Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 258. Trauma


__ADS_3

BRUGH


"Aaaarrrrrrrggghhhh!!!"


Siang hari di kantor, suara itu mengejutkan beberapa karyawan lantaran Gian yang tak fokus dengan jalannya. Padahal sudah ada Reyhans di sampingnya, akan tetapi video yang Radha kirimkan membuat Gian menabrak satpam ketika hendak keluar dari kantor.


"Matamu itu kemana?" sentak Gian sembari menggosok kepalanya karena memang tinggi mereka setara, pria itu sudah mengelak namun Karena Gian terlalu senang tetap saja tragedi itu tak bisa terhindarkan.


"Maaf, Pak," pinta pria itu sembari menunduk lantaran perasaan takut yang tiba-tiba menyerangnya.


"Aduh, kepalaku baik-baik saja kan? Tidak berdarah kan?"


Dia memastikan jika Gian tak terluka, Reyhans menggeleng dan meyakinkan Gian bahwa kepalanya masih baik-baik saja. Padahal Reyhans justru berharap otaknya sedikit bergeser siapa tahu akan kembali normal walau sesaat.


"Bekerja dengan baik, dan juga pentunganmu itu keras sekali, sialan."


Pria itu hanya mampu menyampaikan maaf berkali-kali, nasibnya hanya ada di ujung lidah Gian. Jika pria itu mengatakan bahwa hari ini adalah kali terakhir dia menjadi bagian dari perusahaan itu maka matilah dia.


Mereka berlalu dengan Reyhans yang berada di sisi kiri Gian, takut jika pria ini justru terjatuh dari tangga beberapa saat lagi.


"Berhenti dulu, sudah berapa kali video itu kau tonton, Gian."


Tak belajar dari pengalaman, padahal baru saja kepalanya hampir cidera, dan kini dia kembali lagi seperti biasa.


"Kau belum merasakannya, Reyhans."


Wajah bulat kedua buah hatinya seakan menarik diri Gian untuk pulang lebih cepat. Pria itu tak sabar menanti sore hari. Siang ini mereka berdua harus memenuhi undangan pernikahan sahabatnya.


"Di antara kita hanya kau yang belum menikah, kapan, Rey?"


Entah sejak kapan Gian menjelma menjadi ibu-ibu yang kerap mempertanyakan hal semacam itu. Reyhans sudah sangat muak dengan pertanyaan yang tak lari dari hal itu.


"Aku belum punya pikiran untuk menikah, Gi, kenapa semua orang menanyakan hal yang sama padaku?"


Walau pria itu terlihat sangat tenang, percayalah saat ini hatinya sangat kacau. Ia bingung hendak menjawab apa, walau Evany tak pernah mendesaknya, akan tetapi tetap saja wanita itu juga sering kali bertanya perihal bukti cinta padanya.

__ADS_1


"Karena sudah waktunya, kau butuh pendamping, Reyhans ... dan juga Evany butuh kepastian, wanita itu lumayanlah walau tidak seimut dan selucu Zuraku."


Dia menepuk pelan bahu Reyhans, walau memuji wanita lain tetap saja wanitanya harus berada di atas segalanya.


"Nanti aku pertimbangkan," jawab Reyhans sedikit ragu, karena bagaimana pun memang dia belum seyakin itu untuk melakukan hubungan yang lebih serius ke jenjang pernikahan.


"Pertimbangkan apalagi? Kau mau dia menikah dengan pria lain yang ternyata lebih segalanya dari kau? Haaa aku tidak mau menemanimu menangis, Reyhans."


Jahat sekali memang ucapannya, Reyhans yang sebelumnya sudah ketar ketir hanya karena beberapa pria memperlihatkan betapa mereka tertarik pada Evany, kini Gian justru memperkeruh suasana hatinya.


"Kau bisa diam tidak? Duduk yang benar, Gian."


Reyhans sudah berani membentak Gian, sedangkan Gian hanya tertawa sumbang mendengar perkataan Reyhans yang memperlihatkan dengan jelas seberapa kesalnya dia.


"Santai, kenapa kau jadi emosian?"


Gian mencebikkan bibirnya, wajah tanpa bersalahnya sangat halal untuk dipukul. Perjalanan yang mereka tempuh akan cukup menyita waktu, dan kini Reyhans menambah kecepatan karena tak ingin terlalu lama di perjalanan.


