Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 296. Normal (Reyhans)


__ADS_3

Hari ini sedikit berbeda, hujan mengguyur sudut kota. Gian menghela napas pelan kala terjebak macet dan rintik hujan cukup mengganggu perjalanan.


"Banjir?"


"Bukan, cuma genangan air, Gian."


Terserah, Gian berdecak kesal kala Reyhans menjawab begitu santai padahal jalan yang mereka lewati persis kolam ikan lele. Menyesal dia tidak pulang sejak tadi, sempat berpikir bahwa hujannya akan reda, akan tetapi apa yang Gian rencanakan tak seindah itu.


"Kasian mereka, pasti rugi besar," tuturnya tiba-tiba sembari menatap nanar ke luar sana.


"Mereka? Mereka siapa?"


Reyhans bertanya dengan alis yang tak bisa dikondisikan. Karena Gian memang kerap berbicara sembarang arah dan Reyhans tak paham apa maksudnya.


"Yang jual takjil," ucapnya singkat.


Evany yang duduk di belakang merasa menyesal telah berusaha sekeras itu mencuri dengar percakapan kedua pria itu.


"Wih, sejak kapan jiwa kemanusiaanmu setinggi ini, Gian?"


Pertanyaan konyol yang sebenarnya ia lemparkan sebagai ejekan pada Gian. Karena biasanya Gian takkan peduli dengan kehidupan seseorang yang tidak ia kenal sama sekali.


"Sejak tadi," ucapnya sembari menghela napas pelan, entah apa sebenarnya yang dia sedihkan. Padahal, ponsel yang kemarin dia khawatirkan telah berhasil ia temukan meski dalam keadaan yang tak bisa lagi terselamatkan.


Belum begitu jauh perjalanan, dan sepertinya Gian sudah terbuai suasana hujan hingga matanya kian mengecil.


"Gi," panggil Reyhans menggoyangkan pundaknya pelan, dan pria itu mulai menjawab malas luar biasa.


"Hmm, bangunkan ketika sudah di rumah," titahnya tanpa membuka mata, bersekap dada dan mulai mengarungi alam mimpi meski ini bukan tempatnya.


Dalam suasana sesunyi itu, Reyhans mencuri pandang pada istrinya yang sejak tadi diam membisu di kursi belakang. Sungguh menyebalkan, dia harus merahasiakan apapun dari Gian padahal ini bukan aib yang harus disembunyikan.


"Fokus ke depan, aku tidak mau mati muda."


Reyhans terperanjat begitu suara berat itu menyadarkannya. Dasar sinting, padahal tadi sudah pasti dia memang tertidur, bisa-bisanya Gian sadar jika dia sedang tidak sefokus itu, pikir Reyhans.


"Pamali, Pak nyebut begitu ... ini hari kamis loh, abis ashar terus ujan deres, dikabulin sama Tuhan gimana?"


Gian membuka matanya lebar-lebar kala Evany menyahut tanpa diajak bicara. Dan sialnya, jawaban asal wanita itu seakan bukan bicara pada atasannya.

__ADS_1


"Memangnya kenapa kalau kamis?"


"Ya artinya besok jum'at," jawabnya enteng dan berhasil membangkitkan emosi, tak hanya Gian tapi juga Reyhans.


"Astaga, anak TK juga tau kalau masalah itu ... Ck, Reyhans, aku sarankan jangan pernah menikahi perempuan ini," ungkapnya tanpa dosa dan berhasil membuat emosi Evany terpancing hingga ubun-ubun.


"Memangnya kenapa?" tanya Reyhans tak terima, karena pada faktanya mereka sudah menikah sejak beberapa waktu lalu.


"Kau lihat sendiri kan, otaknya sedikit geser," ujarnya sembari menggeleng pelan.


"Heeh!! Otak bapak juga sedikit geser, untung punya istri masih polos dan nggak banyak mau kayak Radha, coba kalau dapat saya," kesal Evany ingin menelan Gian bulat-bulat.


"Idih, siapa juga yang mau sama kamu! Dengar ya Eva, kalaupun di dunia ini hanya ada satu wanita dan itu dirimu, lebih baik aku sendiri seumur hidup."


Gian tak mau kalah, Reyhans hanya menghela napas pelan kala pertengkaran dua manusia ini sedang berlangsung. Bukan hanya sekali, ini kerap terjadi jika mereka pulang bertiga.


"Ye saya juga nggak mau sama Bapak, badan doang yang gede ... apa-apa nyuruh week."


Pria itu menatap tajam Evany, hendak membantah tapi memang benar apa yang wanita itu katakan. Dia tak bisa melakukan apa-apa sendiri, semua berjalan lancar karena Reyhans dibelakangnya.


