Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Perintah (Mertua Baik)


__ADS_3

Di tengah galaunya pikiran Radha, ruangan itu di hebohkan dengan sendawa Randy lantaran merasa puas dengan makan siangnya. Sontak hal itu mengundang perhatian, ia lupa sedang berada dimana.


"Astaga, maaf-maaf ... kelepasan pemirsa," ujarnya sedikit gugup lantaran Raka berada tepat di depannya.


"Emang gila ya, udah tua juga." Jelita berbisik namun masih terdengar jelas.


"Besok-besok kepalamu itu lepas, Ran."


Perkataan Raka yang terdengar dingin justru lucu bagi Radha. Makan bersama keluarga ini terasa begitu hangat, Radha yang sudah lama terbiasa makan semaunya di rumah seakan menemukan hal yang telah lama ia rindukan. Ya, meskipun dengan tanpa kehadiran suaminya siang ini.


"Lucu, Ra?"


"Ah, maaf, Pa."


Kepergok senyum-senyum sendiri di depan mertua adalah hal baru yang ternyata sangat memalukan bagi Radha. Hanya senyum tipis, untuk saja tidak terbahak.


"Kamu jangan buat Radha tegang, Mas."


Raka menatap istrinya, manik hitamnya menuntut penjelasan. Ia hanya sekadar bertanya, karena senyuman Radha sempat ia lihat sebelumnya.


"Memangya aku kenapa?" tanya Raka merasa dirinya memang tidak melakukan kesalahan.


"Sayang, maafin Papamu ya, dia memang sedikit menegangkan." Radha kembali tersenyum, karena memang hanya itu yang dapat ia berikan sebagai jawaban.


"Bukan lagi sedikit, Ra, tapi sangat-sangat menegangkan."


Randy masih saja, padahal nyalinya tak lebih besar dari tanda lahirnya. Dan ia tetap berani melontarkan kalimat spontan yang terkadang dapat mengundang amarah.


"Ck, bisa saja kau Duda akut," sahut Raka tak kalah sembarangannya sembari melempar buah anggur yang mendarat tepat di jidat Randy, dan kali ini Radha sungguh tak mampu menahan tawanya.


Suasana yang sebelumnya sedikit menegangkan kini berubah sehangat itu, Radha bahkan lupa dengan hal yang sempat mengganggu pikirannya. Menyaksikan tiga orang dewasa yang bercengkrama dengan kalimat penuh sindiran tiada henti itu membuat jiwa receh Radha keluar tanpa bisa ia jaga.

__ADS_1


"Lebih baik kau warnai rambutmu, Ran, cepat sekali beruban," canda Raka usai menyinggung status Randy yang menduda begitu lama.


"Ck, ini bukan uban, tapi ini trend, Kak."


Dengan wajah sombongnya Randy menyangkal ucapan Gian, benar-benar tidak tahu zaman, pikirnya. Rambut yang ia warnai dengan biaya tak main-main itu dipandang Raka sebelah mata.


"Trend apa, kau semakin terlihat aneh dengan gayamu itu."


Randy mengalah, memang ia takkan menang melawan pria itu. Bahkan mengalahkan anaknya saja ia tak mampu, apalagi berhadapan dengan Raka.


Usai sudah makan siang kali ini, Radha yang merasa dirinya harus mulai belajar di dapur kini mengambil alih tugas membersihkan meja makan. Dan tentu saja dengan perdebatan singkat lantaran Jelita terus melarangnya.


"Ta, apa yang terjadi? Kenapa lengan Radha bisa seperti itu?"


Inilah yang Jelita takutkan, Ia lupa seharusnya Radha menyembunyikan luka itu dari Raka. Pria itu menatap tajam Jelita, karena baginya keselamatan Radha termasuk hal utama.


"Kamu yang minta dia masak?"


"I-iya, Mas, ini semua salahku."


"Jelita, bukankah kamu tau apa yang ku janjikan pada Ardi? Ck, bagaimana bisa kau seceroboh ini?"


