Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 183. Fakta (Terungkap)


__ADS_3

"Harry Wiratmadja."


Gian menghela napas panjang kala menerima laporan Reyhans. Secepat itu memang dia mendapatkan info perihal pria yang Gian curigai sebagai pemakai narkoba itu.


Beberapa fakta yang kini Gian terima membuatnya bungkam sejenak. Kenapa dunia sesempit inii, silsilah keluarga Wiratmadja yang menunjukkan bahwa Harry merupakan keponakan dari Wiratmadja Wulan Danu, ayah tiri Radha masih belum bisa ia terima.


"Mereka keluarga?"


"Iya, Harry merupakan anak kandung dari saudara Pak Wira, mertuamu."


"Mertuaku banyak sekali, Rey, pusing." Bukan hal asing bagi Rey, jika Gian justru melontarkan hal yang tak perlu.


"Tapi hubungan mereka tidak terlalu baik sejak lama, bahkan banyak yang lebih percaya bahwa mereka tidak saling mengenal sama sekali."


Gian mengangguk mengerti, sebenarnya ia tak terlalu peduli dengan silsilah keluarga itu. Namun yang menjadi perhatiannya adalah kasus yang kini menjerat nama Harry.


"Kau yakin tentang ini, Rey?"


"Sangat yakin, tapi memang pihak agensi belum mengklarifikasi kabar itu, nampaknya masih ditutup-tutupi demi karir Harry yang kini tengah naik daun," tegas Reyhans kemudian.


Rahang Gian mengeras, apa yang Reyhans sampaikan benar-benar membuatnya naik darah. Informasi sedalam ini, bahkan kesaksian langsung dari kuasa hukum keluarga Martadhinata Reyhans dapatkan dengan mudah.


"Media dan pihak korban bungkam? Orangtua melindungi kebejatan badjingan ini, Reyhans?"


Reyhans menggangguk, ia tahu memang hal seperti ini akan Gian luapkan. Terutama ketika mengetahui korban kebejjatan Harry.


Dadanya kini semakin panas, nama yang tertera ini membuat Gian kalap mata. Tanpa banyak pertimbangan, Gian segera menemui Randy. Dengan membawa laporan yang telah Reyhans berikan tentu saja.


"Jaga ruanganku, nanti siang Radha aku minta ke kantor, jangan macam-macam kau!"


"Iya, kau jangan khawatir."


Bukan saatnya untuk marah pada Reyhans, karena kini yang terpenting ialah dia menemui Randy. Ingin lebih dulu menghajar pria itu, kenapa diam dan tak mau bicara hal segenting ini.


Wajar saja, kecurigaannya tak salah. Nyatanya memang ada yang Randy sembunyikan dari kepulangan Caterine yang tiba-tiba.


"Berani kau berulah."


Mata Gian menatap tajam wajah Harry yang tersebut di biografinya itu. Dengan kecepatan tinggi, Gian berharap dapat bertemu Randy segera.


Entah apa yang membuat pihak keluarga diam, apa yang Gian bayangkan ternyata belum apa-apa. Kejadian yang menimpa Caterine lebih dari sekadar pelecehan biasa.


Tak butuh waktu lama, Gian kini sudah berada di depan kediaman Randy. Ada yang aneh memang, yang ia tahu pamannya tak pernah mengunci pintu gerbang dan biasanya penjaga rumah hanya ada satu, dan kini bahkan lebih dari dua orang berdiri di sana.

__ADS_1


"Buka pintunya," titah Gian yang memang mengenal salah satu dari antara mereka.


Ketiga penjaga rumah itu jelas heran kenapa Gian datang dengan emosi dan tampak buru-buru. Terlihat jelas dari cara dia membanting pintu mobil cukup keras, bagaimana jika nantinya lepas, pikir mereka.


Tanpa perlu mengetuk pintu, Gian masuk sembari memanggil Randy berkali-kali. Rasanya benar-benar tak sabar dia menuntut penjelasan dari Om-nya itu.


"Kak Gian?" Caterine yang merasa heran lantas menghampiri Gian.


"Om Randy mana?"


"Papa di ruang kerja, aku panggilkan dulu ya, Kak," tawar Caterine namun tak Gian iyakan.


"Kakak yang akan menemuinya, kau lanjutkan saja pekerjaanmu."


Caterine mengangguk, meski ada sejuta pertanyaan di benaknya menyadari Gian yang terlihat tak biasa. Pria itu tampak berbeda, namun sebisa mungkin menyembunyikan amarahnya dari Caterine.


-


.


.


.


BRAK


Randy yang kini tengah fokus dengan laptopnya mendadak emosi lantaran Gian yang sembarangan masuk. Belum lagi caranya masuk lebih mirip seperti seorang perampok.


"Jelaskan!"


