Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 135. TIADA TANDINGAN (SUAMIKU)


__ADS_3

“Eh kita di sini aja.” Helena menarik pergelangan tangan Radha ketempat biasa ia makan.


“Memangnya kenapa? Kok panik gitu?” tanya Radha mengernyit heran, merasa apa yang Helena lakukan terlihat mencurigakan.


“Gue lupa kasih tau lu, di sekolah ini ada tingkatan-tingkatan gitu, begitu juga sama tempat makannya.”


“Maksudnya?” Merasa semakin aneh dengan ucapan Helena.


“Sini, kita ceritanya sambal duduk aja, biar fokus ceunnah.”


Ia memandang sekeliling, memastikan tempat yang aman untuk berghibah. Hal yang sudah lama tidak ia lakukan semenjak sahabat karibnya pindah dengan alasan menu makanan di kantin sekolah tak sesuai seleranya.


“Nah di situ aja, lu duduk duluan gue pesenin makanan … lu mau makan apa?”


“Keknya pecel lele enak deh,” jawab Radha usai berpikir dengan matang, mengingat sudah lama ia tak menyantap makanan itu.


“Ck, gausah becanda deh, di sini gak ada pecel lele, Radha … depan sekolah kalau lu mau, yang balehonya segede gaban itu.”


“Ya terus apa dong? Bakso ada kan? Masa ga ada juga.” Ia mengeluh lebih dahulu karena bagi dia hanya itu makanan andalan bila berada di luar dan dirinya tengah lapar.


“Oh ada, Ra … lu mau bakso apa?” tanya Helena lagi, karena variasinya sangat banyak dan ia tak mau salah memilih untuk Radha.


“Adanya bakso apa?”


“Oh banyak, bakso urat, bakso daging, bakso telor, bakso mercon, sama bakso hamil juga ada, Ra” Begitu lihai ia menyebutkan menu yang ada, Radha menganga namun dalam menyebutkan menunya Helena tak terlihat bercanda.


“Ha-hamil?” Radha memastikan, karena mungkin bisa jadi telinganya yang bermasalah.

__ADS_1


“Iya, memang namanya begitu, Ra.” Sadar jika Radha memandangnya sedikit aneh, Helena memberikan penjelasan pada temannya ini.


“Mie ayam aja deh kalau ada,” tuturnya membuat Helena menyesal bicara panjang lebar.


“Oke, tunggu ya.”


Sementara Helena yang kini memesan makanan, Radha duduk ke kursi yang tadi menjadi pilihan Helena. Beberapa orang menatapnya dengan pandangan yang tak dapat Radha artikan, senang, kesal atau merasa penasaran juga ia tak terlalu peduli. Yang jelas saat ini ia tak ingin membuat diirnya berada di posisi seperti di sekolah yang sebelumnya.


Dan sesi perghibahan di mulai ketika Helena menghampirinya. Sejak tadi Radha sudah menunggu gadis itu bicara, namun was-wasnya Helena semakin menimbulkan tanya.


“Oke gue mulai ya.”


“Sebelum lu kejebak, gue jelasin dulu profil ni sekolah dari sudut pandang gue sebagai pelajar di sini ya.” Radha mengangguk, ia menunggu cerita Helena tak sabar.


“Sekolah ini adalah sekolah elite yang isinya sudah bisa dipastikan rata-rata dari kalangan menengah ke atas, gue rasa tanpa di jelasin ini lu udah tau ya. Nah tapi, yang lebih penting disini adalah, pergaulan di sini punya tingkatan-tingkatan dari beberapa kelompok sesuai keadaan ekomomi, paham gak lu?”


“Gue serius, Ra … dan lu perhatiin kantinnya, tempat ini terbagi menjadi empat yang dimana makanpun tempatnya jadi beda-beda. FYI ini bukan sekolah yang ciptain aturan ya, tapi tradisi begini turun temurun begitu sejak sekolah ini di dirikan, kek semacem kasta gitu intinya.”


“Kasta? Tunggu-tunggu, ini sekolah peninggalaan india apa gimana?”


“Aduh, gak mesti ada unsur Indianya, Radha … tapi memang ini udah begini gitu. Lu sebenernya niat dengerin gue gak sih?”


Mulai merasa sebal lantaran Radha memberikan respon yang sedikit membuatnya merasa sia-sia banyak bicara. Radha mengangguk, bukan ia tak tertarik, tapi karena ia sedikit terkejut dengan hal semacam ini di sekolah barunya. Ya meskipun di sekolah lama memang dia ada hal-hal semacam ini, tapi sepertinya tidak sekeras di sini.


