
Mengikis masa lalu, perlahan namun pasti Randy akan lakukan. Cinta pertama memang tak semudah itu ia lupakan, namun bukan berarti takkan tergantikan.
Malam kian larut, lelapnya Hulya sejak tadi ia pandangi. Mata Randy mengembun, ingin rasanya ia hidup lebih lama.
Tuhan hadirkan setelah lama terbiasa dengan rasa sakit dan kekecewaan sedalam itu, tidak ada penyesalan dalam diri Randy, tidak ada kata terlambat dalam hidupnya.
Ruang hatinya telah lama kosong, dan kini terisi oleh seorang bidadarinya ini. Sesingkat apapun waktu yang nanti Tuhan berikan untuknya, Randy akan tetap menghargainya.
Sungguh sulit dia untuk terlelap, bukan karena tidak nyaman, melainkan karena ia ingin memandangi wajah teduh itu lebih lama, sepanjang malam jika bisa.
Randy menarik sudut bibir, bertumpu tangan dia terhanyut dalam kecantikan istrinya. Perasaan ini belum pernah ia rasakan, walau sempat memiliki anak dari Sheina, akan tetapi Randy belum pernah merasakan hal semacam ini.
"Mas." Mata bulat itu menatapnya tajam tiba-tiba, sedangkan Randy yang melamun sejak tadi terperanjat kaget dan tak bisa menguasai dirinya.
"Aarrrggghh!!! Hulya, matamu ya Tuhan!!"
Dia menjauh, dadanya yang sejak tadi berdebar akan cinta justru berubah menjadi panik yang membuatnya bahkan gemetar.
Suasana di luar sedang hujan, tak jarang petir sesekali menyambar dan cukup memekakan telinga. Wajahnya pucat pasi dan Hulya segera bangun demi memastikan suaminya tidak apa-apa.
"Maaf, kaget ya?"
"Bisa-bisanya dia bertanya, sudah pasti iya ... astaga, kenapa harus tiba-tiba melotot begitu," tutur Randy masih mengelus dadanya berkali-kali.
Bagaimana tidak kaget, suasana yang tadinya didominasi hujan dan angin malam, dan dalam lamunannya tiba-tiba Hulya terbangun tanpa aba-aba.
"Aku tidak sengaja, kenapa belum tidur?"
Hulya bertanya dengan lembut, paniknya Randy membuat dia khawatir. Bergerak cepat meraih segelas air mineral untuk suaminya, mana dia tahu jika Randy penakut.
"Makasih," tutur Randy usai menegak segelas air itu hingga tandas, dia tidak merasa haus akan tetapi kenapa tenggorokannya terasa kering kerontang.
Air itu menetes di dadanya, piyama itu sedikit basah dan menjadi perhatian mata Hulya. Meski belum terlalu berani untuk lancang mengambil tindakan, namun nalurinya tergerak sendiri dan meraih tisu di atas nakas.
Randy tak mengucapkan apa-apa, dia hanya menatap lekat istrinya, apapun yang kini wanita itu lakukan. Memang tak banyak bicara, jika dibandingkan dengan Jelita maupun Maya, Hulya dapat dikatakan sangat-sangat pendiam.
"Ehem, Hulya."
Tangannya menggenggam pergelangan tangan Hulya, tatapan keduanya kini terkunci dan tersirat makna lain dari tatapan Randy.
"Apa?" tanya Hulya mulai merasa pria ini bermaksud lain, wanita dewasa yang tak perlu belajar banyak ia sudah mengerti dengan sendirinya.
"Boleh bertanya sesuatu?" tanya pria itu benar-benar serius, senyumnya begitu teduh dengan sejuta harapan Hulya akan mau.
"Iya boleh, Mas, tanya apa?"
"Kalau mas minta kamu tidak menunda kehamilan, apa mau?" Randy bingung harus pakai kalimat apa mengungkapkannya, akan tetapi sejak kemarin dia memikirkan hal ini.
__ADS_1
Bukan karena ingin menyaingi Gian, akan tetapi memang dari lubuk hatinya Randy menginginkan anak dari wanita yang kini berhasil membuatnya luluh dalam sesaat.
"Malah nunduk, jawab ... yang hamil kamu soalnya," tutur Randy, memang dia tak sebaik itu untuk bersikap romantis, berbeda jauh dengan peran yang kerap ia mainkan di layar kaca.
"I-iya, terserah kamu gimana baiknya."
Tidak ada alasan bagi Hulya untuk menikah, wanita sepertinya jelas saja mencintai anak-anak. Memiliki anak dari seorang pria yang menjadi pemimpin hidupnya adalah impian paling suci yang Hulya inginkan sejak dulu.
"Terima kasih, dan maaf jika kau tidak menjadi wanita pertama untukku, Hulya."
Bukan menyesal, hanya saja dia merasa dunia Hulya tak adil jika harus menjadi istri dari seorang duda sepertinya. Wanita ini terlampau suci, bahkan belum pernah disentuh pria lain. Randy adalah pria pertama yang menjamahnya, dan itu dalam ikatan suci. Jelas saja Randy merasa hidupnya dirundung rasa bersalah.
Tak masalah, apapun masa lalu Randy bagi Hulya sama sekali bukan masalah. Bagi Hulya, siapa Randy saat ini itu adalah intinya. Sebagai suaminya, yang artinya hidup Hulya sudah menjadi milik Randy Seutuhnya.
