Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 138. Pasangan Prik


__ADS_3

"Ya setidaknya ada, kan walau sedikit."


Radha mengangguk pasrah, wajah Gian yang kini tersenyum tanpa dosa membuatnya hanya mampu mengelus dada. Semakin hari nampaknya Gian semakin menyebalkan saja, untung saja ketampanannya itu sedikit membuatnya tenang.


"Yayaya terserah Kakak lah."


Melihat istrinya yang kini menatap jauh ke luar, Gian mengacak rambutnya. Sadar jika apa yang ia lakukan membuat istrinya sebal, Gian justru merasa senang.


"Kamu udah makan?"


"Belom," jawabnya singkat, karena bagi Radha makan di jam istirahat tidak termasuk makan siang.


"Mau makan apa?" tanya Gian menoleh ke arah istrinya, niatnya menjemput Radha memang untuk makan siang.


"Makan apa saja yang penting kenyang." Jawaban berbeda dari kata terserah tapi tetap sama saja membuat Gian bingung juga.


Pria itu enggan bertanya banyak, karena nampaknya bahaya jika terlalu membuat kesal Radha. Hingga kembali pada pilihan biasanya, sembari tak berhenti bersenandung berharap Radha akan terhibur dengan suara emasnya.


"Kak, diem dong."


Gian terkejut, baru kali ini ada yang memintanya berhenti. Jika biasanya wanita menganggap anugerah jika berhasil mendengar suara Gian, kini Radha justru seakan terganggu.


"Kenapa? Suaraku bagus kan?" Gian memastikan apa memang suara dia yang aneh, atau telinga Radha yang bermasalah.


"Bagus, tapi lebih bagus diam dulu." Ia berucap dengan nada santainya, bukan mengejek hanya saja memang suasana saat ini tidak mendukung untuk dirinya mendengarkan hiburan apapun.


"What? Kau tidak tahu saja berapa banyak wanita yang tergila-gila dengan suaraku, Zura." Gian membanggakan diri dengan fakta yang memang tak salah.


"Hah? Kakak pernah ngamen ya? Atau nyanyi di kafe mana?"


Sial, istrinya menganggap lain. Bukan seperti itu juga maksudnya. Gian seakan tak punya kharisma di mata Radha, apa mungkin orang sepertinya pernah mengamen? Benar-benar pernyataan yang luar biasa seenaknya.


"Ck, lupakan."


Ia mendadak malas membahasnya, mengapa Radha begitu berbeda. Bahkan saat seseorang menghujaninya dengan pujian terhadap apapun tentang dirinya, sedangkan Radha tampak biasa saja.


Memasuki restoran yang Gian tuju, ketika mobil sudah berhenti barulah Radha berulah.

__ADS_1


"Yaaaa kok sapi, aku gamau makan sapi."


Astaga, Gian harus di hadapkan dengan situasi ini. Kenapa tidak sejak tadi, Radha merengek dan menggeleng berkali-kali.


"Terus maunya apa? Tadi Kakak tanya kamu gak bilang, Sayang." Meski ia sedikit kesal, Gian tetap berusaha selembut itu pada Radha.


"Tapi kan gatau kalau Kakak bakal ngajak makan gituan," ujarnya membela diri, bukan tak mau sebenarnya, tapi harus sudah di olah menjadi yang lain ia masih bisa menerimanya.


"Jadi kita mau kemana?" tanya Gian serius, ia tidak mau salah lagi untuk kedua kalinya. Bisa-bisa waktu makannya dua kali lipat dari seharusnya.


"Pecel lele," jawabnya singkat.


"Hah? Kau makan makhluk itu, Zura? Mengerikan." Gian bergidik begitu mengingat bentuk lele yang masih hidup.


"Ya Kakak bisa makan ayamnya dong," jawabnya berusaha agar Gian benar-benar mau mengantarkannya makan pecel lele siang ini, sudah sejak tadi ia benar-benar menginginkannya.


"Makan yang lain saja ya, Ra?" Gian masih tak bisa membayangkan di depannya ada lele walau sudah tak berdaya.


"Yaudah nggak mau makan, aku temenin Kakak makan aja." Karena bagi Radha rasanya tidak pas jika makan tidak sesuai kata hatinya.


"Baiklah, jika kau yang menginginkannya, kita cari di sekitar sini ya." Gian mengalah, tampaknya istrinya benar-benar batu, selagi Radha senang ia baik-baik saja.


