
"Kenapa gitu mukanya?"
Menyadari istrinya yang kini cemberut, Gian hanya menatapnya heran. Apa yang salah, pikirnya. Bukankah seseorang jika dibelikan sesuatu dalam jumlah banyak akan senang.
"Kurang banyak, Ra?" tanya Gian dengan santainya mencubit dagu Radha.
"Kurang banyak apanya? Itu aja udah kebanyakan, Kakak pakai sendiri sisanya."
Radha masih tak habis pikir, kenapa Gian rela mengeluarkan uang sebanyak itu hanya demi pakaian kurang bahan yang dia sendiri tidak memiliki ketertarikan sama sekali.
"Cuma 7, Sayang ... pas dong buat satu minggu biar ganti setiap harinya," tutur Gian mencari pembenaran, memang tidak ada yang salah dalam hidupnya, semuanya benar dan Radha tak memiliki kesempatan untuk membuatnya di posisi salah.
"Ih emangnya aku mau pakai itu tiap hari?"
"Harus mau, kalau nggak kamu nggak usah pakai baju."
Berkuasa atas segalanya, Radha yang punya raga dan Gian yang berhak sepenuhnya. Ingin ia hajar suaminya, akan tetapi Radha belum siap jika predikat durhaka melekat padanya.
Di dalam mobil Radha hanya diam menatap nanar keluar jendela, sedangkan Gian merasa merdeka dan senyum tiada henti karena mendapatkan apa yang ia mau.
"Hm, kita makan dulu ya."
Sebuah kalimat yang Gian ucapkan ketika sudah memasuki tempatnya, dasar labil, kenapa tidak daritadi, pikir Radha.
"Tadi katanya kenyang," ucap Radha mencebikkan bibirnya, pasalnya Radha sudah bertanya sejak tadi, tapi dengan alasan kenyang Gian masih enggan.
"Beda dong, kan Kakak nyetir, Ra."
"Hem, terserah Kakak."
Radha sebenarnya tak terlalu lapar, tepatnya perutnya mungkin terlalu penuh dengan es krim dan cemilan lainnya.
"Bentar, biar Kakak bukain, kamu jangan turun dulu."
Sebenarnya ia belum terlalu biasa mendapat perlakuan semacam ini, Gian terlalu membuatnya berada di tahta teratas sebagai wanita.
Membukakan pintu untuk istrinya, pria tampan dengan sejuta pesona itu kini menjadi pusat perhatian. Jelas ada perasaan iri di antara seseorang yang telah berharap namun harus patah kala menyaksikan ada wanita yang bersamanya.
Gian tak melepaskan genggaman tangannya walau sedetik saja. Suasana tempat ini tak terlalu sepi, namun bukan juga seramai pasar pagi, pikir Radha merasa tetap nyaman-nyaman saja.
"Mba aku mau ...."
"Stop makan yang pedas, Zura, kamu mau Kakak cekik?"
Tatapan membunuh itu Gian berikan kala manik Radha sudah berkeliaran menatap menu makanan yang menurutnya adalah salah satu cara mempermudah kematian.
"Masa dicekik?"
"Kakak yang nentuin, kamu makan suka semaunya."
Waiters yang kini berada di sisi mereka hanya menunggu keputusan sembari sedikit menarik sudut bibirnya. Baru ia temukan pasangan yang seperti ini, entah itu pasangan atau bukan, akan tetapi cincin di jemari mereka cukup sebagai penjelasan.
Mereka menunggu hidangan cukup lama, berbagai hal Radha bahas dan menampilkan senyum hangat di wajah Gian. Sedangkan berbeda dengan Radha, hanya hal kecil yang Gian lakukan bahkan dengan gerakan tangannya, Radha terbahak tanpa sedikitpun bisa mengontrol tertawanya.
__ADS_1
"Ssssttt, jangan kenceng-kenceng, nanti kita digrebek." Bukannya berhenti, Radha bahkan kesulitan bernapas mendengar ucapan Gian.
"Memangnya kenapa?"
"Kamu nggak liat mata mereka ke kamu semua? Rasanya ingin colok satu-satu biji mata mereka."
Mereka baru berhenti kala makanan tiba di meja, makanan untuk berdua tapi Gian memesan bahkan cukup untuk satu keluarga.
"Waw makan besar!!" seru Radha kagum melihat surga di depannya. "Mari makan ...." Radha tak sabar dan kini pandangannya hanya fokus pada makanan itu.
"Tadi yang lapar siapa ya?" Gian menggantung ucapannya, dan melirik istrinya yang seakan mengingkari perkataan bahwa tak lapar sebelumnya.
-
.
.
.
Brugh
"Aaakkh," keluh Radha merasakan benturan luar biasa di dadanya.
Gian mengeraskan rahangnya, menatap tajam perempuan yang berada di depannya dan amarahnya tengah berada di atas awan. Kemana matanya hingga tak melihat Radha sama sekali.
