
Tak berbhenti di sana, dalam tenangnya Kama ternyata masih menyimpan amarah. Pulangnya Kalila dan Gian sama sekali tak ia pedulikan, bahkan sudah beberapa kali Gian merayunya.
Dan lebih kesal lagi, ketika Kama lebih tertarik dengan kehadiran Haidar. Sepertinya menjadi satu-satunya adalah kemauan Kama. Padahal Gian tak membedakan mereka, hanya saja Kama terlalu sensitif masalah ini.
Perasaannya lebih sensitif dari kapas, setelah sebelumnya bertengkar lantaran Gian mencium istrinya di depan Kama, dan kini dia semarah itu bahkan menangis tersedu-sedu di pundak Haidar.
"Pukul Papa, Om ...." Dia mengadu dengan mata yang sudah membasah.
"Kenapa harus dipukul, Sayang?" tanya Haidar baik-baik.
"Papa cium Mama," tuturnya kembali tak kuasa menahan tangis.
"Hahaha lalu kenapa?" tanya Haidar menyeka air mata keponakannya, tampaknya jagoan Haidar itu sedih sekali.
"Gaboleh cium-cium, Mama punya Kama." Napasnya bahkan terdengar sulit, dan Haidar menatap sekilas pasangan suami istri itu di sofa depannya.
Radha hanya miliknya, bahkan sempat dia meributkan foto pernikahan Gian dan Radha yang terpajang di ruang tamu lantaran tidak ada dirinya. Cemburunya Kama bahkan dua kali lipat daripada Gian.
Meski sudah dijelaskan jika Radha adalah istri Gian yang artinya pria itu berhak penuh atas mamanya. Akan tetapi, Kama yang memang masih kecil untuk paham, dia tak peduli dengan penjelasan Gian.
"Kama, kenapa dia jadi sering kerasukan begitu sih, Ra?"
Gian memijat pangkal hidungnya, salah apa dirinya. Apa mungkin lantaran dahulu Gian hanya menginginkan anak perempuan hingga semua kejanggalan inu terjadi.
"Kamu sih pergi kelamaan, tu anak nangis gak lama dari Kakak pergi," ungkap Radha memberikan penjelasan bahwa memang Kama sempat menangisi kepergian Gian yang cukup lama itu.
"Gengsinya Kama setinggi langit, sok-sokan nggak mau ikut taunya ngambek."
Sebenarnya bukan hal asing jika Kama bersikap demikian. Anak itu memang pencemburu luar biasa. Terlebih pada Radha, dan mungkin karena sebelum pergi Gian memilih menghibur Kalila lebih dulu sehingga hatinya merasa sedikit terhenyak.
"Biarin aja dulu, dia lagi anteng sama Haidar."
Memang pria itu kerap menjadi tameng untuk Kama. Pundaknya adalah tempat favorit Kama menumpahkan air mata dan mengadukan seluruh keluh kesah tentang papanya.
"Hm, kenapa aku cemburu melihatnya," tutur Gian menatap interaksi Haidar dan Kama dari jauh.
__ADS_1
Cemburu itu pasti ada, siapapun yang berada di posisi Gian tentu akan merasakan hal sama. Dia seorang papa namun putranya lebih memilih orang lain, Gian tak habis pikir.
Lain halnya dengan Kalila, menyadari jika Kama lebih memilih Haidar, tentu saja dia merasa semakin merdeka. Segala hal dia lakukan demi bisa bersama Gian setiap saat, bahkan putrinya itu mempertanyakan hal-hal yang sudah kerap dibahas sebelumnya.
"Papa, bola warna pink punya Kalila hilang, bantuin carinya."
Padahal orang tuanya tengah membicarakan Kama, dan dia justru sibuk sendiri dengan dunianya. Harus Gian akui memang putrinya berpikiran terbuka dan tak sesensitif itu.
"Sayang, kan warna pinknya memang hilang kemarin, mau cari lagi ya?" tanya Gian menarik sudut bibir, putrinya selalu punya cara agar perhatian Gian terfokus padanya.
"Kalila mau bola warna pink Papa," ucapnya sedikit malu, terlihat jelas jika kini ia tengah memancing Gian agar terus bersamanya.
