
Semua berawal baik-baik saja, baik Radha maupun Caterine. Pertemuan itu merupakan awal yang baik, Radha yang sebelumnya cemburu dan uring-uringan usai mendengar percakapan Gian dan Jelita di ruang makan kini ia sedikit tenang.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Gian menatap lekat sepupunya, terlihat berbeda meski kata Jelita ia sangat cantik. Namun di mata Gian sorot mata Caterine tampak berbeda.
"Aku baik," jawab Caterine dengan suara lembut yang kemudian membuat Radha insecure tiba-tiba.
"Baik? Syukurlah jika memang baik."
Gian menghela napas pelan-pelan, cara Caterine bicara yang menghindari matanya dan gerak gerik Caterine yang tak menerima uluran tangan ataupun peluknya membuat Gian heran tentu saja.
Meski ia terlihat sangat menanti kehadiran Gian, bahkan Randy berkata demikian. Akan tetapi, reaksi yang Caterine berikan padanya jauh berbeda dengan reaksinya pada Radha.
Mata itu tak berhenti menatap teliti Caterine, lingkar matanya menjadi fokus Gian yang utama. Wanita itu bukan lagi terlihat langsing baginya, melainkan kurus tak bertenaga.
Entah bagaimana mamanya melihat Caterine hingga mengatakan bahwa putri Randy itu benar-benar cantik. Faktanya, gadis itu terlihat memilukan meski senyum itu masih selalu terukir di sela-sela pembicaraannya pada Radha.
Melihat kedekatan mereka, ada kelegaan dalam benak Gian. Namun tetap saja, ia rasa perlu bicara pada Randy. Mengingat, Randy juga sejak tadi menatap putrinya selekat itu. Dan semua itu tertangkap jelas di mata Gian.
"Om, aku perlu bicara."
Randy yang dalam keadaan tak baik-baik saja tanpa menolak dan berlalu ke tempat yang lebih jauh dari mereka. Meninggalkan putrinya dan Radha yang terlihat tengah melakukan pendekatan.
Di belakang, tepatnya di pinggir kolam renang, Randy meminta Gian untuk memulai apa yang ingin ia bicarakan. Ia mengenal watak Gian yang memang lebih peka terhadap apa yang terjadi dengan lingkungan sekitarnya.
"Pada intinya dia tidak baik-baik saja, Om?"
"Hm, apa maksud pertanyaanmu, Gian?"
Randy menghela napas panjang, jujur saja membahas ini membuatnya justru semakin luka. Randy terdiam, ia tak ingin membahas ini lebih dulu. Wajahnya tampak sendu, karena yang ia pikirkan sejak kemarin hanya Caterine dan masa depannya saja.
"Jangan sembunyikan, dia tidak cukup berlindung di satu orang, katakan padaku, apa yang terjadi pada Caterine?"
"Belum waktunya kau tahu, Gi ... yang penting saat ini Caterine sudah kembali padaku, dia akan lebih baik meski hanya denganku, kau tenang saja."
__ADS_1
Bukan tak mau, hanya saja Randy tak ingin mengacaukan keadaan yang telah Martadinata susun. Seperti kesepakatan awal, bahwa Caterine boleh bersamanya jika Randy diam dan tidak ikut campur perihal Harry.
"Apa dia mendapatkan kekerasan dari tante Sheina?"
Sedikit ragu sebenarnya, karena jika ia lihat bagaimana Caterine, tidak ada luka ataupun lebam tersamar di tubuh maupun wajahnya. Namun yang Gian lebih takut, hal yang terjadi sebenarnya lebih parah dari itu.
"Bukan, dia tidak sejahat itu ... sudahlah, dia hanya terlalu merindukan aku, Ran." Randy menjawab demikian dengan suara bergetar dan mengalihkan pandangan, jelas ia tengah berbohong kini.
"No, kali ini Om tidak bisa berbohong dariku," tutur Gian benar-benar tak bisa mempercayai Randy.
"Ck, bohong apa, Gi?" Randy hendak berlalu, namun ucapan Gian membuatnya sontak menghentikan langkah.
"Hanya rindu, rindu pada Papanya yang membuat Caterine bahkan takut bersentuhan dengan kakak sepupunya? Apa masuk akal, Om?"
Randy menoleh, manik hitam itu menatap nyalang Gian. Sebenarnya ia sejenak ingin mengubur luka itu, karena dalam hal ini yang terluka bukan hanya Caterine, tapi juga Randy.