"Maaf, aku tidak sengaja."
"Kau buta?!! Jalan di sana masih luas dan kau menabrak istriku?!"
Memastikan istrinya baik-baik saja, Gian hanya khawatir dengan keadaan janin dalam kandungan Radha. Pasalnya benturan itu cukup keras, jika Radha tak berada dalam genggaman Gian, bisa jadi ia terpental.
"Kenapa harus lari?! Kau bisa membahayakan banyak orang, harusnya kau paham itu! Dasar BODOHH!!"
"Kak, jangan dibentak," pinta Radha berusaha agar suaminya tak bertindak berlebihan, karena bagaimanapun yang menabraknya hanya seorang anak SMA, dan yang membuatnya diam sejenak seragam ini ialah seragam sekolah lamanya dulu.
"Maaf, aku benar-benar tidak sengaja."
Berada diposisi ini membuat gadis berambut ikal ini tak berani menatap kedepannya, bahkan sedikitpun ia tak berniat untuk melihat langsung wajah pria yang kini marah padanya.
"Kak udah, ayo pergi ... jangan gila deh."
"Dia yang gila!! Lagian masih sekolah sudah bertingkah, pulang sana."
Gian menghela napas kasar, sebenarnya ia masih ingin marah, tapi Radha melarangnya dan mengatakan jika ia sedikit gila.
"Untuk hari ini aku lepaskan, besok-besok awas kau ya!"
Tak ada jawaban, dia hanya tertunduk sembari memejamkan mata. Baru kali ini ia berhadapan dengan seseorang yang membuatnya benar-benar takut.
"Siapa dia? Ketus banget bibirnya, padahal cowok."
Ketika mereka berlalu pergi, barulah ia berani menatapnya. Hanya punggung mereka saja ia lihat, dan menyisakan ketakukan jika sewaktu-waktu pria itu menoleh padanya.
__ADS_1
"Nisya!!" Lamunanya bubar kala suara itu terdengar lantang.
"I-iya, bentar."
"Lu kenapa lama?"
"Sorry, Bian ... tadi gue ketemu Bapak Lampir, ya Allah mulutnya jahat banget, heran gue." Nisya menjelaskan dengan matanya yang luar biasa penuh kekesalan.
"Hah? Siapa memangnya?" Abian tentu saja heran, pasalnya Nisya terlihat gemetaran namun ia juga tampak tak terima mendapat perlakuan itu.
"Nggak tau, gue nggak sengaja nabrak bininya ... eh lakinya nyerang gue."
"Tapi lu nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Abian sedikit khawatir, pasalnya teman dekatnya ini masih pucat, tak seperti biasanya.
"Nggak, cuma hatiku terluka hemm," rengeknya yang membuat jidat mulus Nisya mendapat jitakan Abian.
"Rese lu ya, sakit ege."
"Eh berani lu ngatain gue gitu?"
"Berani dong, sama calon ayang juga ... ya ga?" Nisya mengedipkan matanya berkali-kali sembari membenarkan helmnya.
"Ayang? Emang siapa mau jadi ayang lu, Nisya!"
"Ya lu lah, tinggal nunggu ditembak doang gue mah, buru, Bian, ntar lu nyesel sama kayak ke Radha."
Sebegitu percaya dirinya Nisya karena cowok yang dulu naksir berat sahabatnya justru patah dan memilih untuk dekat padanya.
"Radha ya Radha, lu ya lu ... gausah disamain lah."
"Ih sama aja gila, sama-sama cewek juga, barangnya juga sama," tutur Nisya tak mau kalah.
"Dasar gila, otak lu gada tobat-tobatnya."
"Ish, salah gue apa coba," keluh Nisya merasa dirinya masih belum memiliki kata spesial di mata Abian.
"Udah buruan, yang lain udah nungguin," titah Abian kesal lantaran Nisya masih saja sibuk dengan hal-hal konyol yang tak seharusnya dibahas.
"Okay!! Udah, yuk jalan," ujar Nisya dengan semangat 45 tentu saja, malam ini mereka akan bersenang-senang usai melaksanakan ujian yang sebenarnya sudah selesai sejak hampir dua minggu lalu.
"Nggak usah peluk, Nisya, gue geli."
"Ya gue jatoh kalau ga pegangan." Bisa saja mencari alasan, sangat fantastis pikiran Nisya.
"Nggak usah begitu juga cara pengangannya, gue gabisa napas beggo!"
"Iyayaya pinter."
Pemanasan, belum menjadi pasangan saja Nisya sudah seagresif ini, pikir Abian geli bukan main mengingat ucapan temannya ini.
TBC
Btw follow ig Author yak, mau juga kek yang lain awowkwk.
__ADS_1
Desh_puspita, ditunggu yak!!