Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Fitnah Gian ( )


__ADS_3

Perjalanan yang mereka tempuh cukup menyita waktu, belum lagi Gian membawa Kama yang tentu saja harus pelan dan hati-hati.


Pikiran dua orang ini berbeda, Kama masih setia mengikuti irama lagu kanak-kanak yang sengaja Gian putar agar putranya tenang dan tidak banyak tanya. Gian beberapa kali menatap pergelangan tangan kirinya, berulang kali juga dia mencoba menghubungi Haidar namun hasilnya sama saja.


"Dasar setaaan!!!" umpat Gian tak sadar jika di sisinya ada Kama.


"Papa gaboleh bilang setan!!! ... Kama aduin sama Mama mau?" Kama menatap tajam Gian dengan bibirnya maju beberapa centi.


"Ya Tuhan maaf, Papa salah bicara."


Kebiasaan, ancaman seperti ini spontan membuat Gian ciut. Bukan karena takut istri, tapi tentu saja tingkahnya yang bicara kasar di depan anak akan membuat Radha kecewa.


"Maaf ya, papa nggak sengaja, Kama."


Hanya kesalahan tak bisa mengontrol emosi, biasanya menjadi masalah besar jika yang mengetahuinya adalah Kama maupun Kalila.


"Hm," jawabnya super singkat dan kini kembali fokus dengan tablet yang sejak tadi tidak berhenti bersuara.


Gian menghela napas pelan, baru kali ini ada seseorang yang berani secuek ini padanya. Bisa-bisanya Kama hanya berucap seujung kuku sementara papanya meminta maaf panjang berulang kali.


Hingga Gian merasa sedikit lega kala tiba di depan pekarangan rumah Ricko, dan benar saja Haidar masih berada di sana.


"Dasar tengil, bisa-bisanya bawa harta kesayanganku tanpa izin satupun."


Andai kata tidak ada Kama, mungkin Gian akan menenggelamkan Haidar ke palung mariana. Pasalnya bukan hanya Kalila yang dia bawa tanpa izin, tapi mobil kesayangannya juga.


Tapi tidak, tentu saja saat ini dia harus tenang. Kama di sebelahnya masih bersikap dingin dan tampaknya marah dengan umpatan Gian yang sebenarnya bukan untuk dirinya.


"Kama, kita masuk yuk." Gian membuka pembicaraan meski putranya masih benar-benar diam.


"Sudah sampai, Papa? Kalila sama Om Haidal mana?" tanya Kama dengan manik polos yang jujur saja ingin sekali Gian gigit saat ini juga.


"Di dalem, makanya kita harus masuk."


"Bental, videonya dikit lagi selesai."


Astafirullahaladzim Kama, Gian lagi-lagi harus memejamkan matanya demi menutupi rasa ingin mengamuknya. Pria itu kembali bersandar sembari menunggu video yang Kama tonton selesai.


"Sabar, Gian ... kamu kacungnya dan dia rajanya," desis Gian hampir tak terdengar, mencuri pandang Kama dari ekor matanya. Bagi Kama waktu menonton adalah waktu paling anti untuk diganggu.


Beberapa menit menunggu, Kama saja yang mengatakan bahwa sebentar lagi selesai. Kenyataannya, masih lumayan lama.


"Papa udah," ungkap Kama dan Gian hanya menarik sudut bibir kala putranya menyerahkan benda pipih selebar talenan itu.

__ADS_1


"Sekarang kita masuk, Papa udah ganteng belom?"


Pertanyaan sinting, biasa bersikap seperti ini pada Radha justru terbawa ketika dia bersama Kama. Kama hanya mengangguk pelan tanpa memuji seperti Kalila, berbeda sekali, pikir Gian.


Panas masih cukup terik, namun tak sepanas ketika mereka pergi. Mata Kama yang anti akan cahaya kini menyipit dan hanya segaris, Gian berusaha melindungi pandangan putranya dengan menghalangi sinar matahari menyinari langsung di wajahnya.


"Papa cepat lalinya, kulit Kama nanti hitam," tuturnya entah dapat dari mana kalimat semacam itu.


"Iyaa sabar." Langkah Gian sudah cukup cepat, tapi memang halaman rumah Ricko gersang dan tidak ditemukan pepohonan seperti di rumahnya.


-


.


.


.


"Hai, Bang ... baru datang? Sendirian?"


Senang, tapi Ricko justru gugup begitu melihat Gian yang baru saja masuk ke rumahnya. Ruang tamunya masih lumayan ramai, belum lagi yang datang bukan hanya rekan kerjanya, tapi juga sahabat istrinya.


"Iya sendiri, selamat atas kelahiran anakmu ... kenapa tidak mengabari aku, Rick?" tanya Gian menyambut uluran tangan Ricko, tangan dingin dan sedikit gemetar.


Ganasnya Gian di masa lalu terutama saat menghajar Haidar masih terbayang di mata Ricko, pria gila yang tak pandang bulu dan tidak akan menyesali tindakannya ini tengah menyambut tangannya.


