Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Kau Merindukannya? (Gian)


__ADS_3

Gdubrak


Tubuh mungil itu terguling, Gian terlambat mengejarnya. Meski semua kesalahan ia yang memulainya, lagi-lagi pria ini menyebabkannya terluka.


"Kau baik-baik saja?"


Gian menatap cemas Radha yang kini merintih menahan sakitnya, beruntung ia tak terkena benda tajam yang dapat melukainya. Dengan emosi tertahan, Gian menatap tajam Layla yang kini berdiri di salah satu anak tangga sembari memegang pengepel yang masih cukup basah.


"Apa kau tidak punya otak?!! Jam berapa ini, dan kau baru berpikir membersihkan tangga?!!"


Pria itu marah besar, bagaimana tidak, belum pernah ia menangkap keadaan seperti ini. Para asisten rumah tangga biasanya bekerja di pagi hari dan takkan melakukan kesalahan gila semacam ini.


"Ma-maafkan saya, Tuan Muda."


Layla menggigit bibirnya kuat-kuat, tak ia duga Gian akan menyaksikan hal ini. Meski terdapat senyum kemenangan kala menatap Radha yang kini masih terduduk membenarkan rambutnya.


"Maaf? Kau pikir perbuatanmu semudah itu untuk dimaafkan?!!"


"Kau lihat, bajunya basah, dan kau bahkan diam saja saat dia terjatuh, dimana letak akalmu?! Hah!!"


Radha terpejam menyaksikan amarah Gian, tak ia duga manusia itu semenyeramkan itu. Lain halnya dengan Layla yang kini tengah menunduk, baginya semarah apapun Gian tak apa. Hanya saja, ia tak ingin jika Gian mengambil keputusan yang membuatnya tak mampu satu atap dengan pria itu lagi.


"Kau sengaja kan?"


Gian bertanya dingin sembari menatap Layla yang tak ada niatan untuk turun dan minta maaf pada istrinya. Tentu Gian bukan sembarang tuduh, ia cukup paham gelagat orang di depannya.


"Ti-dak, Tuan Muda, Nona Muda berlari dari atas tangga, jadi wajar kalau kecelakaan itu terja_"


"Sstttt ... apa aku memintamu berbicara?"


Layla terdiam, pemilik bibir seksi itu tak mampu berucap kala Gian menatapnya penuh ancaman. Takut, meski ia sendiri paham akan merasakan hal ini akibat ulah perbuatannya.


"Pergilah, selagi aku masih baik."


Berucap dengan nada rendah namun penuh penekanan, pria itu kini menatap sejenak istrinya. Menggeleng pelan sembari berdecak heran, mengapa tingkah Radha benar-benar menyerupai anak kecil, pikirnya.

__ADS_1


"Ganti bajumu, gunakan dua matamu itu, dan tidak perlu berlari. Ck siapa juga yang akan mengejarmu?"


Sungguh amat sangat menyebalkan, perkataan yang lolos dari bibir Gian membuat Radha ingin meremat bibir itu sekali genggam. Mau tidak mau, Radha memang harus berganti pakaian.


Tidak ada kemarahan, Radha melewati Layla begitu santainya. Meski kakinya terasa sedikit sakit, pun pinggang dan punggungnya. Namun, sebisa mungkin ia menutupinya agar tak menjadi bahan keributan lainnya.


Tatapan sinis Layla dapat Radha tangkap meski wanita itu mendunduk, bahkan tak ada niat meminta maaf saja sudah menjadi tanya tanya di benak Radha. Apa mungkin prasangka Gian benar, pikirnya.


******


Perjalanan kali ini akan cukup panjang, Gian melirik sang Istri melalui ekor matanya. Bahkan belum separuh perjalanan, Radha telah mengambil ancang-ancang untuk tidur di sampingnya.


"Zura," panggil Gian menatap lekat wajah ayu yang kini mulai terpejam, pemilik mata bulat itu lupa memasak sabuk pengamannya.


"Eeennnggg," erangan kecil Radha membuat Gian bertanya-tanya. Nampaknya ia terluka, ingin rasanya Gian memeriksa lebih teliti, namun ia masih enggan untuk berbuat lebih.


"Apa dia terluka?"


Kekhawatiran Gian pupus begitu saja kala mendengar dengkuran kecil sang Istri. Lagi-lagi Gian menghela napas pelan, bahkan di saat orang lain mengkhawatirkan keadaannya, wanita itu masih saja tertidur dengan lelapnya.


"Kak."


Gian menoleh sekilas, nampaklah mata yang kini memerah tengah mengumpulkan nyawa. Terlihat jelas jika ia memang lelah, amat sangat lelah.


"Tidurlah, perjalanan masih lama."


Bukannya bertanya kenapa ia bangun, Gian justru memintanya untuk tidur lagi. Gelengan kepala Radha membuat Gian sejenak menarik sudut bibir. Memang itu inginnya sejak tadi.


Melewati hutan dan juga persawahan membuat Radha bahagia bukan main, memang Maya memutuskan untuk tinggal di kota lain dan hidup di lingkungan yang jauh dari dunia keramaian.


Sengaja ia melakukan hal itu demi menutup luka yang Ardi torehkan, bahkan menginjakkan kaki ke kota kelahirannya saja Maya enggan. Begitu sakit batinnya, hancur hatinya kala orang ketiga menelusup masuk tanpa izinnya.


"Yippii!!! Kakak kau lihat, sapi itu besar-besar sekali."


"Kau tidak sekolah atau bagaimana?"

__ADS_1


"Hah? Maksud Kakak?"


"Orang bodoh pun tau, itu Kerbau Zura. Sapi darimana?"


Gian mengedikkan bahunya, sadar istrinya benar-benar anak kecil yang baru beranjak remaja. Menatap keindahan persawahan saja ia begitu bahagia, mata itu berbinar seakan baru melihat dunia. Entah sampai kapan senyum itu akan bertahan, yang jelas Radha hanya menikmati apa yang kini tertangkap netranya.


"Oh, kupikir sama," jawab Radha cuek, tak peduli itu apa, baginya binatang itu sama.


"Zura, Kakak boleh tanya?"


"Apa?"


Tumben sekali pria itu meminta izin, pikir Zura terbahak dalam diamnya. Apa mungkin karena insiden jatuhnya, atau kenapa, pikir Radha.


"Kapan terakhir kali kau bertemu Bundamu?" tanya Gian tanpa menatap wajah Radha, ia tak ingin gadis itu merasakan kelukaan.


"Hm, entahlah, aku lupa."


Wajah itu kini berubah, sendu nan pilu. Ada raut rindu dan kemarahan di manik indah Radha, ia masih kecil kala itu. Belum terlalu mengerti namun jelas ia paham kesakitan Maya kala ia beranjak remaja.


"Apa kau merindukannya?"


Konyol, tanpa dijawab seharusnya Gian tau, pikir Radha kesal. Bagaimana bisa suaminya masih saja bertanya. Enggan, Radha hanya diam dan memilih untuk menikmati pemandangan di luar sana, hingga sosok yang tertangkap matanya membuat Radha sontak memukul lengan Gian.


"Kakak, Stop!!"


Chiitt


"Ada Apa?"


"Zura tunggu!!" teriak Gian kala wanita kecilnya telah berlalu lebih dulu dengan langkah setengah berlari.


"Anak itu masih saja sama!!"


Tbc

__ADS_1


__ADS_2