Gian yang tak ia restui sejak dulu.


"Boleh Papa masuk?" tanya Raka kemudian, merasa aneh kala Gian tak jua mempersilahkah dirinya seperti sebelumnya.


"Ehm, tentu saja, Pa."


Dengan berat hati Gian terpaksa mempersilahkan Raka masuk, ia takut Raka akan membabi buta kala menangkap kehadiran Haidar di dalam Apartemennya.


Berjalan beringingan, Raka bak detektif yang mencari sebuah kebenaran di Apartemen putranya. Mata tajamnya menatap sekeliling ruangan, tampaklah sepatu yang terlihat asal lepas tergeletak di lantai.


"Kau memasukkan orang lain kemari, Gian?"


Cukup paham dengan watak putranya, Gian begitu rapih seperti dirinya sewaktu muda. Gian menggeleng singkat, segera meraih sepatu itu dan menaruh di tempat seharusnya.


Terlalu khawatir dengan keadaan Haidar, membuatnya lupa berbenah semalam. Gian sejenak menatap arah meja makan yang tersekat dinding kaca, tidak ada lagi Haidar di sana. Entah karena takut dengan kehadiran Raka, atau memang dia kembali tidur lagi.


"Jawab Papa, Gian."


"Ah, tidak, Pa. Aku hanya terlalu lelah semalam," ujar Gian membela diri, ia hanya berusaha melindungi Haidar.


Jika Raka tahu apa yang terjadi pada Haidar, tentu ia akan murka. Bahkan dahulu Gian memutuskan untuk tinggal di Apartemen karena amukan Raka yang tak terima hancurnya Gian.


Raka melangkah, duduk di sofa dan meminta sang Putra untuk mendekat. Ia tahu malam ini Gian tak juga pulang ke rumah, meninggalkan Radha sendirian, sang Istri yang seharusnya ia temani.


"Duduk,"


Pria tampan itu memerintah putranya, menatap tajam sembari melipat kedua tangannya.


"Kau, lupa statusmu kini, Gian?"


Gian terdiam, paham betul apa yang di maksud Raka. Pasti masalah rumah tangganya. Benar-benar menyebalkan, pikir Gian. Mengapa harus ia rasakan, situasi yang ia rasakan saat ini sungguh sulit.


"Tidak, Pa, sama sekali Gian tidak lupa. Hanya saja, seharusnya Papa tau, tidak semudah itu aku menerima Zura sebagai istriku."


Jawaban padat namun jelas itu sejenak membuat Raka terdiam. Benar adanya, memang Gian takkan semudah itu menerima Radha sebagai istrinya.

__ADS_1


"Papa tahu, tapi kau juga harus tau sulitnya di posisi istrimu. Dan kemarin, bagaimana bisa kau menelantarkan istrimu dalam keadaan terluka separah itu?"


Benar-benar keterlaluan, kenapa papanya sampai ikut campur dan tau masalah kemarin, pikir Gian mengeraskan rahangnya. Jika bukan ulah sang Mama, tentu ini adalah ulah anak kecil pengadu itu. Begitulah yang terpikirkan saat ini di benak Gian.


"A-aku tidak melakukannya, Pa. Aku pergi karena ada beberapa urusan, dan itu tak bisa aku tinggalkan," jawab Gian mantap, alasan lumrah yang sering kali Raka dengar.


"Alasan apa? Wanitamu itu? Dunia malammu itu?"


Pertanyaan menohok yang membuat Gian tertusuk, sakit dan lemah kala Raka menyerangnya demikian.


"Benar kan? Kau dengar Gian, Papa dan Mama berawal dari sebuah keterpaksaan, lebih kurang sama sepertimu. Dan semua akan berubah kala kau menyadari betapa berartinya dia di sisimu suatu saat nanti."


Dengan penuh wibawa Raka bertutur begitu lembutnya, ia hanya ingin Gian mengerti. Bahkan umur mereka tak jauh berbeda kala menikah, dan Raka cukup mengingat sulitnya ia menerima Jelita kala itu.


