Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Waktu Bersama (Masing-Masing)


__ADS_3

"Sayang, Mama ke toilet sebentar ya."


Haidar menggangguk tak lupa dengan senyum manis di pipinya. Pria itu benar mengikuti kemauan sang Mama, menghabiskan waktu bersama Jelita sejenak membuat damai hatinya.


Haidar tengah menikmati waktu menjadi dirinya, tanpa gangguan orang lain yang mengganggapnya sebagai sosok publik figur. Meski harus memakai topi untuk menutupi wajahnya, Haidar berusaha sebaik mungkin agar bisa merasakan bagaimana manusia normal pada ujungnya.


Beberapa notif di ponselnya hanya ia baca tanpa berniat untuk membalasnya, Haidar merasa tak nyaman dengan beberapa orang yang menekan agar dirinya tetap mampu menjalani waktu untuk dirinya.


Manik tajam itu memandang jauh, ia kenal sosok itu dan benar saja ia menyesal karena telah berusaha mengurusi orang lain.


"Ya Tuhan, kenapa harus bertemu dua orang itu."


Sungguh ia merasa kesal luar biasa, menyadari kedua orang yang berjalan berirringan itu semakin mendekat ke arahnya. Haidar mencoba membalikkan tubuhnya agar keberadaannya tak terlihat, sungguh ia berniat menata hati dari rumahnya, bukan malah membuat luka.


"Sayang, maaf ya lama."


Jelita kembali dengan wajah paniknya, takut putranya akan marah karena terlalu lama ia tinggal. Nyatanya tidak, senyum hangat Haidar membuat wanita itu bernapas lega. Putranya yang begitu berbeda dari beberapa tahun lalu kini terlihat begitu gagah.


Secepat itu Haidar menarik Jelita dan mengajak sang Mama untuk segera menjauh, ia tak ingin Gian menyadari kehadirannya. Dan ia jelas enggan karena ada Radha juga bersama pria itu.


Tak bisa membantah, Jelita hanya menuruti langkah sang Putra yang menarik tangannya tanpa alasan. Entah mau kemana, hanya saja Jelita tak mau banyak tanya.


"Kamu mau makan apa?"


"Ehm, enggak, Ma."


"Lalu? Kamu belum makan siang, Sayang."


"Aku ingin es krim, Ma."


Permintaan aneh yang cukup mengejutkan Jelita dengar, sejak kapan putranya kekanak-kanakan. Bahkan yang ia tahu, Haidar begitu menjaga pola makan yang tak asal saja memilih apa yang masuk dalam tubuhnya.


"Hah? Kau yakin?"


"Mama kenapa, kali ini saja, nggak banyak."


Bukan banyak atau tidaknya, hanya saja Jelita heran apa yang tengah putranya pikirkan. Mengapa dia seakan tak pernah merasakan hal-hal kecil, pikir Jelita.


Bagaikan anak balita yang selalu menggenggam tangan sang Mama dan ikut kemana arah Jelita. Begitulah Haidar saat ini, beberapa pandangan tertuju pada keduanya, tubuh Jelita yang hanya sebahu putranya membuat wanita itu tetap terlihat imut meski tak muda lagi.

__ADS_1


"Ma, bawa uang banyak kan?"


Sebuah pertanyaan yang membuat Jelita tertawa renyah, mengapa putranya mempertanyakan hal demikian. Apa yang membuatnya begitu aneh kali ini.


"Kau ini kenapa, Haidar ... kau sakit? Hm?"


Haidar begitu polos kala Jelita menempelkan punggung tangannya di kening Haidar. Putranya tampak baik-baik saja, namun mengapa sedari tadi Haidar seakan bukan dirinya.


"Tidak, Ma ... hanya saja a-ku ...."


"Kau kenapa?"


"A-aku tidak bawa uang sama sekali, Ma, bahkan dompet pun ketinggalan di kamar."


Jelita tersenyum lucu, begitu panik putranya kala ia meminta Jelita memeriksa pakaiannya, Meski wanita itu merasa begitu minimnya kata mandiri dari sosok Haidar. Karena setau Jelita dari informasi yang Randy berikan, putranya memang tak terbiasa melakukan apapun sendiri.


Sebagai seorang publik figur sejak beranjak remaja, bahkan cara memesan kopi pun Randy tak begitu paham. Selama ini Rury lah yang selalu menjadi tangan kanannya, kemanapun dan apapun yang Haidar kerjakan selama di luar.


