Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Bohong (Sama–Sama)


__ADS_3

"Opa!"


"Hai, tumben pagi-pagi udah cantik, Kalila mau kemana, hm?"


Raka bahkan berlutut demi menyesuaikan tinggi badan cucunya yang menggemaskan ini. Walau biasanya memang Kalila mandi pagi, namun tidak sepagi dan secantik ini.


"Mau ikut om Haidar."


Penjelasannya terlihat malu-malu, bibir mungilnya ingin sekali Raka cubit. Andai saja papa Kalila bukan jelmaan jin seperti Gian, mungkin Raka akan kerap membuat cucunya merasa kesal.


"Ikut kemana? Memangnya udah izin sama papanya?"


Kalila menggangguk yakin, setelah tadi malam tidur bersama Haidar kini di hari yang baru dia masih saja menempel bersama adik papanya itu.


"Haidar, mau kemana?"


Tak berselang lama, Haidar kini datang juga. Dengan pakaian santai yang sudah amat rapi tentu saja. Putra bungsunya ini memang sama, seakan alergi jika dia. diri di rumah.


"Ke rumah Ricko, Pa ... jenguk anaknya yang lahir satu minggu lalu," jawab Haidar santai, sembari kembali merapikan rambutnya.


"Kau mau ajak si centil ini?" tanya Raka melirik cucunya yang kini sudah memeluk kaki Haidar seakan takut sekali ditinggal.


"Iya, boleh kan?" Haidar bertanya dengan keningnya yang mengkerut, tidak ada salahnya bukan, pikir Haidar.


"Boleh saja, sudah izin Gian?"


"Sudah, iya kan Kalila?"


"Hem, cepat om!! Kalila udah tunggu dari tadi," pintanya sembari merentangkan tangan.


Meski sebenarnya Kalila sudah bisa berjalan dengan lancar, bahkan berlari keliling komplek perumahan pun dia sanggup, Haidar tetap memperlakukan keponakannya seperti bayi yang selalu di peluk kemanapun pergi.


"Huaa berat juga kau ya," ungkap Haidar merasakan bobot Kalila memang dua kali lipat dari pertemuan terakhirnya.


"Hati-hati, dasar aneh ... ajak kekasihmu seharusnya, kenapa malah ajak keponakan," tutur Raka menghela napas pelan, sungguh aneh putranya ini.


"Udah nggak ada, Papa apaan sih."


Sensi sekali, sama halnya dengan Gian yang bisa sensi, Haidar juga sama. Dan untuk perihal Haidar, Raka enggan ikut campur. Biarlah dia mencari sendiri, selagi putranya baik-baik saja, dia tak mengapa.


"Sudah sana, jangan lupa jaga baik-baik Kalila ... Papa tidak yakin sebenarnya," ungkap Raka mendadak ragu, namun jika ia ingat, Haidar pernah membawa Kama pergi dan itu cukup jauh dan keduanya kembali dalam keadaan yang sangat baik.


"Iya, Papa ... tidak yakin apanya sih," gerutu Haidar merasa papanya jelas meragukan, padahal membawa anak seumuran Kalila sangatlah menyenangkan dan tidak menyulitkan.


"Hm, intinya jaga benar-benar, Haidar."


Bukan masalah apa, akan tetapi Kama dan Kalila sangat berbeda. Jika saat ini yang dia bawa adalah Kama, mungkin Raka takkan sekhawatir ini, akan tetapi yang ia bawa kini adalah Kalila yang aktifnya dua kali lipat dari kakaknya.

__ADS_1


"Iya, Papa, dah pamit dulu ... Assalamualaikum," pamit Haidar baik-baik, sementara putri manis Gian itu sudah tidak sabar ingin segera pergi bersama om kesayangannya.


"Dada Opa." Melambaikan tangan sesenang itu, sementara Raka merasa aneh kala Haidar terlihat buru-buru.


"Dah," jawabnya singkat meski tak seceria cucunya dalam menjawab.


Semoga perasaan Raka tidak menimbulkan hal macam-macam. Barangkali ini hanya firasat aneh lantaran sahur kelupaan. Raka menghela napas pelan dan kini berlalu ke taman belakang menyaksikan Budi yang hendak mengeksekusi pagar demi melindungi tanaman Jelita dari jangkauan kedua cucunya.


"Mas? Kamu kenapa?" tanya Jelita kala Raka kini berada di sisinya, sungguh dia benar-benar tak mengira kejadian malam itu akan terjadi.


Bangun di saat azan subuh dan seisi rumah sama gilanya, Gian yang biasanya paling aktif membangunkan seisi rumah, justru ikut planga plongo dan panik luar biasa.


"Nggak apa-apa, Sayang, udah hampir selesai ya?" Raka mengalihkan pembicaraan, berharap agar dirinya tak telrihat selemas itu.


"Belum, masih setengah lagi kata pak Budi," jawab Jelita begitu halus, sungguh tak tega melihat suaminya ini sebenarnya.


"Sabar ya, Ma, cuma 10 jam lagi kok." Cuma apanya cuma, hampir sehari Jelita katakan cuma.


