Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 261. Perasaan Tak Nyaman (Jambu Monyet)


__ADS_3

PRANK


Dada Radha berdenyut tak biasa, gelas yang ia genggam tiba-tiba saja jatuh dan kini pecah. Perasaannya semakin tak nyaman, belum lagi kini Kama masih belum kembali.


"Ya Tuhan, sebenarnya kemana dia," tanya Radha dalam benaknya.


Wajahnya semakin cemas, buru-buru ia bersihkan pecahan gelas itu dengan tangannya tanpa memakai sarung tangan ataupun lainnya.


Karena perasaannya kacau, Radha tak sadar kala pecahan itu kini menggores jemarinya. Perih itu terasa dan sontak berteriak kala darah itu mengucur begitu segarnya.


"Aaarrgghhh? Aduh, drama banget sumpah!!"


Ketar ketir Radha bingung harus melakukan apa lebih dulu, beruntung saja Kalila tidak sedang bersamanya. Dan kini Layla menghampiri dengan wajah datar seperti biasa.


"Kenapa Non?"


Sudah tahu tapi masih bertanya, ingin rasanya Radha caci wanita itu. Bukannya cepat membersihkan dia justru hanya melihat Radha yang kini membasuh lukanya dengan air.


"Layla, tolong bersihkan pecahan gelasnya, tanganku terluka."


Radha sudah meminta baik-baik, akan tetapi Layla justru mengambilkan sapu dan dan peralatan lain untuk Radha membersihkannya.


"Maaf, Nona, saya harus menyiapkan minuman untuk tuan Besar," ucapnya sangat sopan namun entah kenapa Radha merasa dia justru tengah menari di atas penderitaan Radha.


"Ya sudah, lakukan tugasmu."


Sebenarnya dia kerap mendapatkan pembedaan di mata Layla, walau memang tak terungkap langsung akan tetapi Radha sangat sadar dan mengenali ciri-ciri orang.


Bagaimana cara Layla yang sama sekali tak menganggap Radha sebagai nyonya rumah walau Gian sudah berkali-kali menekankan bahwa Radha juga ratu di rumah ini.


Perempuan itu berlalu dan menyeduh air untuk menyiapkan minuman Raka. Radha yang tak punya pilihan lain hanya bisa menerima dan melakukan apa yang menjadi kewajibannya.


"Non, biar saya saja."


Radha sudah kembali berlutut dan Asih menghampirinya. Beruntung wanita paruh baya itu datang di saat yang cepat, hingga Radha mampu untuk mengurangi sedikit gerak tangannya.


"Terima kasih, Bi," ucap Radha tulus dan diangguki cepat oleh Asih yang kini mengambil alih tugas Radha.


Matanya menatap tajam Layla yang dengan tanpa rasa bersalah hanya sibuk menanti air itu mendidih, seakan tugas dia hanya itu dan tak peduli dengan apa yang kini terjadi di dekatnya.


Selepas Radha berlalu, Asih menghampiri Layla dan berbisik dengan kemarahan yang kian membuncah.


"Kamu jangan ngelunjak, lupa kejadian yang sudah berlalu? Kamu hampir terbakar karena kemarahan tuan muda."


"Memangnya aku membuat kesalahan apa? Bukankah dia terluka karena ulahnya sendiri?"


Sebagai orang yang lebih tua, Asih tak mau gadis yang sekamar dengannya berlama-lama dengan kebencian yang tak seharusnya. Selama Radha menjadi menantu Jelita, tak pernah sedikitpun dia membedakan status mereka, bahkan sebaik itu dan mau melakukan tugasnya tanpa campur tangan dari mereka.


"Sadar diri, sebelum Nyonya tahu bagaimana hatimu, di depannya mungkin kau bisa sembunyi dengan senyum manis dan wajah polosmu itu, tapi tidak di depan tuan muda," tutur Asih mengingatkan Layla untuk kesekian kalinya, kalimat panjang yang berhasil membuatnya terdiam sejenak.


Menggeleng pelan dan kembali dengan tugasnya, Asih paham ternyata wajah cantik tak menjamin bagaimana sifat seseorang bisa baik atau tidak. Karena jika dilihat, Layla seharusnya anak yang baik.


Meninggalkan kedua wanita beda usia itu, Radha kini kembali ke kamar. Dengan sedikit meringis ia menahan perih dan membalut lukanya.


Hanya luka kecil, akan tetapi Radha tak setegar itu dengan darah yang keluar dari tubuhnya. Ia menatap jarum jam, suaminya belum juga pulang.