"Tidak semua hal bisa Papa paksakan, aku dan dia terlampau berbeda. Bahkan dokter menganggap dia sebagai putriku karena masih terlalu kecil, bagaimana bisa aku menerimanya sebagai istri."


Mengingat kejadian itu, Gian kembali kesal. Setua apa dirinya hingga dokter itu berani berucap demikian. Dadanya terasa panas, sungguh amat sangat menyebalkan dunia untuknya.


"Kau bisa bicara seperti itu, tapi kau lihat beberapa bulan kedepan. Kau akan jatuh cinta layaknya Papa pada Mama mu dahulu."


Raka hendak beranjak, di tatapnya jam dinding yang senantiasa berdetak. Hari ini ia berencana mengajak Radha mengunjungi Maya, sang Bunda dari menantunya. Jelas saja kedatangannya kemari untuk memaksa Gian lagi dan lagi.


"Papa ... ck, benar-benar menyebalkan!!"


Gian mengepalkan tangannya, menatap punggung sang Papa yang kini mulai menjauh. Ingin rasanya ia berontak, namun semua akan hancur jika itu terjadi.


******


Ceklek


Gian membuka pintu kamar cukup kasar, langkahnya terhenti, menautkan alis kala menangkap kehadiran Haidar di dekat pintu kamarnya.


Tatapan penuh selidik itu sejenak membuat Haidar takut, Gian menangkap perubahan wajah Haidar. Terlihat muram dan lebih menyedihkan dari pada semalam.


"Apa yang kau lakukan, Haidar?" tanya Gian memasukkan telapak tangan di saku celananya, pria itu berjalan ke arah lemari untuk mengganti pakaiannya saat ini.


"Kau mau kemana?"

__ADS_1


Pertanyaan itu lolos dengan bibir bergetarnya, Haidar seolah tercekik kala berusaha berucap.


"Ck, entahlah, seperti yang kau tau. Papa itu pemaksa dan selalu punya kejutan."


Gian mengedipkan mata, tersenyum licik yang membuat Haidar semakin bertanya-tanya. Memang benar, sang Papa terlalu banyak hal yang tak mungkin ia pahami.


"Hm, kau mau ikut?" tawar Gian menarik sudut bibir, ia tahu Haidar akan menolaknya.


Pun jika Haidar ingin, takkan mungkin ia izinkan. Tak dapat ia bayangkan jika Radha dan Haidar bertemu dalam waktu dekat ini, jelas keduanya akan hancur di waktu bersamaan.


"Hm, tidak, Papa bisa saja membunuhku," jawab Haidar dengan senyum kelunya. Sesungguhnya ia masih amat sangat merindukan Jelita, namun adanya Raka membuat Haidar mengurungkan niatnya kemarin.


"Baiklah, kau tetap di sini, Haidar, mengerti?"


"Ehm, iyaa."


"Kak," panggilnya lagi kala Gian hendak keluar kamar, pria itu menolah dan menatap Haidar penuh tanya.


"Apa?"


"Boleh aku pinjam mobil dan minta uangmu?"


"Ck, mau kemana kau, wajahmu benar-benar jelek, Haidar."


Pria itu berucap seenaknya, namun ia segera mengeluarkan dompet dan memberikan beberapa lembar uang dari dompetnya.


"Kau pilih saja sendiri. Kuncinya di tempat biasa," jawab Gian, ia paham Haidar tahu tanpa perlu di jelaskan.


"Sebentar, memangnya kau mau kemana? tanya Gian kemudian, cukup penasaran dengan tujuan perginya Haidar.


"Menemui kekasihku, kebetulan ini hari minggu. Dia tidak akan sekolah, kan."


Wajah antusias Haidar sesaat membuat Gian terdiam, bagaimana nantinya. Ia hanya mampu menjawab dengan senyuman kelu sembari menepuk pelan bahu dan mengacak rambut adiknya.


"Jangan lupa mandi," ujar Gian sesaat sebelum melangkah keluar, tak ingin berlama di depan Haidar.


"Ada apa dengannya," tanya Haidar dalam diamnya, cukup heran dengan sikap Gian yang begitu berbeda pagi ini.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2