Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 159. Kisi-Kisi Masa Depan


__ADS_3

"Lagi?"


Radha tercengang kala Gian minum cukup banyak. Bahkan sudah dua gelas besar berlalu ke perutnya. Menemani dirinya makan malam, Gian bahkan tak mau mengenakan pakain terlebih dahulu dengan alasan takut akan Radha tinggalkan.


Bahkan ia hanya mengenakan boxer itu sebagai penutup separuh auratnya. Pria itu tetap mengantuk, namun ia sangat enggan jika harus tidur tanpa Radha.


"Kakak nggak makan?" tanya Radha menatap suaminya yang sejak tadi hanya minum dan tak peduli dengan makanan di depannya.


"Nggak, Kakak kennyang."


Ia menguap lagi dan lagi, tampaknya Gian memang benar-benar mengantuk. Dan kini dengan sisa tenaganya masih mencoba menemani istrinya yang makan dengan lahap usai pertempuran panasnya dengan Gian.


Tuduhan keji yang kini melekat dalam dirinya tak terlalu Gian pedulikan, meski seperti yang ia kini sadari bahkan Asih terlihat menghindari tatapannya ketika wanita itu berlalu ke kamar belakang.


"Kamu laper banget ya?"


"Hm, sejak tadi aku lapar," jawab Radha apa adanya. Toh memang sejak tadi ia susah payah menahan lapar, namun Gia bahkan tak memberinya kesempatan untuk pergi sebentar saja.


"Kenapa nggak bilang?" tanya Gian seakan lupa diri, Radha sempat mengeluhkan hal itu namun ia seakan tak mau peduli.


"Kakak nggak denger, ketiduran atau pura-pura tidur aku juga nggak tau."


Benar-benar pandai istrinya menjawab, pria itu dibuat bungkam dan tak mampu mengatakan hal macam-macam lagi.


Tanda kemerahan di dada Radha yang sedikit terlihat membuat Gian merasa menang. Tak dia duga akan mendapatkan hadiah semenarik itu setelah kepulangannya, sejenak pria itu kini mengingat guci dari koh Malih, apa mungkin benar-benar sebuah anugerah, pikirnya.


"Sayang," panggil Gian lagi seakan benar-benar lupa jika kini mereka tak sendiri, ada Layla yang melanjutkan tugasnya untuk mencuci piring kotor.


"Apaa?"


"Kalau kita punya anak, bagaimana?"


Uhuk-Uhuk


Radha kini menyemburkan makanannya, ucapan Gian membuatnya tersedak nasi. Pria itu memang kerap mengatakan hal macam-macam dan itu tak peduli tempat.


"Seperti tidak punya waktu lain saja," turur Radha dan mendapat senyum tak jelas dari Gian.


"Kakak serius, Ra ... tadi Kakak ketemu bayi, tapi Mama sama Papanya berantem mulu, Kakak takut jika nanti punya anak kamu akan kasar seperti wanita tadi," tutur Gian mengungkapkan kekhawatirannya.

__ADS_1


Bagaimana tidak, ia sangat takut jika nanti Radha menjelma menjadi ibu-ibu berdaster yang memiliki aamarah luar biasa tanpa bisa ia tahan sekalipun.


"Tergantung situasi, Kak ... biasanya ga semua orang begitu sih, suaminya aja banyak ulah."


Radha menjawab ketus, Gian terdiam dan kembali fokus menatap istrinya Itu. Wajah ayu yang akan selalu ia ingat, dan bibir mungil yang terkadang membuat jiwa kelelakiannya itu akan selalu menjadi candu bagi Gian.


"Kok gitu, Ra?"


"Iya memang begitu, kalau suaminya nyebelin ya pasti istrinya ngamuk lah."


Benar juga ucapan Radha, namun seketika Gian mengerutkan dahi dan menganggap Radha tengah menganggap dirinya menyebalkan.


"Kakak emang nyebelin, Ra?"


"Enggak dong, kalau Kakak mah beda."


Senyum itu terbit, entah Radha berbohong atau tidak, namun yang pasti pria itu kini merasa terhibur. Ada keyakinan jika rumah tangganya akan lebih baik dibanding teman-temannya yang lain.


"Hm, nanti kalau kita udah punya anak, Kakak nggak mau kerja boleh ya?" tutur Gian yang membuat Radha tercengang, baru kali ini ia menemukan jenis calon ayah yang tak mau bekerja jika sudah memiliki anak.