Setelah akad berlangsung, bukan hanya secara fisik Hulya menjadi miliknya. Akan tetapi, secara batin juga. Bukan pertama kali bagi Randy, tapi kenapa justru dia yang gugup. Membuka kancing piyama istrinya saja dia gemetar, apalagi selebihnya.
"Calm Down, Randy ... kau ingin punya anak bukan?"
Randy membatin, kemana jiwa penggodany dulu. Kenapa seakan ciut ketika berhadapan dengan wanita seperti Hulya, padahal tidak ada hal yang seharusnya membuat dia malu.
-
.
.
.
"Biasanya dia berapa lama?"
Gian tak sabar, Budi mengatakan jika Radha mencaru bubur ayam langganannya. Akan tetapi, kenapa bisa selama ini, pikirnya.
"Biasanya 20 menit, Den ... tapi nggak tau kalau misal bang Tony nya belum ada ya terpaksa non Radha nunggu."
Penjelasan Budi membuatnya kesal bukan main, Gian berniat menyusulnya segera. Pria itu masih mengenakan baju tidur, terserah orang akan menganggapnya apa.
Brum-brum ....
"Kebiasaan, kenapa harus di gas-gas begitu si Den?"
Budi mengibas-ngibaskan tangan, entah kenapa Gian selau melakukan hal semacam itu jika mengendarai motornya.
"Cuma ngetes, masih bisa nggak," jawabnya santai, setelah membuat rusuh dengan suara motor yang cukup membuat telinga sakit.
"Pakai helm, Den," tutur Budi baik-baik, tuan mudanya ini memang terkesan sesukanya dan tidak mau diatur siapapun.
"Halah, cuma deket ini, lagian cuma jemput istri, Pak ... bukan balapan."
__ADS_1
Yaya, sudah pasti Gian akan punya 1001 alasan dan jawaban demi membenarkan apa yang ia lakukan. Jangankan helm, lampu merah saja seakan tak ia indahkan dalam hidup.
Melaju begitu kencangnya, Budi dan Aryo hanya bisa menggeleng pelan. Kedua putra Raka memang sangat berbeda, dan mereka hanya berusaha mengerti kepribadiannya.
Menelusuri kompleks orang kaya itu, dengan suara motor yang bahkan membuat anjing peliharaan tetangganya menggonggong karena mungkin merasa terganggu, Gian sama sekali tak peduli.
Yang ia cari adalah istrinya, tak peduli kalaupun segerombolan sapi menghadangnya, melaju dengan kecepatan tinggi, hingga tak butuh waktu lama bagi Gian untuk menemukan Istrinya.
"Astafirullah, heih kenapa bawa motor begitu? Ketinggalan kereta?"
Radha mengelus dada, dia yang bahkan berjalan kaki demi menemukan tukang bubur ini, sedangkan Gian seenaknya membuat tetangganya emosi.
"Ck, kamu kenapa nggak pamit hm? Kakak panik nyariin kamu tau nggak."
Penampilan Gian yang hanya dengan piyama dan rambut Acak-acakan itu berhasil menghipnotis beberapa wanita yang berada di sana. Kagum, dan ini adalah pemandangan bagus bagi mereka.
"Hilih, biasanya juga masih tidur, kenapa tiba-tiba nyariin," cibir Radha membenarkan rambut suaminya yang cukup tebal itu.
"Aku kan belum puas dipeluk, sembarangan banget ninggalin suami."
Tolonglah, Radha memejamkan matanya sejenak. Bubur pesanannya sebentar lagi siap, dan Radha sudah tak taham berada di sini bersama Gian yang membuatnya terus menerus menjadi pusat perhatian.
"Hm, bentar lagi kita pulang."
Radha memesan cukup banyak, bukan hanya untuk dirinya. Keinginan Rhania yang merindukan bubur ayam membuatnya rela mencari sendiri lantaran sudah lama tidak berjalan-jalan.
"Aku mau juga, tapi banyakin, Pak."
Radha mengangguk, ia pikir Gian ingin untuk makan di rumah. Namun ternyata ia salah, pria itu justru duduk di kursi plastik itu sembari menanti pesanannya jadi.
"Kak?"
"Makannya di sini, aku laper abis bawa motor, Ra." Wajahnya sangat meyakinkan, padahal jarak antara rumah dan tempat ini tak begitu jauh, bisa-bisanya Gian mengeluh lapar dan seakan lemah sedunia.
"Yaudah iya ... satu lagi, Pak buat suami saya," pinta Radha agar Gian dapat menikmati sarapannya lebih cepat.
Tak ia duga suaminya suka, padahal sebelumnya Gian mengeluh jika Radha memintanya makan di pinggir jalan. Dan tentu saja dia akan makan berdua, sengaja memesan lebih banyak demi bisa sarapan bersama lebih dulu bersama istrinya.
"Aaaaaa," tutur Gian hendak menyuapi Radha, padahal di sini ada banyak orang.
"Aku bisa sendiri," ucap Radha hendak mengambil alih sendoknya, dan dengan secepat itu Gian menggeleng.
"Tangan kamu kotor, Kakak aja yang suapin."
Baiklah, sepertinya memang harus demikian. Radha tak punya pilihan lain, menolak juga percuma. Yang jelas saat ini dia hanya perlu memasang wajah tembok walau malunya sebesar gunung.
đź–¤
__ADS_1