"Apa maksudmu, Gian?!"
"Pelecehan, apa benar begitu?"
Randy tak bisa mengelak, keponakannya ini memang terlalu pandai. Tanpa menatap Randy, namun ucapannya membuat pria itu diam seketika. Dalam keadaan begini, yang Randy dapati hanya bingung dan tak mengerti harus mengatakan yang sebenarnya atau lebih baik diam saja sebelum Harry benar-benar mendekam di penjara.
"Kau tak perlu ikut campur, Gian ... semua yang kau pikirkan belum tentu benar, dan juga jika hanya bersentuhan ataupun interaksi Caterine yang menurut kau aneh, bisa saja itu karena dia menghargai istrimu."
Meski jawaban Randy masuk akal, tapi ini terlalu sulit untuk diterima. Karena pada faktanya, Caterine dapat menerima dengan baik bagaimana Radha, begitupun sebaliknya.
"Baiklah, jika memang benar begitu."
Kini Gian yang berlalu, tampaknya mengharapkan penjelasan Randy hanya akan membuat pembicaraan tanpa ujung saja. Lebih baik ia akan mencari sendiri dengan caranya, meski ia akui akan cukup sulit mengingat dirinya tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan Sheina sekalipun itu tentang pekerjaan.
*****
Sementara di ruang tamu, kala Randy dan Gian meninggalkan mereka. Caterine justru secepat itu gelisah karena Randy tak juga kembali, ia takut mereka membahas hal yang berhubungan dengan dirinya.
__ADS_1
"Kakak tenang saja, secepatnya mereka akan kembali." Radha paham kegelisahan Caterine yang sejak tadi selalu melihat ke arah perginya kedua manusia itu.
"Ah, iya, Radha ... Sebenarnya namamu Radha atau Zura?" tanya Caterine sejenak mengalihkan pembicaraan.
"Dua-duanya, Kakak bebas mau panggil bagaimana, tapi biasanya memang Radha," jawab Radha dengan menampilkan gigi rapihnya, mengingat yang memanggilnya dengan nama Zura hanya Gian dan juga Haidar, mantan kekasih yang hingga sekarang ia tak tahu bagaimana kabarnya.
"Oh gitu ya, kamu masih mudah banget ... kenapa bisa dapet izin buat nikah? Mama kamu nggak marah?"
Radha tersenyum simpul, sulit untuk dijelaskan. Bagaimana dia mengatakan tentang hal ini, ia tak memiliki kesempatan untuk sekedar menolak, bahkan mengetahui siapa orang yang akan menjadi suaminya saja Radha tak berhak dahulu.
Mama? Ia bahkan tak mendapat ucapan apapun meski datang ketika sudah bersama suaminya, mungkin di antara sebanyak apapun luka, itu luka tersakit bagi Radha.
"Kok senyum, jawab dong ... aku aja udah 18 tahun, tapi pacaran aja gak dapet izin dari Mama."
Caterine tersenyum miris, larangan itu ternyata lebih buruk dari segala larangan. Larangan gila dengan maksud untuk menjaganya justru membuat Caterine terjebak dalam luka.
"Kakak bahagia banget punya Mama seperti itu, perhatian ya ... berbeda dengan Mamaku."
Ia menunduk pilu, harus dengan cara apa agar Radha mendapat ungkapan perhatian dan kasih sayang dari sang ibu, ha paling mustahil yang dia akan dapat. pikirnya.
"Hei, jangan sedih ... kamu masih punya mama lainnya, mama Jelita, iya kan," tuturnya lembut dengan suara bergetar dan tangis yang sudah di ujung pelupuk mata.
Dua hati yang terluka, Caterine yang sama teririsnya. Justru ia menatap kehidupan Radha sebagai wanita paling bahagia. Di usia muda, hidup terjamin di tangan laki-laki yang tepat, mendapat kasih sayang dari Radha.
Walaupun ia baru mengetahui bahwa ada ketidaksempurnaan dalam hidupnya perihal sosok ibu, tapi, setidaknya ibu yang Radha maksud tidak menghancurkan masa depan anaknya.
Tbc
Lanjut siang/sore ya. Eh kalau ada sisa vote" nganggur kasih Gian ya!!😠Makaseh😚
Kangen gasi sama dia?
__ADS_1