-


.


.


.


"Kalila," panggil Radha kala putrinya lepas dari pengawasan, menjaga mereka memang cukup melelahkan.


Radha menghampiri Kalila, dan kembali membawanya untuk duduk diam di sofa. Akan tetapi, baru saja beberapa saat, Kama juga turut melakukan hal yang sama dan merangkak ke arah berlawanan.


"Kama!! Jangan kemana-mana, Nak."


Bukannya berhenti, mendengar suara mamanya Kama semakin melaju dan menganggap bahwa Radha tengah mengajarnya seperti yang kerap papanya lakukan.


"Aduh, kalian berdua benar-benar ya."

__ADS_1


Tubuh Radha tak cukup kuat jika harus menggendong kedua buah hatinya sekaligus. Radha bernapas lega kala Jelita akhirnya kembali juga, karena memang mertuanya yang meminta agar kedua buah hatinya bermain bebas di dalam rumah.


"Kamu sama Oma ya." Jelita menghampiri cucunya, menggendong Kama hendak membawa anak itu bersamanya.


"Capek, Ma," keluh Radha menyeka keringatnya


Di saat-saat seperti ini, Radha kerap merindukan Maya sebagai mama kandungnya. Karena ia paham, bahwa dahulu Maya tentu merasakan hal yang sama ketika dia masih seumuran putrinya.


"Baru dia bisa merangkak, kalau nanti dia bisa jalan kamu akan merasakan lebih lelah dari ini, Ra," tutur Jelita serius, bukan maksud menakut-nakuti akan tetapi memang demikian begitu kenyataannya.


"Gitu ya, Ma?" tanya Radha menghela napas panjangnya, ia tatap mata polos Kalila yang sama sekali tak menunjukkan kalau anak itu akan membuat orang tuanya mengeluh.


"Hm, dulu Gian masih kecil begitu, bentar-bentar ilang, taunya udah di rumah tetangga."


Jelita kembali mengingat bagaimana dulu putranya ketika masih kecil. Menurut Jelita, cucunya bahkan tak separah Gian dulu, mungkin karena masih cukup kecil.


"Masa gitu, Ma? Pagarnya gak dikunci?" tanya Radha sedikit heran, karena jika dilihat rumah ini sangat tidak memungkinkan anak kecil bisa keluar sebebasnya.


"Dulu di rumah Mama yang pernah kita datengin, Gian banyak habisin masa kecilnya di sana, Ra."


Radha mengangguk mengerti, karena seperti yang Radha ketahui memang Gian menjadi kesayangan dua keluarga dan mertuanya harus berbuat adil dulu.


"Apapun yang dia lakukan, jangan dilarang selagi itu baik untuk perkembangannya," tutur Jelita begitu lembut, karena memang Radha masih terlalu muda di mata Jelita.


"Iya, Ma."


"Kalau kamu merasa nggak kuat buat jagain mereka, kamu bisa minta Gian buat cari pengasuh, Ra, kamu capek banget Mama lihat," ungkap Jelita merasa tak tega karena Radha memang benar-benar melakukan banyak hal sebagai istri dan juga ibu bagi kedua anaknya.


"Nggak, Ma, aku bisa jagain mereka."


Sudah kesekian kali Jelita memberikan saran mengenai hal ini pada Radha, begitupun dengan Gian. Akan tetapi, menantunya itu memang benar-benar tidak mau memasukkan orang lain dalam urusan rumah tangganya.


Trauma akan hancurnya kebahagiaan membuat Radha berpikir bahwa tidak ada seseorang yang datang dalam kehidupan itu akan selalu tulus. Cukup Mamanya yang tersayat belati dari seseorang yang telah diperlakukan dengan sangat baik oleh kedua orangtuanya.


"Tapi perhatiin kesehatan kamu ya, Sayang," ujar Jelita benar-benar khawatir dengan keadaan Radha yang tergambar jelas memang begitu lelah.

__ADS_1


Karena bagaimanapun juga, Jelita tak bisa selalu menggantikan sosok Gian bagi Radha kala putranya itu tak berada di rumah.


🌻


__ADS_2