Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 270. Datang (Baik-baik)


__ADS_3

"Mama mau kemana?"


Jelita sudah sangat rapi, begitupun dengan Raka. Wajar saja jika Gian bertanya-tanya, pagi-pagi sekali kedua orang tuanya sudah seperti hendak pergi ke tempat penting.


"Ada urusan, kamu nggak kerja, Gi?"


Gian menggeleng, pagi ini ia lagi-lagi tak masuk kerja karena sakit di tubuhnya justru semakin terasa. Walau Radha sudah mencoba untuk membuatnya reda, tetap saja sama.


"Istirahat, makanya jangan sembarangan."


Jelita sempat mengacak rambut putranya, dan Raka hanya menarik sudut bibir lantaran putranya terlihat tak baik-baik saja, entah kenapa jika melihat Gian selemah itu seakan menjadi tawa bagi Raka.


"Papa kenapa? Senyam senyum, lagi ngeledek aku ya?"


Siapa yang berpikiran semacam itu, Gian benar-benar membuat emosi seseorang naik ke atas awan. Walau tak sepenuhnya salah, akan tetapi apa yang Raka lakukan membuat batin Gian terguncang.


"Tidak ada, kau lucu, Gian."


Pakaian yang tak terbuka sempurna, dan wajah kusut yang menjelaskan jika putranya belum mandi namun sudah berada di meja makan membuat Raka tak bisa menahan diri, putranya terlalu sia-sia jika tidak ditertawakan.


"Jahat banget, suami istri sama aja, aku sakit diketawain."


Raka bahkan tersedak, putranya bukan hanya sensi pada Jelita, akan tetapi pada dirinya juga. Radha sudah berkali-kali menyentuh lengannya berharap Gian mengerti dan tidak meluapkan emosi sesukanya.


"Bukan begitu, Gian ... papa hanya heran kenapa kamu mau, biasanya di suntik saja menolak, dan sekarang pijat kamu terima."


Itu yang lucu bagi Raka, putranya tak bisa disentuh sembarang orang, akan tetapi kini dia rela dijamah bahkan justru tersakiti.


"Entahlah, wanita itu tukang pijat atau dukun pelet sebenarnya," celetuk Gian kembali dibuat heran lantaran dia sendiri tak sadar kenapa bisa serela itu menerima ketika wanita itu mulai menyetuhnya.


Mencoba sejenak mengalihkan pembicaraan, kemana perginya papa dan mamanya masih menjadi tanya bagi Gian. Karena jika ditanya kedua orang ini tak mau menjawab dengan jelas.


"Sebenarnya mau kemana sih, Ma? Papa sampai pakai batik ginian, kondangan?"


Masih saja bertanya, dan Raka hanya menjawab pertanyaan putranya dengan anggukan kecil. Tak ingin gegabah, karena jika memabawa serta Gian sepertinya semua akan kacau dan Raka enggan itu semua terjadi.


"Siapa yang nikah?"

__ADS_1


"Anak temennya Papa, kamu kenapa nanya mulu sih? Mau ikut? Nggak bisa, yang diundang cuma Raka dan istri, anaknya nggak boleh."


Gian hanya bertanya satu hal, dan Jelita menjawab sepanjang itu. Ternyata benar bahwa wanita lebih banyak bicara daripada pria.


"Nggak makasih," ucap Gian tanpa menatap balik Jelita, pria itu kini berusaha menikmati sarapan pagi yang ia minta pada istrinya.


Menutup kisah perihal kemana perginya mereka, Raka bersyukur lantaran Jelita mampu menjaga amanah, karena Randy yang memutuskan untuk jangan melibatkan Gian di hari ini.


Walau sebenarnya dia sempat bercerita perihal Hulya pada Gian, akan tetapi ia tak kuasa jika Gian berada di antara mereka nantinya. Sudah pasti menjadi bahan ejekan, dan Randy tak mau itu terjadi. Dengan membawa kakaknya sebagai pengganti orangtua sepertinya akan lebih baik.


"Oh iya, naikkan gaji Reyhans, kau banyak merepotkan dia akhir-akhir ini."


Gian mendelik, terdiam sejenak dan hal itu tidak akan ia lakukan. Kemarin sempat baik, namun kini hal itu akan ia urungkan karena kecewa dengan apa yang Reyhans berikan padanya.


"Hm, nanti," jawabnya singkat demi mengindari Raka agar tak banyak bertanya lagi, pria itu memang Benar-benar menyebalkan.