Jelita bingung, karena memang yang bertanggung jawab di sini adalah dia. Walau sebenarnya sejak Radha hendak menghampiri Layla ia telah melarang menantunya itu untuk terlalu dekat.


"Maaf, Mas ... Radha baru belajar masak, dia yang menginginkannya, aku tidak mungkin melarangnya kan," tutur Jelita berusaha membuat Raka tak begini, memang terkadang ia berlebihan merespon hal yang terjadi jika berhubungan dengan orang-orang yang ia sayangi.


"Lain kali jangan izinkan, aku sudah membayar mahal Layla untuk mengerjakan ini semua, dan kau jangan ajak dia ke dapur, Jelita."


Jelita bungkam, jika suaminya sudah berkata begini maka tidak ada yang bisa ia lakukan lagi. Kini, hatinya tengah berusaha untuk tak turut marah dan mencari pelampiasan. Melihat tadi Gian dan kini suaminya juga turut mengeluarkan kemarahannya karena Radha terluka, hatinya merasa hangat sebenarnya.


"Radha," panggil Raka ketika menantunya itu selesai meletakan piring kotor itu ke tempatnya.

__ADS_1


"Iya, Pa?"


"Mulai besok pagi, dapur menjadi area terlarangmu di rumah ini, mengerti?"


Radha membuka matanya lebar-lebar, ia menatap Jelita yang berada di samping Raka memohon jawaban. Dapur, ia sangat suka berada di tempat itu walau hanya Jelita izinkan melakukan hal-hal kecil.


"Dan ini berlaku selama Papa belum memberikan izin untukmu," tutur Raka lagi, bukan hanya karena Radha menantunya, akan tetapi memang Raka menyayanginya seperti anak sendiri.


"Iya, Pa."


Jika saja yang memberikan perintah itu adalah Ardi mungkin Radha akan mampu menolak, namun berbeda dengan pria ini. Ia tak berani walau hanya sekadar bertanya, hanya boleh menganggung dan menerima, itu saja.


"Bagus, Gian harus menjagamu kedepannya."


Di perlakukan bak putri raja, di khawatirkan sepenuhnya dari orang yang tidak memiliki hubungan darah dengannya seakan menjadi puncak kebahagiaan Radha.


Ia berlalu usai menerima banyak pesan dari Raka, dan sudah tentu hal yang Raka ungkapkan akan dilakukan sepenuhnya oleh Gian. Dan hidup di bawah pengawasan lagi-lagi akan ia rasakan, sebenarnya ia sudah cukup tersiksa kala Gian mengikutinya hingga ke sekolah seperti waktu itu, dan ia tak ingin hal konyol semacam itu akan terjadi lagi.


Brugh


"Aww, aduh ... maaf, Mba," ujar Radha meminta maaf karena tak sengaja menabrak Layla yang berjalan dari arah berlawanan dengannya.


"Maaf nona, saya kurang hati-hati," ucapnya terdengar biasa, dan tak ada ketakutan seperti beberapa saat lalu ketika peristiwa tragis itu hampir saja terjadi.


"Darimana?" tanya Radha mencoba menetralisir keadaan, ia tak ingin wanita yang tampak lebih tua beberapa tahun di atasnya ini canggung padanya, karena hingga saat ini Radha bahkan merasa terganggu dengan panggilan nona itu.


"Eeeh cek kamar tuan Haidar, Nyonya yang minta."


Radha mengernyit heran, bukannya sebelumnya ia bahkan tampak kesulitan dalam segala hal. Rasanya tak mungkin di saat tak baik-baiknya Layla mertuanya memerintahkan hal semacam itu.


"Permisi," ucapnya cepat kemudian berlalu meninggalkan Radha yang masih di selimuti banyak pertanyaan.

__ADS_1


"Hmm, terserahlah."


Radha tak ingin ambil pusing, yang menjadi tanggung jawabnya kini adalah mencari suaminya itu. Sudah waktunya Gian makan siang, dan jika benar pria itu akan mogok makan, maka yang tepat untuk di salahkan adalah wanita itu, pikir Radha entah mengapa tiba-tiba kesal saja.


__ADS_2