Mencoba menghubungi Gian akan tetapi pria itu tak juga mengangkatnya. Demi Tuhan saat ini Radha hanya khawatir, ia tak bisa menahan diri dari apa yang berkecamuk dalam batinnya.


"Ck, pulang apa salahnya sih!! Lagian Kak Gian udah tua masih aja," kesal Radha membuang napas kasarnya.


-


.

__ADS_1


.


.


Selesai dengan jemari malangnya, kini Radha berlalu dan memilih memantau kedatangan dua pria sejati dalam hidupnya itu di balkon.


Dengan sabar ia menanti, walau dengan emosi yang semakin menjadi. Putranya masih kecil sudah diajak kabur hingga hampir gelap, semua cacian sudah Radha persiapan kini.


"Bagooosss!! Baru pulang!!" seru Radha kala menatap pemandangan yang sejak tadi ia nantikan.


Gian memasuki gerbang dengan kecepatan sedang, dan Radha menghampiri mereka dengan langkah panjang. Setelah membuat hatinya tak karuan akhirnya pria itu pulang juga.


Rumah itu cukup luas, tubuhnya yang kecil tak bisa secepat itu untuk tiba di teras. Mata tajamnya menatap ke arah Gian yang kini melangkah santai dengan membawa putranya yang juga sama santainya.


"Mama, kenapa nunggu diluar? Kangen papa ya?"


Bisa-bisanya dia sesantai itu sedangkan dada Radha seakan genderang perang. Matanya masih tak Melepaskan Gian sedetikpun, dan kini wajahnya merah padam membuat Gian menelan salivanya pahit.


"Sayang?"


"Dari mana kamu?" tanya Radha sembari bersedekap dada, wajah cengar cengir Gian semakin membuatnya terobsesi untuk melemparkan sendal di wajahnya.


"Mama marah," bisik Gian di telinga Kama, dan Kama yang belum bisa menjelaskan dengan baik hanya berceloteh tak jelas dan membuat hati Radha secepat itu luluh.


Radha menghela napas lega, walau amarahnya masih membuncah setidaknya suaminya kini pulang dengan selamat.


"Setidaknya izin, Kak, aku khawatir."


Suaranya tampak bergetar, dan Gian yang merasa bersalah hanya melangkah semakin dekat. Menarik istrinya dalam pelukan, dan mengelus pelan pundaknya.


"Kakak tidak kemana-mana, hanya cari angin segar sama Kama."


Bayinya yang kini menggenggam jambu entah Gian dapatkan dari mana menatap Radha begitu tulus dengan mata polosnya.


"Maling dimana?"


"Fans Kama yang kasih," ujar Gian santai, karena memang bisa dikatakan demikian, pikirnya.


"Fans?" Radha mengerutkan dahi, ia sedikit tak yakin dengan ucapan Gian sebenarnya.


"Iya serius, masih banyak di mobil, tolong ambil ya, Sayang."


Firasat Radha tiba-tiba jadi buruk, sebenarnya apa yang dilakukan mereka hingga pulang membawa banyak oleh-oleh.


"Allahuma!! Kenapa sebanyak ini?"


Radha kaget, ternyata buah yang Kama pegang bukanlah satu-satunya. Akan tetapi ada sekantong besar dan Radha bingung kenapa Gian mau menerimanya.


"Nggak apa-apa, Mama suka, Ra ... bawa masuk ya," titahnya dengan begitu santai tanpa memikirkan seberapa berat kantong plastik itu.


"Dia kenapa tega sekali sama aku akhir-akhir ini, berat Dirgantara!!!" teriaknya kesal, jika hanya sekantong kecil mungkin Radha takkan mengeluh, pasalnya memang jambu itu cukup untuk sekeluarga besar.


"Heeeh!! Tadi panggil apa?"


Gian berbalik dengan langkah santainya, sudah lama istrinya tidak teriak-teriak seperti ini. Bukannya membantu pria itu justru hanya menyaksikan istrinya.


"Semangat dong, paling juga lima kilo, Sayang, nggak berat kok."


"Matamu nggak berat, Kakak aja yang bawa ... aku gendong Kama."


"Yee dia lebih dari lima kilo, Radhania ... kamu ini bagaimana, wajar saja nilai matematikamu anjlok sewaktu UN," tutur Gian sempat-sempatnya menghina nilai Radha.