"Silahkan duduk, Bang ... maaf sedikit ramai," ungkap Ricko tak enak, karena sepengetahuannya dari Haidar, Gian tak suka berbaur dengan banyak manusia, terutama ibu-ibu.


"Terima kasih, oh iya ... adikku apa masih di sini, Rick?"


Basa basi yang sangat basi sebenarnya, Gian mengetahui dengan jelas bahwa di rumah ini tentu saja masih ada Haidar, akan tetapi dia masih memiliki rasa hormat pada tuannya.


"Ada, Bang ... di kamar tamu, sebentar aku panggilkan."


Ricko hendak berlalu, namun Gian tak ingin hal itu Ricko lakukan. Dia lebih baik melihat dengan mata kepala sendiri sedang apa sebenarnya Haidar dan Kalila di sana.


"Aku ikut, hanya memastikan apa yang mereka lakukan."


Merasa tak enak jika menolak, Ricko mengizinkan Gian masuk ke kamar tamu.


"What?!! Dasar cabul, kenapa baju Kalila dicopot semua, Haidar."


Dia kaget, penampakan Haidar yang tengah tertidur sembari memeluk Kalila di depannya benar-benar diluar dugaan. Botol susu yang berada di dekat putrinya membuat pikiran Gian macam-macam.

__ADS_1


"Papa tulun." Belum selesai masalah satu, putranya turut berulah dan Gian terpaksa menurunkannya.


"Ricko, susu siapa yang Haidar berikan untuk putriku? Jangan bilang susu istrimu?" tanya Gian dengan mata tajam dan emosi yang meluap-luap.


"Bu-bukan, Bang ... Kalila minta susu, itu susu Ibra bukan ASI astaga, aku juga punya otak, Bang."


Dasar sinting, bisa-bisanya dia mengira itu susu istri Ricko. Ingin marah tapi tak bisa, dan paniknya Gian membuat Haidar terbangun lebih cepat.


"Eeeuunnghh, ada apa?" Matanya terasa berat, setelah cukup lama berusaha membuat Kalila tertidur kini kantuknya dihancurkan seseorang yang tiba-tiba saja muncul dalam mimpinya.


"Om bangun, Om!! Papa malah," titah Kama sembari memukul pundak Haidar, jelas saja sang empunya nyawa kaget luar biasa begitu sadar makhluk kecil itu ada di belakangnya.


"Pap? Kak?" Panik, Haidar cepat-cepat bangkit kala menyadari Gian kini menatapnya dari jarak yang tak begitu jauh. Matilah dia, pikir Haidar.


"Kak? Kak? Dasar sinting, siapa yang mengizinkanmu membawa Kalila pergi sejauh ini, Haidar?" tanya Gian namun berusaha menontrol dirinya, takut jika putrinya justru terbangun.


"Putrimu yang tidak bisa lepas dariku, ck lagian aku cuma bawa dia ke sini, bukan club malam gila," ujar Haidar membela diri, pintar sekali membuatnya justru terjebak dalam jurang sekaligus.


"Hentikan ucapanmu itu sinting, dan juga kenapa bajunya dilepas begitu?" Dia menunjuk tubuh putrinya, aah sungguh dia tidak ikhlas aurat putrinya terlihat mata Haidar.


"Kalila kepanasan, Kak, lagipula AC di rumah ini sepertinya rusak, aku saja keringatan," jelas Haidar santai, karena memang begitu kejadiannya.


Ingin menyangkal, tapi memang benar di rumah ini panas sekali. Melihat ketulusan Haidar yang menyiapkan semuanya untuk Kalila, Gian jadi tak tega jika harus marah-marah.


"Itu bukan ASI, lagipula aku tidak akan asal memberikan segala sesuatu untuk keponakanku ... dia makan nasi, dan memang pas tidur dia minta susu, jadi kak Jean buatin susu buat Kalila."


Penjelasan yang cukup untuk menyelamatkan diri, Rikco membenarkan hal itu karena memang mama Ibra yang menyiapkan susu untuk Kalila.


"Kau mau aku pulang sekarang?" tanya Haidar meraih jaketnya, tak sadar jika Kama sudah berhasil naik ke atas tempat tidur dan mengganggu saudaranya.


"Tidak, tunggu sampai Kalila bangun ... aku sengaja datang untuk Ricko, bukan menjemputmu." Hiya, tujuannya berubah seketika, dasar labil.


"Kalila, kamu tidul kenapa ga pakai baju, kata Papa ini aulat."


Tindakan Kama yang tiba-tiba melindungi dada Kalila dengan dengan selimut di dekatnya membuat Gian bersemu merah, dari mana dia dengar kalimat itu, pikir Gian.


"Hahaha anaknya ustad emang beda, paham aurat segala ya, Kama-Kama ... kamu nggak tau Papamu dulu gimana," ucap Haidar menggelengkan kepala, Gian berasa diolok dua kali.


"Haidar, kau...."


"Kan benel, Om, kata Papa aulat."


"iyaya aurat." Haidar tertawa sumbang, menatap Kama yang menjaga Kalila sebegitunya, padahal masih sekecil itu, pikir Gian.

__ADS_1


__ADS_2