Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 185. Tidak Ada Tempat (Cinta Paling Hina)


__ADS_3

“Sendirian? Yakin, Ra?”


Radha mengangguk pasti, siang ini tujuannya pulang bukan rumah ataupun apartemen. Akan tetapi kantor Gian. Dengan membawa bekal yang ia beli di kantin sekolahnya, sengaja ia siapkan untuk suaminya makan siang, tepatnya menjelang sore.


“Emang pulangnya kemana?”


“Kantor kak Gian.”


“Aaah ikut dong, mau ketemu sama laki lu lagi.”


“Ish!! Kecil-kecil kenapa si, heboh banget mulutnya.”


Menyesal terkadang ia mengungkap semuanya, karena memang tak kuat dengan desakan Helena yang terus mengintil di tubuhnya sejak pagi hanya untuk pengakuan dari hak yang sebenarnya telah ia ketahui.


Helena masih tak bisa melupakan ketampanan Gian yang datang tiba-tiba menyelamatkannya dalam kelam malam. Bak pangeran kuda putih yang tiba-tiba saja muncul, ia sempat berpikir bahwa Gian adalah malaikat yang Tuhan kirim untuknya, nyatanya harap Helena hanya sia-sia.


“Ck, gak boleh, Ele … kalau ketemu di tempat lain mungkin boleh, kalau ikut aku ke kantor nggak bisa deh kayaknya.”


“Yah, masa gitu sih.” Gadis cantik itu mencebik karena tak mendapat kata iya dari Radha.


“Karena nggak gini,” jawab Radha singkat.


“Ayolah, Ra … gue juga gak bawa motor ini, kan sekalian nemenin lu ke sana,” rayu Helena sekali lagi berharap Radha akan mau.


“Enggak! Lu bilang cowoklu jemput hari ini, jangan suka buat dia marah deh.”


“Ahaayuuuu, gitu doang mah kecil, minta maaf aja kelar. Boleh ya, Ra? Please Mommy.”


“Udah deh, nggak usah kek anak kecil … hari minggu kita bisa jalan bareng, Ele.”


“Sama kak Gian ya?” rayunya tiba-tiba, nama Gian kini memenuhi otaknya.


“No, enak aja … lu kenapa dah, dia suami gue juga.”


“Iya juga si, abisnya gue ngefans sama laki lu, Ra. Btw dapet yang bentukkan gitu dimana?” tanya Ele tanpa malu, bercanda namun memang pertanyaannya serius.


“Dari sang Pencipta, udah sono lu pegi, nyebut laki gue mulu … cowok lu noh urusin.”


“Hahah bibirnya harus gitu ya, Ra.”


Radha hanya memutar bola matanya malas, ada saja alasan yang dibuat-buat Ele agar ia bisa merayunya. Akan tetapi, apapun yang Ele katakan masih ia dengar. Bahkan hari ini mereka hanya fokus menceritakan pasangan masing-masing tak ada pelajaran yang masuk di otak mereka.

__ADS_1


“Gimana mau sayang, otak lu aja malah kecantol cowok lain, laki orang lagi.”


“Iyeye kagak aelah, becanda doang gue tu,” tuturnya mencebik kesal, bibir ranumnya ingin Radha cubit.


Perdebatan singkat yang cukup membuat tegang urat, Helena yang enggan mengalah dan Radha yang mulai kesal. Keduanya cukup untuk menjadi perhatian orang-orang yang melewati mereka, Radha yang memilih sabar menunggu Aryo menjemputnya sedangkan Helena yang juga tengah menunggu kedatangan kekasihnya.


Hingga perdebatan itu terhenti kala jemputan Radha datang lebih dulu, membuat Helena kesepian seketika. Pasalnya ia tak dapat memprediksi kapan kekasihnya akan datang, “Kok cepet banget si datangnya, suruh balik aja, Ra.”


“Hahah bisa aja lu, udah deh gue duluan ya.”


“Hm, hati-hati deh,” tuturnya sama sekali tak rela Radha tinggal pergi.


Meninggalkan dirinya yang masih sabar menunggu kehadiran pangerannya, Helena sesekali menatap pergelangan tangannya. Semakin siang saja, bisa jadi ia pulang telat dan terkena amukan sang papa.


Beruntung tak terlalu lama ia menunggu sendirian, seseorang yang ia tunggu kini tiba di depannya. Tampan, dan terlihat dingin seperti biasa, sama sekali tak ada kelembutan dari dalam pria itu padanya akhir-akhir ini.


“Cepat masuk,” titahnya dingin, dan tanpa menjawab ia hanya menurut apa perintah pria itu.