-


.


.


.


Tidak ada yang tak sibuk di rumah ini, meski gagal sahur tetap saja semua harus berjalan seperti biasa. Kebetulan hari minggu, sungguh hari yang amat baik karena Gian dapat mengurangi satu Penderitaannya.


Selesai mandi pagi Gian mendatangi kamar buah hatinya. Hanya ada Kama yang kini sibuk dengan mobilan barunya, sementara Kalila yang biasanya selalu berteriak memanggil papanya, hilang entah kemana.


"Sama Haidar, tadi bangun minta mandiin terus nyamperin Haidar lagi," jawab Radha seadanya, karena memang yang terjadi sedemikian rupa.


"Oh betah juga dia," tutur Gian kini duduk di dekat putranya, tentu saja ingin memanaskan suasana bahkan tak jarang kepala Kama terbakar rasanya.


"Hiyaaa nabrak boom!!"


"Papa!!! Gagitu calanya!!"


Benar saja kan? Belum lima menit Kama sudah naik pitam akibat ulah papanya yang main seenak dengkul. Gian hanya ingin mendengar suara putranya, itu saja.


"Telus gimana calanya, sayangnya papa?"


Dia bertanya dengan menopang dagu sembari menatap usil pipi tembam putranya. Kenapa bisa dia punya anak semenggemaskan ini, pikirnya tak tahan.


"Gini tuh ... gini mainnya, gaboleh nablak," jelas Kama namun Gian justru fokus menatap bibirnya.


"Oh gitu, kenapa memangnya gaboleh?"

__ADS_1


"Gaboleh, nanti meleka sakit luka semua, Papa."


Penyayang sekali, bahkan pada mainan diapun memiliki perasaan. Gian sangat menyayangi putranya lahir dan batin. Sementara Radha hanya menoleh sesekali menarik sudut bibir melihat interaksi mereka.


"Kan ada dokternya, Sayang."


"Ih gaboleh dibilangin," sergahnya menghalangi tangan Gian yang hendak mengendalikan salah satu mobil mainan putranya.


"Hm, pelit banget si," ucapnya sembari mencuri paksa kecupan di pipi gembul putranya.


"Papa main sendili sana, Kalila punya doktel." Mendorong jauh wajah sang papa sembari memberikan perintah agar Gian tidak mengusik kegiatannya.


"Masa main sendiri, Papa mainnya sama Kama dong, boleh iya?" Benar-benar menjadi hal yang dia sukai, Gian mencintai amarah Kama yang kadang meluap-luap karenanya.


"Nggak!!! Kama mau main sendili, Papa main sama Mama sana."


"Ma," rengek Gian dengan tatapan usilnya, kurang menggoda anak, pria itu justru menjadikan Radha sasarannya.


"Idih, Ma-ma-ma ... panas kupingku Kakak manggil begitu," tutur Radha memang nyata segeli itu, ingin rasanya dia lempar kotak mainan Kalila tepat di wajah suaminya.


"Hahaha lebay!! Gitu aja ngamuk, Ra ... temen Kakak manggilnya Mama Papa loh, kok kamu nggak mau dipanggil begitu?" Sungguh dia heran, kenapa Radha geli padahal itu umum dilakukan pasangan suami istri.


"Beda aja, belum terbiasa."


"Ya dicoba dong biar terbiasa, gimana sih," ujarnya kini kembali menatap Kama yang benar-benar tak peduli padahal orang tuanya seakan perang dunia.


"Kama, Mama nggak mau dipanggil Mama, gimana dong?"


"Mamanya Papa Oma, yang itu Mamanya Kama." Menunjuk Radha dengan telunjuk imut yang tanpa pikir panjang Gian gigit begitu saja.


"Papa sakit!! Mama!!" teriak Kama spontan karena gigitan Gian memang kurang akhlak.


Tung


"Aaawww, Kama setega ini sama Papa?"


Sakit, mainan Kama tidak berbahankan plastik saja. Dan dengan kekuatan karena kaget digigit, jelas saja pukulan itu cukup terasa di puncak kepalanya.


"Papa gigit jali Kama, sakiit ... maaf Papa," tuturnya menatap lekat Gian, hendak menangis dan sebentar lagi air matanya akan tumpah.


"Maaf-maaf, Papa nggak marah ... maaf ya," bujuk Gian di akhir misi menggoda putranya, entah kenapa dia sangat suka jika Kama kerap marah namun nantinya justru merasa bersalah.


"Sakit ya jarinya? Coba Papa lihat," ucap Gian memeriksa jemari putranya, terlihat memerah dan Gian tak menduga jika gigitannya akan sekuat itu.


Drama tiap berdua, sudah biasa bagi Radha melihat dua orang ini bertengkar kemudian berbaikan lagi. Sungguh interaksi yang lebih dari kata manis, mental Kama memang sudah terlatih menghadapi papa seperti Gian, pikir Radha pasrah.


Tbc

__ADS_1


Komuk Kama kalau dikerjain Papanya.



__ADS_2