Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 178. Suami Komplit


__ADS_3

Nyatanya siang ini Gian menghabiskan waktu cukup banyak. Sibuk berkutat dengan pekerjaannya hingga pria itu lupa bahwa kini sudah gelap. Sudah sejak tadi Reyhans mengingatkan, akan tetapi pria itu meminta Reyhans untuk meninggalkannya.


Tentu saja dengan alasan Radha yang masih bersama mamanya, meski ia pulang Radha juga tak bisa untuk bersamanya segera. Jadi, lebih baik Gian menuntaskan pekerjaannya lebih dulu.


"Ah, kepalaku makin sakit," keluh Gian mengurut pelipisnya, memang pekerjaannya cukup membuat kepala dan matanya kian sakit.


Ia menoleh ke belakang, pamandangan kota di malam hari terlihat indah ruangannya. Sejenak ia merenggangkan otot-otot sebelum meninggalkan ruangannya.


Teh hangat yang tadi Reyhans berikan sudah sedikit dingin, namun Gian masih menegaknya. Ia menarik sudut bibir menyadari bagaimana perhatian Reyhans yang terkadang menggelitik hatinya.


"Kau masih sama, baik tapi aku takut, Reyhans."


Berlindung dari balik kata baik, Gian trauma dengan sosok-sosok yang baik dalam hidupnya. Berapa orang yang meyakinkan bahwa mereka akan selalu berada di sisinya, nyatanya semua menyayat dalam satu waktu.


Entah bagaimana benarnya, namun yang menjadi keyakinan Gian perselingkuhan antara Adinda dan Reyhans selama dia terbaring di rumah sakit memang nyata, belum lagi pengakuan Adinda yang mengatakan bahwa dia menginginkan hal lebih dan Gian tak mampu memberikannya.


Sebuah alasan yang benar-benar Gian tak paham dimana salahnya. Apa yang menjadi penyebab utama sedangkan segalanya telah Gian berikan pada wanita itu, apa yang kurang darinya sehingga Reyhans menjadi pembandingnya dalam hati Adinda.


"Hm, lupakan ... lebih baik aku pulang, istriku pasti sudah menunggu."


Sendirian, ia lebih baik mengemudi sendiri daripada harus terpancing emosi lagi karena Reyhans di sisinya. Ya, meskipun tetap saja emosinya tetap ada karena hal lain, macet contohnya.


"Haruskah besok aku pergi pakai jet pribadi saja? Menyebalkan sekali."


Tiada hari tanpa mengomel, karena hidup Gian memang dari kecil begitu adanya. Hidup bersama Randy sejak masih balita melatih bibirnya bahkan mengalahkan kapasitas perempuan.


Selama perjalanan, campur aduk perasaan Gian. Ia menatap ke sisi kirinya, para pedagang kaki lima yang Radha sukai masih berderet di sana.


Bahkan hal sekecil ini membuat Gian hanya mengingat istrinya, bagaimana tingkahnya, bagaimana tawanya Gian ingat dengan jelas.


Perjalanannya menuju kediaman Randy terhambat cukup lama. Beberapa alasannya membuat Gian memilih jalan lain karena takut gelap, ada-ada saja memang. Ia bahkan rela memutar arah karena lampu jalan di tempat itu mati total.


"Kenapa mereka bisa hidup di tempat segelap itu? Mengerikan," tutur Gian dengan perasaan yang tidak baik-baik saja.


-


.


.

__ADS_1


"Loh, Gi? Kok nggak bilang Mama mau kesini, untung kita berdua belum pulang." Jelita yang membuka pintu kaget menyadari kedatangan putranya.


"Aku jemput Zura, Ma ... kangen," ucapnya sembari menatap ke belakang mencari sosok peri kecilnya.


"Ya ampun, baru juga berapa jam." Jelita tersenyum hangat, ia meraih paper bag yang Gian serahkan, entah apa isinya dia juga tidak tahu.


"Buat Zura sama Caterine, Mama lain kali ya," ujarnya sebelum Jelita berteriak kegirangan ketika melihat isinya.


"Pilih kasih kamu, Gi."


Jelita bercanda, mana mungkin ia benar-benar menganggap putranya pilih kasih. Sempat ia intip, gaun yang sama dengan warna yang berbeda Gian, persis seperti seorang kakak yang membawa oleh-oleh untuk adiknya.


Melangkah masuk, ia sabar menunggu istrinya keluar dari kamar Caterine. Entah apa yang kini tengah Radha lakukan, ia hanya menunggu di sofa ruang tamu.


Derab langkah kedua wanita itu mulai terdengar, Gian dengan gaya yang tetap sebagai pria dingin tak menunjukkan ekspresi berlebihan. Fokus dengan ponsel di tangannya, padahal kini jiwanya tengah berteriak meminta pelukan.


