Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 244. Pikiran Gian.


__ADS_3

"Ma, apa tidak sebaiknya bawa dia ke rumah sakit sekarang?" tanya Gian dengan wajah paniknya, dia setengah berbisik takut jika istrinya mendengar.


Gian sekhawatir itu, padahal Jelita sudah mengatakan bahwa tidak ada yang mengkhawatirkan dari Radha. Lelah ataupun semacamnya itu wajar saja dialami ibu hamil.


"Gian, istrimu baik-baik saja, lelah itu wajar saja ... itu bukan kontraksi, kamu jangan berlebihan begini dong, lihat dia saja masih santai nonton TV." Jelita tak melihat ada kejanggalan, karena setau dia, menantunya memang belum memperlihatkan tanda-tanda akan segera melahirkan.


Entah kenapa sejak kemarin Gian selalu menanyakan hal yang sama. Hanya karena istrinya pernah mengatakan sakit perut yang Jelita sendiri yakin hanya sakit perut biasa dan Gian tetap membantahnya.


"Mama, aku tidak berlebihan ... aku hanya ingin yang terbaik, lihat kalau dia tiba-tiba melahirkan di sana bagaimana? Kan kasihan anak aku."


Jelita menyerah, dia menghela napas pelan menatap kesal wajah Gian. Mana mungkin seseorang yang bahkan masih menikmati kue bawang tiba-tiba melahirkan, jika saja melahirkan semudah itu, rumah sakit tentu akan sepi, pikir Jelita.


"Nggak semudah itu sayangnya, Mama ... kandungan istrimu baru memasuki 8 bulan, yang artinya butuh beberapa minggu lagi jika dia normal, selama ini juga Radha sangat sehat," jelas Jelita begitu lembut meski hasrat ingin memukul Gian sudah sebesar itu.


"Masa iya begitu?" tanya Gian ragu dan masih saja membuntuti sang mama yang kini tengah repot-repotnya menyiapkan makan siang bersama Asih.


"Iya begitu, percaya sama Mama ya." Jelita menepuk pelan bahunya, mencoba meyakinkan jika dirinya memang dapat dipercaya.


"Tapi kemarin dia sakit perut, Ma," tutur Gian lagi, keningnya sudah mengkerut karena mulai kesal dengan apa yang Jelita ucapkan.


"Itu kekenyangan, dia juga kebanyakan minum cendol."


Jelita mengingat kemarin memang Radha sempat mengeluhkan hal itu, setelah beberapa kali bersenyawa dan merasakan sesak akibat terlalu banyak minum cendol yang Asih sengaja buat untuknya.


"Apa iya? Mama yang bener dong."


"Astafirullahaladzim, Gian, Ardi saja bilang memang belum waktunya, dan dia cuma kekenyangan ... kalau tidak percaya tanya dokter saja sana, periksa kandungan istrimu pasti hasilnya juga sama," titah Jelita mulai risih Gian ikuti langkah kakinya, kesal tentu saja.


"Aduh, aku tidak tega dia begitu, Ma ... percepat aja bisa nggak? Dia juga keliatan sesak begitu," ungkap Gian yang benar-benar halal untuk dipukul.


"Kamu mau anak dan istri kamu kenapa-kenapa? Udah bener istrinya baik-baik saja malah diminta gak normal, dasar aneh."


"Semoga, firasatku tidak benar ya, Ma." Gian menggigit bibir bawahnya, sudah dua hari dia memilih tetap di rumah.

__ADS_1


"Usahakan selalu berpikir positif, Gian, jangan macam-macam ya, yang penting jaga istrimu sebaik mungkin, itu saja."


Jelita paham kekhawatiran Gian, apalagi memang Gian tak biasa melihat Radha yang seperti kemarin. Jelas saja hal semacam itu ia pikir akan benar-benar fatal.


Sedikit lebih tenang ketika melihat putranya kini memilih pergi dan menghampiri Radha, dengan segelas air mineral karena yakin istrinya akan haus.


-


.


.


"Sayang, nggak capek mulutnya ngunyah mulu?"


Gian tersenyum, meletakkan gelas itu dan benar saja Radha meminumnya tak lama kemudian. Belum sempat menjawab pertanyaan Gian, akan tetapi ia mengingat dengan jelas pertanyaan suaminya.