Jangankan menaikkan, karena kesalahan Reyhans pria itu bahkan berniat memotong gajinya jika perlu.


-


.


.


.


"Semangat, Papa ... kalau ditolak kita cari lagi," bisik putrinya asal sebut dengan menampilkan senyum manisnya.


Belajar dari mana hingga putrinya berani mengatakan hal seperti itu. Randy yang tadinya mencoba tenang justru semakin tak percaya diri lantaran putrinya berucap demikian.


Raka menyampaikan niat baiknya untuk meminang Hulya agar menjadi istri adik iparnya. Jika dalam posisi seperti ini, Raka benar-benar memposisikan diri sebagai kakak yang baik.


Seharusnya Randy saja bisa menyampaikannya sendiri, akan tetapi pria itu enggan membuka hubungan secara pribadi, kali ini dia ingin melibatkan keluarganya dan tak mau asal melangkah seperti dulu.


Hulya, wanita cantik dengan pakaian tertutup dan senyum manis yang sampai detik ini justru tak berani Randy tatap. Tangannya bahkan gemetar, dasar lemah, seberapa lama dia tak berhubungan dengan perempuan hingga sekaku ini.


"Hulya sudah anggap sebagai putri kandung saya, meski sejak dulu saya sudah kerap kali memintanya untuk menikah, tapi keputusan tetap ada pada Hulya, saya tidak ingin memaksanya."

__ADS_1


Ibu asuh Hulya begitu menyayanginya, sejak kecil yang Hulya tahu wanita itulah ibunya, tidak ada ibu lainnya.


"Bagaimana, Hulya? Niat adik saya tulus semata-mata demi menyempurnakan agama, walau dengan segala kekurangannya sebagai duda, tapi aku yakin adikku tidak pernah mempemainkan pernikahan."


Raka menjelaskan dengan tegas namun tetap lembut. kenapa harus status duda itu disebut, pikir Randy kesal bukan main.


Hulya malu-malu, dia yang memang tak begitu dekat dengan banyak laki-laki jelas saja panik begitu lamaran dari pria tampan ini datang.


Belum lagi, putri dari pria itu sejak tadi memperlihatkan tatapan penuh harap Hulya akan menerima papanya. Tak punya kata-kata, Hulya memilih mengangguk pelan.


"I-iya, saya bersedia."


Randy yang sejak tadi tertunduk, kini menatap wajah teduh itu. Pandangan mereka sempat terkunci sebelum kemudian Hulya mengalihkan pandangnnya.


"Alhamdulillah, masih ada yang mau sama Papa."


Lagi-lagi Caterine berbisik pelan dan membuat Randy menarik sudut bibir. Hendak protes tapi memang putrinya bicara kebenaran, tak hanya Caterine, Jelita juga memberikan reaksi yang sama.


Randy menghela napas lega, tak ia duga setelah berpikir keras sebelumnya bahkan membawa nama Hulya dalam sujudnya, kini wanita itu akan segera menjadi miliknya.


Tak ingin berlama-lama, baik Raka maupun pihak Hulya sendiri menginginkan pernikahan mereka segera digelar dalam waktu dekat, tak perlu perayaan besar, yang penting sah secara agama dan negara, itu saja.


"Lebih baik hari jumat, kalau Randy mau resepsi minggunya bisa."


Randy panik, padahal sebelumnya dia belum membahas masalah ini pada kakaknya. Dan kini baik Raka maupun Jelita sudah memastikan bahwa mereka harus segera menikah.


"Apa tidak terlalu cepat, Kak?"


Randy kini bersuara, namun tentu saja dia tak memiliki satu dukungan sama sekali. Nyatanya Caterine pun menginginkan papanya segera mengganti status duda itu.


"Udah, Papa nurut aja, nanti ditikung gimana? Calon istri Papa cantik sekali, nggak lucu kan kalau ditikung lagi."


Randy pasrah, bisikan Caterine ada benarnya. Karena jika dilihat Hulya mendekati sempurna, tiada yang salah dengan wanita ini, dia cantik, baik, dewasa dan juga penyayang.


Tak ia duga akan selancar ini, Randy masih tak percaya dirinya diterima dengan mudah oleh mereka. Hulya menerima putrinya adalah hal paling utama, karena yang saat ini Randy inginkan bukan hanya sekadar cinta, melainkan dia diterima apa adanya.


🌻

__ADS_1


Ntar aku up lagi kalau sempet.


__ADS_2