"Diam!! Aku lempar mau?" ancam Radha yang tak bisa dipungkiri ia memang sekesal itu jika seseorang membahas nilainya.

__ADS_1


Pria itu terbahak, kenapa istrinya jadi persis anak kecil yang tak terima keadaan.


"Yaudah sini Kakak yang bawa," ujarnya menghampiri Radha, pada akhirnya Gian yang membawa semuanya.


"Jarinya kenapa?"


Baru sadar ketika dia meraih kantong plastik itu dari tangan Radha, jika Gian lihat itu luka yang baru karena sebelumnya ia tak menyadari ada benda itu di kemari istrinya.


"Luka," jawab Radha singkat, tak ingin terlalu lama dan banyak basa basinya, karena memang demikian adanya.


"Karena apa?"


Gian mulai serius, ia sudah tak peduli dengan jambu-jambu itu. Kama yang menyaksikan jambunya tercecer heboh sendiri dan Radha tak tahan melihatnya.


"Hahahah Kakak juga kenapa di jatohin, kan keluar begini jadinya."


Radha memungut beberapa buah yang jatuh itu, baru Kama bisa diam ketika hartanya itu diamankan.


"Perih? Kenapa bisa luka? Kamu motong apa?" Gian tak membahas perihal jambu, ia lebih memilih fokus dengan luka di jemari istrinya.


"Nggak, bukan karena pisau ... tapi aku ceroboh tadi pas mau minum," jelas Radha dengan wajah tenangnya, paniknya Kama ketika jambunya berguling membuat Radha seakan lupa dengan lukanya.


"Gelasnya pecah? Kamu bersihin sendiri?" tanya Gian tak menerima candaan dulu saat ini, walau Radha tengah kesulitan bernapas karena lagi-lagi tertawa melihat wajah Kama.


"Zura, jawab Kakak," pinta Gian dengan nada pasrahnya, ingin kesal dengan tingkah sang istri akan tetapi ia masih tak tega.


"Bi Asih yang bersihin, aku kena dikit doang jadinya berdarah," jelas Radha pada akhirnya, selama ini ia memang sangat berhati-hati karena Gian akan terus begini jika dirinya lecet walau hanya sedikit.


"Masuklah," titahnya meminta Radha masuk lebih dulu, dan tentu saja karena amukan Kama ia terpaksa membawa serta kantong plastik berisikan jambu monyet sebanyak itu.


"Ini bukan mainan, Kama, kenapa kau sesenang ini," ujar Gian tak bisa menahan tawanya, padahal dia sudah menggenggam satu buah, akan tetapi masih saja Kama seakan tak rela jika yang lainnya hanya terbuang siang.


-


.


.


.


Selesai makan malam, Radha pikir ia akan sedikit tenang. Nyatanya ia masih merasa hatinya tak nyaman. Dia tak kenyang sama sekali, Gian menyadari bahwa istrinya seakan menyembunyikan sesuatu darinya.


"Ra? Kamu kenapa?"


Radha menggeleng sembari menghela napas pelan, jika pecahan gelas tadi hanya pertanda khawatirnya pada Gian dan Kama, kenapa sampai saat ini masih sama rasanya.


"Katakan kamu kenapa sebenarnya, mata kamu nggak bisa bohong, Sayang."


Radha menatap kedua buah hatinya tengah berceloteh satu sama lain. Mungkin keduanya tengah saling berbagi pengalaman tentang hari ini.


"Kamu sedih? Mereka selucu itu masa sedih?"


Gian membelai wajah istrinya, menepikan rambut yang mengganggu dan menatap lekat mata Radha yang kini jelas tengah memikirkan sesuatu.


"Perasaan aku nggak enak, Kak, tapi aku nggak tau kenapa."


Ia berucap sedikit bergetar, Radha menghela napas pelan berkali-kali. Kacau, namun ia tak bisa mengungkapkan kenapa dirinya.


"Nggak enak gimana?" Gian bertanya serius, karena jika istrinya begini terus ia juga merasa tak nyaman.


"Nggak tau, Kak, bingung juga."


"Istighfar, mungkin cuma perasaan kamu, tidak akan ada hal buruk, semua baik-baik saja, percaya sama Kakak." Gian menarik pergelangan tangan Radha dan menempelkannya tepat di dada Gian, untuk meyakinkan jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari perasaan yang tak nyaman itu.

__ADS_1


🌻


Aku up 1500 kata, semoga masih nyaman buat bacanya.


__ADS_2