Hubungan macam apa yang seperti ini, pikir Helena sebal. Ingin rasanya ia melepaskan diri dari pria ini, tapi sayang kapten basket incarannya belum juga memberikan signal jika ia menyukai Helena.


“Kita mau kemana?” tanya Helena kala perjalanan baru saja dimulai, sadar jika arah yang dia ambil bukan menuju rumah Helena.


“Aku tidak minta dijemput, kamu sendiri yang mau jemput aku, Juan.”


“Ju-juan? Kamu panggil aku apa, Helena?” Juan merasa risih Helena justru memanggilnya seperti seseorang yang lebih tua darinya.


“Kenapa? Nama Abang kan memang Juan, masa mau dipanggil Gian.”


“Helena!!”


“Apa? Salah aja terus,” celetuknya ketus, sekalian hubungannya rusak, biarkan hancur, pikir Helena.


“Berhenti menyebut nama itu,” ujar Juan menatap tajam kedepannya, rahangnya mengeras tiba-tiba dan kini tangannya menggenggam erat kemudi hingga buku-buku kukunya memutih.


“Kenal?” tanya Helena yang justru tampak penasaran, menarik pikirnya jika memang kenal.


“Tidak,” jawabnya singkat dan kini fokus dengan apa yang menjadi tujuannya, sudah cukup sabar ia menunggu targetnya berlalu, dan kini apa yang ia cari tahu harus berhasil ia dapatkan.


-


.

__ADS_1


.


.


BUGH


“Kau bermain api pada orang yang salah.”


Gian tak main-main dengan rencananya, meminta waktu untuk bertemu Harry berdua saja dan membuat pria itu tumbang dengan pukulannya yang kesekian kali. Gian berbohong dari kesepakatan awalnya pada diri sendiri, bukan hanya mata, kini hidung Harry mengalirkan darah segar akibat pukulannya.


“Dan ini untuk air mata Caterine yang harus kau bayar,” tutur Gian tanpa beban menghadiahkan pukulan tepat di perut Harry.


Pria itu bahkan kesulitan untuk bernapas, perutnya kini terasa diaduk-aduk, kepalanya luar biasa sakit dan wajahnya benar-benar perih. Belum sembuh luka yang ia dapat dari Randy, kini Gian yang justru menghajarnya dua kali lipat.


“Aaakhhh!! A-aku … aku mencinta….”


“Setaan!! Kau berani mengatakan cinta? Cinta katamu?!”


Di ruangan ini hanya mereka berdua, karena memang Harry tertarik untuk menemui Gian sendiri ketika manajernya memberi tahu kabar itu. Sama sekali ia tak menduga jika Gian mengenal Caterine, wanita yang ia hancurkan atas nama cinta.


“Sejujurnya aku ingin membuatmu habis, tapi akan lebih sakit adikku jika kau berakhir secepat ini,” ujar Gian dingin masih dengan menahan kerah Harry, pria itu sudah sangat lemas, mungkin jika Gian tak menahannya seperti itu, sudah sejak tadi ia tumbang.


Harry terbatuk, dan darah keluar dari mulutnya. Namun mengetahui bahwa Gian datang hanya untuk masalah Caterine, Harry pasrah dan tak melawan satupun serangan Gian, karena memang ia pantas mendapatkannya.


Brugh


Ia benar-benar ambruk, di sisa-sisa kesadarannya, Harry menatap lekat Gian yang kini duduk memastikan dia masih bernapas atau tidak.


“Aku tidak jahat, Gian … sama sekali, aku mencintainya, kenapa kalian tidak mengerti.”


Masih jelas Gian dengan rintihan Harry yang justru bukan meratapi rasa sakitnya, akan tetapi mencoba mengatakan alasan dia melakukannya.


“Sayangnya, tidak ada tempat untuk cinta sehina yang kau punya.”


Harry terpejam, memang benar apa yang ia dengar. Cintanya terlalu hina hingga memilih jalan gila dengan harapan akan menjadi cara cepat untuk memiliki Caterine. Nyatanya hal seperti ini justru menjadi dinding pemisahnya kian tinggi.


“Hidupmu sudah berakhir, jangan karena keluargamu kaya kau bebas melakukan semua semaumu, Harry.”


Ucapan terakhir sebelum Gian berlalu, pria itu melangkah tanpa ragu ataupun rasa takut usai membuat putra konglomerat itu tak berdaya. Karena orangtua mereka tak punya kuasa lebih untuk membuat Gian terjebak dalam masalah.


“Bereskan sisanya,” titah Gian pada pria berbaju serba hitam yang sejak tadi setia menunggunya.

__ADS_1


__ADS_2