“Terusin, Ele … tingkatannya gimana? Ada namanya gitu, sudra atau setingkatnya?” Helena hampir menyerah, Radha benar-benar menganggap perbedaan di sekolahnya seperti kasta di India.


“No!! Jadi gini, sebenernya ga ada namanya, tapi dari golongan yang ada, ini bisa di bedakan jadi empat, Ra. Golongan pertama, ini sekelas putra putri konglomerat dan pemimpin perusahaan yang menguasai dunia bisnis baik di dalam negeri maupun luar negeri. Kedua, mereka adalah sekumpulan anak pemilik perusahaan besar juga, tapi tidak sekaya yang pertama. Ketiga, mereka adalah anak para pejabat tinggi negeri yang pangkat orang tuanya udah tinggi ataupun anak orang-orang berpengaruh di masyarakat, tapi tidak termasuk anak lurah ya, Ra … aduh sebentar minum dulu.”

__ADS_1


Menjelaskan panjang lebar seperti itu rasanya sungguh melelahkan, ia menyeruput es teh yang sejak tadi berada di mejanya. Sedangkan Radha mendengarkan begitu teliti bahkan ia belum menyentuh makananya demi mendengar informasi yang sebenarnya tak terlalu sepenting itu.


“Lanjut yang terakhir, sebenernya masih termasuk kaya sih, kek bokap gue ya walaupun ga kaya-kaya amat. Nah yang keempat ini adalah sekelompok anak dari seseorang yang bekerja di instansi-instansi besar, atau bisa di bilang orang yang tidak memiliki perusahaan sendiri ataupun gak termasuk orang-orang berpengaruh gitu kira-kira.”


Radha mengangguk mengerti, sekeras itu perbedaan di tempat ini. Walau sejak awal ia masuk memang tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa sekolah ini bisa menerima seluruh kalangan. Namun dari yang Radha ketahui, kualitas mereka yang sekolah di tempat ini juga tak main-main, bahkan banyak yang memenangkan olimpiade hingga tingkat internasional.


“Nah kalau lu masuk golongan mana, Ra?”


“Golongan darah A aja deh kalau gue, ribet amat sekolah doang pakek gituan.” Radha menjawab asal dan membuat Helena memutar bola matanya malas. Penampilan Radha yang memang rapi, namun tidak memperlihatkan satupun perhiasan di tubuhnya membuat Helena tak bisa menebak siapa Radha sebenarnya.


“Selain itu, apa lagi hal menarik tentang sekolah ini, Le?” tanya Radha yang memang sedikit penasaran, karena meski sangat mahal dan sulit untuk masuk ke tempat ini, begitu banyak orang yang berbondong-bondong untuk masuk ke sekolah ini, SMA BRATA WIJAYA, persis nama belakang mertuanya, pikir Radha.


“Nah ini juga wajib lu tau, selain sekolah ini jadi favorit selama bertahun-tahun, cowok di sini ga main-main, Ra. Gantengnya gak ngotak gila!!”


Namun yang Helena heran, reaksi Radha begitu berbeda dengan yang lainnya bila membahas perihal laki-laki. Ia tampak biasa saja padahal Helena sudah mengatakannya dengan ekspresi yang sangat luat biasa.


“Tapi ceweknya juga cantik-cantik, mereka perawatan dimana ya?” Radha berucap sembari menatap jauh para siswi yang berada di sekelilingnya.


“Ih kok lu malah bahas ceweknya, aneh banget.”


“Hm, di SMA gue dulu cowok-cowoknya juga cakep, gue liat-liat sih masih wajar tu, matanya masih dua, hidungnya masih satu, ya kek cowok-cowok pada umunya lah.”


“Ya terus defenisi cakep menurut l utu yang matanya tiga atau ada kelainan gitu, Ra? Sumpah aneh banget lu asli.” Sungguh menjadi tanya bagi Helena, mengapa teman barunya ini seakan tak bernafsu dengan laki-laki.


“Ga ada yang lebih cakep dari laki gue, Ele … Blasteran surga malah, lu aja belom liat.” Radha senyum-senyum sendiri membayangkan suaminya kini, karena pria yang membuatnya berhenti dalam segala hal hanyalah Gian, tiada yang lebih tampan dari suaminya itu bagi Radha, sekalipun itu Ardi.


Babay🤗❣️

__ADS_1


__ADS_2