"Nggak, Kakak mau? Mama yang buat," ujar Radha menawarkan makanan dengan kenikmatan diatas rata-rata itu.


"Kamu saja, Kakak kenyang."


"Ini gak buat kenyang," ucapnya santai, memang jelas tak buat kenyang, pasalnya sudah sebanyak itu berkurang dan dia tak juga berhenti.


"Ra, kamu capek banget ya?"


"Enggak, kan aku nggak ngapa-ngapain," jawab Radha seadanya, karena pada faktanya memang dia tak terlalu banyak melakukan segala aktivitas, Jelita tak mengizinkan menantunya terlalu lelah.


"Bukan karena ngapa-ngapain, tapi karena dia," ujar Gian sembari mengusap lembut perut istrinya, memberikan sentuhan selembut itu, tak dapat dipungkiri sentuhan ini benar-benar memberikan kenyamanan luar biasa bagi Radha.


"Enggak, masa capek," ucapnya sangat nyata berbohong, mana mungkin tidak berbohong, Gian mampu menangkap hal itu.


"Bener nggak?" tanya Gian lagi, sedikit ragu dengan jawaban pertama, tapi kalaupun Radha menjawab dia memang lelah, tentu Gian akan panik luar biasa.


"He'em, kata Mama dia anak yang baik dan gamau sakitin mamanya."

__ADS_1


Gian hanya tersenyum, jawaban istrinya terdengar seperti seorang ibu tengah menjelaskan bagaimana keadaan anaknya.


Merebahkan tubuhnya, Gian menjadikan paha Rada sebagai bantalnya. Posisi ini sangat ia sukai walau kadang Radha mengeluh karena kepala manusia itu cukup berat.


Namun mencium perut Radha sembari memeluk pinggang istrinya adalah hal yang paling kerap Gian lakukan, ritual ini kerap ia lakukan demi mencari kenyamanan untuk istrinya.


"Kamu lagi ngapain, Sayang, cewek kok main bola."


Kebiasaan Gian kala perut istrinya bergerak-gerak ia akan mengatakan bahwa bayinya tengah main bola. Sebuah kalimat yang terkadang membuat Radha terbatuk karena tak kuasa menahan tawanya.


Beruntung sekarang hanya dia laki-laki di rumah ini. Raka dan Haidar tengah sibuk menghabiskan waktu berdua entah kemana. Karena jika tidak, apa yang Gian lakukan terkadang membuat Radha memerah jika sampai diketahui yang lainnya.


"Kenapa harus dibuka?" Radha bertanya kala perutnya kini sudah terlihat sempurna, tak paham kenapa Gian kerap membuka kemeja Radha agar perutnya dapat terlihat dengan jelas.


"Dia lagi main, Ra, nanti gerah kalau gak begini."


"Gitu?"


Radha menaikkan alis, teori Gian entah dapat dari mana, yang jelas Radha belum pernah mendengar ini sebelumnya.


Tak lama lagi, waktu yang ia tunggu bisa saja lebih cepat dari perkiraan. Gian kerap melamun, dan memikirkan alur kehidupan yang tak pernah ia inginkan namun ternyata sebahagia ini.


Sebentar lagi dirinya akan benar-benar terasa Sempurna, dengan segala persiapan yang telah pikirkan dengan matang untuk hidup bersama keluarga kecilnya.


Sempat meminta untuk hidup secara mandiri sejak beberapa waktu di awal pernikahan, akan tetapi ia tak mendapat izin dari Jelita karena takut jika Gian akan berbuat macam-macam kala itu.


"Kak," panggilnya kala menyadari kini suaminya sudah tak berceloteh lagi, mungkin hilang kesadaran, pikir Radha.


"Hm, tidur ternyata." Radha menghela napas panjang, ingin membangunkan ia tak tega.


Secepat itu, dia bahkan melupakan bahwa kaki Radha bisa saja akan keram luar biasa. Gian mungkin lelah, karena tadi malam pria itu tak bisa tidur dengan nyenyak karena Radha kesulitan mencari posisi tidurnya.


Bersambung🌻

__ADS_1


Sabar yaw, tetap ikutin Giannya


__ADS_2