"Terus siapa yang kerja?"


"Duit papa banyak, Kakak nggak kerja satu tahun pun tetep bakal nyaman hidup kita," tutur Gian seenak jidatnya, entah darimana dia dapat perkataan simple itu.


Jawaban pas bak bongkahan batu besar menghamtam dadanya. Pria itu menganga dan baru kali ini ia seakan lemah di hadapan wanita.


"Masa begitu si?"


"Iya!!! Memang begitu."


Mereka berdebat atau apa, sejak tadi Jelita dan Raka mengintip apa yang terjadi di meja makan. Sungguh Raka benar-benar tak percaya kenapa putranya itu berubah sedemikian rupa.


Tanpa mengenakan baju, anaknya persis bocah ingusan yang ikut makan di warteg, ya Tuhan kenapa putranya jadi persis Andra, pikir Raka menggelengkan kepala.


"Mas, kenapa aku makin ragu, sebenarnya Gian kenapa?"


"Ck, tadi kamu yang bela dia, sekarang kamu yang ikut panik, gimana sii."


Jelita juga bingung, sebenarnya ia tadi hanya membela Gian di hadapan para pekerjanya. Dan bagaimanapun dia, memang tetap darah dagingnya.

__ADS_1


"Aku cuma takut, Mas ... tuh-tuh lihat, dia merem tapi ngunyah, Mas."


Jelita makin panik kala Gian menerima suapan Radha namun matanya justru terpejam, persis orang kurang waras, belum lagi senyum-senyum tak jelas yang terukir di wajah Gian membuat Jelita memutuskan untuk menghampiri putranya.


"Ta!! Heei, jangan gegabah, bagaimana jika nanti justru makin kenapa-napa?"


"Mas, aku nggak bisa biarin, Gian masih muda, aku belum punya cucu loh, Mas."


Jelita tak bisa lagi tinggal diam, ia benar-benar kalut menghadapi situasi di depannya. Sangat disayangkan jika putra tampannya mengalami kejadian yang tak diinginkan di usia mudanya.


"Aduh, kau khawatir putraku gila, adikmu saja lebih gila bagaimana kau ini?"


Ucapan itu tak Jelita dengar lagi, ia kini menghampiri Gian dan menjewer putranya agar kesadarannya kembali. Agaknya Gian hidup dalam alam bawah sadar, pikir Jelita.


"Aaaaaakkkkhhh, Mama!!! Sakit."


Gian tersadar begitu sakit menjalar di daun telinganya. Sakit sekali, dan Radha menjadi saksi bagaimana suaminya itu meringis dan menggosok telinganya itu berkali-kali.


"Kamu kenapa sih, Gian? Haa?!! Salah makan atau apa sebenarnya?"


"Apa maksud Mama? Memang apa yang aneh denganku?"


Jelas ia bingung, Gian menegak sisa air minumnya hingga tandas. Pria itu menatap nyalang sang mama yang menatapnya tak kalah sengit.


"Radha jawab Mama, suami kamu sebenarnya kenapa?"


"Enggak kenapa-napa, Ma, kak Gian ngantuk, tadi dia tidur tapi kebangun dan ikut aku makan malem, makanya dia begitu."


Penjelasan Radha membuatnya menatap putranya itu sekali lagi. Penampilannya yang baru kali ini ia lihat ketika Gian dewasa masih menjadi tanya baginya. Sejak dulu Gian bahkan harus wangi baru mau keluar kamar, sedangkan kini? Dia tidak lagi punya rasa malu atau bagaimana.


"Terus kenapa kamu keluar persis pria cabul begini?"


"Ck, Mama seperti tidak pernah muda saja ... aku lagi usaha ekstra buat Mama biar cepet dapet cucu, apa salahnya? Wajar kan aku bahkan tidak sempat mandi."


Raka malu, bukan hanya Radha yang kini malu. Kenapa putranya ini menjadi liar dalam perkataan dan tanpa malu ia berucap.


"Aaah benar begitu?"


"Hm, kalau tidak percaya tanya saja sama Zura," tuturnya biasa saja tanpa beban dan tak peduli seberapa besar rasa malu istrinya itu.

__ADS_1


Babay🙏


Maaf, Author yang gasempurna dalam segala hal ini hanya coba buat tuangin kasih sayang ke tulisan ini. Doain Gian naek level!!😎 Jangan tinggalin ya, karena Author tanpa pembaca hanya butiran debu tanpa makna. Love You!!💞


__ADS_2