Radha menyadari jika hal itu Kalila lakukan demi bisa menyita waktu Gian, hal kecil yang kerap membuat Radha tersenyum lebar perihal putrinya.
Meski dia sedikit bingung karena semakin kesini tabir permusuhan antara Gian dan Kama semakin terlihat. Cucu Jelita itu kerap membuat Gian menyerah lantaran ulahnya.
-
.
.
.
Hingga suatu saat nanti, mungkin Kama mulai mengerti dan dia paham bahwa Gian menyayangi keduanya tanpa perbedaan, baru mereka akan tertidur di tempat tidur berbeda.
"Papa bacakan lagi, Kama mau dengar lagi," pinta Kama menginginkan Gian mengulangnya, sementara Kalila justru ingin cerita yang lain.
"Gamau, Papa, yang lain ... timus mash!!" teriaknya begitu antusias, bahkan kini dada Gian terasa sakit dibuatnya.
"Tatut, Kama gamau, Papa."
Kama yang penakut lantaran hanya ingat dengan sosok raksasa di cerita itu dengan tegas menolak keinginan Kalila.
"Hahaha Kama tatut? Masa tatut?"
__ADS_1
Gian mengejek putranya, bibir mungil yang sedari tadi berucap membuat Gian tak bisa menahan gemasnya. Kama mencebik dan menatap datar Gian, meski dia belum bisa bicara dengan lancar, akan tetapi ia mengerti jika seseorang tengah mengejeknya.
"Papa diam, jangan baca lagi!! Kama mau tidul."
Entah sampai Gian akan terus mengejek putranya, kenapa dia selucu ini. Sementara Kalila yang masih mau mendengar cerita dari papanya terus saja memaksa.
"Timus Mas, Papa!! Kalila mau dengerin!! Bisik-bisik sini kalau Kama takut."
Kalila menarik wajah Gian ke arah telinganya, dan di antara pilihan sulit ini, Gian harus berusaha membuat kedua buah hatinya saling mengerti.
"Sayang, udah malem ... tidur ya, besok Papa harus kerja, Kama juga udah ngantuk," ucapnya pelan berharap Kalila akan mengerti.
"Yaudah tidur, doa dulu ya, Papa."
Meski bibir Kama cemberut sejak tadi, tangannya ikut menengadah kala Kalila mengajaknya berdoa. Kecupan sang papa dapat ia rasakan, dia menang malam ini, dan Gian memeluk keduanya erat.
Memastikan kedua buah hatinya tertidur dengan baik, Gian tak mau jika nantinya dia beranjak salah satunya merengek, dan biasanya hal ini akan terjadi pada Kalila yang tak betah jika Gian tinggalkan.
Mata Gian sudah terasa berat juga, bayangan sang istri sudah menghantui benaknya. Hartanya amat berharga, istri cantik dan kedua buah hati yang sangat lucu.
"Akhirnya tidur juga," tutur Gian menghela napas lega, menarik selimut lembut itu ditubuh mereka, wajah polos yang akan terus tumbuh dan Gian harap akan dapat saling menyayangi.
Mematikan lampu kamar dan berlalu dengan sangat pelan. Gian menuju kamarnya, Radha memang meminta istirahat lebih dulu lantaran merasa lelah siang tadi.
Wanita itu memang tak sekuat Gian, ia kerap cepat lelah dan butuh istirahat banyak. Dan tiba di kamar, istrinya masih duduk di tempat tidur pada nyatanya.
"Sayang, kenapa belum tidur?" tanya Gian menarik sudut bibirnya tipis, walau sebenarnya itu adalah hal yang Gian sukai.
"Kebangun, aku pikir udah pagi," tutur Radha menguap lebar, perlahan menggerakkan tubuh dan menatap lekat suaminya.
"Tidur lagi, mata kamu merah, Sayang."
Malam ini, Gian harus memastikan ketiga belahan hatinya tidur dengan nyenyak lebih dulu. Hal ini adalah kebiasaannya, tak peduli selelah apapun tetap saja Gian akan mengutamakan keluarga kecilnya.
đź–¤
__ADS_1