Ia hanya menjalani peran sebagai soerang aktor yang selalu sibuk di dunianya. Sedangkan segala hal tentang hidupnya adalah tanggung jawab Rury semua, pun masalah keuangan, Haidar kerap tutup mata dan mempercayakan semua pada Rury juga.


"Anak Mama tidak terbiasa berpergian sendiri ya?"


"Iya, Ma, biasanya sama kak Rury atau Om Randy."


Jelita mampu menerima, tak apa, mungkin memang putranya butuh waktu untuk membiasakan diri. Dan lagi-lagi ia mengingat Radha, sosok wanita yang dulunya ia putuskan sebagai calon istri Haidar.


Jika saja pernikahan itu benar-benar terjadi, tentulah akan sulit. Bagaimana Haidar menjalani peran sebagai pemimpin keluarga jika pada kenyataannya bahkan untuk dirinya sendiri Haidar belum mampu.


Benar, pada akhirnya tak semua hal yang mereka anggap baik akan selalu baik. Selalu ada jalan dimana tuhan memberikan pilihan terbaik, dan Gian yang kini menjadi suami untuk Radha adalah jalan yang Tuhan berikan jua.


"Hem, kau harus berusaha pelan-pelan ya, Sayang ... karena nanti kau akan menjadi pemimpin untuk keluargamu."


Haidar terdiam, perlahan ia paham yang dimaksudkan Mamanya. Pria itu mengerti, namun untuk kalimat yang Jelita ucapkan membuat ia sedikit menolak.


"Pemimpin?"


"Iya, pemimpin seperti Papamu dan juga Gian. Kamu paham kan, Sayang?"


"Kak Gian ...."

__ADS_1


Haidar tertawa sumbang, entah mengapa ucapan sang Mama seakan merusak suasana hatinya. Bagaimana, yang hendak ia pimpin kini berada dalam pelukan orang lain, pikir Haidar.


"Ah sudahlah, Mama ... aku lelah mendengarnya.


Karena terlalu mendalam, Haidar memilih mengalihkan pembicaraan. Berdebat masalah es krim sepertinya lebih menyenangkan, pikirnya.


"No, kamu tidak boleh terlalu banyak makan manis, Haidar!!"


"Mama, cuma dua nggak banyak."


"Tetap saja kau ingkar, sebelumnya janji hanya satu, Sayang."


"Tapi aku ingin keduanya, Mama."


Sungguh, di hadapannya ini pria berumur 21 tahun tapi lebih mirip remaja 12 tahun. Haidar cukup membuat beberapa orang disana heran, namun tak dapat mereka pungkiri bahwa pria itu sungguh menggemaskan.


Tak usai dengan perdebatan Haidar, di tempat yang tak jauh dari mereka juga terjadi hal demikian. Nampaknya hari ini memang para pembeli harus berdebat terlebih dahulu, pikir beberapa orang yang berada di sana.


"Kakak, masa gak boleh?"


"No!! Sebelumnya kau sudah makan dua, Zura!! Kau kembung mau?"


"Ah nanti juga mengecil sendiri, Kak, tenang saja."


"Ck, kau belum makan siang, Ra, nanti kau sakit, Sayang."


"Tidak ada sejarahnya orang dilarikan ke rumah sakit karena makan es krim, Kak." Sungguh, Gian kehabisan kata-kata. Belum lagi orang di sekitar mereka tak sedikit.


"Ya kan, Mas?!" lanjut Radha mencari pembenaran pada pria yang berada di depannya itu.


"Ahahah iya, Neng." Dengan bodohnya pria itu menjawab begitu polos dan membuat nyawanya terancam di depan Gian.


"Heh!! Kau mau mati?!!"


Seketika senyum pria itu pudar begitu saja, takut dengan mata Gian yang tiba-tiba ingin mengulitinya.


Begitu teliti, Haidar menguping perdebatan yang berada tak jauh di sampingnya, entah kemana mata Gian hingga tak mengenali postur tubuhnya. Sejak tadi Jelita hendak menghampiri putranya, namun Haidar melarangnya lagi dan lagi.


"Tolong, Ma ... ini waktu Mama bersamaku, bukan mereka."

__ADS_1


Sebisa mungkin Haidar menutupi tubuh mungil sang Mama agar Gian tak melihatnya, memilih beranjak dan berjalan menjauh dari sisi mereka.


__ADS_2