"Astaga, kepalaku sakit sekali ... Reyhans, kau diam saja sahabatmu dihina wanita sinting seperti dia?"


"Jangan lebay, Gian ... kalian berdua sama sintingnya."


"Rey!!"


Kompak, keduanya sama-sama membentak dengan suara dingin dan membuat Reyhans panas dingin. Marahnya Gian masih dapat dia hindari, tapi marahnya Evany dia tak yakin mampu.


"Sebentar ... bisa diulang Evany? Mas? Rey, sejak kapan suka dipanggil begitu?"


Memang julit sekali, Evany yang tadi berapi-api ciut seketika kala Gian menyadari panggilannya terhadap Reyhans. Mampush, meski sempat berkata tak mengapa walau harus kehilangan pekerjaan, kali ini Evany tak seberani kemarin.


"Kalian berdua kenapa? Ada yang salah?" tanya Gian kala suasana mendadak sepi dan membuatnya semakin curiga saja.


"T-tidak ada, Gi ... jangan banyak tanya dulu, jalanan licin."


Bisa saja mengelak, diamnya Evany dan Reyhans yang mengalihkan pembicaraan membuatnya tak dapat berpikir jernih. Gelagat wanita itu dapat dia tangkap, semakin Gian tatap semakin Evany salah tingkah.


"Bapak kenapa liat-liat? Bapak udah punya istri loh," tegur Evany namun tak ia gubris sama sekali.

__ADS_1


"Jadi pengasuh anak saya aja gimana? Bantuin istri saya jagain Kama dan Kalila, mau?"


"Tidak, Pak, terima kasih." Menyebalkan sekali, mata itu membuat Evany merasa tengah dikuliti hidup-hidup,


Reyhans yang geram dengan tingkah Gian sengaja menutup wajah Gian dengan telapak tangannya. Gian tengah memancing kecemburuannya atau apa, apa yang dilakukan Gian memang kerap tak terbaca.


"Jangan berlebihan menatapnya, dia milikku," ucap Reyhans dengan wajah datar dan membuat Gian terbahak seketika.


"Baiklah, ternyata kau tidak ada bedanya seperti pria lain," ungkap Gian menarik sudut bibir, dia pikir Reyhans tak punya kecemburuan selama ini.


-


.


.


.


"Semakin deras, aku rasa akan bahaya jika kau nekat pulang," ujar Gian kala mereka memasuki gerbang utama.


Memang benar, cuaca makin tak bersahabat dan Gian takut jika mereka justru terjebak. Belum lagi jarak yang harus Reyhans tempuh ke rumahnya cukup jauh, dia hanya bermaksud baik sore ini.


"Hari hampir gelap, aku juga harus antar Evany ... aku rasa lebih baik pulang saja, Gi."


"Jangan membantah, justru karena hampir gelap kalian sebaiknya tetap di sini, berita kecelakaan Akhir-akhir ini mengerikan sekali," tutur Gian dengan santai akan tetapi berhasil membuat Evany kalang kabut.


"Bapak bicaranya Astafirullah, jangan nakut-nakutin, Pak." Karena memang faktanya Evany takut luar biasa, semalam dia sempat merinding lantaran berita kecelakaan akhir-akhir ini, dan kini justru Gian ingatkan lagi.


"Bukan menakuti, ini fakta yang kalian berdua harus pertimbangkan ... cepat turun, Mama juga dari kemarin menunggumu." Tak sepenuhnya mengarang, karena memang Jelita sempat menanyakan keadaan Reyhans dan meminta Gian mengundangnya untuk makan malam.


"Hilih bilang aja Bapak kangen sama pacar saya." Evany menyela karena memang kebiasaan Gian yang kerap menawar waktu bersama Reyhans kerap terjadi.


"Reyhans, pacarmu lebih baik dijual saja, lumayan buat bagi-bari THR di hari raya."


Idenya sangat-sangat brilian bukan, kali ini Reyhans tak marah, dia justru menggeleng sembari menarik sudut bibir, karena jika Gian mulai merespon seseorang dengan candaan seperti itu, artinya dia menerima kehadiran orang itu di lingkungan hidupnya.


"Cepat turun!! Ini perintah, atau kalau tidak besok-besok kalian berdua pindah ke pabrik pupuk saja," ancam Gian enteng, pria ini sama sekali tak berubah, meski ancaman kali ini sedikit berbeda, tetap saja sejenis.


"Pupuk, dia kali yang mau ditanem."

__ADS_1


"Shuuut, nanti dia dengar, Eva," tegur Reyhans, meski Gian sudah turun lebih dahulu, tetap saja hal semacam ini dia takutkan.


❣️


__ADS_2