"Kakak baru pulang? Kok malem?" tanya Radha kini duduk di sisi suaminya.


"Hm, Kakak lembur sedikit," jawab Gian kini menutup ponselnya, memasukan benda pipih itu kembali ke sakunya.


"Capek dong?"


Gian menarik sudut bibir, pertanyaan yang seharusnya Radha tahu jawabannya tanpa bertanya. Pria itu menatap lekat wajah istrinya, manik tulus yang tak bisa Gian abaikan.


"Badut, enak aja. Kak Caterine yang jago kan? Aku jadi mirip Gigi Hadid ... iya kan?" Dengan percaya dirinya, ia mengagumi dirinya sejak tadi, sengaja tak menghapusnya sama sekali agar Gian dapat melihat penampilannya yang berbeda.


"Gigi Hadid siapa? Kakak nggak kenal," celetuk Gian masih menatap aneh wajah istrinya, sungguh warna bibir yang membuatnya terlihat seperti wanita malam sangat tidak Gian sukai.


"Ih masa nggak kenal si, pacarnya Zayn malik," jelas Radha seakan memang model kelas dunia itu adalah keluarganya.


"Bukan pacarnya, udah putus sama mas Zayn," ucap Gian yang tanpa sadar juga ternyata lebih tahu dari Radha.


"Lah, katanya nggak kenal tapi tau gosipnya."


Caterine yang menyaksikan bagaimana mereka hanya tertawa begitu puasnya, wajah Gian sangat serius, tapi, apa yang ia ucapkan benar-benar puncak komedi bagi Caterine.


"Kak Gian, Zayn malik orang mana?"


"Ujung kulon, Ra ... mana Kakak tau lah."

__ADS_1


"Hahaha ... sembarangan!!"


"Ya jangan tanya Kakak makanya."


Pembicaraan sederhana, namun membuat suasana di ruangan itu hidup seketika. Belum lagi kala kedua wanita itu mencoba gaun Gian beli beberapa waktu lalu, ada saja protes Radha yang membuatnya tak mampu menahan tawa.


"Kakak, bajunya bagus ... tapi kenapa pinggangku berasa makin gede ya," ujar Radha dengan wajah tertekuknya, ia merasakan perubahan besar dalam hidupnya, entah perasaannya atau memang nyata.


Berdiri berdampingan dengan Caterine yang memiliki tubuh tinggi dan langsing, membuat Radha semakin merasa bak botol yakult. Belum lagi, bentuk gaun itu sama hanya berbeda ukuran dan warna saja.


"Ya gede lah, kamu pubertas wajar aja ngembang."


"Ih jahat banget sih mulutnya, ngembang ... Kakak pikir aku adonan atau apa."


"Kamu cantik, Ra ... jangan lihat aku makanya, badanku tulang semua makanya kamu berasa gede."


Sebagai seseorang yang mengerti perasaan perempuan, Caterine menenangkan Radha dengan caranya. Ia tak ingin membuat Radha terpuruk, meski kalimat yang Gian pilih memang agak sensitif jika di dengar oleh kaum hawa.


"Hahaha, Zura ... tinggi kamu berapa sih?" Seakan puas dengan wajah Radha yang merasa semakin tersiksa, Gian makin menggodanya.


"Lima hektar!! Puas?!!"


"Hektar, lebar dong, Sayang."


Alih-alih membuat Gian sadar, jawabannya justru semakin meletakannya di posisi ter-bully. Sungguh Radha sudah lama tak mendapatkan pertanyaan menyebalkan macam itu.


"Ck, Gian ... jangan kebiasaan kamu, nggak liat bibir istrinya manyun begitu." Jelita melempar putranya dengan bantalan sofa karena kesal melihat tawa puas Gian di atas derita Radha.


"Liat, sini Sayang kakak buat makin manyun." Ya, mungkin kategori makhluk paling menyebalkan adalah Gian bagi Radha.


"Sabar, Bu ... tahan emosi Anda." Caterine yang menyadari akan ada macan ngamuk hanya mampu mengatakan itu meski kini ia susah payan menahan tawanya.


"Mama!!!" 😫


"Cengeng banget, Neng ... Kakak kawinin mau?" goda Gian yang membuat Radha ingin menarik bibir suaminya itu.


"Gian!! Mama jahit mulut kamu mau?"


"Kalau di jahit Zura gabisa rasain ciuman suaminya lagi dong, Ma."

__ADS_1


Benar-benar menyebalkan, ada saja jawaban yang keluar dari bibir Gian. Tak peduli wajah Radha yang tadi memerah karena emosi, kini makin memerah karena malu mendominasi.


"Ya Tuhan, aaakhh Caterine antar tante ke kamar, sakit sekali kepalaku." Jelita menyerah, nampaknya Radha hanya bisa membela diri sendiri, jika dia ikut campur, penyakitnya kambuh nanti.


__ADS_2