********


"Halo mang Asep!!! Udah lama nih gak ketemu." Radha begitu semangat menyapa Asep yang merupakan pemilik tempat makan langganannya.


"Eh iya, Neng Radha makin cakep aja, kemana aja Neng ngilang tiba-tiba."


"Biasa, aku pindah sekolah jadinya gapernah lewat sini lagi, Mang."


"Wajar seragamnya baru, cantik lagi seperti yang pakek," goda Asep yang nemang kerap ia berikan pada Radha sejak dulu.


Gian yang berada di belakangnya hanya menggeleng pelan menyaksikan bagaimana interaksi istrinya bersama penjual pecel lele itu. Tampak jelas keceriaan Radha bersama orang-orang yang ia kenal itu.


"Eh Neng, ini siapanya? Kakaknya?" Asep menatap sekilas Gian yang berada di sisi Radha, pria itu tampak diam dan hanya menarik sudut bibir begitu tipis sebagai responnya.


"Oh ini, Om saya, Mang ... cakep ye kan," ujar Radha membanggakan Gian yang kini tengah menatapnya penuh tanya, manik hitam itu seakan tak terima dengan pengakuan Radha yang mengatakan bahwa Gian adalah Om nya.

__ADS_1


"Oalah, pantesan ganteng ... ponakannya aja cantik bamget," tutur Asep namun sedikitpun Gian tak tersentuh dengan pujian itu.


"Eheh bisa aja, yaudah aku kayak biasa sama buat Om aku ayam ya, Mang," ucap Radha menjelaskan pesanannya. "Eh bentar, suka bagian apanya, Kak?" Radha menatap suaminya itu sejenak, ia tak begitu paham bagian mana yang Gian suka.


"Dada, bagian kiri yang ada tahi lalatnya." Gian menjawab dengan suara yang sedikit kecil namun dapat terdengar oleh Asep, hal itu sontak membuatnya tertawa lantara memang apa yang Gian katakan begitu lucu.


Radha memerah setelah mendengar ucapannya, menatap sekilas senyum miring Gian yang terlihat puas usai berhasil menggodanya.


"Jadi bagian apa, Neng?" tanya Asep memastikan, Radha yang kini diam membuat Asep sedikit bingung.


"Dada katanya, Mang," ujar Radha tak seceria sebelumnya, tampak menghindari tatapan Gian yang sejak tadi tertuju padanya.


"Yaudah tunggu aja, itu masih benyak tempat kosong."


Radha berlalu untuk mencari tempat duduk, meninggalkan Gian yang hingga kini terus menerus tersenyum. Hanya dengan ucapan itu, Radha salah tingkah hingga wajahnya merah bak kepiting rebus.


"Kamu kenapa? Kok diem?" tanya Gian begitu ia duduk di sebelah Radha, begitu dekat bahkan tidak lagi ada celah.


"Ish!! Kakak tu ngapain pakek bahas tahi lalat di dada, pasti nyinggung punya aku kan?!!"


Ia melampiaskan rasa malunya dengan mencubit perut Gian begitu sangat kecil, pria itu meringis namun ia masih tak berhenti tertawa kecil.


"Aww sakit, Sayang ... siapa yang bahas punya kamu, tahi lalatnya ayam lah." Ia tertawa sumbang, berusaha melepaskan cubitan Radha yang semakin kuat saja.


"Ngeles aja, mana ada ayam punya tahi lalat." Giginya bergemelutuk lantaran kesalnya.


"Sssssshhhh Aaaakkkhh ..." Sungguh mengejutkan, dalam keadaan seperti ini Gian mendesaah dan membuat mereka seketika menjadi pusat perhatian


Sepertinya mengajak Gian makan di tempat seperti ini adalah hal yang paling beresiko. Radha semakin salah tingkah, dan melepas cubitannya itu segera. Berpindah beberapa jengkal dan menatap kesal Gian yang kini tersenyum lebar.


"Mau kemana? Jauh banget, kita nggak musuhan loh."


"Bodo amat!! Kakak jahil banget heran, anak siapa sih?!!"


"Anak Mama dong, masa anak onta, masih nanya," jawab Gian asal yang membuat Radha tak mampu menahan tawanya.


Terima kasih dukungannya hari inišŸ¤—ā£ļø

__ADS_1


Sehat selalu semua orang baikšŸƒ


__ADS_2