Gian melemparkan lembaran kertas yang menulis semua hal tentang Harry tepat di depan Randy. Matanya tak bisa berbohong semarah apa dirinya kini, Gian hanya ingin Randy bicara tanpa ada fakta yang ia tutupi.


"Dari mana kau tau?" Randy meremat lembaran kertas yang membuatnya kini hancur.


Wajah Harry semakin membuat hatinya sakit, Gian datang di saat yang tidak tepat, ia telah kacau dan kini terasa makin kacau.


"Kenapa Om diam? Kami bukan keluargamu atau bagaimana?!!"


"Gi ... jangan berteriak, aku tidak mau Caterine mendengarmu."


Randy memohon agar Gian mengerti, watak keponakannya yang meledak-ledak membuat Randy benar-benar takut. Sejak pulangnya Caterine, ia berusaha untuk membuat keadaan baik-baik saja agar putrinya bisa lupa.


"Om, hal segila ini tidak akan selesai jika Om hanya bungkam," tutur Gian mencoba tenang, entah bagaimana pola pikir Randy hingga bisa diam saja kala putrinya menjadi korban pemerkossaan.

__ADS_1


"Gian ... Om tau kamu marah, begitupun aku!! Aku lebih marah, tapi memang untuk saat ini yang bisa kita lakukan hanya diam sementara," jelas Randy berharap Gian akan paham dan berhenti membahas hal ini.


"Kenapa? Apa karena perintah mantan mertuamu itu? Hahah Om lihat, bahkan sampai detik ini kasusnya belum terungkap ... dan Harry masih bebas dengan karirnya yang berada di puncak. Itu artinya, kekayaan Martadhinata masih kalah dengan kekuasaan Wiratmadja," tutur Gian menyadarkan pria di depannya jika memang diam bukanlah jawaban.


"Aku tidak punya cara, Gi ... seperti yang kau tahu, sejak dulu aku tunduk di bawah kuasa mereka, dan pulangnya Caterine padaku adalah caraku menjaganya," jelas Randy yang saat ini memang serba salah.


Ia harus bagaimana, di sisi lain ingin ia membuat Harry hancur. Namun di sisi lain, ia mengutamakan mental putrinya yang lebih baik jika semua dianggap lupa.


"Salah Om tidak menghubungiku, jika aku jadi orangtua Caterine, aku rasa Harry sudah mati di tanganku."


Ia benar-benar muak melihat langkah Randy yang ia nilai teramat bodoh. Entah tercipta dari apa mereka hingga membiarkan pelaku masih dapat hidup normal seperti biasa, pikir Gian.


"Aku sudah menghajarnya, tapi temannya menghalangiku saat itu."


Gian terdiam, jawaban atas lebam di wajah Harry kini ia dapatkan. Namun tetap saja, hanya sebatas menghajar saja tidak cukup bagi Gian. Yang ia mau hanya menerima akibat perbuatannya.


"Izinkan aku dan Papa menyelesaikan semua ini, Pa. Karena keluarga mertuamu tidak sekaya Papa memang."


Sombong memang, tapi itu benar. Kekuasaan Raka ia rasa lebih logis untuk membuat orangtua Harry tunduk. Sepertinya jika mereka bertindak detik ini, nasib Harry bisa saja berubah drastis.


"Apa tidak bahaya, Gi?"


"Bahaya apa?"


"Jika sampai hal ini terkuak ke media, bukan hanya nama Harry yang terseret, tapi Caterine, Sheina dan juga aku."


Gian memejamkan mata, memang terasa sulit nampaknya menjadi seorang publik figur seperti mereka. Akan tetapi, Gian tetaplah Gian. Ia punya seribu cara untuk menghilangkan seseorang tanpa keributan sama sekali.


"Om hanya peduli popularitas, padahal yang harus kita selesaikan di sini adalah Caterine sebagai korbannya."


"Bukan begitu maksudku, yang Om pikir masa depan dan perasaan putriku. Bagaimana nantinya jika kisah kelamnya diketahui banyak orang, sedangkan dia bahkan takut jika kau mengetahuinya," tutur Randy menarik napasnya lagi dan lagi, kebimbangan akan hal ini benar-benar tiada habis.


"Beri pengertian padanya, hal semacam ini bukan aib yang harus disembunyikan, dia korban kebejjatan pria itu."


"Tidak semudah itu, Gi."


"Mudah jika Om mau mencobanya, saat ini yang paham isi hati Caterine hanya Om, bukan aku ataupun Mama dan Radha."


Gian berlalu usai panjang lebar menyampaikan niatnya, karena memang keputusannya sudah bulat. Dengan atau tanpa dukungan Randy, ia tetap akan ikut campur.


Ceklek


"Ca-caterine? Sejak kapan kau di sini?"

__ADS_1


"Baru saja, Kak ... aku ingin ketemu Papa, ada Mama mencarinya."


Bersambung🦈


__ADS_2